author-banner
Wapapau
Author

Novels by Wapapau

Cantik Yang Disembunyikan

Cantik Yang Disembunyikan

Di balik tubuhnya yang lebih besar dari kebanyakan gadis seusianya, Sera menyembunyikan kecantikan yang tak pernah terlihat oleh dunia. Putih, mulus, dan anggun, namun tubuhnya seolah menjadi penjara bagi keindahan yang seharusnya bersinar. Semua itu terjadi karena ayahnya, yang dengan rasa takut yang berlebihan, membuatnya gemuk—sebagai cara untuk menyembunyikan kecantikan yang dipercaya bisa membawa bahaya. Tumbuh dengan rasa takut dan kehilangan kepercayaan diri, Sera berjuang mengatasi rasa rendah dirinya, hingga suatu hari, di desa Sera dan Kai bertemu, perasaan cinta muncul. Namun, Kai tak bisa berbuat banyak—meskipun dia menyukai Sera, dia tak berani mengungkapkan perasaannya karena takut dihina teman-temannya.
Read
Chapter: Tatapan Yang Terlalu Ramai
Di kantin kampus yang luas, sekelompok mahasiswa duduk bersama di salah satu meja panjang. Kai, Veronica, Adam, dan Doni—mereka bagian dari satu lingkaran pertemanan yang sudah cukup dikenal di kampus. Kai duduk dengan tatapan kosong, seolah terjebak dalam pikirannya sendiri, sementara Veronica sibuk menatap layar laptop Doni, yang sedang mengedit vlog mereka. Tiba-tiba, Veronica berhenti sejenak dan mengamati Kai yang melamun. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran, lalu dengan suara manja ia bertanya, "Sayang, kamu kenapa?" Kai menoleh dengan ekspresi datar, tak ada senyum di wajahnya. "Gausah panggil kaya gitu di luar konten," jawabnya dengan nada sinis yang sedikit menusuk. Veronica mendengus, namun tetap mempertahankan sikap ceria. "Tapi kan, biar mendalami peran, biar gak ketahuan orang-orang di sini," katanya sambil melirik mahasiswa lain yang ada di kantin. Beberapa dari mereka terlihat mengamati kelompok mereka dengan tatapan penasaran, seolah ingin tahu apa yang sedang
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: Hari Pertama, Orang Asing
Pagi pertama orientasi mahasiswa membuat kamar kos terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ukurannya berubah, tapi karena isi kepala Sera yang penuh. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel miring di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri sambil merapikan kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Celana hitamnya terasa kaku di kaki. Di dadanya tergantung name tag besar—terlalu besar, bahkan—hasil kreativitas yang diwajibkan panitia. Name tag itu hampir menutupi setengah dadanya, membuatnya merasa kikuk setiap kali bergerak. Name tag tersebut terbuat dari karton tebal yang dibungkus kertas cokelat. Di sekelilingnya, Sera menempelkan potongan daun kering yang ia susun melingkar, sebagian warnanya sudah menguning, sebagian lagi kecokelatan. Di sudut kanan bawah, ada pita rafia yang diikat asal-asalan, dan di tengahnya tertulis namanya dengan spidol hitam—hurufnya sedikit miring, tidak simetris, tapi jelas terbaca. Tidak rapi. Namun dibuat dengan sungguh-sunggu
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: Kota Berisik
Jakarta menyambut Sera dengan suara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.Bukan suara serangga atau angin sawah, tapi klakson yang saling bersahutan, mesin kendaraan, dan orang-orang yang bergerak cepat tanpa saling menoleh. Dari dalam mobil, Sera menatap keluar jendela, mencoba mencerna kenyataan bahwa mulai hari ini, hidupnya benar-benar berpindah tempat.Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kos bertingkat tiga. Catnya masih terlihat baru. Di depan gerbang ada pos satpam, lengkap dengan palang dan kamera CCTV yang menghadap ke jalan.“Ini kosnya,” kata Ayah singkat.Sera turun dari mobil, menatap bangunan itu pelan. Tidak seperti bayangannya tentang kos mahasiswa yang sempit dan berisik, tempat ini terasa… rapi. Terlalu rapi, bahkan. Gerbangnya terkunci otomatis. Ada papan kecil bertuliskan Kosan Putri — Tamu Wajib Lapor.Satpam menyapa mereka sopan. Ayah langsung menjelaskan keperluan mereka, menyebut nama Sera, kamar, dan lantai. Semua terdengar teratur, resmi, dan—aman.“Iya,
