Chapter: 68. Rumput LiarReino mengikuti Abimana dengan tenang, tapi pikirannya tidak. Dia masih memikirkan keputusan bosnya yang melepaskan tiga orang itu pergi begitu saja. Reino pun membuka mulutnya karena penasaran. "Kenapa Bos melepaskan mereka begitu saja?"Abimana tidak menjawab, pria itu tetap berjalan dengan santai. Reino mengernyit.Mungkin bosnya nggak dengar atau nggak mau jawab. Reino yang nggak sayang nyawa pun mulai berceloteh lagi."Padahal jika Tuan sekali saja kasih perintah, video itu akan lenyap dari dunia ini termasuk orang yang bernama Nathan." Abimana berhenti di depan pintu ruang kerja. Pria itu berbalik, sorot matanya sedingin es. Reino tersenyum kaku.Niatnya ingin mencairkan suasana, tapi yang ada malah semakin menjadi beku."Kamu pikir aku takut? Atau aku bodoh?" Abimana bersedekap angkuh, kedua alisnya saling bertautan.Iris mata Reino melebar, "Bukan begitu!!"
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 67. Seperti Danau Yang Tak BeriakRenata hendak menolongnya tapi tangannya di cekal. Kedua alisnya wanita itu menukik tajam."Lepasiin!"Sorot mata Abimana bergetar dan tampak putus asa, Renata sempat tertegun. Dia belum pernah melihat Abimana seperti ini. Tapi saat pria itu berkedip, mata hitamnya dipenuhi dengan obsesi. Keputusasaan yang tadi Renata lihat tampak seperti ilusi."Kamu nggak boleh nolong dia!" ujarnya dengan suara tertahan.Abimana menarik dan memeluknya dengan erat. Tapi Renata tidak menyerah, dia terus berusaha keluar dari pelukan pria gila itu."Aku bilang, lepasin!""Nggak!!!""Lepasin dia Abi!!!"Orang yang terakhir berseru itu adalah Nathan.Abimana tidak mau mengalah, "Pengawal!"Darma dari tadi berdiri saja karena tidak berani menyinggung pria berkuasa seperti Abimana. Dia hanya bisa pasrah melihat drama cinta segitiga yang penuh dengan kekerasan itu.Sekelompok pria berpakai serba hitam berlari
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: 66. Selembar KertasKetiga pria di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Suara yang merdu itu seperti duri yang menusuk telinga Abimana. "Nat ... " panggil Renata.Nathan tersenyum lembut.Tak! Tak!Langkah wanita itu begitu mantap dan ringan karena hari ini adalah hari kebebasannya. Akhirnya sebentar lagi Renata bisa bebas dari belenggu yang mengikat kakinya. Belenggu itu bernama Abimana. Cinta pertamanya yang seperti bisa racun.Renata berjalan mendekat. Wanita itu memakai gaun berwarna hitam semata kaki dengan belahan yang cukup tinggi dan menantang. Memperlihatkan kakinya yang ramping seperti kaki rusa. Rambut panjangnya di sanggul dan memperlihatkan pundaknya yang mulus. Dia memakai riasan tipis, cukup untuk menutupi wajahnya yang pucat.Tatapan Abimana pun menggelap, dia ingin sekali menampar pantat wanita itu karena turun dengan penampilan yang memukau saat ada tamu. Padahal tadi pagi dia masih seperti mayat hidup.
