Share

Bab 4

Author: Vira
Dalam perjalanan pulang, Elpira tetap duduk di kursi penumpang depan. Reno mengantarnya pulang lebih dulu.

Sementara itu, aku duduk di kursi belakang. Aku sedang menghubungi pemilik rumah di Negara Paresa untuk membicarakan tempat tinggal yang akan kusewa.

"Duduklah di depan."

Tiba-tiba Reno angkat bicara. Tanpa mengangkat kepala, aku menolak, "Nggak usah."

Pria itu terdiam beberapa saat.

"Terserah."

Aku tidak memedulikannya. Perhatianku tertuju pada foto-foto rumah yang terang dan dipenuhi cahaya matahari. Aku sangat menyukainya sehingga langsung membayar DP.

Sesampainya di rumah.

Reno mengeluarkan sebuah album dari tas kerjanya, lalu menghampiriku.

"Mau lihat?"

Aku menerimanya dengan bingung. Barulah kusadari itu adalah katalog gaun pengantin.

"Cepat pilih satu. Lagian tinggal satu bulan lagi sebelum pernikahan kita. Dengan begitu, pihak pembuat juga bisa mulai mempersiapkannya lebih awal."

Reno menunjuk sebuah gaun pengantin yang dihiasi bunga pir tiga dimensi di seluruh permukaannya.

"Menurutku, yang ini bagus."

Sorot mataku dipenuhi ejekan.

Bunga pir, Elpira.

Ternyata dalam segala hal, dia selalu memikirkan wanita itu.

Kalau dulu, aku pasti sudah marah besar.

Namun sekarang ....

Aku hanya mengangguk dengan tenang.

"Oke, nggak masalah. Kalau begitu, yang ini saja."

Lagi pula, dua hari lagi aku akan pergi.

Lantas, apa hubungannya pesta pernikahan sebulan lagi denganku?

Reno terlihat sangat puas dengan sikapku yang menurutnya penurut. Seolah-olah sedang memberi hadiah, dia mengecup keningku dengan lembut.

"Bagus."

"Begini lebih baik. Aku nggak suka kamu yang terus memasang ekspresi murung seperti pagi tadi. Jangan lakukan itu lagi ke depannya, mengerti?"

Usai mengatakannya, Reno langsung masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawabanku.

Aku mengambil tisu basah beralkohol, lalu terus mengusap keningku dan baru berhenti setelah kulitku memerah.

Tepat pukul 9 malam.

Seperti biasanya, Reno mematikan lampu dan naik ke ranjang. Ponselnya tetap diletakkan dalam posisi tertelungkup. Earphone bluetooth masih terpasang di telinga kanannya.

Sepertinya Reno sama sekali tidak menyadari bahwa meja rias dan kamar mandi sudah kosong.

Dia juga tidak melihat koper yang sudah terletak di samping nakasku.

Benar juga.

Selain Elpira, rasanya Reno memang tidak pernah benar-benar peduli kepada siapa pun.

Di tengah malam.

Tiba-tiba aku terbangun karena suara jeritan yang sangat nyaring.

Di sampingku, Reno juga langsung membuka mata dan terduduk. Dia begitu panik hingga langsung berteriak ke arah earphone miliknya. Bahkan, suaranya terdengar bergetar.

"Elpira? Ada apa?"

Di tengah malam yang sunyi, aku mendengar suara tangisan Elpira dari seberang sambungan telepon.

Pria yang biasanya selalu tenang dan tidak pernah memperlihatkan emosinya itu langsung kehilangan kendali. Dia melompat turun dari ranjang, lalu berlari keluar rumah secepat mungkin.

Aturan pukul 9 malam?

Jam istirahat?

Semua prinsip itu ternyata bisa Reno buang kapan saja demi Elpira.

Aku tidak mungkin mengejarnya, tapi aku juga sudah tidak bisa tidur lagi.

Berhubung bosan, aku membuka ponsel dan mulai menggulir media sosial.

Di forum kampus Universitas Husero ternyata sudah gempar.

[Ada orang mesum menyusup ke asrama dosen! Katanya, Bu Elpira dari fakultas sastra yang jadi korban!]

[Semuanya aman kok! Aku sedang di lokasi! Waktu orang mesum itu memanjat jendela kamar Bu Elpira dan hampir berhasil mendobrak masuk, Pak Reno langsung muncul!]

[Wajah Pak Reno benar-benar mengerikan. Seperti binatang buas yang mengamuk, dia menghajar orang mesum itu habis-habisan sendirian!]

[Polisi juga sudah datang.]

