Se connecter
Siapa yang menyangka, keputusan sederhana untuk menolong seorang nenek yang kolaps di seberang toko tanaman sore itu justru menjadi pintu masuk Nawa Kirana ke dalam pernikahan paling gila dalam hidupnya?
Aroma tanah basah sisa hujan gerimis masih menyengat kuat di udara Kota Bandung. Bau khas perpaduan tanah basah dan aroma wangi bunga yang tersapu angin menyeruak indra penciuman di tengah sore yang mulai diselimuti hawa dingin. Nawa Kirana baru saja merapikan lembaran kertas sketsa lanskapnya ke dalam tas kain, menepuk-nepuk sisa air di permukaan kanvas, ketika netranya secara tidak sengaja menangkap sosok wanita lansia yang berjalan terhuyung di dekat deretan pot mawar toko tanaman. Wanita itu memegangi dadanya dengan sebelah tangan yang gemetar hebat. Napasnya memburu kencang, pendek-pendek dan kepayahan, sebelum tubuh ringkih bergaun sebatas lutut berwarna hitam itu meluruh layu, menyandar kaku di sebatang tiang listrik. "Astaga! Ibu tidak apa-apa?" Nawa berhambur mendekat tanpa membuang waktu. Dengan sigap, jemari lentiknya menahan bahu wanita tua itu sebelum dahinya sempat membentur trotoar semen yang dingin. Nawa segera berlutut di atas lantai basah, merogoh kantong luar tas selempangnya dengan cepat untuk mengeluarkan termos kecil berisi teh hangat dan botol minyak kayu putih. "Pelan-pelan, Bu. Tarik napas dari hidung, lalu keluarkan dari mulut perlahan," bisik Nawa lembut, mengatur nada suaranya sehalus mungkin agar tidak menakuti wanita itu. Nawa mengoleskan sedikit minyak kayu putih di pelipis sang nenek, lalu menggosok kedua telapak tangannya sendiri hingga terasa panas sebelum menempelkannya di area dada wanita tersebut. Wanita tua itu terbatuk pelan, memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik hingga ketegangan di dadanya perlahan mereda. Saat kelopaknya terbuka kembali, sepasang mata senjanya yang digenangi air mata menatap Nawa dengan binar kelegaan. "Terima kasih, Nak. Kepala Nenek mendadak pusing sekali," ucap wanita itu dengan suara parau dan lemah. Tangannya yang keriput menggenggam erat pergelangan tangan Nawa. "Nama Nenek Halimah." "Saya Nawa, Nek," balas Nawa penuh empati sambil mengulas senyum teduh. "Rumah Nenek di mana? Saya panggilkan taksi atau hubungi keluarga Nenek, ya?" Nenek Halimah menggeleng pelan, mengulas senyum tipis yang sarat akan kepedihan mendalam. "Sopir Nenek ada di seberang jalan, Nawa. Tapi, maukah Nawa menemani Nenek sebentar saja minum teh di rumah? Nenek cuma mau mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong. Entah apa jadinya kalau sampai Nawa tidak ada tadi." Ada ketulusan yang amat jujur sekaligus rasa sepi yang tak mampu disembunyikan dari nada bicara Nenek Halimah. Nawa—seorang arsitek lanskap berusia dua puluh empat tahun yang tidak pernah bisa berpaling dari seseorang yang membutuhkan pertolongan—akhirnya mengangguk pelan. Nawa memapah Nenek Halimah menuju mobil, kemudian ikut duduk di sampingnya. Mobil hitam berukuran besar itu meluncur tenang membelah jalanan kota yang sejuk, hingga akhirnya berhenti di depan gerbang besi tinggi berukir rumit di kawasan hunian elite Bandung. Begitu roda kendaraan melintasi pekarangan, Nawa disambut oleh pemandangan rumah sangat megah bernuansa kolonial. Namun, di balik arsitektur mewah yang mengagumkan itu, rumah tersebut diselimuti keheningan yang tak lazim. Tidak ada gelak tawa, tidak ada musik yang mengalun merdu, dan tidak ada keceriaan yang terasa. Hanya gemerisik daun cemara yang diterpa angin sore. "Mari masuk, Nawa," ajak Nenek Halimah seraya melangkah dan disambut oleh seorang pelayan yang memapahnya berjalan ke dalam. Nawa mengikuti langkah Nenek Halimah menelusuri teras marmer yang dingin. Namun, langkah kaki Nawa mendadak terhenti di tengah jalan saat matanya secara tidak sengaja menengadah ke lantai dua paviliun barat rumah tersebut. Di balik jendela kaca besar yang tirai tebalnya tersingkap beberapa senti, tampak siluet seorang pria. Pria itu terduduk di atas kursi roda hitam berdesain modern. Tubuhnya tinggi tegap, tetapi kepalanya terkulai agak menyamping dengan rambut agak panjang yang berantakan. Ia sedang menatap kosong ke arah pohon cemara yang meranggas di sudut pekarangan. Wajahnya pucat pasi ditimpa bayang-bayang temaram. Sorot mata hazel gelap miliknya—kosong, hampa, dan tanpa riak kehidupan. Deg. Jantung Nawa berdesir hebat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku dan mematung. Empat tahun lalu, di sebuah kamar beraroma kapur barus yang dingin, Nawa pernah melihat raut wajah yang persis sama. Adiknya, Raka, duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong menyapu dinding kamar—tatapan mati rasa dari seseorang yang sudah melepaskan seluruh genggamannya pada dunia, tepat tiga hari sebelum Raka ditemukan tak bernyawa akibat mengakhiri hidupnya sendiri. "Nawa, ada apa?" tanya Nenek Halimah dengan suara memecah lamunan pendek yang menyakitkan Nawa. Wanita tua itu rupanya menyadari arah pandangan Nawa. Nawa menyapu sudut matanya yang mendadak memanas. "Pria di atas sana siapa, Nek?" Nenek Halimah menghela napas panjang. Udara dingin yang keluar dari mulutnya terasa teramat berat. "Dia Arvin. Cucu sulung Nenek." Nenek Halimah mengajak Nawa duduk di bangku kayu teras, membiarkan angin sore berembus membelai wajah mereka. Dengan suara bergetar dan tatapan layu, wanita tua itu mulai membagikan luka tersembunyi keluarganya. "Tiga tahun lalu, sebuah kecelakaan tragis merenggut fungsi gerak kedua kakinya," lirih Nenek Halimah. "Arvin dulu seorang perancang cahaya yang sangat hebat dan jenius, Nawa. Tapi sejak malam itu dia mematikan seluruh lampu di hidupnya. Ditambah lagi, mantan tunangannya memutuskan hubungan dan pergi begitu tahu Arvin tak bisa berjalan lagi." Nawa meremas ujung outer cokelatnya hingga buku-buku jarinya memutih dan matanya memerah. "Dia tidak pernah keluar kamar, Nek?" "Tidak pernah," jawab Nenek Halimah dengan nada keputusasaan yang memilukan. "Dia menolak fisioterapi, mengusir semua dokter, dan membuang semua obat-obatan. Nenek sudah kehabisan cara, Nawa. Nenek takut. Setiap kali Nenek membuka pintu kamarnya di pagi hari, Nenek hanya takut akan menemukan jasad cucu Nenek sudah tidak bernyawa." Air mata Nenek Halimah akhirnya menetes membasahi kerutan di pipinya. Wanita tua itu memutar tubuhnya, meraih telapak tangan Nawa, lalu menggenggamnya rapat-rapat dalam kepasrahan. "Nenek tahu ini terdengar gila dan sama sekali tidak masuk akal untuk wanita muda sepertimu," ucap Nenek Halimah penuh kepasrahan. "Tapi sore ini, saat Nenek melihat caramu menolong Nenek. Melihat kehangatan di matamu. Nenek seperti melihat satu-satunya harapan yang tersisa. Maukah kamu menikah dengan Arvin?" Kata-kata itu berputar-putar di kepala Nawa bagai dentang lonceng yang bergema keras. Pernikahan? Menikahi pria asing yang lumpuh dan depresi? Logika dan akal sehat Nawa menjerit untuk menolak. Namun, bayangan wajah Raka yang memucat di atas bangsal rumah sakit kembali menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Dulu, Nawa terlambat menyadari jeritan sunyi adiknya. Nawa gagal menyelamatkan Raka dari ketiadaan. Nawa perlahan mendongak, kembali menatap jendela lantai dua paviliun barat. Pria bernama Arvin itu masih di sana, membeku bagai patung batu yang terlupakan zaman. "Saya tidak butuh harta atau imbalan apa pun, Nek," tutur Nawa dengan suara tegas. Ia mengusap jemari Nenek Halimah lembut. "Jika kehadiran saya bisa menahannya untuk tidak menyerah pada hidup saya mau. Saya bersedia menikah dengannya." Nenek Halimah membeliak sesaat, kemudian memeluk Nawa dengan derai air mata lega yang tak terbendung. Namun, tepat di detik Nawa mengucap kesediaannya, sosok pria di balik jendela lantai dua itu mendadak menggerakkan jemarinya di atas ban kursi roda. Arvin memutar kursi roda secara perlahan hingga posisinya kini menghadap lurus ke bawah—menatap tepat ke arah tempat Nawa dan Neneknya saling berpelukan. Dari jarak belasan meter, Nawa bisa merasakan dinginnya sorot mata hazel itu menusuk matanya secara langsung. Tidak ada rasa bersyukur di sana, melainkan pijar kemarahan dan penolakan yang begitu pekat.Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap
Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be
"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci ter
Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia
Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi
Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha