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: 65. Melukai Lalu MengobatiRenata mengangkat tangannya. Dia ingin memukul, tapi Abimana segera menangkapnya dan meremas pergelangan tangannya hingga lukanya kembali berdarah.Renata meringis kesakitan. Abimana merasa sesuatu yang lengket di tangannya. Dia pun melepaskan tautannya. Mata yang bergelora langsung padam saat melihat pergelangan tangan Renata kembali basah. Abimana merasa menyesal, dia pun mengumpat ."Sial!!!"Pria itu bangun dan mengambil perban dan obat. Dia duduk di tepi ranjang dan kembali membalut lukanya. Abimana juga sempat meniupnya beberapa kali agar lukanya tidak terlalu sakit. Pria Itu menunjukan kasih sayangnya. Namun Renata tidak lagi tersentuh karena sudah mati rasa. Alasan Renata mati rasa karena kebiasan Abimana, menyakiti lalu mengobati.Setelah selesai, Abimana menaruh kotak obat di atas nakas."Aku mandi dulu."Abimana mengelus kepalanya. Sudut mata Renata memerah bukan karena terharu tapi karena merasa dirinya begitu bodoh.Cintanya memang terlalu besar, tidak setara dengan c
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 64. Wanita Angkuh Yang PUtus AsaRenata tersenyum getir dan berkata lirih, "Kalau aku mati, kamu mau lepasin aku kan?"Abimana tercekat. Sudut matanya memerah.Pertanyaan itu seperti mata pisau yang menyayat hatinya. Pedih sekali!Dengan tatapan tajam, suara dingin Abimana mengalun. "Jangan mimpi!!!"Renata terhenyak. Dia seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Matanya pun dipenuhi kekecewaan.Di sisi lain. Reino keluar dari ruang kerja dan ingin pergi ke dapur untuk membuat kopi, tapi dia malah menginjak sebuah benda. Saat menunduk matanya langsung melebar dan rasa kantuknya menghilang saat melihat sebuah pisau lipat berlumuran darah. Dia pun mengikuti tetesan darah sambil mengeluarkan senjata api dari saku mantelnya untuk berjaga-jaga.Saat di tangga dia mendengar auman Abimana, dia pun segera berlari.Kamar tuannya terbuka dan saat masuk matanya langsung melebar, "Tuan!! Apa yang terjadi?"Pemandangan yang Reino
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: 63. Aku Menyesal!Renata bergeming. Dia tidak tersentuh atas perlakuan lembut mantan suaminya itu. Dia justru semakin tertekan. Renata tidak kaget jika Abimana mengalihkan topik. Tapi tujuannya nekat turun lewat balkon karena memang ingin menghindarinya."Abi ... kamu bisa nggak lepasin aku? Kita kan sudah cerai. Aku mohon, Abi. Lepasin aku ... ya. "Suara Renata terdengar bergetar dan air matanya mengalir. Ini pertama kalinya dia memohon dan memperlihatkan kelemahannya. Wanita itu bahkan bersujud di tanah.Wanita itu benar-benar putus asa.Hati Abimana terasa tertindih gunung. Dia terduduk di tanah dengan lesu.Bagaimana tidak? Tekad Renata untuk meninggalkannya sangat kuat. Wanita sombong dan penuh percaya diri sepertinya bahkan mau bersujud. Semua demi berpisah darinya.Di sisi lain ada Reino dan para pengawal. Mereka seperti sedang menonton drama rumah tangga yang mengharu biru dan penuh ketegangan. Mereka ingin sekali meli
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 82Zaidan tidak bisa marah. Dia melepaskan pelukannya dan berkata lembut, "Pergi ke kamar dan jalan dengan hati-hati. Jangan sampai kamu tersandung."Gadis itu tidak menghiraukan peringatan kakaknya dan masuk ke dalam sambil berlari. Zaidan hanya bisa menghela nafas karena adiknya sangat sulit diatur. Sedangkan Danis, dia tercengang melihat sikap Zaidan yang tidak berubah. Pria itu benar-benar pintar memperlakukan wanita. Pantas, banyak wanita yang memujanya.Saat Zaidan menarik tatapannya dari adiknya yang sedang menaiki tangga, dia menoleh menatap sahabatnya. Ekspresi Zaidan langsung masam saat melihat tatapan julid Danis."Kenapa melihatku seperti itu?"Danis menjawab dengan sinis, "Cih!! Aku sekarang tahu kenapa kamu mendapatkan gelar 'Buaya Darat kelas kakap."Zaidan tersipu, dia mengangkat kedua alisnya dengan bangga. Pria itu merangkul bahu Danis dan berbisik, "Singkirkan ekspresimu yang menyebalkan itu! Jika ingin dapat restu.""Memangnya aku perduli!""Huh! Dasar!"Danis menyin
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 81Danis memekik, "Akkkhhh! Gadis sinting!" Karena pembatas mobil sudah diturunkan, Robi dan sopir tidak tahu apa yang terjadi di balik pembatas itu. Jambakan Zahira memang sakit dan pedih. Tapi kekuatan Danis jauh lebih besar. Dengan geram, Danis menarik kedua tangan Zahira yang penuh dengan rambutnya. Dan dengan satu gerakan, posisi dan keadaan mereka sudah berbalik. Danis menindih gadis itu, tubuhnya yang besar menutupi tubuh kecil Zahira. Zahira yang terhimpit di kursi langsung panik dan sesak nafas, "Akhhh! Berat sekali! Kakak mau apa?"Danis tersenyum miring, ekspresinya sangat mengerikan. "Apa lagi? Tentu saja mendidikmu!"Pria itu menarik dasinya dengan kuat, tatapannya terlihat lapar. Zahira menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau di unboxing!"Danis mengabaikan ocehan gadis itu. Dia menarik kedua tangan gadis yang sedang histeris dan mulai mengikatnya dengan dasi. Danis menggunakan simpul khusus. Semakin Zahira bergerak, ikatannya semakin kuat.Zahira me
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 80Emran tersentak. Sorot mata Emran goyah, saat melihat Zahira yang berdiri menatapnya dengan kecewa. Dengan malu dia berkata, "Aku tidak bermaksud begitu. Ra ... Kakak bisa jelaskan."Zahira tersenyum getir, "Aku tidak menyangka, kamu ternyata tega sekali."Emran mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai kehilangan kendali. Pria itu berteriak seperti orang gila, "Aku tidak seperti itu! Aku tidak egois ataupun kejam! Ini semua gara-gara kamu Danis! Kamu yang sudah mencuci otak Zahira agar dia membenciku! Sialan! Aku akan membunuhmu!"Emran yang sudah seperti kesurupan langsung menerjang Danis dan melayangkan sebuah pukulan di wajahnya.Bug!Danis terhuyung, wajahnya tertoleh. Zahira menangkap tubuh Danis, saking beratnya dia hampir ikut terjatuh.Melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Danis, Zahira merasa sakit hati. Gadis itu merasa Emran sudah keterlaluan. Dia langsung berjalan maju untuk menghardik pria itu. Dia langsung berteriak tepat di depan wajahnya."Emran, cukup! Kamu s
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: Bab 79"Cukup! Berhenti sampai di sini, Emran!" gadis itu menarik kembali tangannya dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, pria itu tidak mau mengalah. Emran meremas tangan gadis itu hingga otot tangannya menegang. Biarpun wajahnya terlihat khawatir, tapi sikapnya sangatlah kejam. "Aku peduli padamu! Aku satu-satu orang yang peduli padamu!" ujarnya. Zahira meringis, matanya memerah dan berair. Sekujur tubuhnya merinding karena rasa sakit di tangannya. Sepuluh jari jemarinya rasanya akan remuk. Hingga seseorang berteriak dengan lantang, "Lepaskan pacarku!" Zahira tersentak, wajahnya semakin pucat, tenggorokannya terasa kering. Dia telah ketahuan berbohong. Emran melirik ke sumber suara, matanya langsung menggelap. Seorang pria dengan setelan baju mahal, rapi dan terlihat elegan berjalan mendekat dengan langkahnya yang panjang. Melihat Emran menggenggam kedua tangan gadisnya, dia pun menyipit. "Lepaskan!" suara Danis terdengar berat dan dominan. Emran melepaskan genggamannya bukan karena t
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 78Danis menunduk menatap kopi yang tinggal setengah dan masih mengepul. Dia sebenarnya ingin sekali membahas soal pertunangan. Tapi Zahira sudah bangun dari kursinya dan berkata, "Aku masuk ke kamar dulu. Sebelum pergi, habiskan dulu kopinya."Suaranya tidak dingin tapi juga tidak hangat. Datar!Sambil meregangkan pinggangnya, Zahira masuk ke dalam kamar. Gadis itu berdiri di balik pintu dengan dahi berkerut.Sorot mata Danis menggelap, dia marah dan kecewa. Walaupun dia kehilangan sebagian ingatannya. Tapi dia sangat yakin bahwa seumur hidupnya, dia pasti tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita.Buktinya, banyak wanita yang mengaku mengenal dan bahkan mengaku menjadi pacarnya setelah keadaannya yang amnesia bocor keluar. Setelah dia sadar dari koma, tersebar rumor bahwa dia kehilangan ingatan. Untungnya rumor itu sudah dibersihkan.Pria itu bangkit dan mengangkat cangkirnya dan cangkir Zahira dan mencucinya. Setidaknya, saat gadis kejam itu bangun, dia tidak perlu me
