Se connecterEmbusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam.
Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhirnya dipersilakan masuk. Nenek Halimah berdiri di tengah ruangan, menatap Arvin yang membelakanginya. "Jangan terlalu keras pada Nawa, Arvin. Dia istrimu sekarang." "Itu menurut Nenek, tapi tidak bagiku," ucap Arvin tanpa menoleh ke belakang. Terdengar embusan napas berat yang keluar dari mulut pria itu. "Memangnya apa yang bisa diharapkan dari pria cacat sepertiku, Nek? Berapa yang Nenek bayar agar dia mau menikah denganku? Aku akan menggantinya sepuluh kali lipat dan segera mengusirnya dari rumah!" "Arvin!" sentak Nenek Halimah sambil mengepalkan erat kedua tangannya. "Jaga bicara kamu! Nawa adalah wanita baik-baik. Dia tidak pernah meminta apapun dari Nenek. Jadi, jangan samakan dia dengan wanitamu kemarin. Dia ...." "Bohong!" bentak Arvin sambil memutar kursi rodanya. Lalu, melayangkan tatapan dingin kepada sang nenek. "Aku sudah memenuhi perintah Nenek untuk menikahinya. Jadi, jangan pernah memintaku untuk menerimanya juga." "Arvin!" sentak Nenek Halimah sambil terhuyung dan memegang dada sebelah kirinya. Napasnya tersengal. "Sekarang keluar, Nek," ucap Arvin telak. "Dan ingat kesepakatan kita. Nenek akan menghentikan semua jenis bujuk rayu agar aku mau menjalani pengobatan setelah menikahinya." Nenek Halimah menatap Arvin dengan hati hancur sebelum keluar kamar sambil menangis. Sementara itu, malam pertamanya di rumah keluarga Raynar dihabiskan Nawa di salah satu kamar tamu paviliun barat—hanya berjarak dua pintu dari kamar utama Arvin. Sepanjang malam, tidak ada suara yang terdengar dari kamar suaminya selain keheningan mencekam dan aroma citrus yang samar-samar menerobos lewat celah bawah pintu. Pukul lima pagi, kabut tipis khas kota Bandung masih membungkus pekarangan. Nawa sudah selesai membenahi penampilannya. Ia mengenakan celana kain longgar warna krem dan kaus lengan panjang berwarna hijau sage, lalu mengikat rambut bergelombangnya ke belakang. Nawa melangkah menuju dapur utama rumah besar itu. Dengan cekatan, jemari lentiknya menyeduh racikan teh herbal—campuran daun lavender kering dan bunga chamomile yang dibawanya dari rumah. Aroma manis dan hangat seketika menyeruak, mengusir sedikit hawa dingin yang mengendap di dalam ruangan. Sembari mengapit buku sketsa lanskap dan secangkir teh hangat, Nawa memutuskan untuk duduk di teras samping yang langsung menghadap ke kebun bunga mawar Nenek Halimah. Semak mawar itu tampak meranggas, dipenuhi daun kering yang tak terawat. Mendadak terdengar suara langkah kaki yang diseret pelan dari arah garasi samping memecah kesunyian pagi. Nawa memiringkan kepala, mendapati seorang pemuda bertubuh jangkung melangkah masuk melalui pintu samping teras. Pria muda itu mengenakan hoodie abu-abu longgar dan celana jins lusuh, membawa kantong kain besar berlogo biji kopi di tangan kirinya. Itu Elian Raynar. Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun itu memiliki struktur tulang yang amat serupa dengan Arvin—garis rahang yang tegas, alis tebal, dan hidung mancung yang menjulang. Namun, berbeda dengan Arvin yang menyembunyikan emosinya di balik ekspresi pucat membeku, sorot mata cokelat tua Elian memancarkan amarah dan kejengkelan yang tak ditutup-tutupi. Yang paling menarik perhatian Nawa adalah tangan kanan pemuda itu. Dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengah—terbungkus kaku oleh korset penyangga fleksibel berbahan kain elastis hitam. Langkah Elian terhenti saat mendapati Nawa duduk di bangku kayu teras. Pria itu menyipitkan mata, menatapi Nawa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sudut bibir tertarik dingin. "Jadi, ini wanita yang kemarin berhasil dipajang Nenek di meja akad?" tanya Elian. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, bernada sinis tanpa sapaan ramah. Nawa meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu. Ia berdiri pelan, menyunggingkan senyum hangat yang profesional. "Selamat pagi. Kamu pasti Elian. Saya Nawa." Elian terkekeh pendek—sebuah tawa kaku yang tidak bersahabat. Ia meletakkan kantong biji kopi ke atas meja batu di dekatnya dengan kasar. "Tidak perlu formalitas manis begitu," cetus Elian. Tangan kirinya masuk ke saku hoodie, sementara tangan kanannya yang terkorset menggantung kaku di samping tubuh. "Aku cuma datang mengantar pasokan biji kopi untuk rumah. Tidak ada urusannya dengan penghuni baru." "Teh herbalnya baru diseduh," tawar Nawa tenang, menunjuk teko porselen di atas meja tanpa terpengaruh oleh nada ketus Elian. "Mau saya buatkan satu cangkir?" Elian maju dua langkah, mengikis jarak di antara mereka. Ia menatap Nawa dengan mata berkilat penuh prasangka. "Kamu pikir kamu sedang memainkan peran apa di sini, Nawa?" desis Elian tajam. "Istri idaman? Perawat serba bisa? Atau pahlawan penyelamat keluarga Raynar?" Nawa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, membiarkan udara dingin menenangkan detak jantungnya. "Saya cuma sedang menawarkan teh, Elian. Tidak ada peran yang sedang saya mainkan." "Bohong!" potong Elian cepat. Mata cokelat tuanya melirik pada buku sketsa di atas meja yang memperlihatkan corak perbaikan taman depan. "Semua orang yang masuk ke rumah ini selalu punya harga. Berapa yang Nenek janjikan padamu? Ratusan juta? Atau janji pembagian tanah di area utara?" Nawa mencengkeram erat kedua tangannya. Pertanyaan itu terasa menyengat, tetapi bayangan Raka yang melintas di benaknya membuat Nawa mampu menahan emosi. Raka dulu juga sering melontarkan kata-kata kasar saat berada di titik terendahnya—sebuah mekanisme pertahanan diri dari jiwa-jiwa yang terlalu banyak menyimpan luka. "Saya tidak meminta sepeser pun uang dari Nenekmu," jawab Nawa tegas, suaranya sangat tenang. "Saya menikah dengan Mas Arvin karena saya memilih untuk ada di sini." "Memilih?" tanya Elian sambil mengulas senyum keji di wajah tampannya. "Pilihan yang sangat bodoh." Elian mengulurkan tangan kanannya yang terbungkus korset penyangga ke udara, tepat di depan wajah Nawa. Jemari itu tampak gemetar pelan, tetapi dua jari yang tersangga itu tetap kaku tak berdaya. "Kamu lihat ini?" tanya Elian, nadanya mendadak berubah menjadi bisikan tajam yang penuh kepahitan. "Tiga tahun lalu, aku adalah pianis muda yang siap meluncur ke kompetisi internasional di Wina. Tangan ini bisa memainkan Chopin Nocturne tanpa cela." Nawa menatapi jemari kaku itu dengan rasa simpati yang mendalam. "Elian ...." "Jangan menatapku dengan raut wajah kasihan itu!" potong Elian galak, menarik tangannya kembali ke sisi tubuh. Dadanya naik turun memburu. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang rumah ini, Nawa. Kamu cuma wanita asing yang datang membawa janji dan senyuman manis sok suci." Elian memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam pupil mata Nawa dengan sorot duka yang bertransformasi menjadi kebencian pekat. "Kalau kamu memang berniat jadi pahlawan di sini, datanglah ke kamar paviliun itu," bisik Elian dingin, suaranya menusuk bagai pecahan es. "Tanya pada suamimu yang terhormat itu, kenapa dia mengemudi seperti orang gila di malam hujan tiga tahun lalu, sampai mobil itu terguling dan mematahkan tulang jemariku hingga tak bisa lagi menyentuh tuts piano seumur hidup!" Nawa membelalak pelan. Jantungnya terasa mencelos hingga ke dasar perut. Elian menyunggingkan senyum miring, membalikkan badan, lalu melangkah pergi meninggalkan teras dengan langkah berat tanpa memedulikan Nawa yang berdiri mematung di tempatnya. Nawa mengenggam erat-erat tangannya yang dingin. Kata-kata Elian bergema berulang kali di kepalanya. Jadi, kecelakaan tragis tiga tahun lalu itu bukan sekadar musibah fisik bagi Arvin—melainkan dosa besar yang menghancurkan impian adiknya sendiri. Saat Nawa perlahan memutar tubuhnya menghadap ke arah paviliun barat, matanya menangkap gerak refleks dari balik jendela kamar lantai dua yang sedikit terbuka. Di sana, di antara bayang-bayang kegelapan kamar, Arvin sedang berdiri mengintip dari atas kursi rodanya—telah menyaksikan seluruh pertengkaran singkat itu dari kejauhan.Pagi baru menyapa saat Nawa sudah bersiap di depan cermin kamar tamu. Ia menatap pantulan dirinya. Kemeja lengan panjang berwarna biru pastel berukuran besar dipadu dengan celana kargo warna hitam. Rambutnya diikat kuda ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Senyum lebar terukir di bibirnya yang merah alami.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali merapikan taman mawar. Suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan mengingat mawar merah adalah salah satu bunga favoritnya."Semangat, Nawa! Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan. Nawa mematut diri sekali lagi seraya tersenyum lebar sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya ringan saat menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga melingkar dan sampai di depan pintu kaca yang mengarah ke samping.Ia perlahan membuka pintu kaca itu dan keluar. Nawa memejamkan mata sejenak, merasakan sejuknya angin pagi yang belum terkontaminasi oleh polisi udara. Ia menarik nap
Satu per satu dahan mawar kering itu luruh ke atas tanah hitam usai dipotong oleh gunting tanaman tua. Udara pagi di pekarangan paviliun barat terasa begitu dingin, menciptakan embun tipis di udara setiap kali Nawa mengembuskan napas. Kakinya yang beralas selop katun basah oleh embun pagi, tetapi Nawa tak memedulikannya."Non Nawa, biar paman saja yang merapikan pohon mawar itu. Takutnya nanti Non Nawa tertusuk durinya."Suara berat milik Pak Usman memecah kesunyian. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah mendekat seraya membawa dua buah karung goni kosong di tangannya.Nawa menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum ramah. "Tidak apa-apa, Pak Usman. Saya sekalian melatih fisik pagi ini. Lagipula, tanah di sekitar akar mawar ini harus digemburkan dulu sebelum diberi pupuk kompos baru."Pak Usman menatap Nawa dengan binar prihatin sekaligus kagum. Sudah bertahun-tahun pekarangan paviliun barat dibiarkan mati meranggas tanpa ada seorang pun yang be
"Di gudang bawah paviliun barat, dulu Kakek menyimpan banyak pot keramik tanah liat dan gunting dahan tua," tutur Nenek Halimah seraya mengusap lembut lengan Nawa usai menyantap makan siang bersama. "Kebun mawar di samping teras itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, Nawa. Kalau kamu tidak keberatan dan punya waktu luang, kamu boleh mengambil alat-alat itu di bawah." Nawa Kirana mengulas senyum manis sebelum menyesap sisa teh hangat dalam cangkir. "Tentu tidak keberatan, Nek. Nawa memang berniat merapikan tanahnya sore ini. Akar-akar liar di sana harus segera dipangkas supaya tanaman barunya bisa bernapas." "Baguslah kalau begitu, Nak," ucap Nenek Halimah lembut seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari di dekat ruang keluarga, lalu kembali sambil membawa sebuah anak kunci berukir rumit yang tampak kusam digerus waktu. Ia menyerahkan benda itu ke telapak tangan Nawa. "Gudang itu agak berdebu. Hati-hati saat melangkah di tangga bawah." Sambil mengantongi kunci ter
Bayangan siluet di balik kaca jendela kamar lantai dua itu menghilang dalam sekejap begitu netra Nawa menangkap keberadaannya. Tirai tebal berwarna abu-abu tua langsung ditarik dari dalam dengan gerakan kasar, menutup rapat paviliun barat dan menyisakan kembali keheningan kelam di kaca yang berdebu. Nawa membuang napas perlahan. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Elian—tentang kecelakaan malam hujan tiga tahun lalu dan jemari sang pianis yang patah—menghantam benaknya dengan rasa sesak yang kian mengimpit. Arvin tidak hanya menanggung beban kelumpuhan fisiknya sendiri, tetapi juga memikul reruntuhan impian sang adik. Tanpa ragu, Nawa melangkah meninggalkan teras samping. Tangannya yang lentik menyeduh secangkir teh hangat beraroma lemon dan jahe di dapur, meletakkannya di atas nampan kayu kecil. Langkah kakinya yang beralas sandal terdengar pelan saat menyusuri tangga kayu menuju kamar utama Arvin di lantai dua. Di depan pintu jati yang kokoh itu, Nawa menghentikan langkah. Ia
Embusan kata-kata dingin masih tertinggal di leher Nawa saat Arvin memutar cepat ban kursi roda serat karbonnya. Tanpa mengucap sebaris kata pamit kepada Pak Penghulu atau Nenek Halimah, Arvin meluncur menembus lorong dan menghilang di balik pintu jati paviliun barat yang langsung terkunci rapat dari dalam. Nawa berdiri mematung di sisi meja akad selama beberapa saat, membelai pelan cincin emas putih yang kini mengikat jari manisnya. Gertakan enam bulan itu bukan sekadar bualan biasa. Arvin bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Nenek Halimah mendekati Nawa ketika melihat Arvin pergi meninggalkannya. Lalu, mengusap lembut bahu cucu menantunya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan diambil hati sikap dan perkataan Arvin barusan, ya, Nawa. Nanti Nenek akan memperingatkannya. Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar." Nenek Halimah segera menyusul ke kamar Arvin dan mengetuk pintunya. Awalnya pria itu enggan membuka pintu, tetapi setelah Nenek Halimah mengetuk dengan sedikit kasar, akhi
Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha







