LOGINAnara gadis miskin yang terjerat hutang, terpaksa harus menjual ginjal untuk melunasinya. Namun nasib sial datang bertubi-tubi, hingga tidak hanya ginjal yang dia jual, pada akhirnya Anara juga menjual diri pada lelaki asing yang sanggup membayar keperawanannya dengan harga mahal. Satu ginjal Anara berpindah untuk seorang anak kecil. Anara mendonorkannya demi uang. Tapi siapa sangka jika anak itu justru melihatnya sebagai ketulusan. Anak duda kaya raya langsung jatuh hati pada Anara, merengek memintanya menjadi ibu sambung dan menikah dengan ayahnya. * "Kak Nara, suka uang kan? Mau aku kasih uang satu truk milik Ayah? Syaratnya satu ... jadi mamaku, ya?" ~Zavi~ "Di dunia yang kejam ini, hanya orang kaya dan orang licik yang bisa bertahan. Jadi, makhluk miskin sepertiku tidak punya pilihan kecuali mau berubah menjadi licik, atau ... minimal menikah dengan duda kaya lalu jadi Cinderella!" ~Anara~
View MoreRey berdeham, sedangkan Kev lebih terang-terangan. "Erik, kalau kamu memutuskan untuk mengejar Anara sepertinya harus menjauhi Pak Henry dan keluarganya.""Memang kenapa?" Erik kebingungan karena saat acara pelelangan itu dia sendiri yang tidak ikut. Rey mengendikkan bahunya saat Erik menoleh ke arahnya. Dia yang paling diam dan enggan menjelaskan apa pun, meski Rey tahu lebih banyak dari siapa pun. "Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka. Tapi sepertinya hubungan Anara dengan keluarga Pak Henry tidak cukup baik," jelas Kev. Mereka masih berdiri bersama saat Anara berjalan ke arah Zavi lalu melihat Mia yang datang dengan keluarganya termasuk Henry. "Kamu?" Henry melihat Anara saat jalan melewatinya, mungkin tatapannya pada Anara terkesan heran. Bagaimana Anara bisa datang ke acara kamu elite seperti ini?"Apa kamu datang dengan lelaki yang waktu itu?" Maksud Henry jelas Kev, lelaki yang mendampingi Anara saat di pelelangan. Anara tersenyum miring. "Dengan siapa aku data
Rey menegur, wajahnya yang kaku dan dingin membuat tiga wanita itu berhenti. "Rey?" Dea langsung mengadu. "Ibunya Adel dan adiknya itu main kasar, mereka tidak hanya memaki tapi juga menamparku!" "Kamu lebih dulu menyulut emosi kami. Kamu sengaja memprovokasi!" tuduh Erina dengan ekspresi kesal. Rey berdeham. "Sudahlah, kalian kalau mau ribut bisa lanjutkan nati kalau acaranya sudah selesai. Jangan membuat acara yang sudah Pak Rafi buat jadi berantakan," katanya tenang. Rey lalu menatap Dea untuk segera beranjak dan mengikutinya. "Ish!" Dea melirik kesal pada Erina sambil berlalu pergi membuntut Rey. Sementara Erina dan Sisi berlalu ke toilet untuk merapikan lagi penampilan mereka. ***"Mereka sangat menyebalkan, Rey! Kalau bukan aku, siapa yang tahan berada di sisimu?! Mantan mertua dan adik iparmu selalu saja ikut campur!" Rey terkekeh pelan. "Kamu yang paling berani. Tapi pipimu tidak apa-apa kan?"Rey menyingkirkan rambut poni Dea, melihat sekilas pipi yang sebelumnya dita
Anara berdeham. Dia hanya sedang mencoba gaun itu, bukan berarti berniat memakainya. "Aku akan cari gaun yang lain, tenang saja. Masih ada waktu, aku--""Tidak perlu. Kemarin Zavi sudah memilihkannya untukmu. Kamu bisa ambil di kamarku," kata Rey yang kemudian kembali menjauh dan melangkah mundur.Lelaki itu lebih dulu keluar saat Anara masih mematung. Zavi sudah memilihkan gaun untuknya? Rasa penasaran Anara melonjak, buru-buru dia letakan gaun dari Erik itu dan bergegas ke kamar Rey. ***Anara mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Dia pikir Rey tidak ada di dalam, Anara berniat tetap masuk karena sebelumnya Rey bilang Anara bisa mengambil gaun itu di kamarnya. "Kenapa, Dea? Ya, nanti malam aku akan menjemputmu." Suara Rey terdengar ketika Anara sudah membuka pintunya. Ternyata lelaki itu sedang berdiri di dekat jendela dan bertelepon. "Tidak masalah. Tenang saja," kata Rey masih memegang ponsel di dekat telinganya. Dia berbalik dan mendapati Anara mematung di
Zavi tersenyum, dia mendorong kotak itu masuk dengan dibantu Anara. Sementara Rey tidak ikut ke rumah. Dia langsung kembali ke kantor setelah mengantar Zavi. "Ini kado untuk Mama dan adek bayi!" kata Zavi yang membuat Anara tertegun. "Adek bayi?" Zavi mengangguk ceria. "Ya, kata Ayah, Mama sedang hamil. Iya kan?""Ayahmu yang kasih tahu kalau Mama hamil?" Zavi mengangguk lagi, dia lihat ekspresi Anara yang tampak tidak menyangka dan haru. Jelas saja Anara kehabisan kata-kata, dia senang juga masih bingung dengan keadaan. Rey memberi tahu Zavi kalau dia hamil? Itu berarti Rey memang benar-benar tidak keberatan. "Mama, kenapa menangis? Ayo buka!" Zavi melihat air mata mamanya yang menetes. Anara mengusap pipinya lalu tersenyum. "Perasaan ibu hamil memang sangat sensitif, Mama sangat terharu. Kamu dan Ayah baik sekali. Makasih ya?" Anara meraih tubuh kecil Zavi lalu memeluknya erat. "Mama tenang saja, Nanti Zavi akan selalu jagain Mama sama Adek! Zavi bakal jadi kakak yang kuat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews