Chapter: S2 Bab 83Aku sudah di depan rumahmu. Otak Tania seketika kosong. Ia mengangkat wajah, memandang Agus yang masih menatapnya penuh amarah. Sudah satu jam berlalu dan ia telah diceramahi habis-habisan oleh Anggi. Meski itu lebih baik daripada sang ayah yang hanya menatapnya tajam. Kebisuan Agus membuat Tania sesak. “Setelah pria itu datang, langsung selesaikan dengannya,” ucap Anggi untuk kesekian kali. Ibunya itu masih membujuk dengan lembut, meski Tania tahu jika Anggi sangat marah dan kecewa. Tidak seperti sang ayah, yang hanya terus berteriak padanya. Tania tahu jika dirinya salah. Tapi, memangnya manusia mana yang tak pernah berbuat kesalahan?“Dia sudah datang,” ucap Tania pada akhirnya. Ia tak bisa terus membiarkan Bryan menunggu. Sendirian di malam hari, di depan rumah orang lain, Bryan bisa saja dituduh sebagai pencuri. “Bagus. Cepat bawa dia ke hadapanku.” Agus menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sadar jika sang ayah sedang mencoba mengeluarkan aura superiornya, Tania tak m
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: S2 Bab 82Tania tidak bisa. Ia tak mau memanggil Bryan. Jika Bryan sampai datang, kedua orang tuanya pasti akan langsung memaki Bryan. Bahkan mungkin menyakitinya. “A-ayah,” panggil Tania dengan suara bergetar. Ia masih takut, tapi memilih untuk terus bicara. “Enggak perlu libatkan orang lain. Cukup hukum aku saja.”Bingkai foto yang ada di atas nakas tiba-tiba melayang di udara. Untuk sedetik kemudian beradu dengan lantai menjadi serpihan.Tania menjerit kaget. Pecahan kaca itu menggores pipinya. “JANGAN MEMBUATKU BICARA DUA KALI!” Teriakan Agus membuat Rafael menarik Tania mundur. Darah mengalir di pipi Tania, tapi Tania malah sama sekali tak peduli. Tania membiarkan Rafael mengusap wajahnya lembut, membersihkan luka yang menempel dengan sehelai tisu di tangan. “Kamu enggak apa-apa?”Tak ada respon untuk pertanyaan Rafael. Tania masih mematung, memandang Agus tanpa berkedip. “Lakukan, Tania. Sekarang!” Bentakan Agus membuat Tania meluruh ke lantai. Ia biarkan pecahan kaca itu menusuk
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: S2 Bab 81“A-ayah?” Suara gagap dan panik Tyo membuat seisi ruangan menoleh. Di lorong, ada Agus yang berdiri dengan Zayne dalam gendongannya. Seluruh tubuh Tania membeku. Ia langsung menunduk, takut. Kedua tangannya mengepal erat dengan buku-buku jari yang memutih dan kuku yang menancap tajam. “Sejak kapan Ayah di sini?” Pertanyaan Tyo membuat Tania gemetar hebat. Membayangkan jika Agus sudah mendengar semua percakapan mereka cukup untuk membuat Tania tercekat, kehabisan napas. Jantungnya bertalu keras. Getaran tubuhnya semakin hebat. Kedua kaki Tania mendadak lemas. Susah payah ia menahan agar dirinya tidak limbung ke sisi. “Jangan khawatir,” ucap Rafael seraya mengulurkan tangan. Suara Rafael yang tenang bagaikan angin sejuk untuk Tania. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Tania akui, ia memang wanita tak tahu malu. Ia akan membiarkan Rafael membelanya. Tania tak bisa berkutik di hadapan Agus. Ia tak berani mencoba. “Temani Zayne.” Agus menyerahkan Zayne pada Tyo. Sem
