LOGINSiapkah dirimu jika tiba-tiba kau mendapatkan empat saudara lelaki nan tampan misterius yang begitu saja memasuki hidupmu? Arumi tidak pernah menyangka, setelah sekian lama menjadi anak yatim piatu ia akhirnya mendapatkan keluarga baru. Tidak hanya itu, ia juga langsung mendapatkan empat saudara lelaki angkat baru! Kak Kris yang dingin dan acuh. Kak Gerald yang mungil namun baik hati dan suka tersenyum. Kak Kai yang sangat gentleman, seorang perayu ulung. Kak Rion yang berisik namun perhatian. C4, Chandrawinata bersaudara itu tiba-tiba saja datang ke hidup Arumi dalam sekejap. Dan bukan hanya itu, keempatnya ternyata juga adalah petinggi kelompok mafia terkenal di kota yang amat di segani. Cedrus4, empat bersaudara nan tampan, kelompok paling populer di seluruh kampus dan kota. Setelah C4 hadir dalam hidup gadis biasa seperti dirinya, hidup Arumi tidak akan pernah sama lagi. Cover ilustrasi by ayurinp.
View MoreBrak!
"Emmm ... Kenapa gelap sekali?" gumam Celine yang baru saja membuka matanya. Dia mendapati dirinya kini berada di sebuah ruangan yang tidak ada cahaya sama sekali.Wanita cantik itu menajamkan pendengarannya. Gendang telinganya samar-samar menangkap adanya suara langkah kaki yang terseret. Dia yakin jika orang tersebut berjalan terseok-seok akibat menabrak barang yang ada di dalam kamar itu."Sayang, apa itu kamu? Apa kamu sedang mabuk? Lalu, ada apa dengan lampunya? Apa sengaja kamu matikan agar aku tidak mengetahuinya?" Celine memberondong pertanyaan seraya mengusap kedua kelopak matanya agar bisa terbuka lebih lebar.Namun, orang tersebut tidak menyahuti pertanyaan darinya. Bahkan suara langkah orang tersebut terdengar semakin mendekat ke arahnya yang sedang berada di atas ranjang.Bruk!"Aaaah ...!" seru Celine dengan suara yang tertahan. Orang tersebut kini telah menindihnya. Sosok yang tidak dia ketahui itu, tak menghiraukan seruan Celine yang ada di bawah kungkungannya. Bahkan wanita yang memiliki rambut sebahu itu, berusaha keras untuk menyingkirkan tubuh pria yang terasa berat menindihnya, tapi pria tersebut semakin menelusupkan wajahnya pada ceruk leher sang wanita."Uggggh!"Celine masih saja berusaha menyingkirkan tubuh pria tersebut, meskipun ada kemungkinan jika pria yang kini menindihnya itu adalah suaminya.Sialnya, pria yang menindihnya itu semakin menelusupkan wajahnya hingga hidung mancungnya mengenai kulit leher wanita tersebut. Hembusan nafas pria yang masih belum diketahui identitasnya itu, menerpa kulit leher Celine, sehingga membuat bulu kuduknya meremang. Sekuat tenaga Celine menahan agar suaranya tidak keluar. Dia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya, berusaha keras menahan agar tidak ada sedikit suara pun yang keluar menelusup dari bibirnya.Sayangnya, suara lenguhan berhasil keluar begitu saja dari mulut Celine. Bibirnya terbuka tatkala bibir pria itu menari-nari menjelajah lehernya. Bahkan lidahnya bermain-main di sana. Mendengar suara lenguhan sang wanita membuat si pria semakin bersemangat. Tangannya seolah bergerak sendiri, bergerilya pada aset-aset berharga milik wanita itu, sehingga sang wanita tidak bisa lagi menolak kehadiran pria itu di dekatnya.Kamar yang sunyi dan tanpa adanya seberkas cahaya apa pun, membuat gerakan mereka berdua semakin liar. Bahkan terdengar suara lenguhan dari mereka berdua yang memenuhi kamar tersebut.Buaian dari sang pria membuat Celine terbuai. Dia melupakan segalanya, melupakan tentang pertanyaan yang ditujukannya pada pria tersebut. Bagaimana tidak, pria itu berhasil membuat Celine begitu mabuk kepayang dengan sentuhan-sentuhannya, dan permainan mereka di atas ranjang. 'Apa ini? Kenapa dia berbeda sekali dengan biasanya? Apa dia sudah belajar dari teman-temannya, seperti yang dikatakannya waktu itu? Dia sungguh hebat sekarang,' batin Celine yang sedang menikmati buaian dari sang pria."Aaaaah!" Seketika lenguhan Celine tidak terdengar lagi. Bibirnya diraup dengan cepatnya oleh bibir sang pria. Sialnya lagi, Celine pun terbuai oleh permainan bibir sang pria, sehingga dia membalas ciuman tersebut.Gayung pun bersambut. Mereka berdua saling menikmatinya, sehingga waktu yang mereka habiskan untuk bersama terasa sangatlah singkat. Kamar yang tanpa cahaya itu, tidak lagi sunyi. Suara lenguhan dan ekspresi tubuh mereka menjadi irama tersendiri yang memenuhi kamar. Bahkan ranjang yang