Last Updated: 2026-01-28
Chapter: Pintu yang setengah terbuka
Kabar itu datang begitu saja, seperti sesuatu yang tidak pernah dipersiapkan siapa pun untuk menerimanya.“Hamil?” Nenek mengulang pelan, seolah kata itu butuh waktu untuk sampai ke kepalanya.Sera berdiri di dekat pintu kamar, tubuhnya kaku. “Ibu… hamil?”Ayah masih memegang ponsel di tangannya, wajahnya seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam sekali dengar. Ia mengangguk pelan, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.“Iya,” katanya singkat. “Dia pingsan di pasar. Warga yang bawa ke rumah sakit. Dokter baru nelepon.”Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Keheningan di rumah itu terasa berbeda dari biasanya—bukan tenang, tapi penuh kebingungan yang tidak terucap.Mereka berangkat ke rumah sakit tanpa banyak bicara.Di perjalanan, Sera menatap keluar jendela mobil. Pikirannya kosong, tapi juga penuh. Delapan belas tahun. Selama itu, ia tumbuh sebagai anak tunggal. Ibunya tidak pernah hamil lagi, atau setidaknya tidak pernah ada kabar
Last Updated: 2026-01-26
Chapter: Antara Jarak Dan Waktu
Dua hari setelah percakapan di balkon itu, semuanya berjalan lebih tenang dari yang Sera kira.Tidak ada kejadian besar. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya sering duduk bersama di villa—kadang di ruang tamu, kadang di teras belakang. Ngobrol hal-hal ringan. Tentang kampus impian Kai. Tentang lukisan-lukisan Sera. Tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah Sera ceritakan ke siapa pun.Nenek jadi semacam “jembatan”. Dengan alasan membantu atau sekadar menemani, nenek selalu punya cara supaya Sera bisa datang lagi ke villa tanpa menarik perhatian ayah maupun ibu.Waktu berjalan lebih cepat dari yang mereka sadari.Hari kepulangan keluarga Kai datang begitu saja. Pagi itu villa lebih ramai dari biasanya. Koper-koper disusun. Suara orang berlalu-lalang terdengar dari berbagai sudut rumah.Sera tidak datang hari itu. Ayahnya sedang di rumah, dan ia tidak bisa mencari alasan untuk pergi.Kai sempat berdiri di balkon yang sama, menatap ke arah rumah sera, berharap bisa melihat ser
Last Updated: 2026-01-25
Chapter: Teman Pertama
Kai dan Sera sudah berdiri di balkon lantai atas villa. Anginnya sejuk, cukup kencang sampai ujung rambut Sera sedikit bergerak. Dari sana, sawah kelihatan jelas, hijau dan luas, dengan suara serangga yang samar.Awalnya mereka sama-sama diam.Bukan karena suasananya canggung berlebihan, tapi lebih ke… belum tahu mau mulai dari mana. Kai bersandar di pagar balkon, sementara Sera berdiri agak ke samping, tangannya saling menggenggam di depan perut.Kai sebenarnya memang ingin mengajak Sera ke sini buat ngobrol. Tidak ada maksud aneh. Ia cuma ingin suasananya lebih tenang dibanding ruang tamu. Tapi begitu mereka sampai, Kai malah kehilangan fokusnya sendiri.Tanpa sadar, matanya beberapa kali melirik ke arah Sera.Dan entah kenapa, omongan ibunya semalam langsung terlintas di kepalanya. Tentang bagaimana ibunya bilang Sera itu cantik. Tentang matanya yang kelihatan tenang. Tentang kulitnya yang bersih. Waktu itu Kai tidak menanggapi apa-apa, cuma menganggapnya komentar biasa.Sekarang,
Last Updated: 2026-01-23
You may also like
Second Woman
Second Woman
Romansa · Riska Vianka
6.3K views
Teror Mantan
Teror Mantan
Romansa · Arsyla Adiba
6.3K views
Lusia
Lusia
Romansa · Elios
6.3K views
Scarlet
Scarlet
Romansa · Cristi Rottie
6.3K views
Menikahi Om Mantan Pacarku
Menikahi Om Mantan Pacarku
Romansa · Syafitri Wulandari
6.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status