Share

Bab 25

Penulis: Gita Putri
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 08:17:14

Keheningan malam yang pekat kembali menyelimuti kamar utama vila mewah itu, namun udara di dalamnya masih terasa sangat panas dan sarat akan aroma gairah yang tak kunjung padam.

Arga tidak bergemak dari posisinya yang menindih Siska. Detak jantung pria itu bergemuruh keras di dada Siska yang telanjang, menciptakan ritme konstan yang mendominasi kesunyian.

​Siska terengah-engah, matanya terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata nikmat yang mengering di pelipisnya.

Tubuhnya terasa mati rasa, lem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 25

    Keheningan malam yang pekat kembali menyelimuti kamar utama vila mewah itu, namun udara di dalamnya masih terasa sangat panas dan sarat akan aroma gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak bergemak dari posisinya yang menindih Siska. Detak jantung pria itu bergemuruh keras di dada Siska yang telanjang, menciptakan ritme konstan yang mendominasi kesunyian.​Siska terengah-engah, matanya terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata nikmat yang mengering di pelipisnya. Tubuhnya terasa mati rasa, lemas seperti boneka kain yang kehilangan seluruh kekuatannya. Namun, di bawah kuasa Arga, ia tahu bahwa kata "cukup" adalah sebuah kemewahan yang tidak akan pernah ia dapatkan malam ini.​Arga perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Siska yang tampak begitu pasrah dan rapuh di bawah temaram cahaya bulan yang menembus dinding kaca. Jemari besarnya yang kasar merayap naik, menyusuri rahang Siska yang tegas, lalu turun ke leher jenjang tempat kalung safir itu masih melingkar manis, sebuah tanda

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 24

    Arga tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Begitu klimaks mereda dan Siska terengah-engah dalam dekapannya di dalam jacuzzi, Arga mengangkat tubuh wanita itu keluar dari air dengan gerakan yang sangat tangkas. Tanpa mengeringkan tubuh mereka, ia langsung menggendong Siska masuk kembali ke dalam ruang utama vila. ​Langkahnya lebar dan pasti, melewati lantai marmer yang dingin hingga ia menghempaskan Siska ke atas tempat tidur berukuran king size yang dilapisi sutra hitam. Kamar itu kini terasa sangat pengap oleh aroma gairah dan sisa-sisa aroma tubuh mereka yang bercampur. ​Arga tidak langsung menindih Siska. Ia justru berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas whiskey dingin, lalu kembali ke sisi tempat tidur. Ia meminum sedikit, lalu membiarkan cairan itu membasahi bibirnya sebelum ia membungkuk dan mencium Siska dengan kasar, memindahkan sensasi dingin dan tajam dari whiskey itu ke dalam mulut wanita yang masih setengah sadar tersebut. ​"M

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 23

    Setelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. ​"Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." ​Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. ​"Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 22

    Asap tipis masih mengepul dari laras pistol hitam di atas meja kayu itu, bercampur dengan aroma amis garam laut dan keringat dingin yang membasahi pelipis Siska. Matahari kini telah naik lebih tinggi, membakar kulit mereka yang masih bersentuhan erat. Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja latihan tersebut; ia justru menarik sebuah papan target yang selama ini tertutup kain hitam.​Begitu kain itu ditarik, jantung Siska seolah berhenti berdetak. Di sana, terpampang foto Rendy berukuran besar, wajah kakaknya yang sedang tersenyum tenang, foto yang diambil saat perayaan ulang tahun Siska tahun lalu.​"Arga... apa yang kau lakukan?" suara Siska bergetar hebat.​"Satu peluru terakhir, Siska." Arga berbisik, suaranya sedingin es yang membeku. Ia mengambil pistol itu, mengisi satu peluru terakhir ke dalam kamar dengan bunyi klik yang mematikan, lalu meletakkannya kembali ke tangan Siska yang gemetar. "Tembak dia. Tembak tepat di jantungnya."​Arga berdiri tepat di belakang Siska, mel

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 21

    Suasana di dalam ruang rahasia itu terasa sangat kedap dan berat. Hanya suara dengung konstan dari mesin peladen dan kelap-kelip lampu indikator dari puluhan monitor yang menerangi ruangan bawah tanah tersebut. Arga tampak tertidur pulas di atas sofa kulit panjang yang terletak di sudut ruangan, napasnya berat dan teratur setelah pergulatan hebat mereka beberapa jam yang lalu.​Siska, yang masih merasakan sisa denyut di intinya dan rasa hangat di dadanya, perlahan bangkit dari pelukan Arga. Ia melangkah dengan jinjit, kakinya yang polos tidak mengeluarkan suara di atas lantai teknis yang dingin. Matanya tertuju pada panel kontrol di samping pintu baja yang tertutup rapat.​Bip. Bip.​Siska mencoba menekan beberapa kombinasi angka yang ia ingat dari tanggal lahir Arga atau tanggal pertemuan mereka, namun layar kecil itu hanya menampilkan warna merah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak benar-benar ingin lari dari pulau ini, ia tahu itu mustahil, namun rasa terkurung di ruangan tanp

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 20

    Setelah gairah yang meluap di kolam renang, Arga membiarkan Siska membersihkan diri di kamar mandi utama yang luar biasa mewah. Ruangan itu berdinding marmer putih dengan bathtub raksasa yang menghadap ke arah laut lepas.Namun, rasa tenang Siska perlahan sirna saat ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang polos, kecuali sebuah benda yang kini melingkar permanen di lehernya.​Kalung platina dengan permata safir itu berkilau dingin. Siska menyentuhnya, mencoba mencari celah pengait. Ia menariknya pelan, lalu sedikit lebih kuat. Tidak ada gerakan. Kalung itu terasa sangat pas, seolah-olah telah menyatu dengan kulitnya.​"Kenapa tidak bisa digeser?" gumam Siska. Ia mencoba memasukkan ujung jarinya di antara kulit dan rantai, namun rantai itu terasa mengencang secara otomatis saat ia menariknya. Ada sensasi getaran halus, hampir tak terasa, yang keluar dari liontin safir tersebut.​Siska mulai panik. Ia mengambil sebuah jepit rambut besi dari meja rias dan mencoba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status