
Pengantin Raja Malam
Semenjak kecil, Selene Ardelia selalu dianggap pembawa sial. Ibunya meninggal saat melahirkannya, ayahnya menghilang tanpa jejak, dan setiap orang yang dekat dengannya selalu berakhir dalam tragedi. Selene memilih mengabaikan semua itu sebagai kebetulan, hingga suatu malam ia menyaksikan pembunuhan mengerikan yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh manusia.
Pelakunya adalah Eric Draven.
Pria tampan, dingin, dan misterius yang ternyata merupakan Raja Malam terakhir—penguasa bangsa vampir yang telah hidup lebih dari seribu tahun.
Demi menjaga rahasia dunia supernatural, Eric seharusnya membunuh Selene malam itu. Namun, ketika mencium aroma darah gadis itu, sesuatu yang mustahil terjadi. Kutukan yang selama berabad-abad menggerogoti tubuhnya mendadak melemah.
Selene bukan manusia biasa.
Darahnya adalah Blood Moon, garis keturunan kuno yang telah lama dianggap punah. Darah itu mampu menyelamatkan Raja Malam atau justru menjadi satu-satunya senjata yang dapat mengakhiri hidupnya.
Ketika para vampir, manusia serigala, dan penyihir mulai memburu Selene demi kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya, Eric hanya memiliki satu cara untuk melindunginya.
Menjadikan Selene sebagai pengantin Raja Malam.
Namun pernikahan itu bukanlah akhir, melainkan awal dari rahasia yang jauh lebih kelam.
Sebab setiap seribu tahun sekali, Raja Malam memang ditakdirkan memiliki seorang pengantin dan tidak satu pun dari mereka pernah berhasil hidup hingga akhir.
Akankah Selene menjadi perempuan pertama yang mampu mematahkan kutukan itu atau justru menjadi korban berikutnya dari takdir yang telah ditulis oleh darah?
Baca
Chapter: Bab 9 Alpha dan LunaSelene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: BAB 8 Bulan DarahTidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: BAB 7 Dia KembaliSelene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: BAB 6 Jamuan Para BangsawanSelene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc
Terakhir Diperbarui: 2026-09-07
Chapter: BAB 5 Kastel Sang Raja MalamKabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: BAB 4 Kemunculan Blood MoonPuluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: BAB.97Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Terakhir Diperbarui: 2026-04-28
Chapter: BAB.96Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
Terakhir Diperbarui: 2026-04-25
Chapter: BAB.95“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Terakhir Diperbarui: 2026-04-22
Chapter: BAB.94Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: BAB.93Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon
Terakhir Diperbarui: 2026-04-18
Chapter: BAB.92Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li
Terakhir Diperbarui: 2026-04-16