Chapter: 78. Kehamilan Yang MencekamSuara gemericik air dari kamar mandi lantai satu mendadak terhenti, digantikan suara dentang gelas jatuh yang menggema keras. Emir, yang saat itu sedang mencoba mendudukkan Alesha di atas karpet mainnya, langsung menegakkan tubuh. Instingnya mengirim sinyal bahaya."Raana?" panggil Emir dari ruang tengah, menahan Alesha yang mencoba merangkak mengikutinya. "Raana, kamu baik-baik saja?"Tidak ada jawaban. Hanya ada suara napas memburu dan terengah-engah dari balik pintu yang terkunci rapat."Raana!" Emir panik. Ia menggendong Alesha secepat kilat, meletakkannya di playpen, lalu berlari menuju kamar mandi. Ia menggedor pintu itu dengan telapak tangansnya."Buka pintunya, Raana!"Pintu perlahan terbuka. Raana berdiri bersandar pada bingkai pintu dengan wajah sepucat kertas. Tangannya yang bergetar hebat memegangi bagian bawah gaun rumahnya. Di lantai keramik putih kamar mandi, genangan air bercampur darah segar mengalir perlahan menuju saluran pembuangan."Mas..." suara Raana nyaris tak
Terakhir Diperbarui: 2026-08-25
Chapter: 77. Golongan Darah yang Tak CocokRuangan pemeriksaan itu mendadak terasa begitu sempit. Batari berdiri di samping ranjang kecil tempat Dika terbaring. Wajah bocah berusia satu setengah tahun itu pucat. Tangannya yang mungil terpasang infus, sementara matanya terpejam lemah.Dokter baru saja melihat hasil pemeriksaan terakhir.“Pak Ghani, Bu Batari…” Dokter menarik napas pelan. “Saya harus menyampaikan sesuatu yang tidak mudah.”Batari langsung menggenggam tangan Dika. “Anak saya kenapa, Dok?”Dokter menatap mereka bergantian. “Dari hasil pemeriksaan darah dan pemeriksaan lanjutan, Dika terindikasi kuat mengalami leukemia.”Batari membeku.“Leukemia?”Ghani yang sejak tadi berdiri di belakang kursi langsung maju.“Dok, maksudnya kanker darah?”Dokter mengangguk perlahan, “Kami masih akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan jenis dan tingkat keparahannya. Tapi saat ini kadar hemoglobin Dika sangat rendah. Dia membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin.”Batari menatap wajah anaknya.“Kalau begitu ambil da
Terakhir Diperbarui: 2026-08-23
Chapter: 76. Keresahan GhaniEmir menatap wajah Raana yang tampak lesu di kursi pesawat pribadi mereka. Perutnya yang masih rata, tapi makan Raana banyak di kehamilan kedua ini. Ada rayt sedih dalam pancaran matanya, seolah menyimpan kerinduan yang dalam pada tempat yang kini harus mereka tinggalkan."Kenapa manyun, Sayang?" tanya Emir lembut sambil mengusap punggung tangan Raana.Raana menghembuskan napas panjang, bibirnya tersungging sedikit kecewa. "Aku ingin melahirkan di Swiss, Mas. Rasanya seperti memberikan hadiah terbaik untuk anak kita, lahir di negeri impian," ucapnya pelan, suara bergetar antara harap dan ragu.Emir tertawa kecil, mencoba menghapus kekhawatiran yang menggelayuti hati Raana. "Untung kita naik pesawat pribadi, jadi kamu bisa istirahat dengan tenang. Nanti kalau sudah waktunya, kita pasti kembali ke sini."Pelukan Emir semakin erat, menyalurkan kehangatan yang membuat Raana merasa sedikit lega. Di pangkuan mereka, Alesha kecil yang baru delapan bulan, tertidur pulas, tanpa tahu gelisah or
Terakhir Diperbarui: 2026-08-22
Chapter: 76. Makan Malam KeluargaMalam itu, restoran mewah di jantung Swiss dipenuhi cahaya lampu keemasan yang memantul di dinding kaca dan deretan kristal di langit-langit. Dari balik jendela besar, salju tipis turun perlahan, membuat suasana malam terasa semakin romantis.Emir duduk bersama Raana dan Mama Sofia di sebuah meja bundar yang terletak di sudut restoran.Alesha sudah tidur di kamar hotel bersama babysitter. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Swiss, mereka bisa menikmati makan malam dengan tenang.Atau setidaknya, begitulah yang Emir harapkan.Mama Sofia duduk tegak dengan punggung bersandar anggun. Gaun hitam elegan membungkus tubuhnya, sementara rambutnya tertata sempurna. Bahkan ketika hanya sedang menikmati makan malam keluarga, wanita itu tetap terlihat seperti seseorang yang sedang menghadiri jamuan kerajaan.Raut wajahnya tenang.Dingin.Dan sedikit angkuh.“Raa, makanlah,” ujar Mama Sofia sambil melirik piring menantunya.“Aku sudah makan, Ma.”“Sedikit sekali.”“Aku masih mual.”Mama Sofia mend
Terakhir Diperbarui: 2026-08-17
Chapter: 75. Kabar Bahagia Dari SwissHari ke-empat di Swiss seharusnya menjadi hari yang paling menyenangkan bagi Raana. Pagi itu, mereka sudah berencana mengunjungi sebuah desa kecil dengan pemandangan pegunungan Alpen. Setelah hari sebelumnya menikmati danau, berjalan-jalan di pusat kota, dan menghabiskan waktu bersama Alesha, bayi perempuan mereka yang baru berusia delapan bulan, Raana bahkan sudah menyiapkan pakaian hangat sejak malam.Namun, baru saja membuka mata, Raana langsung memejamkannya kembali. Kepalanya terasa berputar, dilanda nyeri hebat.“Ugh…”Emir yang masih berbaring di sampingnya langsung terbangun. “Sayang..” sapa Emir hangat, setelah menghabiskan malam panas beronde-ronde, sampai mau pingsan istrinya.“Mas..”“Morning cantiknya Mas Emir,” goda Emir menguselkan wajah ke lengan polos istrinya.Raana memegang pelipisnya. “Aku pusing.”Emir segera bangkit. “Pusing?”“Berat sekali.”Emir menyentuh kening istrinya, kemudian pipinya. “Kamu demam?”“Tidak.” Raana menggeleng pelan. “Tapi rasanya seperti kam
Terakhir Diperbarui: 2026-08-17
Chapter: 74. Liburan Spesial - Ghani GalauAwalnya Ghani menyangkal. Ia hanya “ingin tahu kabar.” Itu kalimat yang ia ulang berkali-kali pada dirinya sendiri. Tapi “kabar” berubah menjadi kebiasaan.Ia mulai mencari melalui media sosial, di mana tempat Raana tinggal, rutinitas hariannya, bahkan toko kecil yang sering ia kunjungi.Dan semakin ia tahu…semakin ia merasa asing.Raana yang sekarang bukan lagi perempuan yang dulu ia anggap “biasa saja”.Ia melihat Raana tertawa dengan anak kecil di foto media sosial Raana. Melihat mantan istrinya yang bertambah cantik, tengah berdiri tenang di samping Emir.Tidak bergantung.Tidak tertunduk.Berdiri sejajar.Dan itu… mengganggu sesuatu di dalam diri Ghani.“Ngapain Mas, sibuk banget.”Mendengar suara Batari, Ghani secepat kilat mengganti layar ponselnya.“Ada kerjaan,” jawabnya singkat.Batari duduk di samping suaminya, melirik sejenak. Benar, suaminya sedang membuka layar yang menampilkan pekerjaannya.“Mas..” Batari memanggil suaminya.“Hummm..”“Aku minta transfer dong Mas,” pin
Terakhir Diperbarui: 2026-08-10
Chapter: Bab 154 Berdama Dengan Masa Lalu (END)Belinda berdiri di depan pintu kamar rumah sakit dengan tangan gemetar, napasnya terengah saat menekan bel. Matanya sembab, menahan air mata yang ingin tumpah. Begitu pintu terbuka, dia melihat sosok Iren yang duduk lemah di kursi roda, wajahnya pucat dan matanya memancarkan amarah sekaligus duka.Iren sudah dibawa pulang Galen ke apartemen. Meski tidak suka, tapi Galen memaksa. Iren sedang hamil anaknya, akan sangat tidak bertanggung jawab Galen jika membiarkan Iren di kota lain.Belinda mengumpulkan keberanian, suaranya bergetar, “Kak Iren,” Panggil Belinda.Galen menghela napasnya, dia sudah melarang Belinda datang. Namun adiknya ini memaksa, kini Belinda berdiri di ambang pintu ditemani Gala, kembarannya."Maafin aku, Kak. Sungguh aku nggak sengaja... karena ulah aku, Kakak kehilangan ayah Kakak."Iren menatap tajam, dadanya naik turun seiring napas beratnya. "Nggak sengaja? Kamu yang nyetir, Bel. Bukan Galen. Kenapa dia harus ngaku segala hal yang kamu lakukan? Aku merasa dikhiana
Terakhir Diperbarui: 2025-06-28
Chapter: Bab 153 Bertemu Istri KembaliGalen berdiri terpaku di depan ranjang rumah sakit, matanya membelalak melihat Iren yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan mata sembab. Istrinya sudah dapat ia temukan, betapa senang hati Galen melihat Iren.Dengan jantung berdetak kencang Galen masuk semakin dalam, Iren sedang memejamkan matanya. Vera yang melihat pria asing yang ia Yakini itu suami Iren lalu mempersilakan masuk.“Aku tunggu diluar,” kata Vera pelan. Galen mengangguk, seraya mengucapkan terima kasihnya.Diluar sendiri Vera bertemu dengan Naka dan Lika, orang tua Galen.Di dalam, Galen mendekat ke ranjang sang istri. "Sayang," suaranya bergetar, penuh campur aduk antara cemas dan penyesalan.Iren yang sudah bangun merasa mendengar suara suaminya. Dia pun menoleh, matanya yang basah menatap tajam, terkejut sekaligus bingung saat melihat suaminya di sana."Ngapain kamu kesini?" suara Iren lirih, namun penuh penolakan yang keras. Tubuhnya mencoba menarik diri, tapi Galen melangkah lebih dekat, menundukkan kepala seo
Terakhir Diperbarui: 2025-06-19
Chapter: Bab 152 Akhirnya Ada Kabar Darimu..Iren duduk di sudut kamar yang remang, tubuhnya menggigil meski udara tak terlalu dingin. Perutnya mulai terasa bergejolak, namun wajahnya pucat pasi, dahi berkerut karena mual yang tak kunjung reda.Setiap kali berdiri, kepala berputar begitu hebat hingga ia harus cepat-cepat duduk lagi. Nafasnya tersengal-sengal, dan tangan yang gemetar tak mampu meraih segelas air di meja. Vera menatapnya dengan penuh kekhawatiran.“Ke dokter ya, Iren. Jangan dibiarkan terus-terusan seperti ini,” ucap Vera lembut, namun tegas.Iren menggeleng pelan, mata berkaca-kaca. “Nggak usah, Ver.”“Kamu kan lagi hamil,” ujar Vera khawatir.“Iya katanya orang hamil memang begini. Mual dan pusing.”“Tapi mereka konsul ke dokter kandungan. Kamu kan nggak Ren.” Vera makin khawatir karena wajah Iren yang pucat.“Ren, aku khawatir banget nih,” kata Vera yang tidak bisa menutupi kekhawatirannya. “Kita telepon suami kamu ya, Ren-““Ver, please,” desis Iren memohon untuk jangan membahasnya lagi.Vera berdecak, dia jug
Terakhir Diperbarui: 2025-06-08
Chapter: Bab 151 Masih Berusaha MencariIren mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut, perutnya mulai terasa tidak enak. Belum lagi mual dan ia coba tahan karena sedang bekerja. Sumpah demi apapun yang Iren ingin lakukan adalah merebahkan diri, bersantai saja dirumah.Kehamilannya membuat langkah Iren semakin berat di antara meja-meja yang penuh pelanggan. Aroma bumbu dan asap gorengan menusuk hidungnya, membuat rasa mual semakin menghantui. Vera yang melihat wajah Iren yang pucat langsung merangkul bahunya, "Istirahat sana, aku yang gantikan kamu dulu." Suara Vera penuh perhatian, tapi Iren hanya bisa mengangguk lemah sambil melangkah ke sudut restoran. Karena tidak tahan ia menurut saja, lagipula Iren takut mengacaukan pekerjaan yang lain.Namun, di sana Iren tak menemukan ketenangan. Ayu, rekan kerja yang lebih senior berdiri tak jauh, melontarkan suara pedas tanpa ampun, "Enak banget, anak baru kerja kok istirahat terus! Makan gaji buta, ya?" Tatapannya tajam, seolah ingin menekan Iren lebih dalam.Iren menunduk, mencob
