Chapter: Bab 9 empat lawan satu"Kamu apa-apaan sih di kelas tadi? Nggak banget, tahu nggak!" bentak Zhui setengah berbisik begitu mereka tiba di sudut kantin yang agak lengang. Amarahnya meluap, sebagian besar dipicu oleh rasa takut yang berusaha ia tutupi. Sean tidak langsung menjawab. Ia menatap Zhui datar, mengamati setiap celah kepanikan di wajah gadis itu sebelum akhirnya bersuara, "Loh, kok malah kamu yang marah? Harusnya aku yang nuntut penjelasan. Kamu dua hari ini aneh banget, Zhui. Seolah-olah ada rahasia besar yang sengaja kamu tutup-tutupi." "Emang apa? Apa yang aku sembunyiin dari kamu?" tantang Zhui dengan nada menaik, meski dalam hati dadanya bergemuruh hebat. Sean memajukan langkahnya satu tapak, menunduk sedikit demi menyetarakan pandangan. "Ryan." Satu nama itu meluncur dari bibir Sean seperti belati. "Siapa Ryan? Dan ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Sean tegas, tanpa menyisakan ruang untuk mengelak. Zhui membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir saat nama itu tersebut di tempat ini.
آخر تحديث: 2026-07-30
Chapter: Bab 8 Kita Belum SelesaiKetukan tumit sepatu hak tinggi di atas ubin koridor mendadak memotong udara tipis yang membelenggu mereka berdua. Pintu kelas terdorong terbuka, memecah ketegangan yang nyaris meledak dalam keheningan. "Selamat pagi, anak-anak." "Pagi, Miss..." koor serempak dari para siswa menyambut sosok wali kelas mereka yang melangkah masuk membawa tumpukan buku tebal. Zhui mengembuskan napas perlahan, membiarkan dadanya yang sedari tadi sesak kembali terisi udara. Ia selamat. Interogasi Sean terhenti tepat pada garis batas sebelum pertahanannya hancur total. Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Pengakuan yang meluncur dari bibir Sean beberapa saat lalu kalimat singkat namun menghancurkan yang diucapkannya tepat sebelum guru mereka melangkah masuk masih bergema kencang di kepala Zhui. “Aku tahu malam itu kamu tidak sendirian, Zhui.” Zhui memberanikan diri melirik ke samping. Tatapan Sean telah berubah. Tidak ada lagi keraguan atau kepura-puraan di sana. Mata cowok itu m
آخر تحديث: 2026-07-29
Chapter: Bab 7 KeceplosanLayar ponsel Zhui yang tergeletak di atas meja rias menyala redup saat fajar menyingsing. Sebuah pesan baru tertera di panel notifikasi, dikirim beberapa jam lalu dari nomor tanpa nama: Ryan: Salam kenal. Boleh aku simpan contact kamu, Zhui? Sayangnya, balasan Ryan belum kunjung dibalas Zhui hingga keesokan harinya. Pesan itu dibiarkan membeku tanpa sentuhan, terkubur oleh rasa bersalah Zhui yang enggan berurusan dengan cowok asing tersebut. Sementara itu, di sudut pedesaan Shang yang masih diselimuti kabut tipis. Sinar fajar menerobos masuk melalui celah dinding kayu kamar Sean. Tok... Tok... Tok... "Sean, makan dulu Nak!" teriak Ibu Yufen dari luar kamar. Wanita paruh baya bertubuh kurus itu adalah ibu kandung Sean. Ia memutar gagang pintu kayu yang tak terkunci, berniat menyuruh putra tunggalnya sarapan sebelum berangkat sekolah. "Se—" Panggilan itu terputus seketika. Langkah Ibu Yufen terhenti tepat di ambang pintu. Di atas meja kayu yang lapuk, Sean tampak tertidur lelap
آخر تحديث: 2026-07-23
Chapter: Bab 6 Firasat bayang bayang malamPerjalanan sisa sore itu dinaungi hening yang agak ganjil. Sean bisa merasakannya sebuah jarak tak kasat mata yang mendadak membentang rapuh di antara mereka. Zhui yang biasanya tak berhenti mengoceh tentang hal-hal konyol sepanjang jalan, kini lebih banyak diam. Jemarinya hanya tertaut erat pada pinggang seragam Sean. Ada sesuatu yang mengganjal di benak Sean. Sebuah firasat samar bahwa ada riak kecil yang sedang bersiap memicu gelombang. Namun, Sean menepis gundah itu pelan-panik. Ia memilih berprasangka baik. Zhui mungkin hanya lelah setelah kejar-kejaran dengan waktu dan amukan Pak Nelson di perpustakaan tadi. "Kita sampai, Zhu," ucap Sean pelan sembari menarik tuas rem tepat di depan pagar rumah beratap genteng merah milik keluarga Zhui. "A-akh, iya..." Zhui tersentak kecil dari lamunannya, lalu buru-buru melangkah turun dari boncengan. Ia berusaha menyunggingkan senyum semanis mungkin untuk mencairkan suasana. "Perasaan perjalanan hari ini cepat banget, deh. Enggak kayak kema
آخر تحديث: 2026-07-23
Chapter: Bab 5 Rahasia di balik punggung"Zhui!." "Zhui Fhen!." Sean menghela napas panjang sembari menepuk dahinya pelan. Suaranya sampai terdengar sedikit serak karena terus-menerus memanggil gadis itu. Kalau sudah berkumpul dengan teman-temannya, telinga Zhui seolah mendadak dipasangi penyumbat kedap suara. "Eh, aku duluan ya!. Kayaknya Sean udah panggil dari tadi tuh," kata Zhui bergegas memotong pembicaraan seru di kelompoknya. "Oke, Zhu!" seru Selena setengah berteriak dari ambang gerbang. "Nanti malam jangan lupa online chat ya!." "Siap!," sahut Zhui panjang sembari setengah berlari menghampiri Sean yang sudah menunggu di samping sepeda listriknya. Napas Zhui terengah-engah begitu sampai di hadapan Sean. "Hah... hah... Capek banget, Se—" "Kamu ngomongin apa sih sama mereka?" potong Sean cepat, menatap Zhui dengan picik penuh rasa ingin tahu. "Serius amat sampai dipanggil berulang kali tidak dengar?." "Aduh, nanti saja. Napasku masih Senin-Kamis gini," celetuk Zhui sembari memegangi dadanya yang naik-turun. "Yu
آخر تحديث: 2026-07-22
Chapter: Bab 4 Gemuruh di Ruang SenyapTing Tang Tung... Suara bel elektronik berdentang nyaring dari pengeras suara di sudut langit-langit perpustakaan. Dengungan panjang itu menjadi penanda bahwa waktu istirahat pertama telah usai. Libur singkat bagi otak para siswa pun berakhir. Pelajaran berikutnya menanti di ruang kelas. Sean menghentikan pandangannya pada halaman kelima belas buku Kalkulus Lanjut. Ia mengembuskan napas panjang, lalu melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 12.45. Sudah waktunya kembali ke realitas. "Zhu, sudah bel..." panggil Sean pelan. Suaranya sengaja diredam mengingat aturan dasar perpustakaan. Namun, tidak ada respons. Gadis di hadapannya masih bergeming. Zhui tampak tenggelam sepenuhnya ke alam mimpi. Kedua matanya terpejam rapat, sementara kepalanya bersandar nyaman pada lipatan kedua tangan di atas meja. Sepasang earphone putih menyumbat rapat telinganya, memutar lagu yang mengisolasi kesadarannya. Sean menggeleng pelan. "Katanya mentor, tapi malah
آخر تحديث: 2026-06-06