Share

Bab 3

Author: Vira
Sesampainya di rumah lama Keluarga Wibowo, Gisel sudah berdiri di luar sambil menunggu dengan penuh harap.

Begitu turun dari mobil ....

Elpira segera berlari menghampiri dan memeluk lengan Gisel sambil bermanja. "Bu Gisel, anginnya sangat kencang di luar. Kenapa Anda sampai keluar sendiri? Ayo, cepat masuk."

Gisel tersenyum penuh kasih sayang.

"Tentu saja untuk menunggumu. Aku yang mengatur agar kamu bekerja di bawah bimbingan Reno. Selama ini, pasti kamu sudah banyak bersabar."

"Anak itu memang wataknya aneh."

Elpira melirik ke arah pria yang berdiri di samping sambil tersenyum lembut. Ujung telinga wanita itu langsung memerah.

"Pak Reno baik kok. Saya juga nggak merasa diperlakukan dengan buruk."

Sambil mengobrol, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.

Baru setelah berjalan sekitar lima meter, Gisel seperti teringat sesuatu sehingga menoleh ke belakang. Tatapannya kepadaku terasa jauh lebih dingin dan berjarak dibanding sebelumnya.

"Olivia juga datang ya. Ayo, masuk. Jangan sampai masuk angin."

Hanya itu yang diucapkan Gisel kepadaku.

Reno berjalan menghampiriku, lalu menunduk sambil sedikit mengernyit. "Suasana hatimu lagi buruk?"

"Nggak."

Aku hanya merasa akhirnya bisa melepaskan semuanya.

Pria itu mengatupkan bibir.

"Kalau pekerjaanmu nggak berjalan lancar, tolong jangan membawa emosi itu ke rumah. Aku nggak mau setiap hari menghadapi seseorang yang terus memasang ekspresi murung."

Tanganku yang tergantung di samping tubuh langsung mengepal erat hingga telapak tanganku terasa sakit.

Baru saja, sempat terlintas di pikiranku ....

Bahwa mungkin Reno akhirnya menyadari perubahan emosiku.

Aku pun menghentikan langkah.

Tatapanku kepadanya yang selalu penuh kasih sayang, kini telah memudar dan berganti dengan ketenangan yang dingin.

"Aku lagi kesal, jadi aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Kalau kamu nggak suka melihatnya, ya jangan lihat."

"Aku bukan pelayan yang harus selalu memenuhi semua keinginanmu."

Senyum di sudut bibir Reno menghilang.

Ketidaksenangannya terpampang jelas di wajahnya.

"Olivia, kamu sudah dewasa. Kita juga sebentar lagi bakal menikah. Aku nggak mau punya istri yang emosinya nggak stabil."

Aku tertawa sinis.

"Kalau begitu, menurutmu siapa yang bisa memenuhi standar yang kamu inginkan?"

Reno kelihatan benar-benar berpikir sejenak. Namun aku tahu, sudah ada jawaban dalam hatinya.

"Siapa pun orangnya, yang menjadi istriku tetap cuma kamu."

"Tapi menurutku, kamu bisa belajar dari Elpira. Dia itu orang yang sangat pandai mengendalikan emosinya. Mengerti?"

Aku menatapnya dalam-dalam sejenak.

Kemudian, aku tersenyum tipis.

"Oke."

Setelah masuk ke ruang makan, Gisel langsung mengajak Elpira dan Reno untuk duduk di sisi kanan dan kirinya.

Aku pun dengan sadar memilih duduk di tempat yang tidak akan mengganggu kebersamaan mereka.

Begitu duduk, baru kusadari ....

Tidak ada satu pun hidangan kesukaanku di atas meja.

Gisel terus tersenyum lebar sambil berkali-kali mengambilkan makanan untuk Elpira.

"Lihat deh, kamu kurus banget."

"Walaupun sibuk melakukan penelitian akademis, kamu tetap harus menjaga kesehatan. Semua makanan ini disiapkan khusus karena Reno bilang kamu suka."

Elpira tersenyum malu-malu. "Makasih, Bu Gisel."

Beberapa saat kemudian, Gisel terlihat sedikit canggung.

Dia menoleh ke arahku sambil memaksakan senyum.

"Olivia, aku juga nggak tahu kamu suka makan apa. Jadi, kamu makan seadanya saja ya."

Reno mengambilkan sepotong daging nanas asam manis dan meletakkannya ke dalam mangkukku.

