LOGINAku dan Yudi mengalami kecelakaan mobil. Demi melindunginya, aku yang sedang hamil tujuh bulan menjadi vegetatif. Setelah aku sadar dari koma selama tiga tahun, Yudi yang telah mengalami amnesia, menjadi suami kakakku dan anak yang kulahirkan dengan susah payah mengaku kakakku sebagai ibunya. Aku menggunakan berbagai cara agar Yudi mengingatku, tetapi dia malah semakin mencintai kakakku. Bahkan anakku pun menyalahkanku, kenapa aku sadar dan mengganggu kehidupan mereka yang bahagia. Saat aku memutuskan untuk melepaskannya, aku mendengar percakapan Yudi dengan yang lainnya. "Yudi, Sella hampir mati demi melindungimu. Kalau dia tahu kamu berpura-pura amnesia..." "Seminggu lagi, perjanjian tiga tahun antara aku dan kakaknya akan berakhir. Setelah memberinya pernikahan yang megah, aku akan pura-pura memulihkan ingatanku dan berbaikan dengannya." Aku terkejut, tak kusangka Yudi pura-pura amnesia. Aku menatap catatan medis di tanganku. Sayangnya, aku tidak bisa tunggu lebih lama lagi.
View More“Arif!” Suara Sungkai Mahoni terdengar melengking dari luar rumah.
"Buat malu Ayah saja! Kamu selalu jadi bahan cerita di keluarga," omel Sungkai begitu masuk ke rumah. Dia menutup pintu dengan keras.
Malam itu, langit di Desa Misahan berwarna kelam. Awan tebal menggantung rendah menandakan datangnya hujan. Suara cicada melengking di udara, dan menciptakan suasana tegang yang menyelimuti rumah Arif.
"Ada apa, Yah?" tanya Misna Bengkirai, ibunya Arif.
Ayahnya kemudian bercerita panjang lebar sambil meremas rambutnya. Di ruang tamu yang sempit, Arif berusaha mencuri dengar pokok permasalahan yang membuat ayahnya marah-marah.
Sungkai duduk bersama istrinya. "Tanya sama anakmu! Dia selalu bikin malu saja! Dia mau melamar Lila Cendana, tapi nggak punya pekerjaan."
Arif menghela napas. Dia menahan emosinya.
"Untung saja yang menegurku mas Bintan Mahoni, kakakku yang kaya dan pelit itu. Malu! malu! Mau ditaruh di mana wajah Ayah?!"
Keluhan Sungkai memancing emosi Misna.
"Kamu ini, Arif! Selalu jadi beban! Apa kamu tidak malu dengan dirimu sendiri?!" teriak Misna. Wajahnya memerah, dan matanya menyala penuh kekecewaan.
Arif duduk meresapi setiap kata pedih yang terlontar dari mulut orang tuanya. Teriakan Misna mampu membuat lampu minyak bergetar di sudut ruangan, memantulkan bayangan wajah-wajah tegang. Suasana pun semakin mencekam.
"Mimpi yang tinggi itu hanya akan membuatmu jatuh lebih dalam! Tidak ada yang bisa kamu banggakan!" sambung Sungkai. Nada suaranya menekan dan wajahnya keras seperti batu.
Setiap kata seperti pisau tajam yang menghujam jiwanya. Arif merasa semakin terasing dan tidak dihargai di rumahnya sendiri. Dia menahan amarah yang berkobar, dan berjuang melawan keinginan untuk berteriak.
Dalam hatinya, perasaan cinta kepada orang tua masih terikat. Namun, penghinaan yang terus-menerus membuatnya ingin pergi jauh dari tempat ini.
"Apalagi, mimpi nikah sama Lila Cendana. Ingat, dia itu anak juragan! Lihat aja! Keluarga Ayahmu jadi menghina kita. Kalau Gibran Mahoni, anak pakdemu yang mau melamar Lila itu wajar. Karena dia orang kaya. Seharusnya sebelum kamu bicara sama pakdemu, dipikir dulu!" Ibunya terus mengomel.
Dengan langkah berat, Arif bangkit dari kursi kayu yang berderit dan berjalan ke jendela. Di luar, kegelapan hutan seolah memanggilnya.
Bayangan pohon-pohon tinggi menjulang seperti tangan-tangan meraih, siap menyambut Arif dan menariknya ke dalam kegelapan. Angin malam berhembus dingin dan menggoyangkan daun-daun, seolah menyiratkan sesuatu yang tidak baik.
Dalam hatinya, Arif merasakan desakan untuk melarikan diri, lalu mencari tempat di mana dia bisa diterima.
Tiba-tiba, suara ketukan keras menggema di pintu depan, memecah ketegangan. Arif menoleh, jantungnya berdegup kencang.
"Siapa itu?!" tanya ibunya masih dengan emosi.
Arif ingin membuka pintu, namun langkahnya terhenti. "Jangan dibuka!" teriak ibunya lagi, suaranya kini panik.
Arif terhenti. Matanya melebar, bingung dan ketakutan. Suara ketukan itu kembali terdengar, lebih keras dan lebih mendesak.
"Bu?" tanya Arif meminta persetujuan ibunya. Tapi wajah panik ibunya seolah menjawab.
Arif kembali terdiam, rasa ingin tahunya mendorongnya maju, tetapi ketakutan akan konsekuensi membuatnya ragu. Dia menatap wajah orang tuanya yang cemas. Bayangan di balik pintu seolah memanggilnya, menggoda dengan janji-janji yang tak jelas dalam pikirannya.
"Jangan-jangan, itu pakdemu! Kamu sudah membuat mereka malu. Karena berani-beraninya ingin melamar gadis pujaan anaknya." Suara ayahnya kembali terdengar pelan, dengan berbagai pikiran konyol di kepala.
Arif merasakan angin yang masuk dari luar sangat dingin dan terasa kencang, mendesaknya untuk mengambil keputusan.
“Tapi kalau benar itu pakde, udara dingin sekali, Yah." Arif memberanikan diri berbicara.
Ibu dan Ayahnya melirik tajam, lalu menggelengkan kepala. Arif yang bingung semakin merasakan dorongan untuk keluar, menjawab panggilan yang tak bisa dia jelaskan.
Apa yang tersembunyi di balik pintu malam itu? Ketika ketukan semakin keras, suara hatinya membisikkan, “Apa kau akan tetap terkurung di sini, atau berani menghadapi apa yang ada di luar?”
Akhirnya, tanpa berpikir panjang, Arif mengulurkan tangan dan membuka pintu. Di luar, hutan menunggu, dan suara-suara malam menyambutnya. Arif menatap ke arah jalan setapak yang terbentang menuju kegelapan.
‘Aku butuh udara segar,’ bisiknya dalam hati. ‘Jika hanya mereka yang mengerti,' lanjutnya lagi.
Dengan langkah mantap, Arif melangkah menjauh dari rumah yang penuh dengan kenangan pahit. Setiap langkah terasa berat, tetapi di dalam hatinya ada dorongan kuat untuk menemukan tempat di mana dia bisa diterima, dan di mana mimpi-mimpinya bukan lagi bahan ejekan.
“Mau ke mana Rif?” tanya Dimas yang melintas.
Arif hanya tersenyum dan menunjuk ke arah hutan Misahan yang berada di desanya. Sekitar lima langkah Arif berjalan baru dia tersadar, Arif menoleh ke arah Dimas berjalan.
“Loh, Dimas tadi ke mana? Seharusnya dia saat ini sampai tepat di depan rumahku?” tanya Arif yang tidak lama diikuti pekikan burung hantu yang bersautan dengan lengkingan suara cicada.
Aku pun bertanya padanya, "Emangnya kamu tidak tahu, kenapa aku tidak mau menikahimu?""Apa kamu masih peduli dengan Belva?" Yudi mengerti, "Harusnya kamu memahamiku, aku kehilangan ingatanku dan Belva berbohong padaku. Begitu ingatanku pulih, aku langsung jelaskan padanya. Ketika aku tahu dia menyakitimu begitu parah, aku juga sudah balas dendam padanya."Kematian Belva pasti berhubungan dengan Yudi.Dia berusaha membuat Belva mati dengan cara yang memalukan.Menghadapi pria ini, aku kembali kecewa, "Yudi, aku tidak bodoh. Aku tahu persis apa benar kamu amnesia atau hanya pura-pura." Seluruh tubuh Yudi bergetar. "Tidak mungkin.""Saat mendapatkan catatan medis itu, aku ingin memberitahumu kalau Belva telah menyakitiku. Tapi, ketika datang menemuimu, aku mendengar apa yang kamu katakan kepada orang-orang itu." Aku menatapnya tajam, "Yudi, kamu sangat mengecewakanku. Aku hampir kehilangan nyawaku untukmu, tetapi kamu malah memperlakukanku seperti ini. Sekarang atas dasar apa kamu masih
Tapi tak peduli berapa kali aku bilang membencinya, Yudi dan putranya tetap datang melapor padaku setiap hari.Mereka selalu mengatakan banyak hal aneh.Yudi juga melakukan beberapa hal gila saat aku dalam keadaan sehat.Misalnya, dia dan Kiky melompat ke kolam renang bersama-sama saat cuaca dingin, sampai tubuhnya kedinginan juga tidak mau keluar.Akhirnya, setelah meninggalkan kolam, dia menatapku dengan kasihan dan bertanya apa aku mengingat sesuatu.Setelah aku menggelengkan kepala, dia menjadi sangat kecewa.Namun, dia tetap berkata, "Nggak apa-apa, aku akan berusaha membuat ingatanmu pulih."Yudi memberiku bunga mawar setiap hari dan mengatakan kalau bunga mawar adalah bunga kesukaanku.Namun, menurutku tidak.Aku merasa benci saat melihat warna merahnya yang cerah.Dia juga membawakanku gaun pengantin sulam dan mengatakan itu adalah hadiah dari guruku.Aku pernah pakai untuknya dan dia terpesona olehku.Aku menyentuh gaun pengantin itu dan sangat menyukainya. Hari itu aku minta
"Apa katamu? Apa amnesia yang kamu maksud? Kalau berani asal ngomong, kamu bakal dipecat!"Yudi memaki seperti binatang buas dari kejauhan. Dia mencengkeram pakaian Jordy dan terlihat sangat muram.Jordy sama sekali tidak takut dengan kemarahannya, "Pak Yudi, tenanglah. Hal ini sudah terjadi, sekalipun kamu hancurkan rumah sakit, ingatan Nona Sella juga tidak akan kembali."Yudi pun melepaskan tangannya.Jordy mengeluarkan catatan medisku dari laci dan membuka halaman tentang obat-obatan.Lalu, memberitahunya alasan aku menjadi begini, karena menggunakan obat jenis ini.Bukan hanya obat jenis ini yang telah menyebabkan kerusakan pada tubuhku, ada juga beberapa jenis obat lain, yang telah menyebabkan kerusakan pada tubuhku kalau digunakan bersamaan."Dan setelah diperiksa, mata kiri Nona Sella sudah buta. Pergelangan tangannya terlalu sering digunakan, jadi dia tidak bisa lagi mengangkat barang. Bahkan sebuah ponsel pun sangat berat baginya."Wajah Yudi perlahan menjadi pucat.Dia mundu
Saat itu kakakku sedang berbaring di bak mandi, pakaiannya basah kuyup.Dia tampak memegang sebotol anggur merah dan sebotol obat berguling di lantai.Adegan bunuh diri yang sempurna.Namun, saat melihat adegan ini, Yudi mengambil pancuran di sebelahnya, menyalakan air dingin dan menyiram kepala kakakku.Kakakku langsung terbangun dan bangkit dari bak mandi sambil berteriak.Setelah melihat orang di depannya dengan jelas, dia kembali ke penampilannya yang menyedihkan seperti biasanya."Yudi, apa yang kamu lakukan?" Setelah mengatakan itu, tubuhnya lemas dan jatuh ke pelukan Yudi. "Aku pusing banget, bisakah kamu membawaku ke rumah sakit?"Tapi Yudi mendorongnya ke lantai dan menunjukkan video CCTV di ponselnya.Lalu, bertanya dengan dingin, "Apaan ini? Lalu kenapa kamu menghasut Kiky untuk mempermainkan Sella?"Mata Kakakku membelalak. "Yudi, aku bukan sengaja. Aku takut kehilangan kalian berdua, kita sekeluarga bertiga begitu bahagia. Atas dasar apa Sella bisa mendapatkannya tanpa mel
Begitu acara pernikahan selesai, Yudi tak sabar mengemasi barang-barangnya bersama Kiky.Tiga tahun lalu, Yudi membuat perjanjian, agar kakakku mau menyelamatkanku.Yudi harus bersama Belva selama tiga tahun, setelah melangsungkan pernikahan yang megah, dia bisa kembali bersamaku.Wajah Kiky penuh h
Yudi menegakkan tubuh, "Ingat, Belva mau yang buatan tangan, gaun pengantin ini hanya bisa diselesaikan olehmu dalam waktu seminggu."Kakak menginginkan pola yang paling rumit dan memintaku untuk menyulamnya sendiri.Hal ini hampir mustahil untuk dilakukan.Namun, selama menyelesaikan gaun pengantin
Kiky adalah anak aku dan Yudi.Aku mengalami kecelakaan mobil saat hamil tujuh bulan.Dokter bilang aku berkemungkinan koma kalau memilih untuk melahirkan anak ini.Aku tentu memilih untuk melahirkannya.Ternyata pilihanku tidak salah, anak ini tumbuh dengan sangat baik.Namun, setelah aku bangun, d
Setelah sadar, aku menjadi sering lupa.Setelah membaca catatan medisku, dokter menyatakan kalau aku telah mengonsumsi obat terlarang selama koma tiga tahun. Efek samping obat tersebut akan menyebabkanku benar-benar kehilangan semua ingatan dalam waktu sebulan.Aku tercengang.Selama masa koma, dokt


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.