เข้าสู่ระบบKehilangan seseorang yang sangat dicintainya membuat Varen Dhananjaya, pria tampan pemilik sekaligus CEO Revorma Group, jadi begitu dingin bagaikan gunung es. Dia bahkan membenci Aerin, putrinya sendiri yang masih berusia lima tahun, karena wajah gadis kecil itu mengingatkannya kepada istrinya yang telah pergi meninggalkan mereka. Namun, suatu kali, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Alexa. Alexa bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan di dalam kehidupannya untuk mengubahnya sekaligus menyelamatkannya. Gunung es yang kokoh di hati Varen perlahan hancur karena kasih sayang tulus yang diberikan Alexa kepada putrinya, Aerin. Dihantui bayang-bayang masa lalu, dalam benturan antara ego dan kasih sayang, Varen mencoba membuka lembaran baru dan melanjutkan hidupnya.
ดูเพิ่มเติม"Tuan! Nyonya menghilang!"
Telapak sepatu merah dari pantofel Dante baru memijaki ubin marmer kediamannya. Namun, seruan Kepala Pelayan berdengung bagai lelucon di hari yang seharusnya menjadikan perayaan satu tahun pernikahan mereka. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Dia bersuara datar. Masih dengan kepercayaan diri, bahwa wanitanya kini tengah duduk manis di sofa favoritnya, seraya memangku buku astronomi kesayangannya. Tungkai pria itu melangkah percaya diri, membunyikan ketukan terkonsolidasi di setiap pijakan. "Seluruh pakaian Nyonya dan barang-barangnya tidak kami temukan. Seluruh pelayan sudah mencari Nyonya, tapi kami tidak menemukan tanda keberadaannya! Di ruang baca pun, tidak ada!" Laporan Allison diiringi khawatir dan panik luar biasa menghantam keras benak Dante. Dekapan pada buket bunga mawar merah melonggar, sebelum jatuh teronggok mengenaskan di atas marmer. Mata biru sebagaimana lautan di balik kacamata hitamnya membola, sementara bulatan kecil di dalam kornea mata menyusut. "Jangan bercanda." Bariton suaranya memberat, membunyikan ancaman bila laporan Allison adalah prank di hari anniversary-nya dengan Sang Istri. "Saya berani bersumpah demi nyawa saya sendiri, Tuan. Tuan bisa melihatnya langsung di kamar Nyonya." Napas Allison terputus-putus, lelah usai mencari Sang Majikan. Tungkai dibalut celana panjang hitam milik Dante diseret cepat, setiap ketukannya membunyikan emosi negatif yang merayapi benak, perlahan menumbuhkan ketakutan yang merupakan ancaman. "Untuk apa dia pergi?" Dante enggan percaya pada ucapan Allison. Namun, selama mengenal wanita setengah baya itu, Dante tak pernah mendengar kelakar darinya. "Tidak ada tempat yang menjadi tempatnya pulang selain mansion ini." Dari nada suaranya: terdapat getaran dari sebuah ketakutan, panik serta khawatir bila yang Allison katakan adalah kenyataan. "Tuan!!" Dari arah jam dua, berlarian seorang wanita pendek. Wajah bulat wanita itu membentangkan senyum, suara tawa kecilnya menjadi pertanyaan besar bagi Dante. Langkah kecil dari kaki pendeknya memutus jarak di antara mereka. "Kabar apa yang ingin kau sampaikan?" Suara rendah nan berat Dante menyapu rungu wanita tersebut. Sorot tajam dari iris biru Dante tidak membuat wanita tersebut melenyapkan senyumnya, seolah berkas yang ada di tangannya adalah harta paling penting dari nyawanya. "Saya membawa kabar bahagia!" Wanita itu memekik, lantas mengambil hasil laboratorium dari dalam amplop coklat. "Selamat Tuan, anda akan menjadi ayah. Nyonya sedang hamil saat in—" Kata-kata yang telah ia rangkai dengan suka-cita terputus, Sang Tuan terburu merebut kertas di tangannya. Telaga birunya seolah ingin membakar kertas tersebut. Setiap kata yang ia baca dipelototi, enggan terlewati barang satu huruf pun. Di balik wajahnya yang tak seperti biasanya datar dan pongah, terdapat debaran luar biasa di dalam dada, seakan jantungnya tengah memohon untuk dikeluarkan. Tanpa dapat semua orang prediksi, sosoknya melangkahkan tungkai dengan kecepatan tinggi. Pijakan dari sepatu pantofelnya menjejaki ketakutan. Gemuruh jantung di dalam dada adalah kidung yang mengiringi jalannya. Brak! Pintu kayu menjulang tinggi di depannya terbuka lebar, memberi jalan untuknya memastikan kabar dari Bennet. "Liv!!" Kala nama Sang Dara, ia bunyikan, lehernya mengetat, liukan urat menggarisi leher saling bertonjolan. "Liv!" Dia kembali memanggil Sang Istri. Namun, angin lalu yang menyahuti. Untuk memastikan lebih dalam keberadaan Sang Istri, kakinya dibawa menuju kamar. "Aku tidak akan membiarkanmu lari membawa keturunanku." Tekadnya mengakar, bersama ambisi yang kembali bangkit ke permukaan. Liv Florence Bailey Cruz, dari awal pernikahan mereka dikarenakan keturunan untuk mewarisi kartel yang ia pimpin. Namun, kini, dia pergi membawa pondasi dari hubungan mereka. "Pergilah sejauh yang kau mau, aku akan menangkapmu sekalipun kau pergi ke neraka." ** “Saya janji akan membayarnya segera. Saya bersumpah!” Itu adalah kalimat yang selalu didengar dari ayahnya saat ada laki laki itu menagih. “Jenis sampah apalagi yang kau keluarkan dari mulutmu?” hardik pria di hadapannya, genggaman di ujung tongkatnya mengetat. Punggung dibalut jas hitam berpadukan kameja putihnya terlihat tegap. Samar, otot bisepnya menonjol kokoh di balik balutan setelan formalnya. “Sampai aku turun tangan pun, kau masih beralasan?” Kata-kata yang dilontarkan terlampau dingin, membekukan nyali. “Tu-Tuan. Kali ini saya benar-benar bersumpah. Saya … saya ….” Lidah ayahnya terasa membeku, jelas tak memiliki kuasa melawan Tuannya. “Ben.” Tangan Dante mengulur, meminta pistol dari asisten pribadinya. Sebuah pistol jenis scarface bertempat di tangannya, terdengar suara pelatuk ketika ia tarik pelatuknya. Mendengar suara pelatuk, Kane meneguk saliva. Rasa takut menghantui. Nyawanya akan lenyap di tangan pria ini. Buih-buih keringat bermunculan di pelipis. Saraf di otaknya terasa berhenti berfungsi, buat pikirannya sejenak membeku tak mampu pikirkan jalan lain, sebelum ujung matanya menangkap pintu kamar yang telah rapuh, nyaris hancur. Di sana, Liv yakin, ada telinga yang diam-diam terpasang— mendengar dialog mereka, menangkap dan merekam ancaman. Dia telah mendapatkan jalan lain, dan berharap Sang Tuan akan menerima. “Sa-saya punya opsi lain.” Segera ayahnya mengalihkan pria yang sudah bersiap hendak menembaknya. “Tu-Tuan bisa menikahi putri saya.” Di belakang pintu yang telah dimakan rayap itu … dia menutup mulut, menahan napas agar kehidupannya tak dijangkau oleh mafia itu. Dia yakin, yang dimaksud ayahnya adalah dia, bukan kakaknya. Liv Florence Bailey Cruz, putri pertama Kane yang tak pernah dianggap anak. Rasa takut menghantam, merayap sebagaimana serangga di seluruh sel, membuatnya bergidik kala bayangan pria menyeramkan itu dapat menghabiskan hidup bersamanya. Pria berwajah tanpa ekspresi itu menyahut, “Apa yang bisa Putrimu berikan kepadaku?” Seraya menunduk, Kane menjawab dengan suara bergetar. “Di-dia bisa memasak. Dan jug—” “Aku tidak sedang menyediakan panggung untuk komedi. Dan sekarang kau bermain-main denganku?” Jemari Dante mengusap halus permukaan pistolnya. Mulutnya meniup ujung pistol yang bisa kapan saja menembuskan peluru di kepala Kane. Liv Florence bergetar ketakutan, bola matanya nyaris keluar dan menggelinding melihat tingkah pongah dan menyeramkan Dante. Pria itu bukan sembarang manusia, dia adalah asisten malaikat maut. Liv yakin, jika dia menikah dengan Dante, artinya dia bisa mati kapan saja. Dan hidupnya bukan lagi tentang cara untuk bertahan, tapi mencari cara untuk tidak mati sia-sia di tangan Dante. “A-apa yang Ayah katakan?” Suaranya tergagap, menahan takut yang telah mengakar. Tangisnya mendesak, sementara telinga tetap terjaga untuk menangkap dialog mereka di balik pintu kayu rapuh. Butir-butir keringat dingin bercucuran di pelipis, benaknya terdorong logika untuk lari saat itu juga, sebelum dijebloskan dalam sangkar pria berbahaya itu. “Anak saya masih perawan.” Kane berucap cepat, khawatir pistol yang Dante pegang lebih dulu menembaknya. “Tuan bisa menjadikannya pelacur.” Jantung Liv berdegup terlalu kencang. Kata-kata sang ayah merupakan titik terendah dalam hidupnya, seolah belum cukup oleh penderitaan fisik dan batin selama ini. Sementara di balik pintu yang menjadi tempat Liv menguping, seringai Dante membentang, sorot tajam dari telaga biru di balik kacamatanya hitamnya bergulir liar, mencari gerangan yang Kane maksud. “Benar juga.” Dia bergumam. “EOA Cartel membutuhkan pewaris, aku bisa menjadikannya mesin produksi anakku.” Karena akhirnya dia dapat menggunakan putri tidak bergunanya sebagai tumbal agar dia dapat terlepas dari jeratan hutang atas kesalahannya sendiri. “Tuan bisa mengambilnya dan menjadikannya sebagai apapun yang Tuan mau.” Tanpa naluri sebagai ayah, lupakan darahnya yang mengalir deras di nadi sang putri, Kane berikan secara suka rela putri yang selama ini ia besarkan. “Tapi, Tuan … saya mohon untuk Tuan menikahinya terlebih dulu sebelum menjadikannya mesin untuk menghasilkan keturunan Tuan.” Dante menarik napas, lantas mengembuskan begitu panjang. Kepalanya menimang permintaan tidak tahu diri orang itu, orang yang telah berani menggelapkan dana pertanian kokain."Minumlah selagi hangat!" pinta Alexa.Varen mengulurkan tangan mengambil air jahe, lalu meminumnya. Setelah meminum air jahe, satu tangannya langsung melingkar di pinggang Alexa."Apa kamu tidak mau mandi?" tanya Varen."Aku sudah mandi di rumah," jawab Alexa."Mau menikmati malam di kamar atau di sofa?" Kata Varen lagi.Dia tidak memberikan Alexa pilihan ketiga, menikmati malam yang di maksud di sini jelas adalah hubungan suami istri yang selalu disukai banyak insan.Setelah Alexa tertegun cukup lama, akhirnya dia pun merespon menatap Varen dan bertanya, "Kamu lebih suka di mana?"Setelah meminum airnya, Varen langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyisakan tempat di sampingnya kiri untuk istrinya. Alexa menundukkan kepala, sudut bibirnya naik memperlihatkan senyum samar."Perlukah bersikap seperti ABG," gumam Alexa di dalam hati.Karena tadi sebelum ke sini dia sudah mandi, jadi Alexa hanya mengganti bajunya saja. Dia mengambil gaun tidur satin berwarna putih di dalam lemari
“Sudah datang?”Alexa kaget, dia pun melihat ke arah suara itu. Dia hanya melihat samar sosok yang tinggi besar duduk di sofa biru tua. Pria itu bersandar di sofa itu dengan pose santainya, kemeja putih pria itu hanya di kancing sampai di dada.Dengan iringan nafas, tampak dada yang bergejolak samar di sana. Mata gelapnya begitu bersinar dalam kegelapan. Gerakannya yang begitu anggun menyalakan sebatang rokok. Cahaya korek api bergoyang-goyang lalu hilang, aroma tembakau perlahan tersebar di udara.“Kenapa kamu tidak menyalakan lampunya?” tanya Alexa.Suasananya mirip seperti film horor, apa pria ini sengaja menakutinya? Dia pun berjalan ke samping dinding, dan mengulurkan tangan menekan saklar lampu di dinding itu.Lampu kristal di atas kepalanya menyala seketika dan menghilangkan aura gelap di dalam ruangan. Mungkin karena Varen sudah lama di dalam kegelapan, jadi awal-awal dia masih sulit beradaptasi dengan cahaya terang, sehingga tanpa sadar menyipitkan matanya, tapi ekspresi di w
Kenzo berbalik dan dengan dingin melepaskan tangan Maha yang membelit di pinggangnya. Kenzo selalu memiliki prinsip, jika cinta bisa meninggalkan maka itu bukanlah disebut cinta sejati.Saat mamanya masih muda, dia juga memiliki karier. Tapi mama bisa mengejar karier itu tanpa harus meninggalkan papanya.Jika dalam hidup ini dia masih memiliki keberuntungan untuk mencintai. Dia berharap bertemu dengan wanita yang tidak pernah meninggalkannya dengan alasan apapun. Tapi wanita ini sudah pasti bukan Maha."Maha, tidak setiap hubungan akan berakhir dengan bahagia, jika pada akhirnya kita tidak bisa bersama, itu artinya kita belum berjodoh. Aku tidak membencimu, juga tidak ada hal yang harus dibenci."Situasimu dulu, aku paham hingga membuatmu harus memilih. Hanya saja aku tidak memiliki kebiasaan untuk kembali ke masa lalu. Aku mohon jaga kehormatanmu sendiri, demi laki-laki yang seumur hidup akan bersamamu."Kenzo berbalik dan berjalan k
Kenzo memang adalah pria yang tegas, dia tidak akan memberikan harapan sekecil apapun datang merusak hidupnya.“Salah paham apa? Tapi kenapa kita tidak bisa bersama lagi?” Maha menatap mata Kenzo, dia bertanya dengan bibir gemetar.“Hal yang tidak mungkin terjadi, aku tidak mau ibuku terus memiliki imajinasi yang tidak realistis,” Setelah Kenzo berbicara, kedua pintu lift tiba-tiba terbuka. Dia melangkahkan kaki panjangnya berjalan keluar.Maha segera mengejarnya, menghadangnya di depan pintu rumah sakit. “Kenapa tidak mungkin?” Dia bertanya hampir lepas kendali.Kenzo mengernyitkan dahinya, suaranya sangat dingin dan jelas, “Maha kita sudah berpisah dari awal, aku tidak pernah berjanji akan berdiri di tempat menunggu kamu kembali. Dan aku juga tidak seharusnya memberikan harapan untuk kembali. Sebuah hubungan yang sudah berakhir, maka sudah berakhir. Ada baiknya kita menjadikannya kenangan yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น