"Lain kali kalau ada makanan yang kamu suka, bilang saja dari awal. Nanti, aku akan suruh pelayan menyiapkannya."

"Soalnya kamu memang nggak punya kesukaan yang terlalu khusus."

"Nggak seperti Elpira. Dia suka makanan asam manis, seperti daging nanas asam manis atau iga saus asam manis. Pokoknya makanan yang biasanya disukai anak-anak."

Aku menundukkan kepala.

Sambil menatap nanas di mangkuk yang membuatku alergi, aku kehilangan fokus untuk sesaat.

Lima tahun.

Padahal kami sudah bersama selama lima tahun.

Ternyata apa yang kusukai dan apa yang tidak kusukai pun, Reno baru akan tahu kalau aku mengatakannya secara langsung.

Setiap kali Reno menyebutkan kesukaan Elpira dengan begitu hafal ....

Semuanya terasa seperti sedang mengejek kegagalanku.

Pada saat itu, ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari atasanku yang mengabarkan tentang informasi penerbanganku.

Keberangkatan dijadwalkan pukul 8 pagi besok.

Hatiku yang sejak tadi sesak akhirnya perlahan menjadi tenang. Aku merasa benar-benar terbebas.

Sepanjang makan malam itu, aku sama sekali tidak menyentuh sumpit. Reno pun tidak menyadarinya.

Aku hanya duduk sebagai seorang penonton, diam-diam memandangi suasana harmonis di antara mereka bertiga.

Aku tidak bisa masuk ke dalam dunia mereka.

Aku pun tidak ingin memaksakan diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 8

    Ketika aku tiba di rumah sakit, Reno masih terbaring di ranjang dengan sepasang mata terpejam.Wajahnya sangat pucat.Selama lima tahun bersama, aku belum pernah melihat Reno dalam keadaan seperti ini.Namun, aku hanya meliriknya sekilas. Yang penting dia jangan mati saja. Kalau tidak, itu akan membawa sial bagiku.Saat aku hendak pergi ....Pria di belakangku perlahan membuka matanya yang masih dipenuhi kebingungan. Suaranya terdengar sangat serak."Olivia ...."Langkahku terhenti. Aku berbalik, lalu tatapan kami bertemu. Sorot mataku tenang, sementara sorot mata Reno dipenuhi kepedihan."Kamu begitu membenciku ya?"Mata Reno mulai memerah.Dia teringat masa lalu. Setiap kali sakit lambungnya kambuh atau demam, aku selalu berada di sisinya untuk merawatnya.Selama bertahun-tahun, aku selalu memasak sendiri untuk Reno.Perlahan-lahan, sakit lambungnya pun makin jarang kambuh.Sering kali ketika terbangun, Reno mendapati aku tertidur di tepi ranjang, sementara tanganku masih menggenggam

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 7

    Musim semi berganti musim gugur, lalu empat musim kembali berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, serta pasang dan surutnya air laut.Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu.Pekerjaan dan kehidupanku di Negara Paresa sudah lama berjalan dengan baik dan stabil.Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun yang terjadi di tanah air.Semua orang yang berhubungan dengan Keluarga Wibowo sudah kuhapus dari hidupku.Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan Reno. Setidaknya jauh di dalam hatiku, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.Sayangnya, takdir memang gemar mempermainkan manusia.Sore itu sepulang kerja, dari kejauhan aku melihat sebuah sosok berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang redup kekuningan.Langkahku langsung terhenti. Begitu melihatku, mata Reno dipenuhi gejolak emosi yang begitu rumit hingga aku tidak mampu mengartikannya.Aku hendak berbalik pergi.Hanya saja, tiba-tiba Reno berlari ke arahku. Dalam sekejap, tubuhku sudah terperangkap di

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 6

    Begitu membaca pesan tersebut, Reno langsung terpaku.Membatalkan pernikahan?Olivia?Mana mungkin?Semalam saja mereka masih membicarakan model gaun pengantin bersama.Namun tanpa sadar, ujung jari Reno mulai bergetar pelan. Dengan hati yang dipenuhi kepanikan dan kegelisahan, dia segera membuka akun media sosial Olivia.Sangat sepi.Hanya ada satu unggahan yang disematkan di paling atas.[Kepada seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman yang telah menerima undangan pernikahanku dan Reno, aku mau menyampaikan permohonan maaf.][Pernikahan kami resmi dibatalkan.][Semoga masing-masing dari kami bisa menemukan kebahagiaan di masa depan.]Hanya itu.Pupil mata Reno bergetar hebat. Tiga kalimat yang begitu singkat itu dia tatap selama lima menit penuh, seolah-olah ingin menembus layar dengan pandangannya.Para mahasiswa di bawah melihat reaksinya dan saling berpandangan dengan bingung."Ada apa dengan Pak Reno? Kenapa ekspresinya begitu terkejut? Seperti baru menerima pukulan yang sangat

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 5

    Pada saat yang sama, Reno yang sedang menemani Elpira di asrama dosen Universitas Husero tiba-tiba merasakan nyeri yang menusuk di dadanya.Elpira segera mendongak."Reno, ada apa? Kamu merasa nggak enak badan? Wajahmu kelihatan agak pucat."Reno menarik napas panjang.Setelah beberapa saat, rasa nyeri di dadanya akhirnya sedikit mereda. Dia lalu melarutkan obat ke dalam segelas air dan memberikannya kepada Elpira."Aku nggak apa-apa."Reno berpikir sejenak, tetapi tetap tidak menemukan penyebabnya, jadi akhirnya memilih untuk tidak memikirkannya lagi."Mungkin karena tadi aku terlalu cemas saat mendengar kamu hampir celaka. Sekarang setelah semuanya berlalu, jantungku masih terasa sedikit berdebar."Ujung telinga Elpira tanpa sadar memerah.Mengingat kejadian malam ini, dia masih diliputi rasa takut."Makasih.""Kalau bukan karena kamu, mungkin malam ini aku sudah ...."Elpira teringat sesuatu, lalu berkata, "Tolong jangan beri tahu Bu Gisel ya. Kalau dia tahu, pasti nggak bisa tidur

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 4

    Dalam perjalanan pulang, Elpira tetap duduk di kursi penumpang depan. Reno mengantarnya pulang lebih dulu.Sementara itu, aku duduk di kursi belakang. Aku sedang menghubungi pemilik rumah di Negara Paresa untuk membicarakan tempat tinggal yang akan kusewa."Duduklah di depan."Tiba-tiba Reno angkat bicara. Tanpa mengangkat kepala, aku menolak, "Nggak usah."Pria itu terdiam beberapa saat."Terserah."Aku tidak memedulikannya. Perhatianku tertuju pada foto-foto rumah yang terang dan dipenuhi cahaya matahari. Aku sangat menyukainya sehingga langsung membayar DP.Sesampainya di rumah.Reno mengeluarkan sebuah album dari tas kerjanya, lalu menghampiriku."Mau lihat?"Aku menerimanya dengan bingung. Barulah kusadari itu adalah katalog gaun pengantin."Cepat pilih satu. Lagian tinggal satu bulan lagi sebelum pernikahan kita. Dengan begitu, pihak pembuat juga bisa mulai mempersiapkannya lebih awal."Reno menunjuk sebuah gaun pengantin yang dihiasi bunga pir tiga dimensi di seluruh permukaanny

  • 12 Jam untuknya, 0 Detik untukku   Bab 3

    Sesampainya di rumah lama Keluarga Wibowo, Gisel sudah berdiri di luar sambil menunggu dengan penuh harap.Begitu turun dari mobil ....Elpira segera berlari menghampiri dan memeluk lengan Gisel sambil bermanja. "Bu Gisel, anginnya sangat kencang di luar. Kenapa Anda sampai keluar sendiri? Ayo, cepat masuk."Gisel tersenyum penuh kasih sayang."Tentu saja untuk menunggumu. Aku yang mengatur agar kamu bekerja di bawah bimbingan Reno. Selama ini, pasti kamu sudah banyak bersabar.""Anak itu memang wataknya aneh."Elpira melirik ke arah pria yang berdiri di samping sambil tersenyum lembut. Ujung telinga wanita itu langsung memerah."Pak Reno baik kok. Saya juga nggak merasa diperlakukan dengan buruk."Sambil mengobrol, keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.Baru setelah berjalan sekitar lima meter, Gisel seperti teringat sesuatu sehingga menoleh ke belakang. Tatapannya kepadaku terasa jauh lebih dingin dan berjarak dibanding sebelumnya."Olivia juga datang ya. Ayo, masuk. Jangan sampai m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status