Chapter: Bab 87Flora melangkah masuk setelah mendapat izin dari Riki. Ruangan itu cukup luas dan tenang. Dinding kaca di sisi kanan membiarkan cahaya siang masuk, sementara meja kerja Riki berada di sudut ruangan dengan beberapa dokumen tertata rapi di atasnya. “Silakan duduk, Flo." Riki menunjuk sofa panjang di sisi ruangan. Flora mengangguk singkat. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan posisi tegak. Tangannya secara refleks bertumpu di atas perutnya yang kini mulai terlihat jelas. Riki masih berdiri di dekat meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia justru meninggalkan kursinya dan memilih duduk di single sofa yang letaknya tidak jauh dari Flora. Tatapannya sempat jatuh ke perut Flora. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat Flora menyadarinya. Hari itu Flora mengenakan dress kerja yang sederhana dan elegan. Potongannya menyesuaikan tubuhnya yang sedang hamil, membuat perubahan pada bentuk tubuhnya semakin terlihat. Riki mengalihkan pandangan. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Flo
Terakhir Diperbarui: 2026-09-18
Chapter: Bab 86Begitu sampai di ruangannya, Flora menutup pintu perlahan. Ia meletakkan laptop dan beberapa dokumen di atas meja, lalu duduk di kursinya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya karena rapat yang berlangsung hampir dua jam, tetapi juga karena semalaman ia nyaris tidak tidur. Pikirannya terlalu penuh. Tentang Birru. Tentang kondisi Lia. Tentang Riki dan tentang percakapan yang belum sempat ia selesaikan dengan suaminya. Flora mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menekan nama Birru dan melakukan panggilan video.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung. Wajah Birru muncul di layar. Flora langsung terdiam. Wajah suaminya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu, dan ada bayangan kelelahan yang jelas terlihat di bawah matanya. “Mas...” panggil Flora lirih. Birru tersenyum tipis. “Sudah sampai kantor?” Flora mengangguk. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Flora t
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: Bab 85Malam itu Flora hampir tidak tidur. Setelah pulang bersama kedua orang tuanya, tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Setiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Birru kembali muncul di benaknya. Tatapan datar suaminya ketika mendengar nama Riki. Percakapan yang terputus dan kalimat Birru sebelum ia kembali masuk ke ruang perawatan. Kita bahas nanti, ya. Entah mengapa, dua kata terakhir itu justru membuat Flora semakin gelisah. Pagi harinya, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar, Flora sudah terbangun. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Ponselnya yang berada di samping bantal bergetar. Satu pesan masuk dari Birru. Mas Birru: Mas sudah sarapan. Flora menatap pesan itu cukup lama. Hanya kalimat sederhana, namun entah mengapa, justru semakin membuat pikirannya ke mana-mana. Tidak ada panggilan sayang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Tidak ada pesan panjang yang biasan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 84Malam itu, ruang keluarga terasa begitu sunyi. Cahaya lembut dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan, membias di wajah Flora dan Birru yang duduk berdampingan di sofa.Flora bersandar nyaman di pangkuan Birru. Kepalanya terbaring di paha sang suami, sementara satu tangan Birru masih berada di perutnya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang nyaris tak disadari.Televisi menyala, tetapi perhatian Birru sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali Flora berada di dekatnya. Malam yang sederhana seperti ini seharusnya cukup untuk membuatnya merasa bahagia.Namun, ketenangan itu perlahan terusik.“Mas...” panggil Flora pelan.Birru menunduk, menatap istrinya. “Hm?”“Aku mau kasih tau sesuatu.”Nada suara Flora membuat Birru sedikit mengernyit. Ia masih menatap layar televisi, tetapi telinganya kini sepenuhnya tertuju kepada istrinya.“Iya. Apa?”Flora menghela napas panjang. “Sebenarnya nggak penting, sih...”Birru terkekeh ke
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 83Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Bab 82Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia
Terakhir Diperbarui: 2026-02-19
Chapter: Bab 34Malam itu, suasana di ruang makan terasa hangat, namun juga penuh haru. Sarah, Noah, dan adiknya duduk bersama Kate dan Liam di meja makan yang dihiasi dengan hidangan istimewa. Ini adalah makan malam perpisahan untuk Kate, yang bulan depan akan menikah dan meninggalkan rumah yang selama ini mereka tinggali bersama. Noah, yang kini sudah berusia lima tahun, menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu. Matanya berkaca-kaca, dan ia akhirnya berkata dengan suara lirih, "Auntie Kate nggak boleh pergi..." Kate tersenyum lembut, mengusap kepala Noah. "Sayang, Auntie Kate tetap ada buat kamu, kapan pun kamu butuh. Aku hanya tinggal di tempat yang berbeda, tapi kita tetap bisa bertemu, kan?" Sarah tersenyum tipis, berusaha menahan perasaan sedihnya. "Kate, selama ini kamu sudah banyak membantu aku dan anak-anak. Aku nggak tahu bagaimana harus berterima kasih." Kate menggeleng. "Kamu nggak perlu berterima kasih, Sarah. Kamu keluarga buatku. Aku senang bisa menemani kalian selama ini. Tap
