Chapter: Bab 11Hari ketiga di vila itu terasa seperti dimensi waktu yang berbeda bagi Siska. Dunia luar, kemarahan Rendy, bahkan norma-norma yang selama ini ia pegang teguh seolah memudar, tertutup oleh kabut gairah dan ketergantungan fisik yang dirancang Arga dengan sangat rapi.Pagi itu, kabut pegunungan masih menyelimuti jendela kaca besar kamar mereka. Siska terbangun lebih dulu. Ia merasakan denyutan yang sangat familiar di dadanya, panas, kencang, dan menuntut.Namun, alih-alih merasa takut atau terhina seperti hari pertama, ada sesuatu yang bergeser di dalam benaknya. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Arga yang masih terlelap. Pria itu tampak tenang, jauh dari sosok iblis yang menyeretnya dari klub malam, namun Siska tahu betapa liarnya pria ini saat "menjamunya".Siska bangkit dari tempat tidur. Tanpa sehelai benang pun, ia berjalan menuju balkon kamar yang tertutup kaca, membiarkan cahaya pagi yang pucat menyinari lekuk tubuhnya yang polos. Ia bisa merasakan setiap langkahnya memicu
Terakhir Diperbarui: 2026-03-06
Chapter: Bab 10Lampu neon parkiran yang remang-remang mendadak terasa mencekam saat sebuah bayangan besar menyambar pintu mobil Siska yang tidak terkunci sempurna. Sebelum pria bayaran itu bisa menyesap lebih dalam, pintu itu tersentak terbuka dengan kekuatan yang nyaris merobek engselnya.Arga berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi dingin, ia tampak seperti iblis yang baru saja dikhianati. Napasnya memburu, dan kilatan matanya menunjukkan amarah yang bisa membakar siapa saja."Keluar. Sekarang." suara Arga rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata.Pria bayaran itu tersentak, mencoba berdiri untuk melawan. "Hei, siapa kau? Aku sedang bekerja…"Tanpa peringatan, Arga mencengkram kerah pria itu dan menyeretnya keluar dari mobil Siska. Sebuah pukulan keras mendarat di rahang pria itu, membuatnya tersungkur di aspal. Arga meraih seikat uang tunai di atas dashboard dan melemparnya ke wajah pria itu."Pergi sebelum aku memastikan kau tidak bisa melihat matahari besok pagi!" teriak Arga. Pr
Terakhir Diperbarui: 2026-03-06
Chapter: Bab 9Malam itu, kediaman Adijaya diselimuti kesunyian yang mencekam. Siska sudah mengunci diri di kamar mandi, mencoba membasuh aroma Arga dan jejak "susu" yang seolah telah menyatu dengan pori-pori kulitnya. Sementara itu, di ruang tengah, Rendy berdiri mematung. Pikirannya kalut. Aroma di dalam mobil tadi bukan sekadar aroma minuman sereal, itu adalah aroma biologis yang terlalu spesifik, terlalu intim.Didorong oleh rasa protektif yang hampir mencapai titik paranoid, Rendy melangkah masuk ke kamar Siska saat mendengar suara pancuran air dari kamar mandi. Ini pertama kalinya ia merasa perlu melakukan hal ini, menggeledah privasi adiknya sendiri.Rendy mendekati tas tangan bermerek milik Siska yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Tidak ada botol susu, tidak ada tumpahan minuman sereal. Yang ia temukan hanyalah ponsel Siska, beberapa kosmetik, dan... sebuah sapu tangan sutra berwarna hitam.Rendy mengangkat sapu tangan itu. Jantungnya seolah ber
Terakhir Diperbarui: 2026-03-05
Chapter: Bab 8Gedung perkantoran milik Arga berdiri angkuh di pusat distrik bisnis, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan pria itu. Siska berjalan melewati lobi dengan langkah yang berat, mengenakan pencil skirt hitam ketat dan blazer yang dikancingkan rapat hingga ke leher. Ia merasa setiap pasang mata karyawan di sana bisa melihat rahasia yang ia sembunyikan di balik pakaiannya, rahasia tentang dadanya yang mulai berdenyut kencang karena adrenalin dan kelainan yang kembali menuntut pelepasan.Begitu ia sampai di lantai teratas, sekretaris pribadi Arga hanya mengangguk tanpa bertanya, seolah sudah tahu bahwa Siska adalah "tamu istimewa" yang tidak boleh dihentikan. Siska mendorong pintu jati besar itu dan menemukan Arga sedang duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, menatap layar monitor dengan ekspresi dingin yang biasa."Kau terlambat sepuluh menit, Siska." ujar Arga tanpa menoleh. Suaranya bergema di ruangan yang luas dan kedap suara itu."Aku terjebak macet, Arga. Dan aku
Terakhir Diperbarui: 2026-03-05
Chapter: Bab 7*** Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seolah ada label "milik Arga" yang tertempel di keningnya. Baru beberapa langkah ia keluar dari lorong toilet, sosok Rendy sudah berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam. "Siska! Ke mana saja kau? Kakak mencarimu ke mana-mana." ujar Rendy sambil menghampiri adiknya. Ia segera memegang kedua bahu Siska, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lama sekali di dalam. Kau sakit? Wajahmu sangat merah." Siska mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa sangat kaku. "Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Udara di dalam ruangan tadi terlalu sesak." Rendy hendak menjawab, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian dada gaun maroon Siska. Di sana, t
Terakhir Diperbarui: 2026-03-04
Chapter: Bab 6**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah."Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam."Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat."Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga t
Terakhir Diperbarui: 2026-03-04
Chapter: 25. Tamat****Hujan turun sejak dini hari.Langit kelabu seolah memahami bahwa satu kehidupan telah berakhir dengan cara yang tidak pernah benar-benar damai.Berita itu datang tanpa peringatan.Sebuah kecelakaan tunggal di jalan tol luar kota. Mobil hitam yang melaju terlalu cepat, kehilangan kendali, lalu menghantam pembatas jalan dengan keras. Api sempat membakar setengah bodi kendaraan sebelum akhirnya padam.Harley dinyatakan meninggal di tempat.Tidak ada saksi yang dapat dimintai keterangan panjang. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada penjelasan lain selain satu kalimat singkat dari kepolisian,[Kecelakaan fatal akibat kelalaian dan kecepatan tinggi.]Julian menerima kabar itu dalam diam.Ia tidak berteriak. Tidak memukul apa pun. Tidak pula menangis saat pertama kali mendengarnya. Ia hanya duduk lama di sofa apartemennya, menatap satu titik kosong, sementara Ruby berdiri di depannya dengan wajah pucat dan tangan gemetar.“Julian…” panggil Ruby pelan.Julian mengangkat wajahnya perlahan.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: 24. Harley berulah ****Hari berlalu…Suasana ruang utama Mansion Harley terasa mencekam. Lampu gantung kristal berpendar redup, memberikan bayangan keras di dinding. Harley berdiri sendirian di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal, napasnya berat seakan membakar dada.Di meja depannya, terbentang foto-foto Ruby yang diambil diam-diam oleh orang suruhan Harley. Ruby tampak keluar dari apartemen Julian, bekerja, duduk di kafe, bahkan menangis di tepi jalan setelah pertengkaran besar antara Julian dan Harley sebelumnya.Harley membanting foto itu ke lantai.“Cukup!” serunya keras.Seorang tangan kanan, pria paruh baya bernama Marek, mendekat hati-hati.“Tuan Harley, apakah Anda yakin ingin melanjutkan rencana ini? Jika Tuan muda Julian mengetahuinya…”“Biarkan dia tahu!” Harley membentak. “Bagaimana bisa dia terlena sampai melawan Daddy nya sendiri hanya demi putri dari wanita yang paling aku sesali?” Marah Harley.Marek menunduk, tahu amarah tuannya tak bisa diganggu.Harley berjalan mondar-mandir
Terakhir Diperbarui: 2025-11-20
Chapter: 23. Konflik tak mudah berakhir ****Suara pecahan kaca terdengar sangat keras di ruang kerja Harley. Julian mendorong pintu hingga terbuka lebar, napasnya terengah, wajahnya gelap penuh amarah. Di belakangnya, dua penjaga yang tadi mencoba menahannya kini tergeletak setelah sempat didorong keras oleh Julian.Harley berdiri di belakang meja kerjanya, matanya menyipit dingin melihat putranya kembali datang dengan amarah yang tak kunjung padam.“Sudah berapa kali aku bilang padamu, Julian.” suara Harley tenang, namun penuh ancaman di balik suaranya, “…lepaskan perempuan itu sebelum hidupmu berakhir sia-sia.”Julian melangkah ke depan, menghantam meja Harley dengan kedua tangannya.“Dan sudah berapa kali juga aku bilang, jangan sentuh Ruby. Jangan dekati Ruby. Dan jangan pernah coba merusak hidupnya lagi.” marah Julian membalas.Harley tertawa kecil, sebuah tawa yang menyinggung dan meremehkan.“Kau berbicara seperti pria yang kehilangan akal karena seorang perempuan.” ucap Harley.“Karena aku memang kehilangan akal!
