Partager

Bab 2

Auteur: Nawasena
last update Date de publication: 2026-09-17 23:44:53

Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan.

Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya.

"Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini."

Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek."

Mendadak suara decit halus roda serat karbon yang bergesekan dengan marmer menghentikan percakapan singkat mereka. Nawa menahan napas. Kepala wanita itu perlahan terangkat, menatap ke arah koridor penghubung paviliun barat.

Arvin Raynar muncul di sana.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit ternama yang melekat sempurna di bahunya yang lebar dan dadanya yang tegap. Potongan jas itu menyamarkan bentuk kakinya yang terkulai pasif, terbungkus celana kain bahan hitam yang jatuh lurus tanpa lipatan di atas pijakan kursi roda.

Rambut hitamnya yang agak panjang tertata lebih rapi dibanding tiga hari lalu, menyingkap dahi lebar dan tulang alisnya yang tegas. Hidungnya mancung menjulang bagai pahatan pualam, dengan rahang kokoh yang mengeras kaku. Namun, wajah tampan itu pucat pasi tanpa rona, disempurnakan oleh sorot mata hazel yang beku dan dingin—bagaikan telaga es di puncak musim dingin.

Seorang pria paruh baya berbadan tegap—Pak Usman, pengawal pribadi kepercayaan Nenek Halimah—mendorong kursi roda Arvin mendekati meja akad nikah. Arvin tidak memprotes, tetapi jemarinya yang panjang dan pucat meremas kuat lengan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih.

"Selamat sore, Mas Arvin," sapa Pak Penghulu yang sudah duduk di seberang meja kayu ukir.

Arvin hanya mengangguk singkat tanpa suara. Pandangannya lurus mengarah ke tumpukan berkas di atas meja, sama sekali tidak melirik ke arah Nawa yang duduk hanya terpaut dua meter darinya.

"Arvin, tatap calon istrimu," tegur Nenek Halimah lembut seraya menyentuh lengan jas cucunya.

"Tidak perlu, Nek," potong Arvin cepat. Suaranya bernada rendah, serak, dan datar tanpa riak emosi. "Mari kita selesaikan ini secepatnya. Udara di ruangan ini terlalu menyesakkan."

Nawa menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bisa meraba dengan jelas benteng pertahanan raksasa yang sengaja dibangun Arvin di sekeliling dirinya. Pria itu tidak sekadar membenci pernikahan itu, tetapi juga membenci keberadaan Nawa.

Pak Penghulu menghela napas panjang, merasa maklum dengan situasi di depannya. Lalu, membetulkan letak kacamata minusnya. "Baiklah, karena saksi dan wali hakim sudah siap, kita mulai prosesi ijab kabul."

Ruang tamu itu mendadak hening total. Hanya terdengar detak jarum jam dinding antik yang berbunyi konstan. Nawa menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin di atas pangkuan. Untuk sesaat, ia ragu apakah keputusan yang diambilnya sudah benar. Namun, ia kembali memantapkan hati untuk meneruskan pernikahan itu.

Pak Penghulu mengulurkan tangan kanan di atas meja. Arvin menyambut genggaman itu tanpa ragu. Jemari Arvin yang panjang menjepit tangan Pak Penghulu dengan cengkeraman yang sangat kuat, seolah-olah hendak melampiaskan seluruh amarah yang terperangkap di dalam dadanya.

"Saudara Arvin Raynar bin Danang Raynar," ucap Pak Penghulu tegas. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nawa Kirana binti Almarhum Ahmad Kirana, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas senilai sepuluh gram, dibayar tunai."

Arvin menarik napas panjang melalui hidung. Dadanya naik turun sekali sebelum kalimat itu meluncur dari bibirnya dengan suara mantap.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nawa Kirana binti Almarhum Ahmad Kirana dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

Suara Arvin menggelegar tenang, lugas, dan terucap dalam satu tarikan napas tanpa sedikit pun keraguan. Namun, tidak ada getar kebahagiaan di sana. Kata-kata sakral itu diucapkannya persis seperti seorang pengusaha yang sedang menandatangani lembar kepailitan perusahaan.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Alhamdulillah." Nenek Halimah menyapu air mata yang menetes di pipi sebelum mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan penuh rasa syukur.

Pak Penghulu menggeser buku nikah bergaris hijau dan merah ke tengah meja. "Silakan untuk kedua mempelai menandatanganinya, dan dilanjutkan dengan pemasangan cincin."

Nawa bergerak perlahan, menggeser duduknya mendekati kursi roda Arvin. Dari jarak serapat itu, Nawa bisa mencium aroma kayu cendana bercampur citrus yang kental dari tubuh pria itu. Nawa meraih pulpen hitam, membubuhkan tanda tangannya dengan jemari bergetar pelan.

Kini giliran Arvin. Pria itu menyambar pulpen dari tangan Pak Penghulu, menorehkan tanda tangannya dengan guratan tegas dan cepat tanpa memandang lembaran buku itu lebih dari dua detik.

"Cepat pasangkan cincinnya ke Nawa, Arvin," petunjuk Nenek Halimah.

Arvin mengambil kotak bludru merah yang disodorkan Pak Penghulu. Ia mengambil cincin emas putih berdesain polos, lalu meraih tangan kanan Nawa.

Deg.

Sentuhan pertama itu membuat Nawa tersentak pelan. Kulit telapak tangan Arvin terasa begitu dingin, kasar, dan tanpa kehangatan. Arvin menyusupkan cincin itu ke jari manis Nawa secara asal dan terburu-buru, seolah-olah kulit Nawa memancarkan api yang siap membakarnya.

Nawa menelan ludah dengan susah payah. Ia membalas dengan mengambil cincin untuk Arvin. Dengan perlahan dan hati-hati, Nawa meraih jemari Arvin. Pria itu sempat hendak menarik tangan kembali, tetapi Nawa menahannya dengan genggaman yang mantap.

"Izinkan saya pasangkan cincinnya, Mas," bisik Nawa sangat pelan.

Arvin membeku. Sorot mata hazelnya yang tajam akhirnya jatuh tepat di wajah Nawa dari jarak tak sampai setengah meter. Nawa melihat dengan jelas alur lingkaran hitam di bawah mata pria itu, muka yang pucat, dan ketegangan hebat di otot lehernya. Namun, di atas semua itu, Nawa menangkap duka yang teramat dalam—duka yang sama persis dengan yang dimiliki almarhum adiknya, Raka.

Dengan ketelitian seorang arsitek lanskap yang biasa menyentuh helai daun muda, Nawa meluncurkan cincin emas putih itu ke jari manis Arvin hingga pas tersangkut di sana.

Sesuai instruksi Pak Penghulu, Nawa kemudian membungkuk, meraih punggung tangan kanan Arvin, dan hendak menciumnya dengan takzim—sebuah tanda penghormatan seorang istri. Saat dahinya menyentuh punggung tangan sang suami, Nawa merasakan otot-otot tangan Arvin menegang hebat.

Saat Nawa menarik kepalanya kembali dan hendak menegakkan tubuh, Arvin mendadak memajukan badannya sedikit ke depan. Pria itu menunduk rapat ke arah telinga Nawa, memanfaatkan momen ketika Nenek Halimah dan Pak Penghulu sedang sibuk merapikan berkas di ujung meja.

Embusan napas Arvin yang dingin terasa menerpa kulit leher Nawa.

"Kamu membuat kesalahan besar dengan pura-pura jadi pahlawan di rumah ini, Nawa," desis Arvin dengan nada beracun yang sengaja ditahan di tenggorokan.

Nawa mematung di tempatnya, menatap lurus ke dalam pupil mata hazel Arvin yang berkilat sinis.

Arvin menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya—senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Nawa berdiri seketika.

"Nikmati bayaran yang diberikan Nenek kepadamu," bisik Arvin lagi, suaranya tajam bagai sembilu. "Tapi ingat baik-baik, jangan pernah mengemas seluruh pakaianmu di dalam lemari. Paling lama, kamu hanya akan bertahan enam bulan di rumah ini sebelum melarikan diri seperti wanita sebelumnya."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 7

    Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 6

    Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 5

    ​"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." ​Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." ​"Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." ​Sambil mengantongi kunci ter

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 4

    Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 3

    Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi

  • 180 Hari Sebelum Kau Menghilang   Bab 2

    Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status