LOGIN"Masya Allah, alhamdulillah, terimakasih banyak Wak, Bi. Neng, bahagia sekali," ujar Santi sepenuh hati menatap sayang kepada keluarga ayahnya itu satu persatu. Sampai kepada Rida, Santi teringat akan pesan yang dikirimkan oleh Bintang tadi."Oh iya, Neng teh sampai melupakan sesuatu," lanjutnya mem
Kunjungan keluarga Bintang ke rumah sakit tempat dirawatnya Santi tak hanya sekedar kunjungan biasa. Rupanya, terjadi pembicaraan serius antara Rusman dan Hendrawan terkait kelanjutan rencana pernikahan anak-anak mereka.Semua sudah dibicarakan dan tanggal pun sudah ditetapkan, yaitu 2 minggu lagi m
"Hayuk masuk atuh, kita sarapan dulu!" ajaknya usai memeluk Aisyah dan Linda bergantian. Bahkan, Hendrawan pun dia perlakukan bak anak sendiri."Kebetulan kita belum sarapan, Ni," balas Hendrawan yang segera melangkah masuk ke dalam rumah diikuti yang lainnya.Mereka bercengkerama selayaknya keluarg
"Sudah siap semua, A'?" tanya Hendrawan kepada Bintang yang tengah memakai sepatunya.Bintang mendongak menatap ayah sambungnya yang sudah terlihat semakin segar setelah 2 hari dia tunggui di rumah. Rupanya, sakitnya Hendrawan hanyalah penyakit malarindu kepada anak-anaknya saja. Setelah Bintang dan
Dalam pikirannya, kuliah dan mendapat gelar itu adalah penunjang langkah menuju sukses yang dia inginkan. Meski jalan yang dilalui tak mudah, tetapi memiliki ijazah sarjana adalah merupakan salah satu batu loncatan menuju puncak kesuksesan. Berbeda dengan Ikhsan yang memilih memgembangkan skil yang
Bintang membawa langkah dengan pasti saat burung besi yang mengatarnya pulang ke tanah air telah berhenti sempurna. Menderap langkah semakin cepat usai mengambil koper miliknya menuju pintu keluar bandara.Setelah hampir 5 jam di udara, akhirnya kakinya menapak tanah air dengan selamat. Namun, perja
Selalu membanding-bandingkan dirinya dengan dua anaknya yang lain. Membandingkan Adji dengan dua cucunya yang lain.Dia tak pernah curiga akan alasan apa yang membuat Rusni bersikap demikian padanya. Tidak pernah juga bertanya tentang alasan itu. Toh, ingin bertanya pun pada siapa?Rusman memejamkan
Pagi yang tak terlalu cerah, dengan awan menutup sebagian matahari hingga sinarnya pun nampak malu-malu. Di dalam kamar sederhananya, Rusman terbaring dengan sekujur tubuh yang terasa ngilu. Sepanjang malam, ia pun tak lelap tidurnya sebab ada hal yang mengganggu pikirannya. Bukan pasal tubuh yang t
"Itu tadi adik sepupu saya teh dari sini, dia sakit, Bu bidan?" suara Adji terdengar karena sengaja dia keraskan volume media di ponselnya."Oh, si Neng Rida?" suara Bu bidan terdengar."Iya, Rida teh sakit? Duh, saya harus antar pulang kalau sakit mah.""Neng Rida tadi teh pingsan di jalan pas mau
"Lalu sekarang, kau penjarakan anakku dan kalian tuduh dia jual diri? Kalian ini kenapa? Sebegitu irikah kalian pada kami, hah? Di sinj yang jual diri itu anak kamu yang sok alim itu!" lanjut Roji penuh emosi.Rusman kembali naik pitam, ia hendak bangkit dan membalas perkataan Roji. Namun, segera Ad