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 77Emran hanya berbalik tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Talitha, dia hanya tersenyum getir. Karena tujuan Talitha sebenarnya bukan untuk menemui Emran, gadis itu berjalan menuju toilet sambil mengirim pesan.[Aku di toilet.]Tidak lama kemudian, pesan balasan itu datang.Ting![Ya.]Talitha tersenyum, dia masuk ke dalam toliet dan menaruh papan peringatan di depan toilet agar tidak ada yang masuk kecuali orang yang dia tunggu. Gadis itu bersandar di wastafel sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan hidmat.Klekk!Seorang wanita memakai pakaian seragam suster masuk mendekat dan menyapa, "Selamat pagi, Nona Talitha."Talitha tidak menjawab, dia hanya sibuk menghisap rokoknya. Asap keabuan itu mengepul menutupi ekspresi wajahnya. Hingga perlahan asap itu memudar, wajah yang selalu tampak hangat dan lembut itu terlihat dingin. Talitha mengambil amplop coklat di dalam tasnya dan melemparnya tanpa aba-aba.Bela menangkap amplop yang cukup tebal itu. Wanita itu membukanya t
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: 166. Arti Dari KehidupanAdhinatha mengerjabkan matanya. Sejak terakhir pemuda itu melukai saudara sepupunya. Tidak pernah Adhinatha menunjukan batang hidungnya ataupun menyapa pada Indrayana. Itu semua karena dia merasa malu. "Lepaskan! Aku juga ingin melakukan penebusan dosa." "Dengan bunuh diri maksudmu!" Ujar Indrayana tanpa melepas cekalannya, sebelah alisnya terangkat. "Ibuku tidak bunuh diri! Begitu pun aku!" ujar Adhinatha dingin. Indrayana melepas cekalannya, sudut bibirnya terangkat, "Nyawa memang harus di bayar dengan nyawa. Hukuman mati memang pantas untuk Ibumu. Tapi kamu tidak!" "Berhenti membuatku malu, Indrayana. Aku telah melukai dirimu dan berniat melenyapkanmu!" ujar Adhinatha dengan nada putus asa. Indrayana menatap lamat ke arah adik sepupunya lalu kembali berkata, "Kalau begitu aku yang berhak menghukummu. Maka hukumanmu adalah dengan menuruti permintaanku!" Pemuda itu melirik ke arah istrinya dengan senyum jahil. Candramaya yang sangat hafal dengan sifat Indrayana hanya bisa menden
Last Updated: 2025-04-10
Chapter: 165. Pati ObongDamayanti Citra merenung sepanjang malam, dia meringkuk di atas ranjang dengan perasaan bersalah. Semakin dia mengelak semakin merasa malu. "Aku akan melakukan penebusan dosa!" Gumamnya dengan penuh tekad. Wanita itu melakukan puasa mutih untuk membersihkan diri dan jiwanya dari segala dosa dan kepahitan. Hal sama juga di lakukan oleh Candramaya. Setelah satu pekan masa berkabung, Arya Balaaditya naik tahta menjadi raja pengganti Adi Wijaya. Karena stempel kerajaan ada di tangannya sekarang. Dan Asri Kemuning adalah pewaris yang sah. Namun karena negeri Harsa Loka harus di pimpin oleh laki-laki, maka suaminya-lah yang akan naik tahta. Upacara penobatannya di lakukan dengan hidmat di alun-alun di depan rakyat. Tugas pertama yang harus dilakukan oleh Arya Balaaditya adalah menghukum pelaku teror dan pembunuh Damarjati dan ketiga rekannya. Awalnya semua orang cukup terkejut dengan pakaian yang dikenakan oleh Damayanti Citra, pasalnya dia memakai pakaian yang membuat orang bertanya-t
Last Updated: 2025-04-10
Chapter: 164. Hati seluas SamudraDeg!Ucapan putranya telah menghancurkan keyakinan Damayanti Citra. Wanita itu mengerjabkan matanya yang mulai terasa panas. Genangan air mata itu telah tumpah. Kenyataan itu membuatnya sakit. "Narendra ... " gumamnya.Adhinatha mengerjabkan matanya yang mulai memanas, dia merasa sedih dan tidak tega. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah sel. Kedua tangannya terangkat dan hendak memasukannya ke dalam celah besi.Damayanti Citra tetap bergeming saat Adhinatha memanggilnya, "Ibu ... kemarilah."Perubahan emosi Damayanti Citra sangat mudah berubah. Tadi dia menangis tersedu-sedu dan sekarang tertawa sinis, "Kenapa hanya aku yang terbakar? Kamu dan wanita sialan itu tidak. Kenapa?" tanyanya dengan nada putus asa."Karena aku telah membuang segala kepahitan dalam hatiku," jawab Adhinatha dengan lirih."Jadi kamu mau bilang kalau hati Ibumu ini penuh dengan kepahitan?" ucapan Damayanti Citra terhenti, wanita itu mengangkat sudut bibirnya lalu kembali tertawa sinis, "Heh! Mereka telah menyu
Last Updated: 2025-04-09
Chapter: 163. Wanita PicikDamayanti Citra mendengkus kesal, kedua alisnya semakin menukik tajam. Asri Kemuning memegang jeruji besi dengan kuat, wajahnya yang lembut berubah dingin. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan berkata dengan sedikit berteriak, "Aku berpenyakitan! Bahkan setiap detik aku takut mati. Aku takut tidak bisa melihat tumbuh kembang putraku. Sedangkan kamu? Kamu sehat Citra! Kamu sehat dan kamu bisa berada di sisinya setiap waktu. Jika masalah kasih sayang dan dukungan orang tua, kita sama Citra. Kamu tidak mendapatkan kasih sayang Ibumu dan aku Romoku. Hanya bedanya adalah Ibumu telah wafat saat melahirkanmu dan Romoku masih hidup dan terus mengabaikanku."Damayanti Citra juga ikut berteriak karena merasa tertohok. Namun tidak mau mengakuinya, "Tapi suamimu setia! Sedangkan aku tidak!"Asri Kemuning terperangah mendengar jawaban Iparnya lalu menggelengkan kepala. "Kenapa kamu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain? Setia atau tidaknya seseorang itu pilihan. Bukan takdir atau nasib, Ci
Last Updated: 2025-04-09
Chapter: 162. Mantra Suci"Hah!" Candramaya tersadar. Candramaya membuka matanya. Mata merah menyala itu kembali ke semula. "Indrayana ... " panggilnya dengan linglung.Indrayana tertawa lirih, "Kamu kembali!""Apa yang terjadi? Kenapa tanganku menyerangmu?" Candramaya memang tersadar tapi tubuhnya masih dikendalikan oleh sosok hitam Putri Tanjung Kidul. Gadis itu mendongak dan menatap sekitar dengan bingung. Candramaya mencoba mengangkat tangannya ke atas namun yang terjadi justru tangan itu semakin kuat menekan ke bawah. "Gunakan mustika itu, cepattt!!" pekiknya."Tapi aku akan melukaimu!" ujar Indrayana dengan perasaan gamang."Tidak akan!" Karena kedua tangan Indrayana sedang menahan serangan Candramaya. Pemuda itu akhirnya memukul punggung Candramaya dengan menggunakan lututnya dengan cukup keras.Bug!Akkhhh!Tubuh Candramaya oleng, keris itu terlempar cukup jauh. Indrayana mengambil kesempatan itu untuk memegangi kedua tangan Candramaya. Dan membalikkan keadaan dengan menduduki tubuh gadis itu yang ja
Last Updated: 2025-04-07
Chapter: 161. Pertarungan Batin CandramayaArya Balaaditya menahan tubuh Istrinya yang hendak menghampiri putranya. Sedangkan Kumala, gadis itu meringsut di dalam pelukan kakeknya.Di bawah derasnya air hujan dan angin yang bertiup kencang. Indrayana bangun dan terduduk di tanah. Pemuda itu meringis saat melihat ekspresi dingin Candramaya.Candramaya berjalan mendekat sambil menggerak-gerakan kuku-kukunya yang panjang. Wajah datar dan menyeramkan itu menyeringai. Indrayana tidak berniat untuk kabur atau semacamnya. Dia hanya mengatur nafas dan menunggu Candramaya menghampirinya dengan pasrah. "Dewata ... " gumamnya.Tatapan Indrayana tertuju pada Mustika yang dia genggam. "Cik! Lemah," eram Candramaya. Tatapannya begitu liar dan beringas. Mendengar cibiran Candramaya, Indrayana tersenyum getir lalu bergumam, "Aku memang lemah!"Baladewa yang tidak tahan akhirnya hendak menyerang Candramaya namun Indrayana berteriak, "Jangan, Paman! Jangan ikut campur!"Indrayana langsung mengangkat tangannya dan membuat jarak dengan membuat
Last Updated: 2025-04-06