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: S2 Bab 80“Maaf,” cicit Tania. Kepalanya menunduk dalam. Ia terlalu malu untuk menatap Anggi. Tania mengira semua akan baik-baik saja asalkan ia bahagia, tapi kenapa sekarang ia merasa begitu sesak? “Kenapa minta maaf ke Ibu?” Anggi menyahut dingin. Rasa kecewa terdengar dalam suara Anggi yang bergetar. Andai Tania mendongak, ia bisa melihat wajah penuh kecewa Anggi. “Kamu tau kan, harus melakukan apa?” Lidah Tania kelu sekarang. Ia tahu maksud Anggi. Tania harus meminta maaf ke Rafael, tapi itu artinya hubungannya dengan Bryan juga harus berakhir. Tania tak ingin berpisah dari Bryan. Ia tidak mau kehilangan satu-satunya matahari, yang mampu membuat harinya hangat. Tania tak bisa. Ia tak ingin. Perlahan, kepala Tania bergerak. Ia memberanikan diri menatap Anggi. Kedua tangannya terkepal erat. Tania menarik napas perlahan. Ia … akan bicara. “Tania bisa minta maaf ke Rafael, tapi Tania mau tetap bersama Bryan, Bu–” “Tania!” Bentakan Anggi membuat Tania menutup mulut seketika. Di depanny
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: S2 Bab 79“Tania, Ibu mau bicara sama kamu.” Tubuh Tania menegang seketika. Ia baru datang, hendak menjemput Zayne bersama Rafael. Harusnya tinggal langsung berpamitan dan pulang, tapi kenapa Anggi mengajaknya bicara? “Bicara apa, Bu?” Tania sudah was-was. Seluruh kemungkinan berkelebat dalam otaknya. Wajah Anggi yang muram membuat Tania berpikir keras. Kira-kira kesalahan apa yang ia lakukan? Tak mungkin, kan?“Biar Zayne bermain dengan Rafael sebentar. Kamu ikut Ibu ke kamar.” Tania menautkan kedua tangan, lalu meremasnya lembut. Ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, berusaha keras agar tidak terlihat mencurigakan. “Kenapa enggak bicara langsung aja di sini?” Tania melirik ke arah Rafael, juga adik dan ayahnya yang masih ada di ruang tamu. Ketiganya sedang bermain bersama Zayne. “Enggak. Kamu aja. Ini masalah … perempuan.” Anggi mencoba memberi alasan.Jawaban Anggi terdengar sangat mencurigakan di telinga Tania, dan tentu ia ingin menolak. Namun, Anggi terus saja berbic
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: S2 Bab 78“Mommy? Kenapa marah?” Wajah Zayne bingung, membuat Tyo seketika tahu jika ia mungkin harus mengganti pertanyaannya. Mungkin tidak bisa langsung ke inti masalah. “Enggak, Mommy enggak marah,” ralat Tyo. Anggi menyela Tyo dengan memberikan satu cubitan di perut putra bungsunya. Tyo mengaduh panjang, tapi pelototan Anggi membuatnya ciut sendiri. “Tanya yang benar!” Anggi misuh-misuh. Tyo jelas kalah menghadapi sang ibu. Ia pasrah saja dimarahi, tak menyahuti omelan Anggi sama sekali. Ia malah sibuk memutar otak, menyusun pertanyaan. “Itu … Om mau tau, kalau kemarin-kemarin Zayne di rumah main apa?”Pertanyaan yang tidak berkaitan itu membuat Tyo mendapatkan tatapan tajam dari Anggi, tapi ia langsung menenangkan Anggi. Tyo punya rencana. “Main mobil-mobilan, kereta, terus baca buku,” sahut Zayne lancar. Tyo menganggukkan kepala puas. Zayne sudah masuk ke dalam alur yang ia buat. Sekarang, tinggal melanjutkannya. “Kayaknya seru, ya!” ujar Tyo dengan suara yang dibuat riang. “Zayn
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Salam Hangat Cerita Amira dan Raga selesai sampai di sini. Tak bisa dilanjutkan lagi karena nanti jadi 18+. Hehe 🤭 Yang mau aku melanjutkan Amira dan Raga season dua, berikan like dan komentarnya sebanyak-banyaknya, ya! Terima kasih untuk semua yang sudah membaca dan memberikan dukungan. Cinta banyak-banyak. 🥰 Salam hangat, -Dewiluna-
Last Updated: 2025-04-28
Chapter: Bab 263. Terima Kasih dan Selamat Tinggal
“Pergi, dulu.” Setelah meminta izin pada Gavin, Andini, dan Heri, Raga dan Amira diantar oleh Ken. Alex sedang cuti untuk sementara waktu. Di asrama, Dika dan Dina menyambut Amira. Memang sedang libur semester, jadi suasana sekolah sepi. “Kak Amira mau pindah ke mana?” Dika bertanya penasaran. Amira tidak bisa memikirkan jawaban, jadi Raga yang mewakili. “Apartemen,” jawab Raga singkat. “Di sini ternyata enggak aman.” Amira tidak membantah. Dia biarkan saja Raga semaunya merangkai kebohongan tentang status juga tempat tinggal mereka. Terdengar hela kecewa dari mulut Dika. Meski begitu, Dika tetap membantu Amira berkemas. Dina pun melakukan hal yang sama. Dia tidak masalah di mana pun Amira tinggal, selama hubungan mereka baik. “Hati-hati di jalan ya!” Dina dan Dika melambai bersamaan. Kedua bersaudara itu mengantar Amira sampai ke depan gerbang. Amira memang tidak membawa semua barangnya. Dia cuma mengambil baju dan barang-barang penting. Sisanya bisa diambil nanti. “D
