LOGINNaya Agustin, "aku mencintaimu, tapi cintamu untuknya. Aku istrimu, tapi kenapa yang memberi segalanya ayah mertuaku?" Kendra Darmawan, "kau Istriku, tapi ayahmu musuhku. Aku mencintamu, tapi sayang dosa ayahmu tak bisa kumaafkan." Rendi Darmawan, "Jangan pedulikan suamimu, agar aman dalam dekapanku."
View More"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
Kakeknya Ratna mengangkat satu tangannya, meminta Ratna dan Doni untuk diam. Menyerahkan semuanya kepada dirinya sebagai bentuk bukti bahwasanya dia mampu dan sanggup menerima Doni sebagai suaminya Ratna dan mengakhiri segala penderitaan yang selama ini telah dirasakannya."Kami memiliki rumah yang tak jauh dari sini. Jika berkenan silahkan mampir untuk bersilaturahmi. Dan asal kamu tahu, cucuku ini tinggal di sini bukan karena rumah ini merupakan tempat satu-satunya yang bisa mereka tinggali. Namun Ratna memilih angkat kaki dari rumah karena aku tidak merestui hubungannya dengan Doni yang lumpuh.Karena besarnya cinta yang dimiliki Ratna dia rela membuangku dan meninggalkan rumah mewahnya hanya membawa beberapa barang serta kendaraan saja untuk mengangkut seluruh keluarganya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Ratna keras dengan keputusannya dan tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Seharusnya sebagai orang yang memiliki tahta yang lebih tinggi daripada kalian akulah yang melaran
"Kesempatan kedua, apakah tadi kamu bertemu dengan kakek?" Doni menoleh ke arah Ratna yang kini duduk di sampingnya.Ratna menganggukan kepalanya. "Tepat di depan gang rumah kakek menghadang jalanku dan memohon agar memberitahu di mana kita tinggal. Aku rasa itu hanya bualan kakek semata, aku tidak yakin dia tidak mengetahui di mana kita. Jika kakek sudah sampai di sana itu artinya dia sudah mengetahui kalau di sinilah kita tinggal untuk sementara waktu.""Kenapa kamu tidak mau memberi kesempatan kepada kakek sedangkan dia melakukan ini semua demi kebaikan kamu? Wajar jika kakek ingin memberikan hal yang sempurna padamu dan memintaku menjauh semua semata-mata beliau lakukan pasti karena menyayangi kamu dan tidak ingin kamu susah di masa depan nanti.""Aku tahu itu tapi, rasanya aku belum bisa menerima hal tersebut karena aku tidak pernah menuntut kamu untuk menjaga laki-laki sempurna ketika mendampingiku. Kakek seharusnya mengetahui bahwasanya aku ini sangat mencintaimu jadi sangatlah
"Hai apa kabar saudara kembarku?" sapa Danis mendekati Doni. Dia tidak tahan tidak mencari tahu siapa sosok dua anak kecil yang kini berada di depan saudara kembarnya itu.Doni yang sedang sibuk memperhatikan kedua anaknya menoleh ke arah pintu masuk. bBetapa dia terkejut mendapati keberadaan Danis di sana. Dia tidak menemukan kata untuk membalas sapaan Danis karena benar-benar tidak menyangka Danis bisa menemukan keberadaannya hanya dalam kurun waktu satu malam saja.Danis semakin mendekat dan berkacak pinggang tepat di samping Doni."Aku tidak perlu bertanya siapa mereka karena dari wajah dan semua yang ada pada mereka sangatlah mirip dengan kita berdua. Aku curiga mereka merupakan anakku bukan anakmu karena …""Jangan coba-coba mengacaukan rumah tanggaku dan Ratna. Karena istriku berbeda dengan Ajeng. Dia tidak mudah melakukan hubungan dengan pria manapun, buktinya hingga detik ini, meskipun aku sudah lama menghilang dia masih sendiri . Mencari keberadaanku, tidak ada sedikitpun n
Ratna bersimpuh di hadapan Doni dan menatap kedua anaknya secara bergantian. "Terkadang bukan hanya kesempurnaan yang merupakan sebuah kebahagiaan melainkan kebersamaan. Apapun kekuranganmu asalkan kita selalu berkumpul bersama rasanya itu bukanlah sebuah masalah dan aku yakin keberadaan kami bisa mendorongmu untuk sembuh. Tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak bisa disembuhkan aku yakin Tuhan bisa memberikan itu semua untukmu. Asalkan kita mau berusaha dan berdoa lebih kuat lagi," tuturnya menenangkan hati Doni yang sempat ingin mundur.Memiliki istri yang begitu cantik dan sempurna tentu saja menghadirkan rasa rendah diri di hati Doni, terlebih lagi kedua buah hatinya yang begitu cantik dan tampan, sangat menggemaskan.Doni hanya mengangguk pelan menerima semangat dari sang istri dia berharap Tuhan menjabah doa Ratna agar dia bisa bekerja seperti dulu menafkahi istri dan anak-anaknya."Kamu tahu Mas, diantara barang-barang ini masih ada barang-barangmu. Aku tidak pernah mengusik
"Di mana dia? Mama ingin berbicara." Sang ibu malah langsung mencari keberadaan Ratna, bukannya mengajak Doni berbicara seperti yang ditawarkan pria itu tadi."Kita akan bicara dengan Ratna jika Mama sudah tenang. Kalau mama seperti ini aku tidak akan mau mengajak Mama bertemu dengannya, terlebih lag
"Tidak, ini tadi Mami kelilipan nyamuk makanya seperti ini.""Ooo." bibir mungil Alya membulat sempurna, dia juga menganggukan kepalanya hingga rambutnya yang sedang berdiri, di kepang dua ikut bergerak.Ratna mengusap pipi Alya. "Kamu benar-benar anak yang manis dan perhatian," ucapnya memaksakan sen
“Itu tuduhan!” Bantah Yandi, meskipun benar apa yang istrinya itu katakan tapi, dia tidak ingin mengakui secara jujur bahwasanya tuduhan yang diajukan Risa merupakan sebuah kenyataan.“Percuma kamu mengatakan patahan seperti itu tapi, di mataku kamu itu sudah menghianati pernikahan kita. Sakit, namun
Ajeng mengusap kasar air matanya dari semalam dia selalu saja menangis. Tidak berhenti mengeluarkan air mata kepedihan dari kedua matanya. Dia tidak pernah menyangka sama sekali hari ini akan tiba di mana Doni berpaling sedangkan dia malah jatuh cinta.Ajeng juga masih bergelung di bawah selimut, ser


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews