Chapter: 62. Renata Kabur LagiRenata tidak menyahut dan tidak bergerak. Abimana tidak berpikir aneh-aneh. Dia naik ke atas ranjang dan mengangkat tangannya tapi di turunkan kembali. Abimana tidak jadi memukul pantat wanita itu. Dia takut wanita itu marah lagi. Dia pun akhirnya berbaring di sisinya dengan tenang."Besok pagi aku tidak akan melepaskanmu."Nada suara Abimana terdengar lembut. Saat akan memejamkan mata, Abimana merasa kedinginan, padahal penghangat ruangan sudah dinyalakan. Ternyata udara dingin itu masuk dari pintu balkon yang sedikit terbuka. Abimana mengernyit. Dia merasa ada yang aneh. Hingga dia tersadar ada yang hilang yaitu kain gorden. Wajah Abimana menggelap, pria itu menyibak selimut. Dan hanya ada bantal yang disusun."Dasar rubah!"Auman Abimana menggelegar, membuat Renata yang sedang bergelantungan menegang. Karena kaget, Renata hampir saja melepaskan pegangannya. Abimana langsung loncat dari ranjang dan berlari
آخر تحديث: 2026-04-27
Chapter: 61. Perlawanan RenataBulu mata Abimana terangkat, mata pria itu berkabut dan penuh nafsu. Pria itu berkata, "Kemari!" Suara Abimana terdengar serak dan berat, seperti sedang menahan sesuatu. Renata tercekat dan berjalan mundur. Di bawah tatapan panas Abimana, Renata bergidig ngeri. Dia sudah bersumpah tidak mau lagi berhubungan intim dengan pria tidak setia itu. Dia juga tidak akan plinplan lagi. Renata langsung lari ke kamar mandi. Namun saat pintu akan tertutup, sebuah kaki mengganjalnya. Renata yang panik langsung mendorong pintu dengan kuat, tapi Abimana lebih kuat lagi. Pria itu akhirnya masuk dan mendorongnya ke dalam. Tubuh Renata terhuyung. Abimana berjalan mendekat sambil menyeringai, "Kamu ingin melakukannya di kamar mandi ya?" Renata tercengang. Wanita itu mendengus dingin. Renata benar-benar tidak menyangka dengan sikap Abimana yang semakin tidak tahu malu. Dulu saat remaja, Renata berpikir Abimana seperti sosok Garuda. Burung mitologi yang gagah dan agung. Tapi ternyata, dia lebih layak
آخر تحديث: 2026-04-25
Chapter: 60. Semua Sudah BerubahAbimana tersenyum sinis, "Kalian berdua dalam pengawasanku sekarang. Jika kalian terlibat dengan konspirasi ini?" Abimana menggantung ucapannya lalu menyeringai. Dengan jarinya, Abimana melakukan gerakan seperti memotong lehernya. "Kalian akan segera berakhir!"Dokter dan perawat itu langsung berlutut."Ampuni kami!""Tolong Tuan, ampuni kami!" "Tergantung sikap kalian!"Abimana malas meladeni dua orang itu jadi dia pergi setelah membuat orang lain merasa ketakutan.Setelah Abimana pergi, perawat itu langsung terduduk lesu dan menangis.Dokter yang sudah tua itu memegang dadanya. Dia hampir terkena serangan jantung.***Di vila.Renata tidur meringkuk seperti bayi. Dia membungkus tubuhnya seperti kepompong.Tanpa Renata tahu, Abimana sedang berdiri menatapnya dengan perasaan berkecambuk. Setelah beberapa saat pria itu pergi ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaiannya dan membuangnya ke tong sampah.Abimana menyalakan kran dan berdiri di bawah guyuran air dingin. Dia pikir air din
آخر تحديث: 2026-04-22
Chapter: 59. MurahanBunyi alarm membuat semua orang menatap ruang ICU. "Ayah ... " Wajah Dayana memucat dan tubuhnya limbung, untung Dona segera menangkapnya. Abimana dan yang lainnya hendak masuk tapi perawat yang berjaga di ruang ICU membuka pintu dan berdiri dengan panik. "Jangan masuk dulu! Dokter akan segera datang!" Tidak lama kemudian Dokter datang bersama perawat lain. "Apa yang terjadi?" "Jantung pasien mendadak berhenti." Pintu ICU kembali tertutup. Suasana menjadi hening dan penuh kekhawatiran. "Semoga Moris bisa selamat." Semua orang berpikir demikian. Namun ada orang yang berharap Moris tiada. Dayana yang sedang bersandar dipelukan Dona melirik ke arah Kevin. Kevin tersenyum tipis. Jantung Dayana seakan meledak, air matanya jatuh satu persatu. Tapi dia sudah terlanjur memilih jalan ini. Sekarang dia sudah tidak bisa kembali lagi. Keadaan Moris sangat mengkhawatirkan. Dokter melakukan berbagai rangkaian tindakan hingga detak jantung Moris kembali berdetak, tapi dia dinyatakan
آخر تحديث: 2026-04-08
Chapter: 58. Dua Sisi Mata Koin"Sudahlah ... kendalikan dirimu." Tanpa sadar, tangan Abimana mengelus pundak gadis yang menangis dipelukannya. Suaranya yang biasa dingin juga terdengar sedikit melembut. Sejak dulu bagi Abimana, Dayana adalah gadis yang kasihan. Ibu Dayana meninggal saat dia masih kecil. Jika bukan karena Ibu Dayana yang menjadi donor ginjal untuknya, dia pasti tidak akan hidup sampai sekarang. Sentuhan lembut itu membuat Dayana tertegun. Kepercayaan dirinya meningkat. "Kak Abi masih mencintaiku. Kemarin dia hanya marah," pikirnya. Tidak lama kemudian seseorang datang dan menyapa dengan suara yang ceria dan hangat. "Hai Abi!" Abimana mengerutkan dahinya. Sedangkan Dayana langsung menegang. Abimana menoleh dan wajahnya menjadi masam. Orang yang datang itu adalah Kevin. Dia adalah anak mendiang pamannya dan kakak kandung Nathan. Yang satu saingan dalam kekuasaan dan yang satu saingan dalam cinta. Wajah Nathan dan Kevin sangat mirip. Sama-sama memiliki wajah tampan dan lembut sekaligus bermul
آخر تحديث: 2026-03-26
Chapter: 57. Terjebak!Renata berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh Abimana. "Aku tidak kejam Abi. Jika aku wanita kejam, aku pasti sudah melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan padaku selama pernikahan kita. Contohnya, berselingkuh!" ujarnya dengan acuh tak acuh.Gadis sialan itu menyindir lagi.Abimana masih tersenyum getir. Pria itu berusaha untuk menekan emosinya karena suasana hati Renata sedang buruk, jadi sebaiknya Abimana mengalah sekarang. ''Baiklah Ren, aku tidak akan mengganggumu."Pria itu berbalik dan berjalan pergi, seolah semua baik-baik saja. Namun, langkahnya terhenti ketika Renata bertanya, "Kenapa kamu tidak membunuhku saja?"Pertanyaan yang membuat suasana menjadi semakin hening.Abimana menoleh, sorot matanya begitu dalam. "Bu Mikayla sudah memberi tahumu?" tanya Abimana."Yah!" jawab Renata dengan suara bergetar, tatapannya tampak rumit. Ini bukan pertama kalinya Abimana menekannya. Tapi kali ini dia benar-benar keterlaluan.Mata Abimana berkelit, dia membasahi bibi
آخر تحديث: 2026-01-29
Chapter: 166. Arti Dari KehidupanAdhinatha mengerjabkan matanya. Sejak terakhir pemuda itu melukai saudara sepupunya. Tidak pernah Adhinatha menunjukan batang hidungnya ataupun menyapa pada Indrayana. Itu semua karena dia merasa malu. "Lepaskan! Aku juga ingin melakukan penebusan dosa." "Dengan bunuh diri maksudmu!" Ujar Indrayana tanpa melepas cekalannya, sebelah alisnya terangkat. "Ibuku tidak bunuh diri! Begitu pun aku!" ujar Adhinatha dingin. Indrayana melepas cekalannya, sudut bibirnya terangkat, "Nyawa memang harus di bayar dengan nyawa. Hukuman mati memang pantas untuk Ibumu. Tapi kamu tidak!" "Berhenti membuatku malu, Indrayana. Aku telah melukai dirimu dan berniat melenyapkanmu!" ujar Adhinatha dengan nada putus asa. Indrayana menatap lamat ke arah adik sepupunya lalu kembali berkata, "Kalau begitu aku yang berhak menghukummu. Maka hukumanmu adalah dengan menuruti permintaanku!" Pemuda itu melirik ke arah istrinya dengan senyum jahil. Candramaya yang sangat hafal dengan sifat Indrayana hanya bisa menden
آخر تحديث: 2025-04-10
Chapter: 165. Pati ObongDamayanti Citra merenung sepanjang malam, dia meringkuk di atas ranjang dengan perasaan bersalah. Semakin dia mengelak semakin merasa malu. "Aku akan melakukan penebusan dosa!" Gumamnya dengan penuh tekad. Wanita itu melakukan puasa mutih untuk membersihkan diri dan jiwanya dari segala dosa dan kepahitan. Hal sama juga di lakukan oleh Candramaya. Setelah satu pekan masa berkabung, Arya Balaaditya naik tahta menjadi raja pengganti Adi Wijaya. Karena stempel kerajaan ada di tangannya sekarang. Dan Asri Kemuning adalah pewaris yang sah. Namun karena negeri Harsa Loka harus di pimpin oleh laki-laki, maka suaminya-lah yang akan naik tahta. Upacara penobatannya di lakukan dengan hidmat di alun-alun di depan rakyat. Tugas pertama yang harus dilakukan oleh Arya Balaaditya adalah menghukum pelaku teror dan pembunuh Damarjati dan ketiga rekannya. Awalnya semua orang cukup terkejut dengan pakaian yang dikenakan oleh Damayanti Citra, pasalnya dia memakai pakaian yang membuat orang bertanya-t
آخر تحديث: 2025-04-10
Chapter: 164. Hati seluas SamudraDeg!Ucapan putranya telah menghancurkan keyakinan Damayanti Citra. Wanita itu mengerjabkan matanya yang mulai terasa panas. Genangan air mata itu telah tumpah. Kenyataan itu membuatnya sakit. "Narendra ... " gumamnya.Adhinatha mengerjabkan matanya yang mulai memanas, dia merasa sedih dan tidak tega. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah sel. Kedua tangannya terangkat dan hendak memasukannya ke dalam celah besi.Damayanti Citra tetap bergeming saat Adhinatha memanggilnya, "Ibu ... kemarilah."Perubahan emosi Damayanti Citra sangat mudah berubah. Tadi dia menangis tersedu-sedu dan sekarang tertawa sinis, "Kenapa hanya aku yang terbakar? Kamu dan wanita sialan itu tidak. Kenapa?" tanyanya dengan nada putus asa."Karena aku telah membuang segala kepahitan dalam hatiku," jawab Adhinatha dengan lirih."Jadi kamu mau bilang kalau hati Ibumu ini penuh dengan kepahitan?" ucapan Damayanti Citra terhenti, wanita itu mengangkat sudut bibirnya lalu kembali tertawa sinis, "Heh! Mereka telah menyu
آخر تحديث: 2025-04-09
Chapter: 163. Wanita PicikDamayanti Citra mendengkus kesal, kedua alisnya semakin menukik tajam. Asri Kemuning memegang jeruji besi dengan kuat, wajahnya yang lembut berubah dingin. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan berkata dengan sedikit berteriak, "Aku berpenyakitan! Bahkan setiap detik aku takut mati. Aku takut tidak bisa melihat tumbuh kembang putraku. Sedangkan kamu? Kamu sehat Citra! Kamu sehat dan kamu bisa berada di sisinya setiap waktu. Jika masalah kasih sayang dan dukungan orang tua, kita sama Citra. Kamu tidak mendapatkan kasih sayang Ibumu dan aku Romoku. Hanya bedanya adalah Ibumu telah wafat saat melahirkanmu dan Romoku masih hidup dan terus mengabaikanku."Damayanti Citra juga ikut berteriak karena merasa tertohok. Namun tidak mau mengakuinya, "Tapi suamimu setia! Sedangkan aku tidak!"Asri Kemuning terperangah mendengar jawaban Iparnya lalu menggelengkan kepala. "Kenapa kamu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain? Setia atau tidaknya seseorang itu pilihan. Bukan takdir atau nasib, Ci
آخر تحديث: 2025-04-09
Chapter: 162. Mantra Suci"Hah!" Candramaya tersadar. Candramaya membuka matanya. Mata merah menyala itu kembali ke semula. "Indrayana ... " panggilnya dengan linglung.Indrayana tertawa lirih, "Kamu kembali!""Apa yang terjadi? Kenapa tanganku menyerangmu?" Candramaya memang tersadar tapi tubuhnya masih dikendalikan oleh sosok hitam Putri Tanjung Kidul. Gadis itu mendongak dan menatap sekitar dengan bingung. Candramaya mencoba mengangkat tangannya ke atas namun yang terjadi justru tangan itu semakin kuat menekan ke bawah. "Gunakan mustika itu, cepattt!!" pekiknya."Tapi aku akan melukaimu!" ujar Indrayana dengan perasaan gamang."Tidak akan!" Karena kedua tangan Indrayana sedang menahan serangan Candramaya. Pemuda itu akhirnya memukul punggung Candramaya dengan menggunakan lututnya dengan cukup keras.Bug!Akkhhh!Tubuh Candramaya oleng, keris itu terlempar cukup jauh. Indrayana mengambil kesempatan itu untuk memegangi kedua tangan Candramaya. Dan membalikkan keadaan dengan menduduki tubuh gadis itu yang ja
آخر تحديث: 2025-04-07
Chapter: 161. Pertarungan Batin CandramayaArya Balaaditya menahan tubuh Istrinya yang hendak menghampiri putranya. Sedangkan Kumala, gadis itu meringsut di dalam pelukan kakeknya.Di bawah derasnya air hujan dan angin yang bertiup kencang. Indrayana bangun dan terduduk di tanah. Pemuda itu meringis saat melihat ekspresi dingin Candramaya.Candramaya berjalan mendekat sambil menggerak-gerakan kuku-kukunya yang panjang. Wajah datar dan menyeramkan itu menyeringai. Indrayana tidak berniat untuk kabur atau semacamnya. Dia hanya mengatur nafas dan menunggu Candramaya menghampirinya dengan pasrah. "Dewata ... " gumamnya.Tatapan Indrayana tertuju pada Mustika yang dia genggam. "Cik! Lemah," eram Candramaya. Tatapannya begitu liar dan beringas. Mendengar cibiran Candramaya, Indrayana tersenyum getir lalu bergumam, "Aku memang lemah!"Baladewa yang tidak tahan akhirnya hendak menyerang Candramaya namun Indrayana berteriak, "Jangan, Paman! Jangan ikut campur!"Indrayana langsung mengangkat tangannya dan membuat jarak dengan membuat
آخر تحديث: 2025-04-06
Chapter: Bab 82Zaidan tidak bisa marah. Dia melepaskan pelukannya dan berkata lembut, "Pergi ke kamar dan jalan dengan hati-hati. Jangan sampai kamu tersandung."Gadis itu tidak menghiraukan peringatan kakaknya dan masuk ke dalam sambil berlari. Zaidan hanya bisa menghela nafas karena adiknya sangat sulit diatur. Sedangkan Danis, dia tercengang melihat sikap Zaidan yang tidak berubah. Pria itu benar-benar pintar memperlakukan wanita. Pantas, banyak wanita yang memujanya.Saat Zaidan menarik tatapannya dari adiknya yang sedang menaiki tangga, dia menoleh menatap sahabatnya. Ekspresi Zaidan langsung masam saat melihat tatapan julid Danis."Kenapa melihatku seperti itu?"Danis menjawab dengan sinis, "Cih!! Aku sekarang tahu kenapa kamu mendapatkan gelar 'Buaya Darat kelas kakap."Zaidan tersipu, dia mengangkat kedua alisnya dengan bangga. Pria itu merangkul bahu Danis dan berbisik, "Singkirkan ekspresimu yang menyebalkan itu! Jika ingin dapat restu.""Memangnya aku perduli!""Huh! Dasar!"Danis menyin
آخر تحديث: 2026-03-08
Chapter: Bab 81Danis memekik, "Akkkhhh! Gadis sinting!" Karena pembatas mobil sudah diturunkan, Robi dan sopir tidak tahu apa yang terjadi di balik pembatas itu. Jambakan Zahira memang sakit dan pedih. Tapi kekuatan Danis jauh lebih besar. Dengan geram, Danis menarik kedua tangan Zahira yang penuh dengan rambutnya. Dan dengan satu gerakan, posisi dan keadaan mereka sudah berbalik. Danis menindih gadis itu, tubuhnya yang besar menutupi tubuh kecil Zahira. Zahira yang terhimpit di kursi langsung panik dan sesak nafas, "Akhhh! Berat sekali! Kakak mau apa?"Danis tersenyum miring, ekspresinya sangat mengerikan. "Apa lagi? Tentu saja mendidikmu!"Pria itu menarik dasinya dengan kuat, tatapannya terlihat lapar. Zahira menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau di unboxing!"Danis mengabaikan ocehan gadis itu. Dia menarik kedua tangan gadis yang sedang histeris dan mulai mengikatnya dengan dasi. Danis menggunakan simpul khusus. Semakin Zahira bergerak, ikatannya semakin kuat.Zahira me
آخر تحديث: 2026-03-08