Last Updated: 2025-04-26
Chapter: Bab 262. Awal Baru “Gue enggak ngerasa ini beneran,” ucap Amira. Setelah Amira dinyatakan benar-benar sembuh, Raga mengajaknya masuk ke dalam kediaman keluarga Wijaya. Raga tidak membiarkan Amira berhenti di depan pintu. Dia menarik Amira masuk ke dalam. Kali ini, tangan Amira tak terlepas dari genggaman. “Udah gue bilang, kan? Lo percaya aja sama gue,” sahut Raga sombong. Gavin dan Andini datang kemudian. Mereka menyambut Amira. “Kamu langsung bersiap saja.” Andini mendorong Amira masuk ke dalam salah satu ruangan. Di sana, sudah ada penata rias lengkap dengan para pelayan yang membantunya bersiap. Amira terus-menerus curiga, tapi tidak ada yang terjadi. Bahkan dia sudah mengecek masa depan dengan memegang semua orang, dan hasilnya sama. Tak akan terjadi apa pun. Semuanya berjalan lancar seperti seharusnya. “Sudah selesai.” Ucapan penata rias itu membuat Amira tertegun sesaat. Dia menghadap cermin lalu mendapati pantulan dirinya di sana. “Apa ada yang mau diperbaiki?” Penata rias itu
Last Updated: 2025-04-26
Chapter: Bab 261. Jawaban untuk Pemenang“Gimana keadaan Bapak?” Tanya Amira saat menjenguk Reynald. Amira langsung menyeret Raga ke ruang rawat Reynald setelah tahu gurunya sudah sadar. Reynald tersenyum. “Baik.”Febby yang kemudian mewakili Reynald bicara lebih banyak. “Keadaannya udah stabil, jadi lo enggak perlu khawatir lagi.”Dia menepuk lengan Amira lembut. “Jangan merasa bersalah lagi, ya,” sambungnya. Amira mengangguk pelan. Melihat Febby yang tak lagi menangis membuat Amira merasa lega. “Mending lo istirahat, sana.” Febby membalikkan badan Amira. Dia menunjuk pintu keluar. “Tidur di atas kasur.”Amira menggeleng–menolak, tapi Febby memaksa. “Harus!”Perintah itu akhirnya dituruti Amira. Dia dibimbing Raga kembali ke dalam ruang rawatnya. Di sana, Raga langsung menyuruh Amira berbaring. “Akhirnya!” Raga ikut naik ke atas ranjang, berbaring di samping Amira. “Gue bisa tidur juga.”“Raga! Turun, ih!” Pekik Amira.Amira berusaha mendorong Raga menjauh, tapi pacarnya itu tidak bergerak. “Raga, gue tendang ya!” An
Last Updated: 2025-04-25
Chapter: Bab 260. Harapan dan Doa“Pendarahannya parah,” gumam Febby, dengan suara putus asa. Amira menarik napas dalam, mencoba meredam rasa bersalah yang menyesakkan. Namun, dia tahu jika ini bukan waktunya untuk lemah, apalagi mengeluh.“Ayo kita berdoa, Kak. Gue yakin, Pak Reynald pasti bisa melalui ini semua.”Febby hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Dia tidak ingin berharap, tapi hanya harapan yang tersisa untuknya. Amira ikut berdoa dalam hati. Dia sungguh tidak bisa membayangkan jika Reynald benar-benar pergi. Amira tak mampu hidup dalam rasa bersalah.“Amira,” panggil Raga lembut. Raga duduk di samping Amira, menemaninya. “Sini, deketan sama gue,” ucap Raga seraya memberikan satu bahunya agar Amira bisa bersandar.“Gue enggak ngantuk,” jawab Amira, keras kepala.Amira mungkin mengatakan jika dia tidak lelah, tapi wajahnya sudah kusut dan kedua matanya hampir terpejam.Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya Amira be
Last Updated: 2025-04-24
Chapter: Bab 259. Bertahan Bersama“Bangkeee!” Evan menjulurkan tangan, ingin menempeleng Raga. Namun, luka di tangannya membuat dia mengurungkan niat. Michelle sampai membantu Evan duduk kembali dengan tenang di kursinya. “Elo serius enggak punya rencana apa-apa?!” Evan memekik tak percaya. Padahal lagak Raga tadi sudah seperti orang serius. “Ada,” jawab Raga singkat. “Ini Amira lagi ngeliat rencana gue.” Amira yang mewakili Evan menyikut Raga. Dia juga kesal pada sikap pacarnya yang seenak udel begini. “Ngomongnya mau bikin perusahaan saingan. Hampir aja gue percaya!” Evan misuh-misuh. Sementara Raga, masih santai di samping Amira. Dia cuma mengangkat bahu sambil menjawab tenang. “Ya bagus, kan! Artinya tampang gue meyakinkan.” Raga menggampangkan masalah yang dia buat. Evan sudah sibuk mengomel. Michelle pun sama. Keduanya menatap Raga tak percaya. Mereka tidak pintar, tapi juga tidak bodoh untuk menyadari jika Raga hanya melakukan tindakan impulsif tanpa persiapan.“Terserah lo aja, deh!” Evan jadi lelah s
Last Updated: 2025-04-23
Chapter: Bab 70“Fi! Ayo sarapan!” Suara ketukan di pintu yang membangunkan Fiore. Ethan memanggilnya seperti biasa. Dengan hubungan mereka yang canggung, Ethan tetap memberi perhatian yang banyak pada Fiore. Sementara Fiore, masih belum bosan terombang-ambing dalam rasa yang tak ingin ia ketahui. Mereka terus menjalani hubungan yang tidak jelas. Tinggal sebagai teman serumah dengan hanya satu orang yang perhatian, sementara yang satu lagi cuma sibuk pura-pura tak peduli. “Fi! Kamu sudah bangun?” Panggilan kedua Ethan membuat Fiore terpaksa menyahut. Jika ia tak membuka mulutnya, Ethan pasti akan masuk ke dalam kamar tanpa ragu. Dan ia sedang tak ingin berdebat. “Sebentar!” Fiore memilih untuk mencuci muka saja, karena ia tidak seperti Ethan yang sibuk bekerja di kantor. Fiore hanya seorang pengrajin yang menghabiskan waktunya seharian di rumah. “Kenapa lama?” Ethan menilik wajah Fiore saat ia membuka pintu kamarnya. Dengan tatapan lurus dari puncak kepala hingga mata kaki, Fiore merasa jeng
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bab 69“Fiore, terima kasih!” Ethan memeluk Fiore erat setelah mereka kembali dari kafe. Permintaan khusus dari Fiore pada Jay pasti akan segera diproses. Nantinya, mungkin proposal dari Ethan hanya sekadar formalitas. Sejak awal, kesepakatan sudah dicapai. “Aku cuma mau balas budi sama Om,” sahut Fiore dingin. Ia mengabaikan senyum lebar Ethan. Kedua kaki Fiore terus melangkah tanpa peduli. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya. “Jangan ganggu aku. Aku mau istirahat.”Dengan benteng tinggi yang Fiore buat, akhirnya Ethan mengurungkan niat. Ethan yang awalnya ingin menyusul Fiore, jadi urung. Pria itu diam di tempatnya tanpa kata. Fiore bersyukur saat Ethan tak lagi mengekor. Ia menutup pintu rapat, lalu berbaring di atas ranjang tanpa menunggu. Langit-langit kamar menyambut Fiore. Ia menggumam pelan, mengeluh pelan atas apa yang terjadi. “Apa harusnya aku keluar dari rumah ini?” Bimbang terus menghantui Fiore. Ia ingin keluar. Fiore ingin mencoba untuk hidup sendiri saja. Ia terus-me
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 68Sebuah helaan keras terdengar saat Fiore membuka matanya. Ranjang di sebelahnya kosong. Ethan mungkin sudah bangun sejak tadi. Fiore mencibir, memaki dalam hati. Ia terbangun dengan rasa malu yang menyelimuti atas apa yang terjadi semalam. Ethan, entah kenapa seperti orang kesetanan. Pria itu tak melepaskan Fiore sama sekali. Sepanjang malam, Ethan tidak berhenti. Fiore jadi heran sendiri. Jangan-jangan, sakitnya Ethan kemarin hanya main-main? “Duh, aku harus ketemu Kak Jay hari ini.” Fiore menepikan sesaat kecurigaannya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. Pangkal pahanya terasa perih, dan seluruh tubuhnya sakit. Ia ingin berendam lebih lama hari ini. Setelah air hangat siap, Fiore masuk ke dalam bathtub. Ia menikmati momen itu, tanpa sadar waktu sudah banyak berlalu. “Fi!” Ketukan di pintu kamar mandi mengejutkan Fiore. Ia merasa baru saja menikmati waktu berendamnya, tapi Ethan sudah menggedor pintu. “Kenapa kamu lama sekali di