Aku membacanya dengan tenang. Setiap unggahan disertai foto-foto. Di dalam kamar yang gelap dan dingin, semuanya terasa menusuk mataku.

Tak lama kemudian, seseorang mengunggah rekaman video.

Aku membukanya.

Memang persis seperti yang ditulis. Di dalam video itu, pria yang selama ini selalu menjadikan aturan sebagai prinsip hidupnya terlihat seperti orang yang kehilangan akal.

Tinju demi tinju dilancarkan Reno ke arah pria bertopeng itu tanpa henti.

Baru setelah polisi datang ....

Reno menghentikan pukulannya.

Segera setelah itu, Reno berbalik dan langsung memeluk Elpira erat-erat.

Kepala Elpira ditekan ke dadanya agar wanita itu tidak melihat pemandangan berdarah di depannya.

"Jangan takut. Aku di sini."

Video itu langsung menjadi perbincangan terhangat. Semua orang mengatakan bahwa pria yang sayang istri adalah yang paling memikat.

Aku menatap layar itu cukup lama.

Kemudian, aku menekan tombol suka pada komentar terpopuler yang mendoakan mereka tetap bersama hingga tua.

Setelah itu, aku keluar dari forum dengan tenang.

Malam itu, Reno tidak pulang semalaman. Aku pun sama sekali tidak merasa terkejut.

Aku tidur tanpa mimpi hingga pukul 6 pagi.

Aku mengambil koper yang sejak semalam sudah selesai kukemas, membawa semua dokumen pentingku, lalu untuk terakhir kalinya menatap katalog-katalog gaun pengantin yang tergeletak di atas meja.

Kutaruh kunci rumah di rak dekat pintu masuk.

Kemudian, aku melangkah pergi tanpa pernah menoleh lagi.

Sesampainya di bandara, aku mengunggah kabar pembatalan pertunanganku ke media sosial. Setelah itu, aku naik ke pesawat.

Saat pesawat mulai mengudara ....

Hubungan antara aku dan Reno berakhir untuk selamanya. Kami tidak akan lagi memiliki hubungan apa pun.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 8

    Ketika aku tiba di rumah sakit, Reno masih terbaring di ranjang dengan sepasang mata terpejam.Wajahnya sangat pucat.Selama lima tahun bersama, aku belum pernah melihat Reno dalam keadaan seperti ini.Namun, aku hanya meliriknya sekilas. Yang penting dia jangan mati saja. Kalau tidak, itu akan membawa sial bagiku.Saat aku hendak pergi ....Pria di belakangku perlahan membuka matanya yang masih dipenuhi kebingungan. Suaranya terdengar sangat serak."Olivia ...."Langkahku terhenti. Aku berbalik, lalu tatapan kami bertemu. Sorot mataku tenang, sementara sorot mata Reno dipenuhi kepedihan."Kamu begitu membenciku ya?"Mata Reno mulai memerah.Dia teringat masa lalu. Setiap kali sakit lambungnya kambuh atau demam, aku selalu berada di sisinya untuk merawatnya.Selama bertahun-tahun, aku selalu memasak sendiri untuk Reno.Perlahan-lahan, sakit lambungnya pun makin jarang kambuh.Sering kali ketika terbangun, Reno mendapati aku tertidur di tepi ranjang, sementara tanganku masih menggenggam

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 7

    Musim semi berganti musim gugur, lalu empat musim kembali berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, serta pasang dan surutnya air laut.Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu.Pekerjaan dan kehidupanku di Negara Paresa sudah lama berjalan dengan baik dan stabil.Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun yang terjadi di tanah air.Semua orang yang berhubungan dengan Keluarga Wibowo sudah kuhapus dari hidupku.Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan Reno. Setidaknya jauh di dalam hatiku, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.Sayangnya, takdir memang gemar mempermainkan manusia.Sore itu sepulang kerja, dari kejauhan aku melihat sebuah sosok berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang redup kekuningan.Langkahku langsung terhenti. Begitu melihatku, mata Reno dipenuhi gejolak emosi yang begitu rumit hingga aku tidak mampu mengartikannya.Aku hendak berbalik pergi.Hanya saja, tiba-tiba Reno berlari ke arahku. Dalam sekejap, tubuhku sudah terperangkap di