Chapter: Bab 80Emran tersentak. Sorot mata Emran goyah, saat melihat Zahira yang berdiri menatapnya dengan kecewa. Dengan malu dia berkata, "Aku tidak bermaksud begitu. Ra ... Kakak bisa jelaskan."Zahira tersenyum getir, "Aku tidak menyangka, kamu ternyata tega sekali."Emran mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai kehilangan kendali. Pria itu berteriak seperti orang gila, "Aku tidak seperti itu! Aku tidak egois ataupun kejam! Ini semua gara-gara kamu Danis! Kamu yang sudah mencuci otak Zahira agar dia membenciku! Sialan! Aku akan membunuhmu!"Emran yang sudah seperti kesurupan langsung menerjang Danis dan melayangkan sebuah pukulan di wajahnya.Bug!Danis terhuyung, wajahnya tertoleh. Zahira menangkap tubuh Danis, saking beratnya dia hampir ikut terjatuh.Melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Danis, Zahira merasa sakit hati. Gadis itu merasa Emran sudah keterlaluan. Dia langsung berjalan maju untuk menghardik pria itu. Dia langsung berteriak tepat di depan wajahnya."Emran, cukup! Kamu s
آخر تحديث: 2026-03-03
Chapter: Bab 79"Cukup! Berhenti sampai di sini, Emran!" gadis itu menarik kembali tangannya dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, pria itu tidak mau mengalah. Emran meremas tangan gadis itu hingga otot tangannya menegang. Biarpun wajahnya terlihat khawatir, tapi sikapnya sangatlah kejam. "Aku peduli padamu! Aku satu-satu orang yang peduli padamu!" ujarnya. Zahira meringis, matanya memerah dan berair. Sekujur tubuhnya merinding karena rasa sakit di tangannya. Sepuluh jari jemarinya rasanya akan remuk. Hingga seseorang berteriak dengan lantang, "Lepaskan pacarku!" Zahira tersentak, wajahnya semakin pucat, tenggorokannya terasa kering. Dia telah ketahuan berbohong. Emran melirik ke sumber suara, matanya langsung menggelap. Seorang pria dengan setelan baju mahal, rapi dan terlihat elegan berjalan mendekat dengan langkahnya yang panjang. Melihat Emran menggenggam kedua tangan gadisnya, dia pun menyipit. "Lepaskan!" suara Danis terdengar berat dan dominan. Emran melepaskan genggamannya bukan karena t
آخر تحديث: 2026-02-17
Chapter: Bab 78Danis menunduk menatap kopi yang tinggal setengah dan masih mengepul. Dia sebenarnya ingin sekali membahas soal pertunangan. Tapi Zahira sudah bangun dari kursinya dan berkata, "Aku masuk ke kamar dulu. Sebelum pergi, habiskan dulu kopinya."Suaranya tidak dingin tapi juga tidak hangat. Datar!Sambil meregangkan pinggangnya, Zahira masuk ke dalam kamar. Gadis itu berdiri di balik pintu dengan dahi berkerut.Sorot mata Danis menggelap, dia marah dan kecewa. Walaupun dia kehilangan sebagian ingatannya. Tapi dia sangat yakin bahwa seumur hidupnya, dia pasti tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita.Buktinya, banyak wanita yang mengaku mengenal dan bahkan mengaku menjadi pacarnya setelah keadaannya yang amnesia bocor keluar. Setelah dia sadar dari koma, tersebar rumor bahwa dia kehilangan ingatan. Untungnya rumor itu sudah dibersihkan.Pria itu bangkit dan mengangkat cangkirnya dan cangkir Zahira dan mencucinya. Setidaknya, saat gadis kejam itu bangun, dia tidak perlu me
آخر تحديث: 2026-02-16
Chapter: Bab 77Emran hanya berbalik tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Talitha, dia hanya tersenyum getir. Karena tujuan Talitha sebenarnya bukan untuk menemui Emran, gadis itu berjalan menuju toilet sambil mengirim pesan.[Aku di toilet.]Tidak lama kemudian, pesan balasan itu datang.Ting![Ya.]Talitha tersenyum, dia masuk ke dalam toliet dan menaruh papan peringatan di depan toilet agar tidak ada yang masuk kecuali orang yang dia tunggu. Gadis itu bersandar di wastafel sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan hidmat.Klekk!Seorang wanita memakai pakaian seragam suster masuk mendekat dan menyapa, "Selamat pagi, Nona Talitha."Talitha tidak menjawab, dia hanya sibuk menghisap rokoknya. Asap keabuan itu mengepul menutupi ekspresi wajahnya. Hingga perlahan asap itu memudar, wajah yang selalu tampak hangat dan lembut itu terlihat dingin. Talitha mengambil amplop coklat di dalam tasnya dan melemparnya tanpa aba-aba.Bela menangkap amplop yang cukup tebal itu. Wanita itu membukanya t
آخر تحديث: 2026-02-03