LOGINAlea terjebak dalam tubuh seorang wanita dewasa bernama Elira Veyron, istri sah dari Leonard Veyron — pria terkaya dan paling berkuasa di kota Aurelith. Namun, wanita ini tidak dicintai, bahkan nyawanya terancam. Di tengah kebingungan, Alea harus menjalani peran sebagai Elira. Ia harus menghadapi keluarga besar Veyron yang penuh intrik, para pelayan yang mencurigainya, serta sang suami dingin yang sama sekali tidak pernah menginginkannya. Akan tetapi, tentu dia tidak akan diam saja.
View MorePita satin maroon itu adalah bukti bisu dari kebohongan yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh seorang gadis SMA.
Di balik pagar rendah Rumah Sakit Harapan Bunda, di bangku semen yang tersembunyi, Tri Ananda Putri menunggu Raihan Azizi. Udara sore itu terasa dingin karena pendingin ruangan rumah sakit, tetapi kecemasan di perut Tri jauh lebih membekukan. Sudah dua jam ia menunggu, sejak bel sekolah berbunyi. Tri melihat jam digital di ponselnya lagi, pukul 16.35. Jakarta sedang mencapai kepadatan maksimal, namun yang membuatnya gelisah bukanlah macet, melainkan pesan terakhir Raihan, empat jam lalu, "Urusan manajer mendadak. Tunggu. Jangan sampai ada yang lihat". Hubungan ini selalu diselimuti kerahasiaan, seolah cinta mereka adalah proyek rahasia terlarang yang harus dijaga rapat dari pandangan siapa pun, berjalan dalam sunyi, penuh kehati-hatian, namun tetap menyimpan getar rasa yang tak mampu dipadamkan oleh larangan dan keadaan Raihan, perawat senior yang menawan, berusia 25 tahun, tujuh tahun lebih tua darinya. Ia adalah pria dewasa, mapan, dan satu-satunya yang melihat Tri bukan hanya sebagai siswi Kelas XI IPA 2, melainkan sebagai "masa depan." Raihan selalu meyakinkan Tri. "Setelah kamu lulus, kita menikah. Kamu adalah pelabuhan terakhirku." Janji-janji itu membuat Tri rela menyembunyikan hubungan mereka, menahan cemas setiap kali Raihan menghilang tanpa kabar, dan merelakan waktu hangout-nya demi menunggu di bangku semen yang sepi ini. Tri selalu membenarkan, bahwa sedikit pengorbanan masa remaja akan terbayar dengan kehidupan mewah di BSD yang dijanjikan Raihan, jauh dari status siswi biasa. Ia memeluk tas ranselnya, mencoba menghalau rasa dingin dan keraguan. Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah meluncur dari area parkir karyawan. Jantung Tri melonjak. Bukan mobil hatchback biru tua milik Raihan yang biasa, melainkan mobil asing ini. Sedan itu berhenti tepat di depannya. Raihan keluar, tampak lelah dan sedikit terburu-buru. Ia cepat-cepat menghampiri Tri, meraih tangan Tri, dan mencium punggung tangannya, gestur andalan yang selalu berhasil menenangkan Tri, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. "Maafkan aku, Sayang. Mobil ini pinjaman dari teman. Mobilku sedang diservis total. Ada kasus gawat darurat yang menyita waktu," ujar Raihan, nadanya tegas namun penuh kelembutan yang memikat. Tri langsung merasa lega, membiarkan alibi itu meredakan kecurigaan. Tri mengangguk, menghembus napas pasrah memaksa dirinya percaya. Namun, ketika ia masuk ke dalam kabin mobil, hidungnya langsung mencium aroma vanilla dan lily yang kuat, sebuah parfum feminin kelas atas bukan aroma kopi dan mint khas Raihan yang selalu membuatnya nyaman. Alis Tri berkerut aroma ini asing, menusuk, dan terasa terlalu manis untuk mobil pinjaman dari teman kantor pria. "Aroma mobilnya wangi sekali, Kak," ujar Tri, suaranya terdengar