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 6

    Begitu membaca pesan tersebut, Reno langsung terpaku.Membatalkan pernikahan?Olivia?Mana mungkin?Semalam saja mereka masih membicarakan model gaun pengantin bersama.Namun tanpa sadar, ujung jari Reno mulai bergetar pelan. Dengan hati yang dipenuhi kepanikan dan kegelisahan, dia segera membuka akun media sosial Olivia.Sangat sepi.Hanya ada satu unggahan yang disematkan di paling atas.[Kepada seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman yang telah menerima undangan pernikahanku dan Reno, aku mau menyampaikan permohonan maaf.][Pernikahan kami resmi dibatalkan.][Semoga masing-masing dari kami bisa menemukan kebahagiaan di masa depan.]Hanya itu.Pupil mata Reno bergetar hebat. Tiga kalimat yang begitu singkat itu dia tatap selama lima menit penuh, seolah-olah ingin menembus layar dengan pandangannya.Para mahasiswa di bawah melihat reaksinya dan saling berpandangan dengan bingung."Ada apa dengan Pak Reno? Kenapa ekspresinya begitu terkejut? Seperti baru menerima pukulan yang sangat

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 5

    Pada saat yang sama, Reno yang sedang menemani Elpira di asrama dosen Universitas Husero tiba-tiba merasakan nyeri yang menusuk di dadanya.Elpira segera mendongak."Reno, ada apa? Kamu merasa nggak enak badan? Wajahmu kelihatan agak pucat."Reno menarik napas panjang.Setelah beberapa saat, rasa nyeri di dadanya akhirnya sedikit mereda. Dia lalu melarutkan obat ke dalam segelas air dan memberikannya kepada Elpira."Aku nggak apa-apa."Reno berpikir sejenak, tetapi tetap tidak menemukan penyebabnya, jadi akhirnya memilih untuk tidak memikirkannya lagi."Mungkin karena tadi aku terlalu cemas saat mendengar kamu hampir celaka. Sekarang setelah semuanya berlalu, jantungku masih terasa sedikit berdebar."Ujung telinga Elpira tanpa sadar memerah.Mengingat kejadian malam ini, dia masih diliputi rasa takut."Makasih.""Kalau bukan karena kamu, mungkin malam ini aku sudah ...."Elpira teringat sesuatu, lalu berkata, "Tolong jangan beri tahu Bu Gisel ya. Kalau dia tahu, pasti nggak bisa tidur

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 4

    Dalam perjalanan pulang, Elpira tetap duduk di kursi penumpang depan. Reno mengantarnya pulang lebih dulu.Sementara itu, aku duduk di kursi belakang. Aku sedang menghubungi pemilik rumah di Negara Paresa untuk membicarakan tempat tinggal yang akan kusewa."Duduklah di depan."Tiba-tiba Reno angkat bicara. Tanpa mengangkat kepala, aku menolak, "Nggak usah."Pria itu terdiam beberapa saat."Terserah."Aku tidak memedulikannya. Perhatianku tertuju pada foto-foto rumah yang terang dan dipenuhi cahaya matahari. Aku sangat menyukainya sehingga langsung membayar DP.Sesampainya di rumah.Reno mengeluarkan sebuah album dari tas kerjanya, lalu menghampiriku."Mau lihat?"Aku menerimanya dengan bingung. Barulah kusadari itu adalah katalog gaun pengantin."Cepat pilih satu. Lagian tinggal satu bulan lagi sebelum pernikahan kita. Dengan begitu, pihak pembuat juga bisa mulai mempersiapkannya lebih awal."Reno menunjuk sebuah gaun pengantin yang dihiasi bunga pir tiga dimensi di seluruh permukaanny

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 3

    Sesampainya di rumah lama Keluarga Wibowo, Gisel sudah berdiri di luar sambil menunggu dengan penuh harap.Begitu turun dari mobil ....Elpira segera berlari menghampiri dan memeluk lengan Gisel sambil bermanja. "Bu Gisel, anginnya sangat kencang di luar. Kenapa Anda sampai keluar sendiri? Ayo, cepat masuk."Gisel tersenyum penuh kasih sayang."Tentu saja untuk menunggumu. Aku yang mengatur agar kamu bekerja di bawah bimbingan Reno. Selama ini, pasti kamu sudah banyak bersabar.""Anak itu memang wataknya aneh."Elpira melirik ke arah pria yang berdiri di samping sambil tersenyum lembut. Ujung telinga wanita itu langsung memerah."Pak Reno baik kok. Saya juga nggak merasa diperlakukan dengan buruk."Sambil mengobrol, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.Baru setelah berjalan sekitar lima meter, Gisel seperti teringat sesuatu sehingga menoleh ke belakang. Tatapannya kepadaku terasa jauh lebih dingin dan berjarak dibanding sebelumnya."Olivia juga datang ya. Ayo, masuk. Jangan sampai m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status