LOGINZahira Malik memutuskan untuk pergi ke club setelah dikhianati sang mantan dan sahabatnya. Namun, ia justru membuatnya berurusan dengan Daniswara Biantara yang sangat galak, pemarah, dan mengalami amnesia?! Lantas, bagaimana nasib Zahira selanjutnya? Terlebih, pertemuan keduanya itu justru menimbulkan pertemuan-pertemuan yang tak diduga Zahira!
View MoreZaidan tidak bisa marah. Dia melepaskan pelukannya dan berkata lembut, "Pergi ke kamar dan jalan dengan hati-hati. Jangan sampai kamu tersandung."Gadis itu tidak menghiraukan peringatan kakaknya dan masuk ke dalam sambil berlari. Zaidan hanya bisa menghela nafas karena adiknya sangat sulit diatur. Sedangkan Danis, dia tercengang melihat sikap Zaidan yang tidak berubah. Pria itu benar-benar pintar memperlakukan wanita. Pantas, banyak wanita yang memujanya.Saat Zaidan menarik tatapannya dari adiknya yang sedang menaiki tangga, dia menoleh menatap sahabatnya. Ekspresi Zaidan langsung masam saat melihat tatapan julid Danis."Kenapa melihatku seperti itu?"Danis menjawab dengan sinis, "Cih!! Aku sekarang tahu kenapa kamu mendapatkan gelar 'Buaya Darat kelas kakap."Zaidan tersipu, dia mengangkat kedua alisnya dengan bangga. Pria itu merangkul bahu Danis dan berbisik, "Singkirkan ekspresimu yang menyebalkan itu! Jika ingin dapat restu.""Memangnya aku perduli!""Huh! Dasar!"Danis menyin
Danis memekik, "Akkkhhh! Gadis sinting!" Karena pembatas mobil sudah diturunkan, Robi dan sopir tidak tahu apa yang terjadi di balik pembatas itu. Jambakan Zahira memang sakit dan pedih. Tapi kekuatan Danis jauh lebih besar. Dengan geram, Danis menarik kedua tangan Zahira yang penuh dengan rambutnya. Dan dengan satu gerakan, posisi dan keadaan mereka sudah berbalik. Danis menindih gadis itu, tubuhnya yang besar menutupi tubuh kecil Zahira. Zahira yang terhimpit di kursi langsung panik dan sesak nafas, "Akhhh! Berat sekali! Kakak mau apa?"Danis tersenyum miring, ekspresinya sangat mengerikan. "Apa lagi? Tentu saja mendidikmu!"Pria itu menarik dasinya dengan kuat, tatapannya terlihat lapar. Zahira menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau di unboxing!"Danis mengabaikan ocehan gadis itu. Dia menarik kedua tangan gadis yang sedang histeris dan mulai mengikatnya dengan dasi. Danis menggunakan simpul khusus. Semakin Zahira bergerak, ikatannya semakin kuat.Zahira me
Emran tersentak. Sorot mata Emran goyah, saat melihat Zahira yang berdiri menatapnya dengan kecewa. Dengan malu dia berkata, "Aku tidak bermaksud begitu. Ra ... Kakak bisa jelaskan."Zahira tersenyum getir, "Aku tidak menyangka, kamu ternyata tega sekali."Emran mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai kehilangan kendali. Pria itu berteriak seperti orang gila, "Aku tidak seperti itu! Aku tidak egois ataupun kejam! Ini semua gara-gara kamu Danis! Kamu yang sudah mencuci otak Zahira agar dia membenciku! Sialan! Aku akan membunuhmu!"Emran yang sudah seperti kesurupan langsung menerjang Danis dan melayangkan sebuah pukulan di wajahnya.Bug!Danis terhuyung, wajahnya tertoleh. Zahira menangkap tubuh Danis, saking beratnya dia hampir ikut terjatuh.Melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Danis, Zahira merasa sakit hati. Gadis itu merasa Emran sudah keterlaluan. Dia langsung berjalan maju untuk menghardik pria itu. Dia langsung berteriak tepat di depan wajahnya."Emran, cukup! Kamu s
"Cukup! Berhenti sampai di sini, Emran!" gadis itu menarik kembali tangannya dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, pria itu tidak mau mengalah. Emran meremas tangan gadis itu hingga otot tangannya menegang. Biarpun wajahnya terlihat khawatir, tapi sikapnya sangatlah kejam. "Aku peduli padamu! Aku satu-satu orang yang peduli padamu!" ujarnya. Zahira meringis, matanya memerah dan berair. Sekujur tubuhnya merinding karena rasa sakit di tangannya. Sepuluh jari jemarinya rasanya akan remuk. Hingga seseorang berteriak dengan lantang, "Lepaskan pacarku!" Zahira tersentak, wajahnya semakin pucat, tenggorokannya terasa kering. Dia telah ketahuan berbohong. Emran melirik ke sumber suara, matanya langsung menggelap. Seorang pria dengan setelan baju mahal, rapi dan terlihat elegan berjalan mendekat dengan langkahnya yang panjang. Melihat Emran menggenggam kedua tangan gadisnya, dia pun menyipit. "Lepaskan!" suara Danis terdengar berat dan dominan. Emran melepaskan genggamannya bukan karena t
"Ya! Lagian perawat itu kekasihku. Dia hanya sedang merajuk." Emran kembali menegakkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di dada dan mengangkat wajahnya dengan bangga. Revan mendengkus dan membuang muka. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka,. Zahira datang sambil membawa nampan yang ber
Ucapan Zahira begitu lembut dan sopan, namun setiap katanya mengandung duri yang tajam. Wulan membeku di tempat, wajah ramahnya hilang tak berjejak. Namun sekali lagi, dia menahan diri demi status dan kemewahan. Wulan meraih gelas minumnya dan meneguknya hingga tandas. Wulan mengelap bibirnya den
Pertanyaan itu cukup membuat Zahira termangu beberapa detik, "Maksudnya?"Wulan mengerutkan bibirnya dan wajahnya berubah murung lalu berkata dengan nada sedih, "Ehhh ... Talitha sangat sibuk, dia tidak pernah di rumah dan tidak pernah mengurus putraku. Jika di rumah dia hanya malas-malasan."Wulan
Karena terlalu hanyut dalam suasana, Danis dan Zahira tidak mendengar ketukan pintu. Mereka masih tenggelam dalam perasaan yang menggebu-gebu.Setelah beberapa ketukan tidak ada respon, Zaidan pun menjadi panik. Dia takut hal buruk terjadi pada adik kesayangannya. Zaidan pun membuat ancang-ancang d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.