tadinya rapi, kini menjadi berantakan dan berpeluh. Kini tubuh sang pria terbaring lemah di atas tubuh sang wanita, setelah mereka melakukan pelepasan secara bersamaan. Bahkan nafas mereka sama-sama memburu, dan hembusan nafas mereka saling menerpa wajah yang ada di hadapannya.Setelah beberapa saat, sang pria bergerak turun dari atas tubuh sang wanita. Dia berbaring di sebelahnya, dan memeluk erat tubuh sang wanita, untuk tidur bersamanya.'Aroma tubuh ini bukan aroma Sean yang biasanya. Apa dia mengganti parfumnya?' Sibuk bertanya-tanya dalam hatinya, dan tidak mendapatkan jawabannya, mata Celine pun terpejam dalam pelukan sang pria. Bahkan dia membalas pelukan tersebut dengan melingkarkan tangannya pada pinggang sang pria. Mereka berdua terlelap dengan saling memeluk, dan merasakan kenyamanan dalam dekapan tersebut.Setelah beberapa saat, terdengar suara bising dari luar kamar tersebut. Perlahan mata sang wanita pun terbuka. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina mata. Seketika matanya tertuju pada wajah tampan yang terpampang dengan jelas di hadapannya.Dia terpanah oleh ketampanan wajah pria yang tidak asing baginya. Bahkan dia terpesona, menatapnya tanpa berkedip, seolah memperlihatkan bahwa dia sedang mengagumi paras tampan sang pria yang hampir tidak berjarak dari wajahnya.Tiba-tiba indera pendengaran mereka menangkap suara bising dari luar kamar. Matanya terbelalak mengetahui bahwa suara di luar sana adalah suara suaminya dan ibu mertuanya.Seketika dia teringat akan situasinya saat ini. Celine kembali menatap wajah pria yang sedang memeluknya, dan matanya perlahan terbuka.Tatapan mereka pun beradu. Beberapa detik kemudian mereka saling melepaskan pelukannya, dan bergerak saling menjauhi. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya sang pria sambil mengernyitkan dahinya."Ini kamarku, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu," jawab Celine sembari menutupi bagian depan tubuhnya menggunakan selimut."Kamarmu?" tanyanya kembali sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.Pria tersebut memegang kepalanya, dan menjambak rambutnya dengan kesal, seraya berkata,"Apa yang terjadi padaku semalam? Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" "Sudahlah. Nanti kita bicarakan lagi. Lebih baik kamu cepat keluar dari kamar ini, sebelum suamiku masuk dan menemukan kita dalam keadaan seperti ini," sahut Celine seraya beranjak dari ranjang, dan tergesa-gesa mengambil pakaiannya di lantai setelah mendengar suara suaminya semakin dekat.Pria itu pun tergesa-gesa memakai celana dan bajunya, hingga mereka dikejutkan dengan ketukan pintu kamar tersebut, diiringi oleh suara seorang pria yang familiar di telinga mereka."Sayang, buka pintunya!" "Kenapa kamu kunci? Apa kamu lupa jika suamimu ini belum masuk?!"Sontak saja mereka berdua yang berada dalam kamar tersebut menoleh ke arah pintu. Mata mereka pun terbelalak mendengar suara pria tersebut kembali berteriak."Cepat pergi! Keluarlah lewat jendela itu!" ucap Celine lirih, seraya menunjuk jendela kamarnya.Secepat kilat pria tersebut melompat dari jendela kamar. Bahkan terdengar suara benda jatuh karena ketinggian kamar tersebut yang berada di lantai dua."Sayang! Cepat buka pintunya! Aku lelah! Aku ingin cepat istirahat!" seru pria yang berstatuskan suami sah Celine, sembari mengetuk pintu kamar tersebut."Sebentar!" teriak Celine sambil merapikan ranjangnya."Cepatlah!" seru sang suami kembali, seolah tidak sabar untuk dibukakan pintu.Selang beberapa saat, pintu kamar pun terbuka. Celine tersenyum manis menyambut sang suami yang menatap lapar padanya. Dia memeluk erat sang istri, seraya berkata,"Kamu cantik sekali, Sayang. Aku sangat merindukanmu."Sang istri pun membalas pelukan suaminya dengan erat dan berkata,"Aku juga merindukanmu, Sayang.""Celine, Sean. Apa kalian melihat Dave?!" seru seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan menghampiri mereka.“ALENA TANUBRATA???” kelima manusia itu secara kompak berteriak, sementara Alena juga tidak kalah kagetnya mengetahui keberadaan C4 dan Sally yang berada di sini.“Alena? Kenapa jadi kau? Dan…. Kenapa kau memakai pakaian Arumi kami?” tanya Sally terkejut, tentu karena ia tahu persis bahwa baju yang sedang di pakai Alena sekarang adalah baju yang sama dengan baju yang di pakai Arumi saat meninggalkan rumah tadi.Alena tidak menjawab, bukan karena ia tidak ingin, tapi lebih kepada suhu tubuhnya yang mendadak menjadi panas dan membuat dirinya kembali tidak bisa di kontrol begitu melihat C4 secara tiba-tiba dan mendadak menghampirinya secara serempak bersamaan seperti ini.Kenapa mereka bisa berada di sini bersama-sama?“Hihihihihihihihihihihihi…..aku bertemu kalian di sini. Kebetulan sekali. Hihihihihihihhihihihihihi~ lalalalalalalala~” C4 dan Sally ternganga bersama-sama melihat Alena cekikikan
