Mag-log inKeira menikah demi menyelamatkan keluarganya. Tapi, ia tak pernah tahu, pria yang menjadi suaminya- Rafael Ardian - adalah duda, CEO dingin dengan mata setajam pisau dan rahasia yang membunuh perlahan. Saat sebuah flashdisk mengungkap proyek rahasia bernama R.K Keira sadar: ia bukan hanya istri kontrak, ia adalah bagian dari rencana yang lebih gelap. Tapi bagaimana ia bisa kabur? Saat hatinya perlahan menyerah pada pria yang tak bisa ia percaya.
view moreBab 6 – Mata yang Mengintai“Apa maksudmu?” suaraku parau, lebih seperti bisikan putus asa. “Rafael… jangan main-main denganku. Ada kamera di kamar kita! Ada seseorang yang—”“Astaga, Keira.” Rafael menyela dengan nada dingin, namun jemarinya tetap membelai pipiku, seakan ia ingin menenangkan sekaligus mengikatku. “Kau benar-benar senang membuat kepalaku pusing.”Aku menepis tangannya dengan kasar. “Pusing? Aku hampir gila! Ada yang merekam kita—mere—” suaraku pecah, dadaku naik turun karena panik. “Itu bukan hal sepele!”Sorot mata Rafael berubah. Ada kilatan tajam, tetapi di baliknya seperti ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Perlahan ia mengambil ponsel hitam itu, menekannya hingga layar padam, lalu menyelipkannya ke saku kemejanya.“Dengar aku baik-baik.” Suaranya berat, nyaris seperti perintah. “Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau usik. Kau istriku. Tugasmu hanya percaya padaku.”Aku membeku. Kata-katanya terdengar seperti tamparan. Percaya? Bagaimana aku bisa percaya jika
Brrr… brrr… brrr…Getaran itu menusuk telingaku, memaksa kesadaranku kembali dari tidur yang tak benar-benar lelap. Kelopak mataku berat, kepala terasa berdenyut, dan setiap sendi tubuhku seperti dipukul berulang kali. Rasa sakit merayap dari bahu hingga ke pinggang, mengingatkan malam panjang yang baru saja kulewati. Aku menggeliat sedikit, merintih pelan, tapi yang kudapat hanya rasa perih yang membuatku mengerutkan wajah.Suara bergetar itu belum berhenti. Ritmenya konstan, menyebalkan, datang dari arah nakas di samping ranjang. Perlahan, dengan tenaga yang tersisa, aku melirik sisi tempat tidur. Kosong. Rafael sudah tidak ada. Hanya sprei kusut, aroma maskulinnya yang masih tertinggal, dan keheningan yang terasa menyesakkan.Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak, berharap getaran itu berhenti sendiri. Tapi tidak. Getaran itu semakin lama semakin memaksa, seolah sengaja mengusik sisa-sisa tenang yang kupunya. Dengan desahan letih, aku memaksa tubuhku bangkit, menyibakkan
Brak!Aku terhempas di atas kasur, tubuhku memantul di permukaan empuk yang terasa seperti perangkap. Nafasku tercekat, kedua tangan refleks meraih selimut untuk menutupi diri. Tapi Rafael sudah di atasku, menahan kedua pergelangan tanganku di sisi kepala, tubuhnya menindih tanpa memberi jarak.“Rafael… lepaskan…” suaraku pecah, campuran takut dan marah. Aku meronta, tapi kekuatannya tak tergoyahkan.Dia menatapku lama, tajam, lalu mendengus pendek, seakan kesabarannya habis. “Tidak ada lelaki waras yang bisa menahan diri dengan istri sepertimu di rumah,” gumamnya serak. Tangannya berpindah, menyentuh rahangku kasar, lalu turun menyusuri leher hingga berhenti di dada. “Putih… terlalu besar... lembut… sempurna.” Jemarinya menekan perlahan di sana, membuatku terperangah, pipi panas terbakar malu.“Jangan…,” bisikku terputus-putus, air mata menetes di pelipis.Dia hanya mengangkat sebelah alis, bibirnya tersenyum miring tapi matanya tetap gelap. “Kau tidak tahu betapa aku menahan ini sej
"Keira."Suaranya tajam. Dalam. Membekukan udara yang semula tenang.Aku mematung di balik semak, kaki yang baru saja hendak mundur terasa membatu. Perlahan, aku menoleh. Rafael berdiri tegak, pandangannya menusuk segelap malam, tepat ke arahku. Aku tak tahu bagaimana dia bisa melihatku di balik bayangan pohon itu, tapi sorot matanya... seakan aku tak punya tempat bersembunyi lagi."Kabur, hm?" Suara itu kembali menghantam, datar, dingin, tanpa nada marah—justru itu yang membuatku semakin takut.Bagaimana dia tahu rencanaku?Sebelum aku bisa bergerak, suara tawa kecil mengiris ketegangan itu.Wanita bergaun merah darah yang tadi memeluk Rafael kini berbalik, matanya menyapaku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menghina. Ia melangkah mendekat, hak tingginya mengetuk bebatuan dengan irama yang membuatku ingin mundur lebih jauh lagi."Jadi ini istrimu, Rafael?" katanya, senyumnya miring, menusuk. "Aku, Dinda. Mantan istri Rafael." Dia memperkenalkan diri dengan angkuh. Fakta ba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.