Terakhir Diperbarui: 2025-06-08
Chapter: Bab 150 Kamu Di mana Sayang?Galen berjalan gontai menuju apartemennya, dia membawa banyak cemilan, termasuk cokelat, es krim, bahkan sampai bunga. Galen berharap Iren bisa memaafkannya. Mungkin tak akan mudah, tetapi setidaknya ini bisa mengurangi kemarahan Iren padanya.Saat pintu apartemen dibuka, semua tampak normal saja. Apartemennya memang selalu rapi, walaupun sibuk dengan urusan kampus, tetapi Iren cukup pandai membersihkan rumah. "Baby!" panggil Galen."Iren Sayang!" panggil Galen lagi saat tak mendapatkan jawaban dari istrinya.Perasaan Galen mulai merasa aneh, saat apartemennya ternyata hening tanpa aktivitas Iren seperti biasanya. Setidaknya selalu terdengar musik atau suara film yang diputar Iren, tetapi kali ini apartemen itu benar-benar sepi.Galen langsung berlari ke kamar dan benar saja Iren tidak ada di sana. Galen mencari Iren ke balkon, ke taman belakang, dan ke semua penjuru apartemen, tetapi sialnya dia tak menemukan istrinya di sana."Astaga, Iren kamu di mana?" tanya Galen dengan panik.Ga
Terakhir Diperbarui: 2025-06-04
Chapter: Bab 149 Mengakui SemuanyaRasanya begitu sesak saat mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat, Lika melirik Naka, menunjukkan bagaimana kekecewaannya pada kedua anak mereka yang ternyata selama ini membohonginya.Lika mengusap wajahnya, dia berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang kacau. "Maksud kamu apa Galen, Belinda, kalian sengaja membohongi Mami sama Papi?" ujar Lika."Bukan gitu Mami, a-aku hanya ingin melindungi Belinda. Aku tahu dia salah, tapi—""Tapi apa? Kamu pikir dengan menjadikan kamu sebagai pelaku semua masalah menjadi selesai? Kamu bahkan harus menikahi Iren yang bahkan seharusnya bukan tanggungjawab kamu!" tegas Lika yang mulai marah dengan kenyataan ini.Galen tengah bicara dengan Belinda dan tidak sengaja Lika mendengar itu. Naka juga kebetulan berjalan di belakang istrinya, membuatnya juga tahu kebenaran yang sebenarnya.Mau tak mau Galen pun membuka semuanya, bukan untuk meminta pembelaan tapi dukungan dari keluarganya.Naka hanya menutup mata saat Lika marah besar pada a
Terakhir Diperbarui: 2025-06-04
Chapter: 10. Aku Menjual Batasanku - Sebuah Kesepakatan dengan KamaSetengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik
Terakhir Diperbarui: 2026-08-22
Chapter: 9. Bersedia DibookingMikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Terakhir Diperbarui: 2026-06-30
Chapter: 8, Executive PackageKeheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Terakhir Diperbarui: 2026-06-20
Chapter: 7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar DaddyBottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb
Terakhir Diperbarui: 2026-06-20
Chapter: 6. Gadis Bayaran Om KamaKama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe
Terakhir Diperbarui: 2026-06-02
Chapter: 5. Temani Saya Selama di Bali!Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12