Compartilhar

Bab 3

Autor: Dream
Keesokan paginya, begitu bangun tidur, aku langsung mulai mengemasi barang-barangku.

Baru setengah jalan berkemas, Imelda pulang ke rumah dengan wajah yang terlihat begitu lelah.

Begitu dia melangkah masuk, tercium aroma parfum pria yang begitu menyengat.

Bau yang tajam itu membuatku sempat tertegun sejenak.

Kulit Imelda itu halus dan sensitif. Dia alergi terhadap banyak produk kosmetik dan hal yang paling dibenci Imelda adalah bau parfum.

Lantaran hal ini, selama bertahun-tahun bersamanya, hanya karena menggunakan sampo sekalipun, aku akan dimarahi oleh Imelda. Itulah sebabnya, aku tidak pernah menggunakan produk perawatan kulit apa pun.

Jika melihat apa yang terjadi sekarang, ternyata Imelda bukannya benci kosmetik. Dia hanya tidak suka jika aku yang memakainya.

Begitu masuk ke rumah dan melihatku sedang mengemasi barang-barang, Imelda sempat tertegun sejenak. "Semalam, waktu Deon sadar dari mabuknya, sudah terlalu larut. Jadi, aku pergi menyewa kamar hotel sendirian. Itu sebab aku nggak pulang."

Aku menengadah, menatapnya sekilas dan merasa agak terkejut.

Ini pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan kami, Imelda berinisiatif memberikan penjelasan kepadaku.

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Imelda berjalan perlahan menghampiriku. Kemudian, dia menunduk dan bertanya, "Kamu mengemasi barang, apa ada pekerjaan yang mengharuskanmu terbang?"

Aku menganggukkan kepala. "Bisa dibilang begitu."

Mendengar jawabanku itu, entah mengapa, Imelda seakan tampak mengembuskan napas lega. Baru kemudian, dia melanjutkan kata-katanya, "Hari ini aku ada urusan. Aku pulang cuma untuk mengambil sesuatu, lalu pergi lagi. Jadi, aku nggak makan siang di rumah."

"Oke."

Aku tidak menengadah, tetap asyik sendiri mengemasi barang-barangku.

Tadinya, aku berniat memberi tahu Imelda saat makan siang jika aku sudah mengundurkan diri dan secara resmi mengakhiri hubungan kami selama delapan tahun ini. Namun, melihat kondisinya sekarang, sepertinya kesempatan itu juga sudah tidak ada lagi.

Setelah berkata seperti itu, Imelda mengambil sebuah tas merah, menyambar pakaian yang tergantung di dekat pintu dan bergegas keluar.

Prak!

Bingkai foto yang sudah tergantung di kusen pintu selama delapan tahun, tiba-tiba jatuh ke lantai, sesaat setelah dia pergi.

Serpihan kaca yang hancur, berserakan di mana-mana.

Aku menatap ke arah jatuhnya bingkai foto itu. Itu adalah foto saat aku dan Imelda pertama kali pergi menonton konser bersama. Di dalam foto itu, kami berdua menangkupkan tangan dan tersenyum begitu bahagia.

Hari itu, Imelda berjanji padaku sesibuk apa pun dia, setiap tahunnya dia akan selalu menemaniku menonton konser. Namun, sejak Deon magang padanya, dia melupakan semua janji itu.

Di dalam ruangan yang kosong itu, jam dinding berdetak pelan.

Aku terdiam cukup lama, baru kemudian mulai membersihkan serpihan kaca di lantai. Lalu, foto kebersamaan yang penuh kebahagiaan itu, aku buang ke dalam tempat sampah bersama dengan sisa-sisa rasa tidak relaku.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 12

    Jika hal ini terjadi tiga tahun lalu, aku pasti akan menolak keputusan perusahaan ini, meski perusahaan menawarkan gaji dan jabatan yang lebih tinggi.Namun, setelah tiga tahun berlalu, luka di hatiku sudah sembuh total.Oleh karena itu, aku menerima keputusan perusahaan tersebut dengan senang hati.Sehari sebelum kembali ke tanah air, aku mengirim pesan WhatsApp kepada Alan Alfian, mantan rekan kerja sekaligus sahabatku.[Aku besok pulang. Gimana kabar Pak Gerry dan yang lainnya?]Begitu mendengar kabar aku akan pulang, sahabatku itu langsung heboh bukan main. Dia mengobrol denganku sampai tiga jam penuh, seakan dia ingin aku segera naik pesawat dan sampai di tanah air saat itu juga.Keesokan harinya, pesawat mendarat.Sahabatku itu adalah orang pertama yang langsung berlari menghampiriku. Manajer dan beberapa rekan kerjaku di masa lalu, juga ikut menyambutku.Waktu tiga tahun sudah membuat mereka terlihat tua.Namun, begitu melihatku, mereka semua terlihat terkejut.Itu karena, selam