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 67“Ck!” Fiore tak bisa mengelak lagi. Setelah ancaman Ethan yang akhirnya membuat pertahanan Fiore runtuh, ia tak bisa menjauh. Ethan menempel padanya bagai lintah, mengikuti ke mana pun Fiore pergi. “Om, apa Om sudah sembuh?” Tak sabar, Fiore mengecek dahi Ethan. Demamnya sudah turun sempurna. Fiore sudah curiga saat melihat nafsu makan Ethan yang meningkat. Ethan bahkan tidak terlihat memikirkan apapun. Apa pria yang divonis tertekan oleh dokter sudah sembuh begitu saja? Langkah Ethan langsung terhenti. Ia mengalihkan pandangan ke segala arah, berusaha menghindar dari tatapan tajam Fiore. “Aku … cuma senang,” jawab Ethan terbata-bata. Pelan, Ethan mengangkat wajah, berusaha balas menatap Fiore. Ia ingin menunjukkan kalau ia jujur. “Aku senang karena kamu memaafkan aku. Karena aku bisa di sampingmu lagi, aku jadi sangat bersemangat.”Tangan Fiore terulur, menutup mulut Ethan rapat. Fiore menggeleng pelan, meminta Ethan tidak melanjutkan. “Aku memang memaafkan,” ucap Fiore, mene
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Bab 66“Om udah baikan, kan? Aku tinggal, ya.” Hari sudah malam dan Fiore sudah menemani Ethan sejak tadi siang. Ethan sudah memakan dan meminum obatnya. Fiore juga sudah membantu Ethan berganti pakaian. Kamar sudah rapi, dan Ethan sudah berbaring nyaman di atas ranjang dengan selimut yang hangat. “Bagaimana kalau aku sakit lagi nanti malam? Aku enggak akan kuat memanggilmu,” ucap Ethan lirih. Saat itulah Fiore mendengus kesal. “Makanya aku bilang harusnya tadi Om di rumah sakit saja!” Fiore sebenarnya tahu jika Ethan hanya sedang mengambil kesempatan. Meski begitu ia tak tega juga meninggalkan Ethan. Apalagi setelah dokter mengatakan jika Ethan kemungkinan mengalami stres ringan sampai insomnia dan sakit. “Ck!” Setelah berdecak kesal, Fiore menyiapkan tempat untuk dirinya sendiri. Ia mengambil selimut dan mengambil tempat di sofa. Namun, Ethan mengeluh lagi. “Terlalu jauh, Fiore. Bukannya kamu harus mengganti kompresku?” Setelah mengatur emosinya, FIore melangkah mendekat. Dengan sel
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Bab 65“Astaga!” Fiore memekik melihat tubuh Ethan yang terbaring di lantai. Wajah Ethan seputih kertas. Tubuh besarnya terkulai tak berdaya di atas lantai yang dingin. Kamar itu berantakan. Entah sejak kapan Ethan terbaring di sana. “Om kenapa?” Kantong di tangan Fiore terlepas begitu saja. Ia lupa dengan janjinya, dengan Jay, atau bahkan dengan taksi yang menunggunya di luar. Fiore mendekat pada Ethan, meraih tangannya, lalu membawa Ethan ke dalam pelukan. “Om sakit? Badan Om panas sekali!” Tangan Fiore terasa terbakar saat memegang dahi Ethan. Ia panik dan menepuk wajah Ethan berkali-kali. Ethan mengerang sebelum membuka kedua matanya. “Fi?” Suara serak Ethan dengan kedua mata yang memerah sempurna menyambut telinga Fiore. Ia semakin cemas sekarang. “Kamu … mau pergi ke mana?” Fiore melotot mendengar pertanyaan Ethan. Pria itu seperti seseorang yang sedang sekarat, tapi Ethan malah sempat-sempatnya menanyakan Fiore mau pergi ke mana. “Jangan banyak bicara, Om. Aku bawa Om ke ruma
Last Updated: 2026-04-02