
THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance
SINOPSIS
Isabela Mareu tidak pernah bermimpi hidupnya akan berubah hanya karena sebuah kecelakaan kecil di jalanan Rio de Janeiro — malam itu ia menabrak seorang pria asing, menempelkan plester kartun di wajahnya, lalu pergi begitu saja tanpa tahu siapa yang baru saja ia sentuh.
Setahun kemudian, ia diterima bekerja sebagai sekretaris eksekutif di BRN Corporation — perusahaan terbesar di Brasil yang menguasai hampir seluruh sektor bisnis di negara itu. Di sinilah Isabela mengenal Santino Cane Barrone — pria yang namanya dihargai dengan ketakutan mutlak. Bukan sekadar penguasa — ia adalah hukum itu sendiri. Di tangannya, politik, dunia legal dan ilegal bergerak layaknya bidak catur yang diatur sesuka hati.
Dan untuk pertama kalinya — pria itu tertarik pada seseorang.
Pada gadis ceroboh yang bahkan tidak tahu betapa berbahayanya dunia yang baru saja ia masuki.
Yang tidak Isabela sadari, penerimaannya bekerja di BRN bukanlah kebetulan. Dan ketika ancaman mulai datang dari berbagai arah — ia menyadari bahwa keluar dari dunia Santino Cane Barrone tidak semudah masuknya.
Karena pria itu tidak pernah melepaskan apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya
***
"Kau tidak punya pilihan, Isabela. Kau tidak pernah punya."
— Santino Cane Barrone
⚠️ PERINGATAN
Cerita ini sepenuhnya fiktif dan merupakan murni karangan author. Seluruh nama, karakter, tempat, kejadian, dan organisasi yang ada di dalam cerita ini tidak ada hubungannya dengan kejadian nyata manapun. Kesamaan nama atau kejadian hanyalah kebetulan semata. Cerita ini dibuat semata-mata untuk hiburan dan tidak bermaksud untuk merepresentasikan atau membenarkan tindakan apapun yang ada di dalamnya.
© All Rights Reserved — RAJJA-M
Read
Chapter: BAB 52— ✵ — Isabela membuka mata perlahan, kepalanya berdenyut seperti ditimpa batu. Ia mengerang, tangan langsung naik memegangi pelipis sambil menatap sekeliling—langit-langit yang asing, seprai yang terlalu rapi untuk kamar hotel biasa, aroma yang tidak ia kenal tapi entah kenapa terasa familiar. Lalu matanya berhenti di satu titik. Meja kerja di sudut ruangan. Jam dinding berbentuk minimalis yang hanya ada satu di seluruh gedung ini—di ruangan Cane. Ia melompat dari ranjang seperti tersengat listrik, berdiri dengan napas tercekat. Ini kamar Presiden Cane. Aku tidur di kamar Presiden Cane?. Kakinya bergerak sebelum otaknya selesai berpikir, melangkah cepat ke arah pintu. Tangannya baru menyentuh gagang pintu— —dan berhenti total. Tubuhnya kaku seperti patung. Ingatan itu kembali sekaligus, tanpa peringatan. Bibirnya. Bibir Cane. Ciuman itu. Wajahnya memanas dalam sepersekian detik, merambat dari leher sampai telinga. "Sial." Suaranya hampir tidak terdengar, lebih seperti desisan
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: BAB 51— ✵ —Isabela masih tertidur di kursi bar saat Cane mengamatinya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya."Sial," gumamnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk siapapun yang mendengar. "Gadis ini menyiksaku."Ia mendekat. Satu lengan terselip di bawah lutut Isabela, satu lagi menopang punggungnya, dan dalam satu gerakan yang tidak memerlukan usaha berarti, ia mengangkatnya dari kursi bar. Kepala Isabela jatuh ke dadanya, rambutnya yang berantakan menyapu lengan jas Cane. Ia tidak terbangun. Hanya mengerang pelan, lalu kembali diam, napasnya teratur dan dalam.Cane membawanya melewati pintu di sisi ruangan, menuju kamar yang lebih sering berfungsi sebagai tempat ia menghilang dari dunia luar untuk beberapa jam daripada tempat ia benar-benar tidur. Ranjangnya rapi, tidak tersentuh sejak terakhir dirapikan oleh staf kebersihan.Ia membaringkan Isabela perlahan, menyesuaikan bantal di bawah kepalanya dengan ketelitian yang tidak biasa ia berikan untuk hal sekecil ini.
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: BAB 50Sementara itu, di ruangan rapat sudah selesai. Cane keluar lebih dulu, Dante sudah menunggu di luar dan langsung mengikuti dua langkah di belakangnya seperti biasa. Di belakang mereka, satu per satu kepala divisi menyusul keluar, menyebar ke arah masing-masing tanpa banyak bicara — beberapa langsung menuju lift, beberapa lainnya berhenti sebentar di koridor untuk menelepon. Langkah Cane tetap tenang menyusuri koridor menuju ruangannya sendiri.Ia melewati ruangan Isabela sekilas — lalu melirik ke dalam. Kosong."Di mana dia?" tanyanya, tanpa menyebut nama, tanpa perlu menyebut nama.Dante sedikit terkejut ditanya, tapi menjawab cepat. "Kurang tahu, Tuan. Tapi mungkin sedang makan siang di kantin lantai tiga — sekarang jam istirahat."Cane tidak menjawab. Tangannya sudah di gagang pintu, siap mendorongnya terbuka bersama Dante yang menunggu di belakang untuk lanjut membahas urusan tadi.Tapi sesuatu menahannya.Aroma. Manis, samar, sudah sangat ia kenal.Ia melirik sekali lagi ke dalam
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: BAB 49BRN CorporationDi kantin lantai tiga selalu penuh di jam makan siang — meja-meja panjang yang terisi dari ujung ke ujung, suara sendok di piring, percakapan yang tumpang tindih, dan aroma makanan yang bercampur jadi satu hal yang tidak bisa didefinisikan tapi sangat familiar.Isabela duduk di tengah meja keempat dengan nampan di depannya — nasi, ayam panggang, dan segelas air yang belum disentuh. Di sekelilingnya empat orang lain dari divisi yang berbeda, obrolan ringan yang mengalir tanpa beban. Ia sudah mulai rileks.Lalu Vanessa duduk di seberangnya."Boleh?"Sudah duduk sebelum Isabela menjawab. Nampannya rapi, senyumnya rapi, semuanya rapi dengan cara yang selalu membuat Isabela tidak bisa menemukan alasan spesifik untuk tidak nyaman tapi tetap saja merasa tidak nyaman."Tentu." Isabela tersenyum.Obrolan di meja berlanjut — seseorang sedang cerita soal klien yang menyebalkan, seseorang lain menimpali, tawa kecil di sana-sini. Vanessa makan dengan tenang, sesekali ikut tertawa d
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: BAB 48Ruangan itu tidak punya nama resmi di dalam sistem manapun.Tidak ada di denah gedung, tidak ada di dokumen perizinan, tidak ada di catatan apapun yang bisa ditemukan oleh orang yang tidak seharusnya menemukannya. Dindingnya beton bertulang, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya ventilasi adalah sistem sirkulasi udara yang mendengung pelan di balik panel baja di dinding belakang. Meja di tengahnya panjang dan berat — kayu gelap tanpa ornamen, tanpa keanggunan yang tidak perlu. Kursi-kursi di sekelilingnya terisi.Delapan orang.Delapan kepala divisi yang masing-masing mengendalikan satu urat nadi dari tubuh organisasi ini — jalur laut, distribusi darat, keuangan, pengamanan, intelijen, operasi lapangan, kontrak sipil, dan satu kursi di ujung kiri yang ditempati oleh pria dengan rambut mulai memutih di pelipisnya yang tidak pernah menatap langsung ke ujung meja berlawanan.Karena di ujung meja berlawanan, Cane duduk.Satu tangan di atas meja, jarinya tidak bergerak. Tangan lainnya
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: BAB 47Di tempat lain, butik Elena tidak pernah benar-benar sepi di jam-jam seperti ini.Selalu ada sesuatu yang bergerak — jarum yang menyusuri kain, manekin yang berpindah tempat, Elena sendiri yang tidak bisa diam lebih dari tiga menit. Tapi sore ini pelanggan kebetulan sedang kosong, pintu depan terkunci dari dalam, dan dua cangkir teh sudah dingin di atas meja kecil di sudut ruangan karena tidak ada yang sempat meminumnya.Isabela duduk di sofa pastel yang sudah ia hafal setiap lekukannya. Di pangkuannya, Moli melingkar dengan tenang — mendengkur pelan, sama sekali tidak peduli bahwa pemiliknya baru pulang dari luar negeri."Kau bahkan tidak kangen aku." Isabela mencubit pelan telinga kucing itu.Moli tidak bergerak."Tidak tahu terima kasih.""Dia tinggal di sini gratis, makan gratis, tidur di kasurku," Elena menyahut dari balik meja kerjanya tanpa mengangkat kepala, "dan kau yang komplain?"Isabela cemberut. Tangannya meraih cangkir tehnya — sudah dingin, tapi tetap ia teguk.Kantong
Last Updated: 2026-06-19

SERPENTE CRUZADA
Di tengah gemerlap kota Rio De Janeiro, Brazil, Jhon Pierre Mancini menjalani kehidupan ganda yang membentangkan sayapnya di kedua sisi hukum. Di siang hari, ia dikenal sebagai seorang pengusaha sukses yang terhormat, tetapi di malam hari, ia mengendalikan jaringan narkoba dan perdagangan senjata ilegal yang meluas di Kota Rio.
Semuanya berubah saat Sora Sanders, seorang perawat muda dengan kehidupan yang sederhana, masuk ke dalam kehidupannya. Pertemuan tak terduga antara mereka berdua ini membuka pintu menuju hubungan yang rumit.
Suatu ketika, seorang pria dari Spanyol meminta bantuan Jhon untuk mencari istri dan anaknya yang hilang selama 24 tahun. Awalnya, Jhon menolak, tapi akhirnya setuju setelah pria itu menawarkan 20% saham dari bisnis minuman kerasnya, dan yang paling mengejutkan adalah, Jhon menemukan kebenaran: Sora adalah anak yang dicari.
Dalam upayanya mempertahankan cengkeramannya pada Sora, Jhon harus bersaing dengan musuhnya, yaitu Sergio Marrone, yang juga tertarik pada Sora. Pertarungan mereka membawa keduanya ke ujung keputusan hidup atau mati. Namun, dengan kekuatan tariknya yang tak terbantahkan, Jhon mampu memenangkan hati Sora, meskipun dengan risiko besar.
Dalam kisah cinta gelap yang penuh intrik dan bahaya, Jhon Pierre Mancini dan Sora Sanders menemukan diri mereka terjebak dalam permainan kekuasaan, pengkhianatan, dan obsesi, di mana takdir mereka ditentukan oleh pilihan yang sulit dan pengorbanan yang mematikan.
Read
Chapter: BAB-(5) Jhon menatap Tuan Marcello dengan tatapan penuh selidik. "Setahu saya, Tuan Marcello sudah tidak tertarik memesan barang-barang milik kami lagi. Jadi, apa yang membuat Anda jauh-jauh dari Brasilia ke sini?” “Bahkan kudengar Tuan Marcello saat ini bekerja sama dengan Cartel Tiburon dari Colombia, membuat metamfetamin dan menyelundupkannya melalui barang-barang elektronik untuk dijual di pasar gelap internasional," ujarnya sambil melirik pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk di samping Marcello. Marcello menggaruk dahinya yang tidak gatal, bingung bagaimana pria tampan di hadapannya ini bisa tahu apa yang dia lakukan. Dia bahkan sudah sangat hati-hati agar tidak ada yang tahu. Pria ini benar-benar berbahaya. "Ayolah, lupakan saja kejadian waktu itu, Jhon. Mari kuperkenalkan dengan temanku, Jack Salomon. Dia dari Spanyol," ucap Tuan Marcello, berusaha mengalihkan pembicaraan. Jhon dan Jack saling menatap tajam, keduanya tidak mengeluarkan suara, apalagi berjabat tanga
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: BAB-(4) Sore hari di pemakaman São João Batista, dedaunan kering beterbangan dihembus angin, sementara suara gagak yang singgah di pohon tua menjulang tinggi mengisi keheningan. Seorang pria berbalut jas hitam berdiri menghadap batu nisan, sebotol minuman alkohol tergenggam erat di tangannya. "Aku membawa anggur merah kesukaanmu hari ini, mau minum denganku, Dimitri?" Jhon bertanya, suaranya parau. Kenangan masa lalu berkelebat di benaknya, membawa dia kembali ke usia 15 tahun. •FLASHBACK• Jhon muda, seorang yang penurut, sering menjadi sasaran pukulan kakak kandungnya, Marcus. Ketika ia mengadu kepada ayahnya, bukannya mendapat perlindungan, ia justru mendapat amarah dan pukulan tambahan. Hanya ibunya yang selalu membelanya, meskipun ia sendiri sering disiksa oleh ayahnya. Jhon sering menyaksikan ayahnya berselingkuh, bahkan di depan mata ibunya. Ketidakberdayaannya membuat dia terus berusaha mencari cara agar ayahnya menyayanginya seperti menyayangi kakak laki-lakinya. Saat kesedihan
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: BAB-(3) Matahari terik menyinari Kota Rio siang ini, menunjukkan waktu makan siang telah tiba. Beberapa orang bergegas mencari makan di luar, sementara yang lain memilih makan di kantin tempat mereka bekerja. Di salah satu restoran sederhana di tengah Kota Rio, tiga orang gadis sedang makan siang bersama. “Uumm ... Sora, aku jadi penasaran dengan yang kau ceritakan semalam. Apakah kau melihat wajah pria yang berada di dalam mobil itu? Kalau iya, bagaimana ciri-cirinya? Aku sungguh sangat penasaran,” tanya Ryn pada Sora. “Ya, betul, aku pun penasaran,” sambung Maria. “Tidak, aku hanya melihat bagian matanya saja,” jawab Sora sambil mengunyah sandwich-nya. “Ah begitukah? Sayang sekali. Padahal aku sudah menghayal jika pria itu sangat tampan seperti film-film gangster yang kutonton,” kata Ryn sambil membayangkan wajah aktor Michele Morrone. Lalu tersenyum bodoh saat terlintas adegan bercinta pria itu di film 365 days. Mendengar itu, Maria dengan cepat memukul kepala Ryn. 'Plakk!' "Wanita
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: BAB-(2) Perlahan, kaki Sora mulai bergetar saat kedua pria itu semakin mendekat. Dengan jelas, ia melihat garis-garis luka yang telah sembuh di wajah keduanya. Terlihat sangat mengerikan. Di tambah lagi di leher dan punggung tangan pria itu, terhampar sebuah tato berwarna hitam kehijauan, terpahat tato berbentuk lingkaran, di dalamnya tersembunyi gambar salip yang dililit ular dengan mata dan lidah menjulur merah menyala, seolah menyembul dari kegelapan dengan keangkeran yang mencekam, mengundang sensasi dingin merayap di sepanjang tulangnya. Sora mencoba untuk melangkah mundur, tapi tangan kasar sudah meraih kerah bajunya dan mengangkatnya dengan kasar. Dia merasa dirinya seperti burung yang terjebak dalam cengkeraman predatornya. "Ah, lepaskan aku! Aku tidak sengaja, sungguh." Sora memberontak minta dilepaskan. "DIAM! TUTUP MULUTMU! JIKA TIDAK, AKU AKAN MEROBEKNYA!" bentak pria yang mengangkatnya. Kedua pria itu membawanya ke samping pintu mobil penumpang, di mana sepatunya tanpa seng
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: BAB-(1)RIO DE JANEIRO, BRAZIL. Malam itu, hujan turun deras membasahi jalan-jalan sempit di pusat Kota Rio De Janeiro. Lampu-lampu neon yang berkedip-kedip menambah nuansa suram yang menyelimuti gang-gang belakang, tempat di mana bayang-bayang lebih panjang daripada siang hari. Di salah satu sudut tersembunyi, sebuah klub malam yang ramai berdiri megah, menjadi jantung kehidupan malam yang gemerlap sekaligus sarang bagi mereka yang menjalani kehidupan di bawah bayangan hukum. Di dalam klub tersebut, dentuman musik yang memekakkan telinga menyatu dengan tawa dan suara obrolan. Namun, di sebuah ruangan VIP yang eksklusif, situasi berbeda terjadi. Diam-diam di bawah cahaya redup, seorang pria berwajah tegas dengan mata tajam duduk dengan penuh wibawa. Jhon Pierre Mancini, nama yang diucapkan dengan bisikan penuh hormat dan ketakutan, memandang sekeliling dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Di seberangnya, seorang pemuda berusia 19 tahun dengan tangan gemetar berusaha menenangkan d
Last Updated: 2024-05-29