LOGINAlea terjebak dalam tubuh seorang wanita dewasa bernama Elira Veyron, istri sah dari Leonard Veyron — pria terkaya dan paling berkuasa di kota Aurelith. Namun, wanita ini tidak dicintai, bahkan nyawanya terancam. Di tengah kebingungan, Alea harus menjalani peran sebagai Elira. Ia harus menghadapi keluarga besar Veyron yang penuh intrik, para pelayan yang mencurigainya, serta sang suami dingin yang sama sekali tidak pernah menginginkannya. Akan tetapi, tentu dia tidak akan diam saja.
View More“Jangan tidur, Alea! Bertahanlah!”
Suara itu samar, panik, lalu menghilang begitu saja. Tubuhku terasa ringan, seolah melayang tanpa arah. Di sekitarku hanya ada gelap pekat, menelan semua suara dan cahaya. Aku ingin membuka mata, tapi kelopak mataku berat. Ingin bicara, tapi lidahku kelu.
Aku… di mana?
Yang kuingat terakhir kali hanyalah bunyi rem mobil yang berdecit keras, cahaya lampu yang menyilaukan, lalu benturan keras. Setelah itu kosong.
Aku mencoba meraih sesuatu, tapi tanganku menembus udara. Semuanya hampa. Dadaku sesak, namun anehnya, tidak sakit. Hanya… dingin.
“Apakah aku mati?” bisikku pada diri sendiri, suara itu hanya menggema dalam kepalaku.
Tiba-tiba, cahaya kecil muncul jauh di depan sana. Aku berlari atau mungkin lebih tepatnya melayang ke arah cahaya itu. Semakin dekat, semakin terang, hingga membuatku harus menutup mata.
Saat kubuka kembali, aku tidak lagi berada di kegelapan.
Aku terbangun di sebuah ranjang megah dengan sprei putih bersulam benang emas. Di atas kepalaku tergantung lampu kristal yang berkilau. Aroma lembut lavender tercium di ruangan itu.
Aku terkejut. Ini bukan kamarku. Bukan pula rumah sakit.
“Nyonya Elira… Anda sudah sadar.”
Aku mendongak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan berdiri di tepi ranjang. Tubuhku kaku. Elira? Siapa itu?
Aku ingin berkata, ‘Aku Alea, bukan Elira’, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokan.
Pelayan itu tersenyum lega. “Saya akan segera memanggil Tuan Leonard. Mohon jangan bergerak terlalu banyak, Nyonya.”
Leonard?
Sebelum aku sempat bertanya, kepalaku berdenyut. Gambar-gambar asing melintas di benakku—seperti potongan film yang diputar cepat.
Seorang wanita berambut panjang berdiri di tepi danau yang gelap, bahunya bergetar menahan tangis. Wajahnya pucat, matanya sembab. Air beriak di bawah kakinya.
“Mengapa kau tidak pernah melihatku, Leonard? Apa aku begitu tak berarti?”
Suara itu pecah dalam kepalaku, begitu menyayat.
Wanita itu Elira? melangkah setapak lebih dekat ke tepi. Angin dingin menerpa, gaunnya berkibar. Dalam sorot matanya ada kepedihan yang menusuk, seolah dunia telah merenggut semua harapannya.
Lalu… sebuah bayangan muncul di belakangnya. Samar. Aku tidak bisa melihat jelas siapa itu. Setelahnya, tubuh wanita itu jatuh. Air danau menyambutnya dalam gelap yang menakutkan.
Aku terengah, tubuhku gemetar. Itu… apa barusan? Apakah itu kenangan Elira? Atau mimpi?
Pintu terbuka. Seorang pria masuk.
Aku langsung terpaku.
Dia tinggi, tegap, wajahnya tampan dengan rahang tegas, rambut hitamnya tersisir rapi. Tapi bukan itu yang membuatku terdiam melainkan tatapannya. Mata hitam itu begitu dingin, menusuk, seakan menguliti sampai ke tulang.
“Ingat peringatanku, Elira.” Suaranya dalam, datar, tanpa emosi. “Jangan coba-coba membuat masalah lagi. Kau sudah cukup memalukan keluarga ini.”
Aku menelan ludah, jantungku berdentum tak karuan. Jadi ini Leonard? Suami Elira?
Tunggu… suami? Jadi aku sekarang… istri orang?
Aku ingin tertawa, tapi tidak ada yang lucu. Hidupku yang normal kuliah, nongkrong dengan sahabat, punya mimpi jadi penulis hilang begitu saja. Kini aku berada di tubuh wanita lain, dengan suami yang jelas-jelas membencinya.
Aku mengerjap, menatap pria itu tanpa sadar. “Kau… siapa?” tanyaku lirih.
Alisnya langsung berkerut, tatapannya semakin tajam. “Hentikan sandiwara bodohmu, Elira. Aku tidak punya waktu untuk lelucon konyol.”
Aku menggigit bibir. Jadi… semua orang di sini benar-benar mengira aku adalah wanita bernama Elira.
Dalam hati aku berteriak, aku Alea, bukan Elira! Tapi tak ada gunanya. Mulut ini seperti terikat oleh takdir asing yang memaksaku menjalani peran ini.
Leonard mendekat, aura dinginnya semakin terasa. Ia menunduk sedikit, menatapku dari jarak dekat.
Aku membeku. Jadi benar… Elira ditemukan di danau. Tapi… apa dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya? Atau ada sesuatu yang lain?
Aku masih terpaku, jantungku berdegup terlalu cepat. Kata-katanya barusan—“jangan harap aku akan menolongmu lagi”—membuat tubuhku merinding. Jadi… Elira benar-benar hampir mati di danau itu?
Tapi tunggu… “lagi”? Artinya Leonard sendiri yang menyelamatkannya? Kalau memang dia tidak peduli, kenapa repot-repot menarik Elira dari air?
Aku menelan ludah, menatap pria itu dalam-dalam. Wajahnya tanpa ekspresi, seolah diriku ini hanyalah orang asing yang kebetulan numpang tidur di rumahnya.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksud,” aku memberanikan diri bicara. Suaraku terdengar bergetar, tapi aku berusaha menegakkan dagu, tak ingin terlihat lemah. “Aku bahkan tidak tahu… siapa kau.”
Hening.
Sejenak, udara di kamar itu seperti membeku. Tatapan Leonard menusukku, penuh keterkejutan dan amarah yang ditahan.
“Beraninya kau bermain drama di depanku.” Rahangnya mengeras, nada suaranya nyaris seperti geraman. “Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Menjatuhkan diri ke danau, membuat semua orang panik, lalu berharap aku akan bersimpati? Kau benar-benar… menyedihkan.”
Aku ternganga. Jadi dia pikir Elira sengaja menjatuhkan diri hanya untuk mencari simpati?
Darahku mendidih. Kalau aku benar-benar Elira, mungkin aku akan menunduk pasrah, menangis dalam diam. Tapi aku bukan dia. Aku Alea. Dan aku tidak bisa membiarkan kata-kata seperti itu masuk tanpa perlawanan.
“Kalau aku memang ingin mati,” kataku cepat, nada suaraku meninggi, “kenapa harus menyusahkanmu? Kau pikir seluruh hidupku hanya berputar di sekeliling perasaanmu?”
Leonard menoleh cepat, sorot matanya tajam. Mungkin dia kaget mendengar balasan seperti itu dari wanita yang selama ini dikenal pendiam dan pasrah.
Aku menatapnya, dada naik turun, menahan emosi. “Aku tidak tahu apa yang pernah Elira lakukan sampai kau begitu membencinya. Tapi satu hal yang jelas, aku tidak akan lagi jadi perempuan menyedihkan yang kau injak seenaknya.”
Aku sendiri kaget dengan keberanianku. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa kucegah.
Pelayan yang masih berdiri di pintu menunduk dalam-dalam, jelas terkejut dengan percakapan ini. Ia buru-buru mundur, menutup pintu rapat-rapat, seolah takut menjadi saksi lebih jauh.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Leonard menatapku tajam, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Untuk sesaat aku pikir dia akan berteriak atau melempar sesuatu. Tapi tidak. Ia hanya mendekat, langkah-langkahnya berat dan penuh wibawa.
Aku menahan napas saat wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Aroma maskulin samar tercium, tapi aura dinginnya menelan segalanya.
“Kalau kau pikir aku akan terjebak oleh sandiwara baru ini,” katanya pelan, nadanya dingin tapi jelas, “kau salah besar. Kau tetaplah wanita yang bukan pilihanku. Jangan pernah bermimpi lebih dari sekadar nama yang terikat denganku di atas kertas.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menusuk, walau aku tahu bukan aku yang dimaksud. Itu untuk Elira. Tapi entah kenapa, rasanya sakit juga.
Tanpa menunggu jawabanku, Leonard berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan aku sendirian dalam keheningan.
Aku menatap langit-langit, mencoba mencerna semuanya. Jantungku masih berdegup kencang.
Astaga… aku benar-benar terjebak dalam hidup wanita lain. Dan suaminya… benar-benar pria paling dingin yang pernah kutemui.
Aku menggenggam selimut erat-erat. Aku harus mencari cara. Aku harus tahu kenapa aku bisa ada di tubuh ini. Dan yang paling penting… apa yang sebenarnya terjadi di danau itu?
Aku menarik napas panjang, lalu menutup mata. Lagi-lagi, bayangan danau itu datang. Sosok Elira berdiri di tepi air, menangis, gaunnya basah oleh embun malam. Dan… ada bayangan lain di belakangnya. Aku mengejap, mencoba melihat lebih jelas, tapi selalu buram.
Siapa itu? Apakah seseorang mendorongnya? Atau hanya ilusi dari kepedihan Elira?
Kepalaku terasa sakit, tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa diam. Kalau memang ada seseorang yang berusaha menyingkirkan Elira, maka aku juga yang sekarang jadi sasarannya.
Dan aku—Alea—tidak akan membiarkan diriku jadi korban.
Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Aku tidak pernah menyangka bahwa ancaman bisa datang secepat ini.Semua terjadi hanya tiga hari setelah pesan anonim itu.
Aku tidak pernah menyadari bahwa keberadaan bisa terasa begitu rapuh.Seperti lilin di tengah angin.Tidak tahu kapan padam.Tidak tahu siapa yan
Aku tidak pernah takut pada hantu.Tapi hari itu, aku takut pada sesuatu yang jauh lebih nyata.Leonard berdiri di depan pintu kamar rumah sakit. Tangannya terdiam di udara seb
Aku tidak tidur malam itu.Bagaimana mungkin?Tubuhku sendiri baru saja berbicara padaku.Dan bukan dengan kebingungan orang yang bar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews