LOGINSetelah terlahir kembali, aku memutuskan untuk menuliskan nama adikku di formulir pendaftaran pernikahan. Kali ini, aku ingin merestui Hans. Di kehidupan ini, aku membiarkan adikku memakai gaun pengantinku dan cincinku. Aku mengatur setiap pertemuannya dengan adikku. Setelah dia membawa adikku ke Kota Barga, aku langsung pergi ke Selatan untuk melanjutkan kuliah di Kota Sarna. Karena di kehidupan sebelumnya, setelah hidup lebih dari setengah abad, dia dan putraku memohon padaku untuk menceraikannya dan merestui hubungannya dengan adikku. Di kehidupan ini, aku hanya ingin hidup untuk diri sendiri dan meraih kesuksesan, tanpa memikirkan percintaan lagi.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGKamar tamu tidak besar, tetapi bersih dan rapi. Selimut yang terbentang di atas kasur pun memancarkan kehangatan."Istirahatlah dulu, pangsit segera selesai," kata Darwis dengan lembut sambil meletakkan koper.Aku mengangguk dan duduk di tepi kasur.Melihat kepingan salju yang berjatuhan di luar jendela, hatiku merasakan kedamaian dan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Mungkin inilah rasanya rumah.Malam hari, kami duduk di sekeliling meja dan menyantap pangsit makan.Nenek Darwis terus mengambilkan makanan untukku."Elvy, ke depannya, sering-sering main ke sini. Nenek siap menyabutmu kapan saja."Aku tersenyum sambil mengangguk, hatiku terasa sangat hangat.Setelah makan malam, Darwis mengajakku berjalan-jalan di taman sekitar.Di musim dingin, hanya ada sedikit orang di taman. Beberapa pasangan berpelukan dan menikmati ketenangan yang sulit didapatkan ini.Kami berjalan di sepanjang tepi danau tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kepingan salju jatuh dengan lembut dan
"Kalau kamu ingin menebus kesalahanmu, jalani hidup baik-baik dengan Helen. Jangan ganggu aku lagi, nggak baik untuk kami berdua."Matanya berubah gelap. Nada bicaranya dibaluti dengan ketidakrelaan. "Tapi aku merasa, seharusnya kamulah istriku."Kesabaranku habis, aku langsung mengusirnya."Hans, pergilah. Kamu nggak seharusnya mengatakan hal seperti ini, juga nggak seharusnya datang ke sini."Dia berdiri dengan lesu dan meninggalkan kamarku dengan berat hati.Aku menatap punggungnya, tidak muncul sedikit pun gejolak di hatiku.Baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, dia tidak bisa memilih di antara dua wanita dan ingin memiliki keduanya.Aku mulai berpikir. Karena Hans dan Helen sudah tinggal di sini, aku tidak perlu berada di sini. Keluarga Pratama bukan rumahku.Keesokan paginya, aku mengemasi barang bawaanku, lalu mengetuk pintu kamar ibu Hans.Aku memberikan sebuah kartu bank padanya sambil berkata dengan tenang, "Bibi, terima kasih sudah merawatku selama beberapa tahun ini
Bagaimanapun, mereka sudah membesarkanku. Aku tidak boleh terlalu kasar.Setelah dipertimbangkan dengan cermat, aku membeli tiket dan pulang ke Kota Jaya dengan membawa berbagai jenis hadiah.Begitu memasuki rumah Keluarga Pratama, terdengar teriakan keras."Hans, apa maksudmu? Asal kamu tahu, aku hamil anakmu. Jangan seenaknya buat aku marah!"Aku tertegun, terlihat Helen yang berperut buncit sedang mengumpat Hans.Wajah Hans memucat, dia tidak berani membantah. Jadi, dia hanya bisa membujuk Helen dengan sabar."Helen, tenanglah. Dokter bilang kamu nggak boleh terlalu emosional, nggak baik untuk anak.""Aku cuma mau mantel itu, beli sekarang juga!""Helen, aku akan membelikannya lain kali. Uang sakuku bulan ini sudah habis."Hans memapah Helen duduk dengan hati-hati."Siapa suruh kamu nggak kompeten, sampai sekarang kamu masih menjadi kapten. Jangan-jangan, kamu kasih uang ke Kak Elvy?"Ekspresi Hans berubah. "Helen, jangan asal bicara. Aku sudah lama putus hubungan dengannya.""Putus
Kepala sekolah menatapku, lalu menatap Hans. Setelah hening sejenak, dia berkata, "Pak Hans, karena kamu nggak punya hubungan apa pun dengan Elvy, kamu nggak bisa mengurus prosedur pengunduran dirinya."Aku merasa lega.Hans ingin mengatakan sesuatu, tetapi disela oleh kepala sekolah. "Pak Hans, kalau nggak ada urusan lain, silakan pergi. Masih ada urusan yang perlu kutangani."Beberapa hari berikutnya, Hans masih bermunculan.Karena dia terus menggangguku, pelajaranku pun terganggu. Hal yang lebih menyebalkan adalah Helen juga datang."Kak Hans, kumohon padamu. Kita pulang untuk bercerai! Aku nggak mau seperti ini, aku nggak mau merebut suami kakakku. Aku ... aku bukan orang jahat ...."Dia menarik ujung pakaian Hans sambil menangis terisak-isak.Hans memeluknya dengan tidak tega sambil menepuk punggungnya dengan lembut."Helen, patuh. Jangan menangis, ini bukan salahmu. Kita pulang sekarang. Ini salahku, kamu jadi menderita ...."Helen menangis pilu dan berpura-pura ingin berlutut pa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.