LOGINDijebak dan dijual oleh suaminya sendiri, Joya menghabiskan satu malam panas bersama CEO Diwanggara Group. Bahkan, Joya terpaksa menjadi kekasih gelap Alastar selama enam bulan! Meski awalnya Joya membenci Alastar, tetapi perhatiannya membuat wanita itu meragu. Belum lagi, sang suami ternyata berkhianat! Lantas, akankah Joya menyerah pada cinta terlarang bersama Alastar? Dan mengapa Alastar hanya menginginkan Joya sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya?
View More"Papa, ayo," seorang gadis menarik tangan seorang pria yang dipanggilnya Papa? Agar mengikutinya masuk kedalam sebuah butik. Si pria mengikuti si gadis ke tempat tujuannya.
Gadis tersebut berusia sekitar 16 tahun dan pria yang bersamanya berusia kira-kira 42 tahun. Pria tersebut melirik sekilas seorang wanita, mungkin karyawan di toko tersebut. Si wanita tengah sibuk mendandani manekin.Si gadis kecil menarik tangan pria itu. Si Pria tampan dengan tinggi 178 cm. "Loch, kok gak ada lagi!" heran si gadis, dia mencari-cari pada gantungan baju."Ya udah yang ini aja bagaimana?" Si pria menarik satu gamis dari gantungan yang mungkin disukai si gadis.Pria tersebut mengenakan celana jeans hitam dan kemeja berwarna putih. Memakai sepatu sport perpaduan hitam dan putih.Sedangkan gadis remaja mengenakan rok plisket hitam dan kemeja berwarna peach. Si gadis remaja juga memakai sepatu sport berwarna peach. "Nggak mau, Papa sih, udah Nayla bilang dari kemarin-kemarin," sungut si gadis remaja, yang bernama Nayla."Papa,'kan, kemarin banyak kerjaan Nay," jawab si pria membela diri."Cari yang lain aja, deh." Si pria mencoba membujuk Nayla."Tante!" Nayla mendekati wanita yang tengah mendandani manekin. Wanita itu adalah Riana.Riana menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah gadis yang memanggilnya itu."Ya, ada yang bisa Tante bantu?" tanya Riana ramah. Si pria melirik Riana lagi. Riana tersenyum dengan si pria yang juga dibalas dengan senyuman oleh si pria."Tante, seminggu yang lalu. Nayla ada lihat gamis ruffle warna baby blue yang dipadukan dengan hijab pashmina warna yang sama, sekarang nggak ada lagi. Apa udah dibeli ya, Tante?" tanya Nayla kepada Riana."Oh, yang itu, tunggu sebentar, Tante carikan dulu ya. Mudah-mudahan masih ada." Riana menuju lemari penyimpanan. Dia ingat masih sisa satu stock gamis yang dimaksud Nayla. Syukurlah masih ada, semoga pas dengan ukuran gadis itu. Riana membawa gamis tersebut kepada Nayla."Ini, 'kan, gamisnya?" Riana memperlihatkan gamis yang baru saja diambilnya."Benar Tante, alhamdulillah masih ada!" teriak Nayla senang."Nayla coba dulu saja, Tante takut ukurannya nggak sesuai ... apalagi hanya sisa itu saja," usul Riana mengakrabkan diri dengan pelanggan."Baik, Tante, Nayla coba dulu ... Papa tungguin ya!" ucap Nayla kepada si pria. Nayla menuju kamar ganti."Saya tinggal ya pak," pamit Riana kepada pria tersebut. Si pria hanya menganggukan kepala.Riana berjalan ke meja kasir. Sebelum sampai di meja kasir. Dia mendengar Tyas dan Wirda bergosip tentang pelanggan mereka."Gue yakin, om itu adalah pria hidung belang dan gadis muda itu pasti, pelajar yang main sama sugar daddy," tuduh Wirda.Tyas melihat ke arah pria tampan itu. Dia tidak percaya jika pria itu adalah Sugar Daddy? Sepertinya dia pria baik-baik. Dan gadis itu juga berjilbab dengan pakaian gamis menutup aurat. Jadi tidak mungkin si gadis Sugar Baby?"Jangan sembarangan, siapa tahu itu anak atau keponakannya." Tyas membela pria itu."Zaman sekarang ya, Yas, banyak cewek-cewek yang kelihatan alim, tapi kelakuaan--loe paham, lah." Wirda mengambil sebuah baju dari plastik dan meletakannya di hanger.Tyas memperhatikan kembali pria tersebut. Namun, si gadis masih di dalam ruang pas."Hush, jangan bergosip, apapun hubungan mereka, kita tidak usah ikut campur. Dosa loh, apalagi jika itu tidak benar, bisa dua kali lipat dosanya," tegur Riana menghampiri Wirda dan Tyas. Tidak tahan dia jika pelanggannya digosipin, padahal mereka adalah orang yang mengantarkan rezeki buat mereka."Eh, iyaa kak Ri," cengir Wirda malu dengan kelakuannya.Setelah memastikan Wirda dan Tyas kembali bekerja. Riana duduk di kursi kasir sambil membereskan bob-bon penjualan kemarin."Gimana, Pa? Baguskan?" tanya Nayla saat keluar dari kamar ganti. Membuat si Pria kaget dan membuyarkan keasikannya memperhatikan Riana."Bagus, cantik," ujar si pria, setelah memperhatikan penampilan Nayla."Oke." Nayla kembali ke kamar ganti, kemudian memakai pakaiannya kembali.Nayla mendekati meja kasir dengan membawa gamis yang dia incar."Tante, Nayla ambil yang ini." Nayla menunjukan gamis tersebut."Ukurannya pas?" tanya Riana ramah."Pas Tante, cantik kata Papa," balas Nayla. Riana hanya tersenyum."Mau pilih yang lain? Kebetulan banyak barang baru masuk hari ini," bujuk Riana, siapa tahu Nayla membeli gamis model terbaru tersebut."Boleh, Pa?" Nayla melihat kearah si pria yang dipanggilnya papa."Boleh," jawab si pria. Riana kemudian mengajak Nayla melihat koleksi gamis terbaru butiknya.Memberikan rekomendasi yang pantas untuk Nayla. Nayla menyukai semua gamis yang dipilihkan Riana."Pa, boleh tambah dua ini?" Nayla meminta izin si pria."Cukup dua itu aja, ya!" perintah si pria."Iya," jawab Nayla.Mereka membayar gamis yang dibeli. Riana menscan barcode gamis tersebut. Kemudian memasukannya ke dalam kantong belanjaan."Total delapan ratus dua puluh ribu rupiah." Riana memunjukan monitor total belanjaan kepada pria itu."Bisa bayar debit?" tanya Pria itu."Bisa," jawab Riana. Si pria mengeluarkan dompet dan memberikan kartu debitnya. Riana membaca sekilas nama yang tertera di kartu debit 'Raditya Raymond'.Nama yang bagus. Riana menggesekan kartu tersebut ke mesin EDC. Menekan angka sesuai tagihan Raditya."Tagihan delapan ratus dua puluh ribu rupiah, silahkan masukan pin kartu debitnya, Pak." Riana memutar mesin EDC agar menghadap Raditya. Raditya menekan pin kartu debitnya.Riana menyobek struk yang keluar dari mesin EDC, mengklipkannya beserta bon dan plastik belanjaan kemudian menyerahkannya kepada Raditya."Terima kasih telah berbelanja di butik kami." Senyum Riana ramah. Raditya hanya menatap Riana lama, membuat Riana menjadi salah tingkah."Nama Tante siapa?" tanya Nayla tiba-tiba sebelum mereka keluar. Membuyarkan lamunan Raditya yang menatap Riana."Riana," jawab Riana ramah."Apa Tante sudah menikah?" tanya Nayla lagi. Entah apa maksud gadis remaja itu bertanya kepada Riana. "Kenapa?" Riana balik bertanya."Papa Nayla duda Tante, siapa tahu bisa dijodohkan dengan Tante," ujar Nayla blak-blakan. Jadi Nayla putri Raditya. Dia ingat gosip yang dibicarakan Wirda dan Tyas."Nayla!" tegur Raditya, merasa tidak enak karena kelancangan putri semata wayangnya. Namun Raditya tidak menolak jika Riana menjawab karena dia juga ingin mengenal Riana lebih dekat lagi.Radit, sapaan Raditya dan Nayla telah sering berbelanja di butik Riana. Radit menyukai Riana yang ramah dan berwajah manis. Sepertinya Riana bersifat keibuan. Raditya telah menduda selama dua tahun. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, namun belum bisa menggetarkan hati Radit. Sejak Radit, menemani Nayla berbelanja ke butik Riana yang diberi nama 'Ri Butik and Collection'. Perasan Radit menjadi bergetar. Radit menjadi sering menemani putrinya untuk berbelanja hanya demi melihat Riana."Tante telah menikah dan memiliki anak," jawab Riana. Sontak hal tersebut membuat Radit kecewa.🍒🍒🍒Pagi itu, kamar Joya dipenuhi wangi bunga melati yang ditata rapi dalam vas, memberikan suasana yang menenangkan. Joya duduk di hadapan cermin besar berbingkai emas, tatapan matanya terpusat pada bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.Gaun putih panjang yang membalut tubuhnya, tampak sempurna dengan perpaduan kalung dan anting yang memancarkan kilau indah.Bu Dewi berdiri di belakang, dengan hati-hati merapikan sanggul rambut Joya. Perempuan paruh baya itu juga menyematkan beberapa helai bunga kecil, untuk mempermanis penampilan sang calon mempelai."Kau benar-benar cantik, Nak. Ibu yakin, Alastar akan terpesona begitu melihatmu," pujinya penuh kekaguman.Joya hanya bisa menggigit bibirnya, menahan gelombang kegugupan yang terus melanda. Jemarinya saling bertaut erat, menandakan bahwa emosinya tengah bergejolak hebat. Rasa gugup, was-was, dan bahagia berbaur menjadi satu di dalam hatinya.Pandangan Joya kemudian beral
Joya tidak mampu menahan cairan bening yang perlahan menggenang di sudut matanya. Ucapan itu begitu berarti baginya. Bayinya telah diakui sebagai bagian dari keluarga besar Diwanggana. Ia tak pernah menyangka Tuan Narendra akan menerima Arion dengan hati yang lapang seperti ini.Tuan Narendra berbalik, menatap Joya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan."Jangan khawatir, Joya. Jika cucuku yang nakal itu sudah berani menghamilimu, maka ia pasti segera kembali untuk menikahimu. Tunggu saja, itu akan terjadi sebentar lagi."Joya tersentak. Matanya membesar dalam keterkejutan, sekaligus kebahagiaan yang membuncah. Harapannya yang sempat pudar perlahan menyala kembali, memenuhi hatinya dengan kehangatan yang hampir ia lupakan.Dada Joya berdegup begitu cepat, hingga ia merasa jantungnya berdentum di dalam telinganya sendiri. Seakan tak percaya dengan ucapan Tuan Narendra, bibirnya yang semula gemetar kini mencoba mengucapkan sesuatu, walau suaranya nyaris tertelan napasnya sendiri.“Be-
Hampir satu tahun telah berlalu sejak Alastar pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan. Waktu terasa begitu lambat bagi Joya, setiap detik dipenuhi dengan kerinduan yang menyakitkan. Hanya dua kali Alena mengabari bahwa kondisi Alastar telah membaik, tetapi belum cukup kuat untuk kembali. Berita itu, meski melegakan, tetap menyisakan kehampaan dalam hati Joya. Kini, kehidupannya dipenuhi dengan kesibukan yang tiada henti. Bayinya yang baru berusia dua bulan menjadi pusat dunianya. Si kecil yang lahir dari buah cintanya dengan Alastar, hadir sebagai penguat dalam hari-hari panjang penuh penantian. Selain mengurus bayinya, Joya juga memegang tanggung jawab besar di kantor. Sejak kepergian sang kekasih, ia ditunjuk sebagai penggantinya melalui surat resmi yang dibuat oleh pengacara Alastar. Dengan bantuan Arman, ia menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, memastikan perusahaan tetap berjalan dengan baik.Kilas balik peristiwa itu kembali melintas dalam benak Joya. Selang sat
Di ruang Instalasi Gawat Darurat, Joya masih duduk di sisi tempat tidur Alastar, menatap wajah pucat pria yang dicintainya dengan sorot mata penuh duka. Tangannya masih menggenggam jemari Alastar yang dingin, seakan berusaha menyalurkan sedikit kekuatan.Namun, kebersamaan singkat itu terganggu oleh kehadiran beberapa perawat yang mendekat. Salah satu dari mereka memeriksa kembali monitor yang masih menunjukkan detak jantung Alastar, sedangkan yang lain mulai melepas satu per satu alat medis yang melekat di tubuh pria itu. Selang infus yang menyalurkan cairan ke dalam tubuhnya dicabut dengan hati-hati, diikuti oleh elektrode yang menempel di dadanya. Satu perawat lainnya membebaskan Alastar dari alat bantu oksigen yang sejak awal menopang pernapasannya, sedangkan seorang lagi sudah bersiap dengan brankar khusus yang akan membawa tubuh lemah itu ke dalam ambulans.Joya menatap semua itu dengan pandangan kosong, perasaan tidak rela merayapi dirinya. Hatinya menjerit melihat pria yang d
Usai prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat, Joya masih bersimpuh di sisi makam Siena. Tanah merah yang baru saja ditaburkan bunga itu masih lembap, seakan belum sepenuhnya menyadari bahwa kini seorang jiwa telah terbaring abadi di bawahnya. Di sekelilingnya, para pelayat sudah mulai meninggal
Joya berjalan mondar-mandir di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, langkahnya tak beraturan, seiring dengan debar jantung yang tak menentu. Matanya yang sejak tadi berkaca-kaca semakin terasa perih. Telapak tangannya terasa dingin dan basah oleh keringat yang tak henti mengalir. Kecemasan menguas
Benturan logam yang dahsyat menggema, tatkala mobil Denis menghantam tiang listrik. Kaca depan retak, bagian kap mobil penyok, dan kepulan asap mulai muncul dari mesin yang ringsek. Suara klakson panjang meraung di udara, seakan menjadi tanda bahaya bagi siapa saja yang berada di sekitar.Siena ter
Detektif yang sejak tadi berada dalam genggaman Alastar tampak menelan ludah. Matanya berkedip gugup ketika tatapan tajam Alastar menembus ketenangannya. Dengan suara bergetar, detektif itu menghela napas panjang sebelum menundukkan kepala sedikit. "Maafkan saya, Tuan Alastar. Saya hanya menjalank
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews