author-banner
Wapapau
Author

Novels by Wapapau

Cantik Yang Disembunyikan

Cantik Yang Disembunyikan

Di balik tubuhnya yang lebih besar dari kebanyakan gadis seusianya, Sera menyembunyikan kecantikan yang tak pernah terlihat oleh dunia. Putih, mulus, dan anggun, namun tubuhnya seolah menjadi penjara bagi keindahan yang seharusnya bersinar. Semua itu terjadi karena ayahnya, yang dengan rasa takut yang berlebihan, membuatnya gemuk—sebagai cara untuk menyembunyikan kecantikan yang dipercaya bisa membawa bahaya. Tumbuh dengan rasa takut dan kehilangan kepercayaan diri, Sera berjuang mengatasi rasa rendah dirinya, hingga suatu hari, di desa Sera dan Kai bertemu, perasaan cinta muncul. Namun, Kai tak bisa berbuat banyak—meskipun dia menyukai Sera, dia tak berani mengungkapkan perasaannya karena takut dihina teman-temannya.
Read
Chapter: Langkah yang Tertinggal
Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”
Last Updated: 2026-01-22
Chapter: Saat Dunia Mentertawakan
Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: 17 Agustusan
Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Perkenalan Tetangga
Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Diantara Piring Dan Pelukan
Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Lampu disebrang
Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o
Last Updated: 2026-01-16
You may also like
Suamiku Mualaf Kaya Raya
Suamiku Mualaf Kaya Raya
Romansa · Rira Faradina
173.7K views
Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!
Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!
Romansa · Finella Zakaria
173.7K views
Bukan Calon Kakak Ipar
Bukan Calon Kakak Ipar
Romansa · Bai_Nara
172.9K views
Jangan Hisap, Pak Bos!
Jangan Hisap, Pak Bos!
Romansa · Olivia
171.5K views
SURVIVAL LOVE 2
SURVIVAL LOVE 2
Romansa · Jemyadam
171.1K views
Cinta yang Kau Bawa Pergi
Cinta yang Kau Bawa Pergi
Romansa · Lis Susanawati
170.6K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status