LOGINPada ulang tahun pernikahan ke-7, teman masa kecil Nico yang dramatis menelepon dan mengatakan pipa air di rumahnya rusak. Tanpa mengatakan apa-apa, Nico berbalik dan pergi menjadi tukang ledeng. Sesaat kemudian, Riska memperbarui akun media sosialnya. [ Kapan pun dan di mana pun, hanya dengan satu panggilan telepon, Pak Superman akan selalu tiba. Hadiah apa yang harus kuberikan padanya? ] Gambar yang dipostingnya adalah kondom dan pakaian robek yang berserakan di lantai. Aku tersenyum dan menelepon sebuah nomor. "Pipa air rumahku rusak, kamu mau datang dan memperbaikinya?"
View MoreAku menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama. Kemudian, aku menggeleng dengan tegas. Aku telah menunggunya melupakan perasaannya terhadap Riska selama tujuh tahun supaya bisa bersamaku dengan baik.Dari penuh harapan hingga benar-benar hancur, hati yang pernah berdetak kencang untuknya kini telah berubah menjadi abu.Aku berbalik untuk pulang, tetapi Nico meraihku. Yang membuatku terkejut, dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang biasanya selalu terangkat dengan angkuh."Veena, maafkan aku! Aku yang salah, maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan air mata membasahi wajahnya, seolah-olah aku adalah cinta sejatinya. Faktanya, dia tidak memilihku ketika dihadapkan antara hidup dan mati.Dalam kehidupan baruku ini, aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri dan orang yang kucintai.Aku menepis tangannya, lalu berbicara pelan, "Tapi Nico, aku nggak mencintaimu lagi!" Di bawah tatapan
Betapa putus asanya Veena saat itu.Nico teringat dirinya yang menampar Veena, luka bakar di kakinya, insiden pengambilan darah, juga dirinya yang melepaskan tangan Veena saat kebakaran. Setiap adegan itu terulang kembali dalam benaknya.Ketika mengingat tatapan Veena yang putus asa, Nico berlutut tak berdaya di atas lantai. Air mata mengalir di wajahnya setetes demi setetes.Riska dan dokter yang mendengar keributan itu pun bergegas keluar. Mereka melihat Nico yang matanya merah dan bengkak, bagaikan iblis."Nico, dengar dulu penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!" Namun, jawaban yang didapatkan Riska hanyalah tatapan dingin Nico.Malam itu, Riska dan si dokter dibawa pergi oleh penagih utang. Namun, Nico tidak merasa lega. Dia dengan putus asa mencari Veena. Namun, setelah mencari di seluruh kota, dia tetap tidak menemukan Veena. Veena-nya sepertinya telah lenyap begitu saja.Seperti yang Veena katakan bertahun-tahun yang lalu. "Nico, kamu harus hargai aku dengan baik.
Nico menerobos lampu merah dan akhirnya membawa Riska yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dia seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa hampa.Nico tak bisa berhenti memikirkan Veena. Dia teringat tatapan putus asa itu. Tatapan yang sama itu hanya pernah muncul ketika Veena dipukuli oleh ayahnya yang suka melakukan kekerasan.Nico pernah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Veena menderita lagi. Sekarang, dia telah melanggar janjinya. Dia mau tak mau menelepon nomor yang sudah dihafalnya itu. Namun, yang dia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor itu tidak aktif.Nico pun menelepon pengawalnya. Setelah pengawal memberitahunya bahwa Veena telah pergi, dia akhirnya menghela napas lega. Dia mengira Veena hanya marah karena dirinya tidak segera menyelamatkannya.Dokter memberitahunya bahwa Riska telah sadar.Nico meletakkan ponselnya dan mengurungkan niat untuk menyuruh pengawal mencari Veena. Dia merasa Veena akan kembali dalam beberapa hari.Nico pergi ke samping
Aku mendengarkan tuduhannya tanpa ekspresi. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dia tidak percaya padaku. Semua yang kukatakan hanyalah tipu daya baginya.Namun, dia menganggap keheninganku sebagai pengakuan.Dokter keluar dan berujar, "Pak Nico, Bu Riska kehilangan terlalu banyak darah. Bank darah lagi kekurangan darah!"Nico mengangguk, lalu menunjukku dengan santai dan menyahut, "Ambil darahnya. Dia yang melukai Riska. Sudah sepantasnya dia rasakan akibatnya! Ambil darahnya sebanyak yang kamu perlukan!"Aku berusaha keras menghindar, tetapi para pengawal menahanku di lantai.Darah merah terang mengalir melalui selang ke dalam tubuh Riska. Bibirku perlahan memucat dan aku merasa pusing. Namun, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.Dokter mengatakan itu sudah cukup, tetapi Nico tidak bersedia melepaskanku.Sebelum aku pingsan, aku melihat sebuah pemandangan terakhir. Nico dengan lembut mencium kening Riska yang tak sadarkan diri. Begitu lembut,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.