Terakhir Diperbarui: 2026-02-10
Chapter: Bab 33Sarah melahirkan dengan perjuangan luar biasa. Setiap tarikan napasnya semakin berat, dan rasa sakit semakin intens. Namun, ia tak pernah melepaskan genggaman tangan Liam, yang terus memberikan kata-kata semangat. "Kamu kuat, Sarah. Bayimu butuh kamu," Liam berbisik, berusaha mengalihkan pikirannya dari kepedihan yang menyelimuti tubuh Sarah. Ia melihat wajahnya yang tertekuk, berjuang melawan rasa sakit, dan merasa tak bisa berbuat banyak selain berada di sisinya. Akhirnya, setelah beberapa saat yang penuh ketegangan, tangisan seorang bayi memenuhi ruang persalinan. Bayi itu, yang akhirnya keluar dengan selamat, menangis keras, membangkitkan perasaan lega yang luar biasa dalam diri Sarah. Matanya yang kelelahan menatap bayi kecilnya dengan cinta yang mendalam. "Selamat, Ibu Sarah," kata dokter dengan senyum penuh kebahagiaan. "Ini bayi perempuan, sehat, sempurna." Sarah mengangguk pelan, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Liam yang berdiri di sampingnya, meletakkan tangan
Terakhir Diperbarui: 2025-04-23
Chapter: Bab 32Sejak malam itu, Liam semakin sering berkunjung. Selalu dengan alasan yang masuk akal—membawa makanan, membantu Sarah dengan kehamilannya, atau sekadar menemani Noah bermain. Suatu malam, ketika Noah sudah tertidur, Sarah dan Liam duduk di balkon apartemen, menikmati udara malam yang sejuk. "Sarah," Liam membuka suara, suaranya pelan namun penuh makna. "Aku tau kamu masih menunggu Dylan. Aku nggak akan pernah paksa kamu untuk lupain dia. Tapi... izin kan aku ada di sisi kamu. Aku mau kamu tau, aku di sini bukan sekadar sebagai teman." Sarah terdiam, menatap langit malam dengan pandangan kosong. "Liam... aku nggak bisa." Liam menatapnya dalam. "Aku nggak minta jawaban sekarang. Aku cuma mau kamu tau aku selalu ada buat kamu." Hati Sarah semakin bimbang. Di satu sisi, ia masih berpegang pada keyakinannya bahwa Dylan akan kembali. Namun di sisi lain, kehadiran Liam yang begitu konsisten perlahan mulai menggoyahkan pertahanannya. Beberapa minggu berlalu. Kehidupan Sarah berjalan sep
Terakhir Diperbarui: 2025-04-13
Chapter: Bab 31Sarah duduk di sudut kafe dekat jendela, menyesap teh hangatnya sambil sesekali melirik ke arah gerbang sekolah Noah. Hari ini, Noah ada kegiatan baby class, jadi ia harus menunggu diluar. Saat matanya menyapu sekitar, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Di seberang jalan, di antara kerumunan orang yang lalu-lalang, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dylan.Sarah nyaris menjatuhkan cangkirnya. Ia memicingkan mata, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Pria itu berjalan cepat, mengenakan jaket gelap dan celana kasual. Rambutnya lebih panjang dari yang ia ingat, dan wajahnya tampak lebih tirus. Tapi itu Dylan. Ia yakin. Tanpa berpikir panjang, Sarah bangkit dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang. “Dylan…?” suaranya hampir tak terdengar saat ia melangkah keluar kafe, mengikuti sosok itu yang mulai menjauh. Langkahnya cepat, hampir berlari, menyeberangi jalan tanpa memedulikan kendaraan yang melintas. Namun, saat ia sampai di t
Terakhir Diperbarui: 2025-04-12
Chapter: Bab 30Enam bulan berlalu sejak kepergian Dylan. Waktu terus berjalan, meski bagi Sarah, rasanya masih seperti kemarin. Noah kini sudah mulai berjalan. Langkah-langkah kecilnya sering kali membuat Sarah terharu, terutama saat ia terjatuh lalu bangkit lagi dengan semangat. Setiap kali melihat Noah, hatinya terasa hangat sekaligus pedih. Wajah putranya adalah versi kecil dari Dylan—dengan mata yang tajam namun lembut, senyum yang khas, dan ekspresi yang begitu familiar. Seolah Dylan masih ada di sini, hidup dalam diri Noah. Suatu sore, Sarah duduk di lantai ruang tamu, memperhatikan Noah yang berusaha berjalan menuju dirinya. "Ayo, Sayang… sini ke Mama," panggilnya lembut. Noah tertawa kecil, melangkah perlahan dengan tangan terangkat, mencari keseimbangan. Saat berhasil mencapai Sarah, ia langsung meraih wajah ibunya dengan tangan mungilnya, tertawa senang. Sarah tersenyum, matanya terasa panas. Ia memeluk Noah erat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. "Kamu s
Terakhir Diperbarui: 2025-04-11
Chapter: Bab 29Sebulan berlalu sejak kepulangan mereka dari luar negeri, tetapi tidak ada kabar baik yang datang. Dylan tetap dinyatakan hilang. Namun, di hati Sarah, keyakinannya belum pudar. Suatu pagi, saat Noah tertidur di kamar, Sarah duduk di ruang tamu bersama Kate. Udara terasa berat, sama seperti beban di hati mereka. Sarah menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Kate, kamu nggak usah terlalu khawatir soal aku dan Noah. Aku bisa jaga diri." Kate menoleh dengan ekspresi terkejut, lalu menggeleng tegas. "Aku nggak bisa, Sarah. Aku udah janji sama Dylan. Salah satu permintaannya sebelum pergi adalah memastikan kamu dan Noah baik-baik saja." Sarah menunduk, jari-jarinya saling meremas di pangkuan. "Aku tahu, tapi kamu juga punya kehidupan, Kate. Aku nggak mau kamu terus merasa bertanggung jawab untuk sesuatu yang seharusnya bukan beban kamu." Kate terdiam sejenak sebelum menatap Sarah penuh arti. "Ini bukan beban, Sarah. Kamu itu sahabat aku. Noah seperti ke
Terakhir Diperbarui: 2025-04-10