Chapter: Eks 2Kakeknya Ratna mengangkat satu tangannya, meminta Ratna dan Doni untuk diam. Menyerahkan semuanya kepada dirinya sebagai bentuk bukti bahwasanya dia mampu dan sanggup menerima Doni sebagai suaminya Ratna dan mengakhiri segala penderitaan yang selama ini telah dirasakannya."Kami memiliki rumah yang tak jauh dari sini. Jika berkenan silahkan mampir untuk bersilaturahmi. Dan asal kamu tahu, cucuku ini tinggal di sini bukan karena rumah ini merupakan tempat satu-satunya yang bisa mereka tinggali. Namun Ratna memilih angkat kaki dari rumah karena aku tidak merestui hubungannya dengan Doni yang lumpuh.Karena besarnya cinta yang dimiliki Ratna dia rela membuangku dan meninggalkan rumah mewahnya hanya membawa beberapa barang serta kendaraan saja untuk mengangkut seluruh keluarganya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Ratna keras dengan keputusannya dan tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Seharusnya sebagai orang yang memiliki tahta yang lebih tinggi daripada kalian akulah yang melaran
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: Eks 1"Kesempatan kedua, apakah tadi kamu bertemu dengan kakek?" Doni menoleh ke arah Ratna yang kini duduk di sampingnya.Ratna menganggukan kepalanya. "Tepat di depan gang rumah kakek menghadang jalanku dan memohon agar memberitahu di mana kita tinggal. Aku rasa itu hanya bualan kakek semata, aku tidak yakin dia tidak mengetahui di mana kita. Jika kakek sudah sampai di sana itu artinya dia sudah mengetahui kalau di sinilah kita tinggal untuk sementara waktu.""Kenapa kamu tidak mau memberi kesempatan kepada kakek sedangkan dia melakukan ini semua demi kebaikan kamu? Wajar jika kakek ingin memberikan hal yang sempurna padamu dan memintaku menjauh semua semata-mata beliau lakukan pasti karena menyayangi kamu dan tidak ingin kamu susah di masa depan nanti.""Aku tahu itu tapi, rasanya aku belum bisa menerima hal tersebut karena aku tidak pernah menuntut kamu untuk menjaga laki-laki sempurna ketika mendampingiku. Kakek seharusnya mengetahui bahwasanya aku ini sangat mencintaimu jadi sangatlah
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: End"Hai apa kabar saudara kembarku?" sapa Danis mendekati Doni. Dia tidak tahan tidak mencari tahu siapa sosok dua anak kecil yang kini berada di depan saudara kembarnya itu.Doni yang sedang sibuk memperhatikan kedua anaknya menoleh ke arah pintu masuk. bBetapa dia terkejut mendapati keberadaan Danis di sana. Dia tidak menemukan kata untuk membalas sapaan Danis karena benar-benar tidak menyangka Danis bisa menemukan keberadaannya hanya dalam kurun waktu satu malam saja.Danis semakin mendekat dan berkacak pinggang tepat di samping Doni."Aku tidak perlu bertanya siapa mereka karena dari wajah dan semua yang ada pada mereka sangatlah mirip dengan kita berdua. Aku curiga mereka merupakan anakku bukan anakmu karena …""Jangan coba-coba mengacaukan rumah tanggaku dan Ratna. Karena istriku berbeda dengan Ajeng. Dia tidak mudah melakukan hubungan dengan pria manapun, buktinya hingga detik ini, meskipun aku sudah lama menghilang dia masih sendiri . Mencari keberadaanku, tidak ada sedikitpun n
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: Tak harus sempurnaRatna bersimpuh di hadapan Doni dan menatap kedua anaknya secara bergantian. "Terkadang bukan hanya kesempurnaan yang merupakan sebuah kebahagiaan melainkan kebersamaan. Apapun kekuranganmu asalkan kita selalu berkumpul bersama rasanya itu bukanlah sebuah masalah dan aku yakin keberadaan kami bisa mendorongmu untuk sembuh. Tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak bisa disembuhkan aku yakin Tuhan bisa memberikan itu semua untukmu. Asalkan kita mau berusaha dan berdoa lebih kuat lagi," tuturnya menenangkan hati Doni yang sempat ingin mundur.Memiliki istri yang begitu cantik dan sempurna tentu saja menghadirkan rasa rendah diri di hati Doni, terlebih lagi kedua buah hatinya yang begitu cantik dan tampan, sangat menggemaskan.Doni hanya mengangguk pelan menerima semangat dari sang istri dia berharap Tuhan menjabah doa Ratna agar dia bisa bekerja seperti dulu menafkahi istri dan anak-anaknya."Kamu tahu Mas, diantara barang-barang ini masih ada barang-barangmu. Aku tidak pernah mengusik
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: Kuterima kau ApadayaRisa juga tidak mengenal siapa sosok Ajeng yang dipertanyakan Danis kepadanya. Sebagai orang yang belum pernah bertemu dengan Ajeng tentu saja Danis mempercayai segala perkataan Risa, dia juga tidak mungkin mengatakan bahwasanya Ajeng itu merupakan selingkuhan Yandi yang baru sehingga dia menyerah dan berhenti mencari keberadaan istri dari adiknya tersebut padahal dia sudah sangat merindukan sang buah hati.Meskipun kini Danis sudah menikah dengan asisten rumah tangganya sendiri dan sudah memiliki buah hati yang baru tetap saja dia masih membutuhkan Rafki. Dia masih merindukan sosok anak yang lebih dahulu dia miliki bersama Ajeng, meskipun Rafki terlahir karena hubungan di luar nikah tetap saja Rafki itu merupakan darah dagingnya sendiri."Jadi sekarang kamu ingin menuntut balasan atas semua yang Mama berikan kepadamu? Kamu menuntut kasih sayang begitu?" Ibunya Doni tertawa. "Kalau memang itu yang kamu inginkan tolong kembalikan segala fasilitas yang telah kamu nikmati selama ini, tol
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: Keputusan Ratna"Kamu yakin dengan ini semua?" Doni menahan pergelangan tangan Ratna, mencegah istrinya itu untuk turun dari mobil. Meskipun Ratna sudah kokoh dengan pendiriannya, tapi tetap saja Doni merasa rendah diri. Takut sang kakek malah berpikir bahwasanya dia berusaha kembali mendekat dan meracuni pikiran Ratna agar bisa menampung hidupnya yang kini tak lagi sempurna.Ratna menarik kedua sudut bibirnya, menganggukan kepala. Hatinya telah mantap untuk melangkah, membawa Doni menuju masa depan yang lebih baik. Dia tidak peduli dengan siapapun nantinya. Entah itu sang kakek atau bahkan semua orang di dunia ini mencegah mereka untuk menjadi pasangan suami istri kembali..Ratna tidak peduli karena di matanya Doni merupakan satu-satunya tumpuan hidup untuk mendampinginya dalam membesarkan kedua buah hati mereka."Aku tidak akan pernah peduli lagi dengan mereka semua. Sama seperti mereka yang tidak peduli dengan perasaan kita. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Mas. Semuanya akan baik-baik saja dan per
Terakhir Diperbarui: 2024-07-26
Chapter: Part 16Sinar matahari pagi hari Minggu menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar tamu kediaman Wijaya. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Keinan yang tertidur gelisah. Dia mengerjap, bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat kurang tidur.Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke sofa di ujung ruangan. Kosong. Bantal dan selimut sudah terlipat rapi, seolah tidak pernah dipakai tidur.Keinan menyibakkan selimutnya dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan. Aisyah berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Gadis itu sudah rapi dengan gamis berwarna mocca dan cadar senada. Dia sedang menatap kosong ke arah taman belakang rumah yang luas."Aisyah?" panggil Keinan dengan suara serak khas bangun tidur.Bahu Aisyah menegang, tapi dia tidak menoleh."Sudah jam tujuh, Tuan. Oma meminta kita turun sarapan jam tujuh lima belas," jawab Aisyah. Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa nada. Seperti mesin penjawab otomatis.Keinan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Rasa
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: Part 15Akhir pekan tiba. Sesuai ultimatum Oma Larasati, Keinan dan Aisyah harus menginap di kediaman utama keluarga Wijaya di Menteng. Ini adalah ujian sandiwara terbesar mereka.Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan Sabtu sore, keheningan terasa begitu tebal. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memandang kosong ke luar jendela. Sejak insiden di kantor, saat Keinan cemburu buta pada arsitek bernama Rian. Aisyah membangun tembok es yang kokoh. Dia melayani Keinan dengan sempurna, tapi tanpa jiwa."Ingat, Aisyah," suara Keinan memecah kesunyian. "Di rumah Oma, kita adalah pasangan bahagia yang sedang dimabuk asmara. Jangan pasang wajah kaku seperti itu. Kalau Oma curiga, tamat riwayat kita.""Saya mengerti, Tuan. Saya akan bekerja profesional sesuai kontrak," jawab Aisyah datar tanpa menoleh.Keinan mencengkeram setir lebih erat. Kata "Tuan" dan "Kontrak" itu benar-benar mengganggunya.Mobil memasuki gerbang besi raksasa bercat hitam dengan ornamen emas. Rumah utama keluarga W
Terakhir Diperbarui: 2025-12-31
Chapter: Part 14Perjalanan menuju Restoran Seribu Rasa di kawasan Menteng terasa lebih panjang dan menyesakkan dari biasanya. Keinan duduk di kursi penumpang belakang Toyota Alphard hitam miliknya, melipat tangan di dada dengan aura mendung. Sementara itu, Aisyah memilih duduk di depan, di samping Pak Jono, sopir kantor, menciptakan jarak fisik yang tegas di antara mereka.Kaca pemisah kabin memang tidak dinaikkan, namun Keinan bisa merasakan tembok tebal yang dibangun istrinya. Sepanjang jalan, Aisyah tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Dia justru asyik mengobrol ringan dengan Pak Jono."Lewat Cikini saja, Pak. Jam segini biasanya macetnya lebih terurai daripada Thamrin," saran Aisyah dengan suara lembut."Siap, Mbak Aisyah. Wah, Mbak Aisyah hafal jalan tikus Jakarta juga ya," puji Pak Jono sambil memutar kemudi."Dulu waktu kuliah saya sering naik ojek online, Pak. Jadi hafal rute-rute kecil buat menghindari macet," jawab Aisyah diiringi tawa kecil yang renyah.Keinan termenung menatap punggung
Terakhir Diperbarui: 2025-12-30
Chapter: Part 13Jarum jam di dinding ruang rapat utama Wijaya Tower seolah bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa, namun setiap detiknya menghantam mental Aisyah. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu panas, sepanas lahar gunung berapi yang siap meletus."Mbak Aisyah, ini sudah keterlaluan," suara berat Pak Gunawan, salah satu investor utama untuk proyek properti di Bali, memecah keheningan yang tegang. Pria paruh baya itu mengetuk-ngetukkan jam tangan Rolex emasnya ke meja kaca dengan ritme yang mengintimidasi. "Jadwal rapat jam sembilan teng. Ini sudah hampir jam sepuluh. Waktu saya uang, Mbak. Kalau Pak Keinan tidak serius dengan proyek ini, bilang saja. Saya bisa tarik dana saya sekarang juga."Aisyah berdiri di ujung meja, tangannya saling meremas di balik punggung, namun ia tetap tenang dan terkendali, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik gamis kerja."Mohon maaf sekali lagi, Pak Gunawan dan Bapak-Bapak sekalian," u
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29
Chapter: Part 12uasana di ruangan Direktur Utama lantai 30 Wijaya Tower terasa jauh lebih dingin daripada suhu AC sentral yang disetel di angka 18 derajat. Sejak insiden di apartemen tadi pagi, ciuman panas di depan pintu dan penghinaan halus Agnes. Aisyah dan Keinan belum saling bicara satu patah kata pun selain urusan pekerjaan.Aisyah bekerja seperti robot. Menyortir berkas, menyiapkan bahan rapat, dan menyeduh kopi sore untuk bosnya. Dia sengaja menyibukkan diri agar otaknya tidak memutar ulang adegan menyakitkan di ruang tamu tadi pagi.Pukul lima sore, ketika jam kantor resmi berakhir, Keinan menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. Dia memutar kursi kebesarannya menghadap Aisyah yang sedang merapikan meja di sudut ruangan."Aisyah, berhenti sebentar. Ada yang harus saya perjelas soal kejadian tadi pagi," suara bariton Keinan memecah keheningan.Aisyah meletakkan stapler yang dipegangnya, lalu berdiri dan menunduk sopan. "Ya, Pak?"Keinan menatap gadis itu lekat-lekat. Gamis hitam, cadar
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29
Chapter: Part 11Napas Keinan masih memburu ketika pintu penthouse itu terbuka lebar di hadapannya. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah punggung tegap Oma Larasati yang duduk di sofa single berwarna hitam, memancarkan aura intimidasi yang membuat suhu ruangan terasa turun drastis hingga titik beku. Di sudut lain, Aisyah duduk menunduk di kursi makan, tangannya saling meremas di atas meja, terlihat begitu kecil dan ketakutan.Di meja kopi, terdapat mangkuk mie instan yang kuahnya sudah dingin dan mengembang, saksi bisu makan malam menyedihkan seorang pengantin baru."Bagus. Akhirnya Tuan Besar pulang juga ke istananya," suara Oma Larasati terdengar rendah namun tajam, setajam silet yang menyayat kulit. Beliau memutar kepalanya perlahan, menatap cucu kesayangannya dengan sorot mata penuh kekecewaan.Keinan menelan ludah, berusaha menata napas dan ekspresinya. Dia melangkah masuk, menutup pintu pelan, lalu menghampiri Oma untuk mencium tangan. Namun, Oma menarik tangannya kasar, menolak sentuh
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28