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 11

    Keesokan harinya, Imelda terbang kembali ke tanah air.Namun, seperti yang dikatakannya, Imelda hanya mengambil rute penerbangan ke Nevora. Hampir setiap minggu, Imelda tiba di Nevora. Setiap kali itu pula, dia akan berdiri di depan pintu rumahku sepanjang malam, tetapi aku tidak pernah sekali pun membukakan pintu untuknya.Lama-kelamaan, kehidupanku di Nevora perlahan mulai berjalan normal. Aku mendapatkan lisensi menyelam, lisensi terbang dan lisensi paralayang.Di musim panas, aku pergi ke Sungai Mataya.Di musim dingin, aku pergi ke Pegunungan Ardel.Bahkan, di akhir tahun itu, aku terpilih sebagai karyawan terbaik tahunan di maskapaiku, sekaligus menjadi kepala pramugara untuk seluruh divisi maskapaiku di Nevora.Selama masa ini, ada banyak gadis yang berinisiatif dan terang-terangan mulai mengejarku. Namun, tak satu pun dari mereka yang kugubris.Hati yang pernah terluka, meski sudah sembuh, bekas lukanya akan tetap ada.Bagiku, karier adalah yang utama.Setelah itu, untuk waktu

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 10

    Sementara itu, aku sudah sampai di bandara Nevora dengan selamat.Begitu mendarat, belasan rekan kerja dari maskapai negara ini langsung menyambutku dengan hangat.Ini ketiga kalinya aku datang ke Nevora.Harusnya, aku tidak begitu mengenal atau memahami kota ini. Namun, melihat segala sesuatu yang asing di sekitarku ini, aku justru merasa sangat rileks.Itu karena aku tahu, mulai hari ini, aku hanya perlu hidup untuk diriku sendiri.Di negaraku, aku bisa menjadi yang terbaik di maskapai penerbangan selama tujuh tahun berturut-turut. Di sini pun, aku bisa melakukan hal yang sama.Bukan hanya itu saja, banyak hal yang tidak sempat aku lakukan saat bersama Imelda, kini bisa aku masukkan ke dalam rencana.Bermain ski, mendaki gunung, terjun payung, pergi melihat aurora borealis, banyak sekali hal yang lainnya ….Namun, di luar dugaan, tepat di hari keduaku di Nevora, sewaktu aku pulang kerja dan sampai di rumah, Imelda muncul di hadapanku.Sebagai seorang pilot, Imelda tidak pernah minum

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 9

    "Apa?""Imelda, kamu bilang apa? Kamu mau ambil rute penerbangan ke Nevora? Aku nggak salah dengar, 'kan? Bukannya dulu kamu pernah bersumpah nggak bakalan mau terbang ke Nevora lagi seumur hidupmu? Lima tahun lalu gara-gara hal ini, aku sampai harus mengajukan permohonan khusus ke kantor pusat buat kamu dan malah kena semprot habis-habisan."Belum sampai satu menit setelah Imelda mengirimkan pesan singkatnya, sebuah panggilan telepon masuk. Di ujung telepon, terdengar suara yang penuh dengan rasa terkejut dan tidak percaya.Lima tahun lalu, sejak penerbangan Imelda ke Nevora mengalami kecelakaan, Imelda mengajukan permohonan ke kantor pusat untuk tidak akan pernah terbang lagi ke Nevora. Jika kantor pusat tidak menyetujui permintaannya, Imelda lebih memilih untuk mengundurkan diri.Kejadian ini diketahui oleh semua orang lama di maskapai tersebut pada saat itu.Namun, sekarang, Imelda justru mengajukan diri secara sukarela untuk mengambil penerbangan ke Nevora. Bagaimana mungkin hal i

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 8

    Tiga jam kemudian, senja mulai turun. Imelda meninggalkan bandara dan berkendara pulang ke rumah.Sesaat setelah memasuki pintu, dia menggantung pakaiannya seperti biasa, lalu menyadari adanya bekas yang tertinggal di balik pintu akibat bingkai foto yang jatuh.Pandangan Imelda tertuju pada tempat sampah di dekatnya.Serpihan kaca yang hancur dan foto kami berdua masih berada di dalam tempat sampah itu.Imelda perlahan berjongkok, lalu mengambil foto tersebut dari dalam tempat sampah.Menatap latar dalam foto itu, Imelda baru tersadar jika foto tersebut diambil delapan tahun lalu saat aku dan dia pergi menonton konser bersama.Imelda juga teringat akan janji yang pernah dia ucapkan padaku di lokasi konser itu delapan tahun yang lalu.Tampaknya, seakan sejak dia menjadi mentor Deon, Imelda tidak pernah lagi menemaniku pergi menonton konser sekali saja. Rasanya seakan sejak saat itulah, Imelda perlahan-lahan mulai menjauh dariku.Namun, meski demikian, Imelda tetap tidak habis pikir meng

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 7

    Setelah keluar dari kantor para kru kabin, Imelda duduk terdiam di bandara selama tiga jam penuh.Selama tiga jam itu, sambil menatap setiap sudut di dalam bandara, berbagai kenangan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benaknya.Delapan tahun yang lalu, pertama kali kami berdua bertemu adalah di gerbang pemeriksaan keamanan.Saat itu adalah momen pertama kalinya Imelda beralih tugas dari staf darat menjadi kru kabin pesawat.Saking bersemangatnya, Imelda tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Kondisi mentalnya agak kurang baik. Bahkan, dia sampai menjatuhkan kartu identitas karyawannya ke lantai saat melewati pemeriksaan keamanan.Akulah yang membantu Imelda memungut kartu identitas itu, sehingga membuatnya terhindar dari melakukan kesalahan fatal.Baru setelah kejadian itulah, kami berdua saling mengetahui nama masing-masing.Sejak saat itulah, Imelda sering mengajakku makan camilan di malam hari di bandara, setiap kali dia selesai bertugas.Sekali, dua kali.Hingga akhirnya,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status