Terakhir Diperbarui: 2025-11-16
Chapter: 22. Kegilaan lagi****Malam itu.Di dalam apartemen Julian, Ruby duduk di sofa dengan tubuh gemetar halus.Ia baru saja membaca artikel baru tentang dirinya, ditulis seolah ia adalah wanita berbahaya yang memanfaatkan pria kaya demi keuntungan pribadi.Sementara itu, Julian berdiri di belakangnya, kedua tangannya menggenggam kursi hingga buku jarinya memutih.“Aku bersumpah aku akan membuat mereka berhenti,” desis Julian dengan suara rendah.Ruby terkejut dan langsung berucap. “Julian kau tidak perlu…”“Kau pikir aku akan membiarkan siapapun menyentuhmu? Menginjakmu seperti ini?” marah Julian.Julian berjongkok di hadapannya, memegang wajah Ruby dengan kedua tangannya, memaksa perempuan itu menatapnya.“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Ruby.” ucap Julian.Ruby menggigit bibir, hatinya kacau.“Aku takut kau akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri.” balas Ruby.Julian tersenyum tipis, senyum yang tidak tenang, senyum milik seseorang yang siap membakar dunia demi seseorang.
Terakhir Diperbarui: 2025-11-15
Chapter: 21. Kebencian yang mendalam****Malam selanjutnya. Di balik dinding kaca besar ruang kerjanya, Harley berdiri menatap panorama kota.Namun di balik ketenangan itu, di dalam dirinya, badai baru saja dimulai.Ia masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata Julian yang terngiang di kepalanya."Aku tidak akan menyerah, bahkan jika aku harus melawan darahku sendiri." Ucapan Julian mengganggu pikiran Harley.Harley mengatupkan rahangnya. Wajahnya yang tegas kini terlihat semakin dingin, hampir tanpa ekspresi. Tangannya menggenggam gelas kristal berisi whiskey, sementara matanya memantulkan cahaya kota dengan sorot penuh amarah dan kekecewaan.“Dia bahkan berani menantangku demi perempuan itu,” gumamnya lirih. “Perempuan yang seharusnya tidak pernah muncul di kehidupan kami lagi. Anak dari wanita sialan itu!” marah Harley.Pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan gelap melangkah masuk. Ia adalah Roberto, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Harley selama lebih dari dua dekade.“Tuan, Anda
Terakhir Diperbarui: 2025-11-13
Chapter: 20. Cinta yang besar****Pagi itu.Julian berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap ke arah jalan dengan kedua tangan di saku celana. Wajahnya kaku, tatapannya dingin, dan matanya tak lagi memantulkan ketenangan. Ia tahu, sejak semalam Harley telah melangkah terlalu jauh. Menyentuh Ruby berarti menantang dirinya, bukan sebagai putra, tapi sebagai pria yang memiliki tekad untuk mempertahankan cintanya dengan segala cara.“Dia milikku Dad, kau bahkan tidak berhak memisahkan dia dariku apalagi meminta dia untuk pergi meninggalkanku!” Ucap Julian bergumam kecil.Ruby baru saja bangun dari tidurnya yang tidak tenang. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya terurai acak, wajahnya masih menunjukkan lelah. “Julian.” panggilnya pelan.Julian menoleh sedikit. Suaranya datar. “Kau sudah makan?” tanya Julian langsung.Ruby menggeleng. “Tidak. Tapi aku, ingin bicara denganmu tentang kejadian semalam.” ucap Ruby.Julian berbalik sepenuhnya, menatap Ruby tajam. “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Mereka datan
Terakhir Diperbarui: 2025-11-12