terlalu santai. Ia berusaha mencari tahu, apakah Raihan menyadari adanya aroma ini, namun wajah Raihan tetap datar tanpa cela. Raihan hanya tersenyum samar, matanya menghindari pandangan Tri. "Temanku memang menyukai aroma manis. Sudah, jangan pikirkan yang tidak penting. Malam ini aku ingin kamu ada di sisiku." Saat Raihan menghidupkan mesin, mata Tri tertuju pada sebuah benda kecil yang terselip di bawah karpet bangku penumpang. Itu adalah sehelai pita rambut satin berwarna maroon. Pita dengan simpul yang feminin dan mahal. Pita itu seolah ditinggalkan tergesa-gesa. Tri tidak pernah menggunakan warna itu. Jantung Tri mulai berdebar kencang. Ia menunduk pura-pura merapikan tas ranselnya, dan dengan cepat menyambar pita itu, menyimpannya di telapak tangan. Rasa licin pita itu terasa seperti kebenaran yang pahit. Kenapa benda ini ada di bawah karpet? Bukankah Raihan bilang ini mobil pinjaman? Pikiran Tri mulai menyusun skenario terburuk. Tri menoleh, menatap Raihan yang fokus menyetir, wajahnya tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Tri memaksakan diri untuk memejamkan mata, berdoa agar ia salah, berharap pita itu milik temannya Raihan yang lain. Namun, saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumah sakit, Tri menoleh ke belakang, melalui kaca belakang mobil. Ia melihat seorang wanita tinggi dan anggun berseragam perawat biru tua berdiri di dekat pos satpam. Wanita itu tampak memegang sebuah koper kecil, menunggu taksi, dan tatapannya tampak getir. Dan di pergelangan tangan wanita itu seolah disengaja, atau mungkin kebetulan yang kejam terpasang sebuah gelang mencolok dengan hiasan permata merah. Tri merasakan getaran yang menjalar, mengingat gelang merah yang sama persis pernah ia lihat di story I*******m Raihan, yang diklaim sebagai 'hadiah untuk sepupu yang baru wisuda'. Tri kemudian mengingat janji konyol Raihan beberapa bulan lalu, ketika Raihan bercerita soal mobil ini: "Ini mobil tunanganku dulu. Dia perawat senior di sini. Aku akan menjualnya karena aku sudah memilihmu." Jika ini adalah mobil yang dimaksud Raihan, lalu siapa yang mengendarainya pagi ini? Dan mengapa mobil ini ada di sini, di saat Raihan bilang sedang lembur gawat darurat, dan mengapa Raihan tiba-tiba meminjamnya dari orang yang seharusnya sudah ia lupakan? Tri menahan napas. Ia tahu, ia tidak salah. Ada sesuatu yang sangat salah. Raihan tiba-tiba menghentikan mobilnya di lampu merah, seolah ia merasakan kegelisahan Tri. Ia menoleh ke Tri, tersenyum lebar, mematahkan semua keraguan dengan satu gestur. "Oh ya, Sayang. Ada kabar baik. Aku dapat tugas luar kota mendadak selama dua hari. Ini tugas penting, jadi aku tidak bisa dihubungi. Tapi, sepulang dari sana, aku akan melamarmu secepatnya."Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Aku tidak pernah menyadari bahwa keberadaan bisa terasa begitu rapuh.Seperti lilin di tengah angin.Tidak tahu kapan padam.Tidak tahu siapa yan
Aku tidak pernah takut pada hantu.Tapi hari itu, aku takut pada sesuatu yang jauh lebih nyata.Leonard berdiri di depan pintu kamar rumah sakit. Tangannya terdiam di udara seb
Aku tidak tidur malam itu.Bagaimana mungkin?Tubuhku sendiri baru saja berbicara padaku.Dan bukan dengan kebingungan orang yang bar
Aku tidak pernah menyangka bahwa ancaman bisa datang secepat ini.Semua terjadi hanya tiga hari setelah pesan anonim itu.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews