Tatapan dingin yang menusuk dari balik jendela lantai dua tiga hari lalu itu masih membekas pekat di ingatan Nawa Kirana. Sore itu, di ruang tamu utama keluarga Raynar yang bernuansa serba putih, atmosfer hening terasa merayap lambat. Hanya ada aroma melati segar beradu dengan wangi dupa cendana lembut yang dinyalakan Nenek Halimah di sudut ruangan. Nawa duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Kebaya katun brokat berwarna putih gading menempel pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik gurdo berlaris cokelat klasik. Rambut gelombangnya disanggul modern secara sederhana, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. "Nawa, minum teh hangat ini dulu, ya," bisik Nenek Halimah seraya mengusap lembut bahu Nawa. Wanita tua itu mengenakan kebaya encim warna krem dengan mata berbinar penuh keharuan. "Terima kasih sudah bertahan sampai titik ini." Nawa mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. "Nawa tidak apa-apa, Nek." Mendadak suara decit ha
Terakhir Diperbarui : 2026-09-17 Baca selengkapnya