author-banner
Rieyukha
Rieyukha
Author

Novels by Rieyukha

Penantian Pertama sang CEO

Penantian Pertama sang CEO

Satu malam, satu kesalahan, satu kehidupan yang tak lagi sama. Sarah hancur saat mengetahui bahwa lelaki yang selama ini dicintainya ternyata adalah milik orang lain. Dalam keterpurukan, Dylan—sahabat lamanya—berusaha menghiburnya. Namun, di tengah malam yang penuh luka dan mabuk emosi, Sarah dan Dylan terseret dalam pusaran gairah yang tak seharusnya terjadi. Ketika pagi datang, yang tersisa hanyalah kebingungan dan keputusasaan. Namun, segalanya berubah saat Sarah mengetahui bahwa ia hamil. Dylan bersikeras bertanggung jawab, tapi Sarah ragu—bagaimana ia bisa menjalani hidup dengan pria yang tidak ia cintai? Atau... benarkah ia tak pernah melihat Dylan lebih dari seorang sahabat? Bagi Dylan, ini adalah kesempatan yang tak pernah ia harapkan tapi diam-diam ia impikan. Sejak awal, hatinya telah lama terpaut pada Sarah. Kini, ia harus berjuang untuk membuat Sarah melihatnya bukan hanya sebagai sahabat, melainkan sebagai pria yang bisa ia cintai. Mereka terjebak dalam kisah yang tidak mereka rencanakan. Bisakah cinta tumbuh di antara luka dan tanggung jawab? Ataukah mereka hanya akan bertahan demi seorang anak tanpa pernah benar-benar memiliki satu sama lain?
Read
Chapter: Bab 34
Malam itu, suasana di ruang makan terasa hangat, namun juga penuh haru. Sarah, Noah, dan adiknya duduk bersama Kate dan Liam di meja makan yang dihiasi dengan hidangan istimewa. Ini adalah makan malam perpisahan untuk Kate, yang bulan depan akan menikah dan meninggalkan rumah yang selama ini mereka tinggali bersama. Noah, yang kini sudah berusia lima tahun, menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu. Matanya berkaca-kaca, dan ia akhirnya berkata dengan suara lirih, "Auntie Kate nggak boleh pergi..." Kate tersenyum lembut, mengusap kepala Noah. "Sayang, Auntie Kate tetap ada buat kamu, kapan pun kamu butuh. Aku hanya tinggal di tempat yang berbeda, tapi kita tetap bisa bertemu, kan?" Sarah tersenyum tipis, berusaha menahan perasaan sedihnya. "Kate, selama ini kamu sudah banyak membantu aku dan anak-anak. Aku nggak tahu bagaimana harus berterima kasih." Kate menggeleng. "Kamu nggak perlu berterima kasih, Sarah. Kamu keluarga buatku. Aku senang bisa menemani kalian selama ini. Tap
Last Updated: 2026-02-10
Chapter: Bab 33
Sarah melahirkan dengan perjuangan luar biasa. Setiap tarikan napasnya semakin berat, dan rasa sakit semakin intens. Namun, ia tak pernah melepaskan genggaman tangan Liam, yang terus memberikan kata-kata semangat. "Kamu kuat, Sarah. Bayimu butuh kamu," Liam berbisik, berusaha mengalihkan pikirannya dari kepedihan yang menyelimuti tubuh Sarah. Ia melihat wajahnya yang tertekuk, berjuang melawan rasa sakit, dan merasa tak bisa berbuat banyak selain berada di sisinya. Akhirnya, setelah beberapa saat yang penuh ketegangan, tangisan seorang bayi memenuhi ruang persalinan. Bayi itu, yang akhirnya keluar dengan selamat, menangis keras, membangkitkan perasaan lega yang luar biasa dalam diri Sarah. Matanya yang kelelahan menatap bayi kecilnya dengan cinta yang mendalam. "Selamat, Ibu Sarah," kata dokter dengan senyum penuh kebahagiaan. "Ini bayi perempuan, sehat, sempurna." Sarah mengangguk pelan, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Liam yang berdiri di sampingnya, meletakkan tangan
Last Updated: 2025-04-23
Chapter: Bab 32
Sejak malam itu, Liam semakin sering berkunjung. Selalu dengan alasan yang masuk akal—membawa makanan, membantu Sarah dengan kehamilannya, atau sekadar menemani Noah bermain. Suatu malam, ketika Noah sudah tertidur, Sarah dan Liam duduk di balkon apartemen, menikmati udara malam yang sejuk. "Sarah," Liam membuka suara, suaranya pelan namun penuh makna. "Aku tau kamu masih menunggu Dylan. Aku nggak akan pernah paksa kamu untuk lupain dia. Tapi... izin kan aku ada di sisi kamu. Aku mau kamu tau, aku di sini bukan sekadar sebagai teman." Sarah terdiam, menatap langit malam dengan pandangan kosong. "Liam... aku nggak bisa." Liam menatapnya dalam. "Aku nggak minta jawaban sekarang. Aku cuma mau kamu tau aku selalu ada buat kamu." Hati Sarah semakin bimbang. Di satu sisi, ia masih berpegang pada keyakinannya bahwa Dylan akan kembali. Namun di sisi lain, kehadiran Liam yang begitu konsisten perlahan mulai menggoyahkan pertahanannya. Beberapa minggu berlalu. Kehidupan Sarah berjalan sep
Last Updated: 2025-04-13
Chapter: Bab 31
Sarah duduk di sudut kafe dekat jendela, menyesap teh hangatnya sambil sesekali melirik ke arah gerbang sekolah Noah. Hari ini, Noah ada kegiatan baby class, jadi ia harus menunggu diluar. Saat matanya menyapu sekitar, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Di seberang jalan, di antara kerumunan orang yang lalu-lalang, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dylan.Sarah nyaris menjatuhkan cangkirnya. Ia memicingkan mata, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Pria itu berjalan cepat, mengenakan jaket gelap dan celana kasual. Rambutnya lebih panjang dari yang ia ingat, dan wajahnya tampak lebih tirus. Tapi itu Dylan. Ia yakin. Tanpa berpikir panjang, Sarah bangkit dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang. “Dylan…?” suaranya hampir tak terdengar saat ia melangkah keluar kafe, mengikuti sosok itu yang mulai menjauh. Langkahnya cepat, hampir berlari, menyeberangi jalan tanpa memedulikan kendaraan yang melintas. Namun, saat ia sampai di t
Last Updated: 2025-04-12
Chapter: Bab 30
Enam bulan berlalu sejak kepergian Dylan. Waktu terus berjalan, meski bagi Sarah, rasanya masih seperti kemarin. Noah kini sudah mulai berjalan. Langkah-langkah kecilnya sering kali membuat Sarah terharu, terutama saat ia terjatuh lalu bangkit lagi dengan semangat. Setiap kali melihat Noah, hatinya terasa hangat sekaligus pedih. Wajah putranya adalah versi kecil dari Dylan—dengan mata yang tajam namun lembut, senyum yang khas, dan ekspresi yang begitu familiar. Seolah Dylan masih ada di sini, hidup dalam diri Noah. Suatu sore, Sarah duduk di lantai ruang tamu, memperhatikan Noah yang berusaha berjalan menuju dirinya. "Ayo, Sayang… sini ke Mama," panggilnya lembut. Noah tertawa kecil, melangkah perlahan dengan tangan terangkat, mencari keseimbangan. Saat berhasil mencapai Sarah, ia langsung meraih wajah ibunya dengan tangan mungilnya, tertawa senang. Sarah tersenyum, matanya terasa panas. Ia memeluk Noah erat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. "Kamu s
Last Updated: 2025-04-11
Chapter: Bab 29
Sebulan berlalu sejak kepulangan mereka dari luar negeri, tetapi tidak ada kabar baik yang datang. Dylan tetap dinyatakan hilang. Namun, di hati Sarah, keyakinannya belum pudar. Suatu pagi, saat Noah tertidur di kamar, Sarah duduk di ruang tamu bersama Kate. Udara terasa berat, sama seperti beban di hati mereka. Sarah menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Kate, kamu nggak usah terlalu khawatir soal aku dan Noah. Aku bisa jaga diri." Kate menoleh dengan ekspresi terkejut, lalu menggeleng tegas. "Aku nggak bisa, Sarah. Aku udah janji sama Dylan. Salah satu permintaannya sebelum pergi adalah memastikan kamu dan Noah baik-baik saja." Sarah menunduk, jari-jarinya saling meremas di pangkuan. "Aku tahu, tapi kamu juga punya kehidupan, Kate. Aku nggak mau kamu terus merasa bertanggung jawab untuk sesuatu yang seharusnya bukan beban kamu." Kate terdiam sejenak sebelum menatap Sarah penuh arti. "Ini bukan beban, Sarah. Kamu itu sahabat aku. Noah seperti ke
Last Updated: 2025-04-10
Menemukan Cinta Kembali

Menemukan Cinta Kembali

Birru dan Flora tumbuh bersama, saling menyayangi seperti kakak dan adik. Namun, takdir membawa mereka pada jalan yang tak pernah mereka bayangkan. Ketika ibu Birru, yang sedang sakit, memohon agar Birru menikahi Flora, ia merasa tertekan untuk memenuhi permintaan itu. Meskipun hatinya tak siap, Birru setuju demi kebahagiaan ibunya. Pernikahan yang dipaksakan itu membawa perubahan besar dalam hubungan mereka. Birru yang dulunya penuh perhatian kini bersikap dingin dan acuh terhadap Flora. Kata-kata yang melukai dan sikap yang berubah membuat Flora merasa tersisih dan terluka. Namun, di tengah luka dan ketegangan, mereka perlahan mulai menyadari bahwa sayang yang dulu pernah ada mungkin masih bisa ditemukan. Perjalanan ini tentang menemukan kembali ikatan yang hilang, mengatasi luka, dan menciptakan kembali perasaan yang murni di antara mereka. Bisakah mereka mengubah rasa sayang yang tersisa menjadi cinta sejati?
Read
Chapter: Bab 83
Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Bab 82
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 81
Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: Bab 80
Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 79
Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 78
Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.
Last Updated: 2026-02-16
You may also like
Kisah Pewaris Milyader
Kisah Pewaris Milyader
Romansa · Aku Ingin Makan Daging
1.2M views
Dikira Miskin Saat Pulang Kampung
Dikira Miskin Saat Pulang Kampung
Romansa · rafanalfa6819
1.2M views
Setelah Lima Tahun
Setelah Lima Tahun
Romansa · Lis Susanawati
1.1M views
Tuan CEO, Aku ingin Bercerai
Tuan CEO, Aku ingin Bercerai
Romansa · Bulu Tertiup Angin
1.1M views
Membalas Kesombongan Mantan
Membalas Kesombongan Mantan
Romansa · Pena_yuni
1.1M views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status