Alena sedang melamun di sebuah ruangan yang merupakan salon sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin rias, lebih tepatnya gadis itu kembali teringat terhadap apa yang sudah dilakukan ayahnya kepada dirinya semalam.Alena menyentuh pipinya, masih terasa sakit.Untuk pertama kalinya ia di tampar oleh Ayahnya sendiri. Namun lebih daripada pipinya yang memerah, hatinya lebih sakit melebihi apapun.Bahkan… Ayahnya sendiri pun sudah menganggapnya gila.“E …hem…” sebuah suara deheman terdengar, membuyarkan lamunan gadis itu sehingga Alena refleks menatap lelaki yang tengah berdiri di sampingnya.“Ba… bagaimana?” tanya lelaki itu menatap Alena sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.“Ya! Mark Prakarsa?” Alena segera bangkit dari kursinya , menatap lelaki di depannya ini dari atas rambut hingga ujung kaki.“Kau benar Mark Prakarsa kan?&r
Sebuah suara sirine ambulans terdengar, mobil ambulans itu melesat pergi meninggalkan sebuah bangunan tua yang sudah di kerubungi beberapa orang dan di pasangi garis pembatas polisi.Yifan berlari tertatih-tatih menghampiri sebuah kerubungan manusia, tidak memperdulikan peringatan polisi yang menyuruhnya untuk berhenti, Yifan tetap berlari menembus kerubungan itu demi untuk mencari sesuatu.Mencari keberadaan Na Bi yang ia tinggalkan begitu saja di bangunan tua itu demi mencari pertolongan.“Kasihan sekali gadis kecil itu….”“Dia sepertinya kehilangan banyak darah….”“Lukanya sepertinya parah.”“Aku benar-benar mau muntah.” terdengar beberapa orang berbisik-bisik tidak jelas.Yifan berusaha meyakinkan dirinya, meyakinkan bahwa orang-orang ini tidak sedang membicarakan Na Bi. Mata anak lelaki itu tetap berusaha mencari keberadaan Na Bi, siapa tahu Na Bi berada diantara banya
"Permisi, maaf menganggu." seorang pria berjas hitam mendadak muncul dan menghampiri Ayah Alena dan membisikkan sesuatu, sesuatu yang membuat pria paruh baya itu terkejut hingga matanya membulat tak percaya."Apa?! Anak buah kita patah tulang semua?! Bagaimana bisa?!"Lelaki paruh baya itu terkejut bukan main begitu mendengarkan laporan terbaru anak buahnya.Lelaki berjas itu lantas membuka i-padnya, menunjukkan foto markas yang hancur porak poranda di sana. Banyak orang yang terkapar dan tidak di sadarkan diri di gambar sana.Lelaki paruh baya itu men-zoom salah satu foto yang terpampang di sana. Nampak banyak serpihan tumbuhan hijau yang menjalar memenuhi lantai terlihat. Tumbuhan hijau itu bukankah jenis Cedrus?Tumbuhan asli dari pegunungan Himalaya dan Mediterania yang terkenal langka, juga merupakan simbol dari geng mafia terkenal di kota... Cedrus4?***Kris menempelkan satu plester luka tepat di pipi Gerald yang memar, membuat
“YEEYY!! AKU MENANG!!!” Arumi bersorak kegirangan dan menari-nari dengan riang begitu gadis itu berhasil mengalahkan Rion dalam permainan video game “Wristling Swist”, game gulat yang cukup populer diantara para anak laki-laki karena levelnya yang lumayan susah untuk di ma
Arumi, Sally dan Alena menghampiri loker mereka untuk mengambil beberapa perlengkapan materi kuliah mereka i yang akan mereka gunakan untuk mata kuliah kuliah selanjutnya, namun seketika kening Arumi mengernyit samar begitu ia menemukan sepucuk surat berwarna putih terselip di bagian bawah loker
"Sudah ya, kami mau kembali ke kelas. Mata kuliah selanjutnya sudah mau di mulai.” Alena memecah keheningan dengan menarik lengan Sally dan Arumi untuk segera beranjak pergi karena sebentar lagi kelas manajemen bisnis akan segera di mulai.“Hey, tunggu. Kami juga ik
“Tenang, Alena, tarik nafas yang dalam, hembuskan, tarik nafas, hembuskan.” Kai langsung menghampiri gadis itu dan dengan gaya terapis nya menyuruh Alena menarik nafas lalu menghembuskannya dan dengan polosnya Alena menuruti ajakan konyol Kai itu.“Hei!! Hentikan kekonyola












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews