LOGINSiapkah dirimu jika tiba-tiba kau mendapatkan empat saudara lelaki nan tampan misterius yang begitu saja memasuki hidupmu? Arumi tidak pernah menyangka, setelah sekian lama menjadi anak yatim piatu ia akhirnya mendapatkan keluarga baru. Tidak hanya itu, ia juga langsung mendapatkan empat saudara lelaki angkat baru! Kak Kris yang dingin dan acuh. Kak Gerald yang mungil namun baik hati dan suka tersenyum. Kak Kai yang sangat gentleman, seorang perayu ulung. Kak Rion yang berisik namun perhatian. C4, Chandrawinata bersaudara itu tiba-tiba saja datang ke hidup Arumi dalam sekejap. Dan bukan hanya itu, keempatnya ternyata juga adalah petinggi kelompok mafia terkenal di kota yang amat di segani. Cedrus4, empat bersaudara nan tampan, kelompok paling populer di seluruh kampus dan kota. Setelah C4 hadir dalam hidup gadis biasa seperti dirinya, hidup Arumi tidak akan pernah sama lagi. Cover ilustrasi by ayurinp.
View MoreThe fading Spark
Elena Bennett stood before the floor-to-ceiling windows of her Manhattan penthouse, her reflection merging with the sweep of gold and red lights glittering far below. Thirty-two years old, a litigator who could slice through arguments with surgical precision and a presence people either feared or admired; yet a quiet hollowness clung to her tonight.
Her dark hair cascaded in loose waves over her shoulders, framing the striking face everyone praised: sharp cheekbones, full red lips, emerald eyes that could burn or freeze at will, but tonight, those emerald eyes were dulled, exhausted, restless, and thirsting for something she had gone too long without: the feeling of being a woman.
She adjusted the silk blouse, leaning on her beautiful breasts to show more cleavage, the fabric whispering against her skin. Even that small, sensual motion felt practiced, performed for no one, like most parts of her polished life.
Marcus Bennett: her husband, her storm in a tailored suit had built this penthouse, this empire around her. Thirty-eight-year-old billionaire CEO of Blackwell Enterprises, a man whose presence dominated boardrooms, bedrooms, and entire continents. Their first years together had been wildfire: stolen kisses behind velvet curtains at charity galas, breathless quickies in his office overlooking the skyline, raw nights where he’d pin her beneath him and take her until her limbs trembled and shook from multiple orgasms.
But that Marcus had become a ghost.
Now his empire claimed every piece of him. Tokyo, Dubai, London, he chased time zones more than he chased her body. Weeks passed in a blur of empty nights, and their sex life had withered into rushed attempts that lacked romance, which reminded Elena only of how deeply she still craved the early days. Her desire was a constant flame, but lately, she was left alone to tend it.
She glanced at their bed. The left side was untouched, smooth, cold. Marcus had flown to Paris that morning, promising he’d be back in ten days.
Elena hadn’t believed him for a second.
Her phone buzzed on the marble nightstand.
Sophia, her best friend, her reality check, the last thread holding her together.
Girls’ night. Club Eclipse. 10 PM. No excuses.
Elena sighed and typed back; Fine, one drink.
But she already knew one drink wouldn’t fix anything. What she needed was distance from the loneliness the penthouse embodies, from the long waits for Marcus’ return, from the version of herself slowly fading into the darkness that looms.
She slipped into a black dress that clung to her hips, as if worshipping them. The neckline dipped low, unapologetically. A hint of jasmine along her throat and wrists, and she felt the first spark of aliveness in weeks. The elevator ride down felt like shedding another layer of suffocation she had endured.
Tonight wasn’t about Marcus.
Tonight was about remembering she still had a pulse.
Club Eclipse greeted her with a shock of sound and color. Bass thumped through the floor, lights strobed like lightning, and bodies writhed in chaotic, electric rhythm. Sophia grabbed her hand and dragged her to the dance floor before she could protest. Tequila slid down Elena’s throat, spreading warmth until laughter spilled out, light and unrestrained.
“See?” Sophia shouted over the music, “This is what you needed. Marcus can wait.”
Maybe he could.
Maybe she had waited long enough.
As Elena moved with the beat, something inside her loosened. Her gaze drifted through the crowd, sweat-slick bodies, hands wandering, lips grazing throats. The room pulsed with life, with hunger, with something she had forgotten she could feel.
Then she saw him.
He cut through the crowd like he owned the space. Shirtless, body sculpted into lines and ridges that made her breath catch. Late twenties, broad shoulders, a chest built like stone, abs catching the flashing lights. His jeans hung low enough to tease the sharp V disappearing into shadow; dark, tousled hair fell in deliberate disarray.
Every step he took radiated a slow, confident, and predatory control.
And then his eyes met hers.
A shock rolled through her heat, awareness, something wild snapping awake.
He approached with a smirk that curled her lips before she realized it. He handed her a drink without speaking. When their fingers brushed, the spark that rushed through her went straight between her thighs.
“Dance?” he murmured, stretching out his hand, his voice smooth and sinful.
Elena knew she should say no.
A married woman should.
A woman with a diamond that could blind anyone should.
But loneliness was a powerful hunger.
Desire deepened; the view before her struck her with an overwhelming rush of heat.
And tonight, the fire burning in her blood answered for her.
“Yes,” she breathed, her voice barely above a whisper.
“ALENA TANUBRATA???” kelima manusia itu secara kompak berteriak, sementara Alena juga tidak kalah kagetnya mengetahui keberadaan C4 dan Sally yang berada di sini.“Alena? Kenapa jadi kau? Dan…. Kenapa kau memakai pakaian Arumi kami?” tanya Sally terkejut, tentu karena ia tahu persis bahwa baju yang sedang di pakai Alena sekarang adalah baju yang sama dengan baju yang di pakai Arumi saat meninggalkan rumah tadi.Alena tidak menjawab, bukan karena ia tidak ingin, tapi lebih kepada suhu tubuhnya yang mendadak menjadi panas dan membuat dirinya kembali tidak bisa di kontrol begitu melihat C4 secara tiba-tiba dan mendadak menghampirinya secara serempak bersamaan seperti ini.Kenapa mereka bisa berada di sini bersama-sama?“Hihihihihihihihihihihihi…..aku bertemu kalian di sini. Kebetulan sekali. Hihihihihihihhihihihihihi~ lalalalalalalala~” C4 dan Sally ternganga bersama-sama melihat Alena cekikikan
Alena sedang melamun di sebuah ruangan yang merupakan salon sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin rias, lebih tepatnya gadis itu kembali teringat terhadap apa yang sudah dilakukan ayahnya kepada dirinya semalam.Alena menyentuh pipinya, masih terasa sakit.Untuk pertama kalinya ia di tampar oleh Ayahnya sendiri. Namun lebih daripada pipinya yang memerah, hatinya lebih sakit melebihi apapun.Bahkan… Ayahnya sendiri pun sudah menganggapnya gila.“E …hem…” sebuah suara deheman terdengar, membuyarkan lamunan gadis itu sehingga Alena refleks menatap lelaki yang tengah berdiri di sampingnya.“Ba… bagaimana?” tanya lelaki itu menatap Alena sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.“Ya! Mark Prakarsa?” Alena segera bangkit dari kursinya , menatap lelaki di depannya ini dari atas rambut hingga ujung kaki.“Kau benar Mark Prakarsa kan?&r
Sebuah suara sirine ambulans terdengar, mobil ambulans itu melesat pergi meninggalkan sebuah bangunan tua yang sudah di kerubungi beberapa orang dan di pasangi garis pembatas polisi.Yifan berlari tertatih-tatih menghampiri sebuah kerubungan manusia, tidak memperdulikan peringatan polisi yang menyuruhnya untuk berhenti, Yifan tetap berlari menembus kerubungan itu demi untuk mencari sesuatu.Mencari keberadaan Na Bi yang ia tinggalkan begitu saja di bangunan tua itu demi mencari pertolongan.“Kasihan sekali gadis kecil itu….”“Dia sepertinya kehilangan banyak darah….”“Lukanya sepertinya parah.”“Aku benar-benar mau muntah.” terdengar beberapa orang berbisik-bisik tidak jelas.Yifan berusaha meyakinkan dirinya, meyakinkan bahwa orang-orang ini tidak sedang membicarakan Na Bi. Mata anak lelaki itu tetap berusaha mencari keberadaan Na Bi, siapa tahu Na Bi berada diantara banya
"Permisi, maaf menganggu." seorang pria berjas hitam mendadak muncul dan menghampiri Ayah Alena dan membisikkan sesuatu, sesuatu yang membuat pria paruh baya itu terkejut hingga matanya membulat tak percaya."Apa?! Anak buah kita patah tulang semua?! Bagaimana bisa?!"Lelaki paruh baya itu terkejut bukan main begitu mendengarkan laporan terbaru anak buahnya.Lelaki berjas itu lantas membuka i-padnya, menunjukkan foto markas yang hancur porak poranda di sana. Banyak orang yang terkapar dan tidak di sadarkan diri di gambar sana.Lelaki paruh baya itu men-zoom salah satu foto yang terpampang di sana. Nampak banyak serpihan tumbuhan hijau yang menjalar memenuhi lantai terlihat. Tumbuhan hijau itu bukankah jenis Cedrus?Tumbuhan asli dari pegunungan Himalaya dan Mediterania yang terkenal langka, juga merupakan simbol dari geng mafia terkenal di kota... Cedrus4?***Kris menempelkan satu plester luka tepat di pipi Gerald yang memar, membuat
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews