Chapter 6: Orientasi Siswa Bagian 1

   Pagi ini sangat cerah, beberapa awan nampak bergumul indah menghiasi birunya langit. Suasana sekolah yang harusnya tenang mendadak ramai karena hari ini masa orientasi siswa baru. Beberapa anak dengan seragam sekolah lama masih berkeliaran melihat-lihat isi sekolah baru mereka.

   Frans selaku ketua OSIS terlihat sangat sibuk memberikan arahan pada anggota OSIS lainnya. Ia berjalan kesana kemari sebelum upacara sambutan Ketua Umum sekolah ini berlangsung.

   “Frans, acara akan segera dimulai” kata seorang anggotanya.

   “Rose, arahkan para murid baru untuk segera berkumpul” pinta Frans.

   “Baiklah” Rose kebagian menjadi petugas kesehata bersama Vic berada di garda terdepan.

   Rose segera naik ke atas panggung di tengah lapangan untuk memberikan perintah sedangkan rekan OSIS lainnya terlihat kerepotan untuk menyiapkan acara berikutnya. Hampir semua murid baru sudah berkumpul di lapangan, beberapa lagi masih sibuk dengan urusan masing-masing.

   “Cih, merepotkan” ujar seorang murid baru yang duduk di bangku dekat pohon. Ia masih bergelut dengan peralatan menggambar di pangkuannya.

   “Hai, apa kamu murid baru? Aku akan menuntunmu menuju lapangan” ulur tangan Rose pada murid baru itu.

   “Nggak butuh” ujarnya ketus.

   Gadis berambut merah bersemu oranye panjang itu memasukkan semua alat menggambarnya lalu

berdiri dan meninggalkan Rose menuju lapangan. Vic yang tadinya sedang memamerkan wajah cantiknya pada adik kelas langsung mengampiri Rose yang tengah bengong.

   “Siapa dia, cantik banget Rose? Kok dia langsung pergi?” ujar Vic.

   “Iya benar, dia cantik sekali, tapi sepertinya aku pernah melihat wajahnya. Tapi dimana ya?” kata Rose menerka-nerka.

   “Yang benar? Aku tidak ingat punya adik kelas seperti dia di sekolah lama kita”

   “Benar juga”

   “Rose, Vic” panggil Leo dari arah dekat panggung penyambutan.

   “Ayo kembali” ajak Rose.

   Kedua gadis itu berdiri berjajar dengan anggota OSIS lainnya di pinggir panggung, mereka melihat wajah-wajah baru yang akan mengisi bangku kosong di kelas satu.

   “Mereka manis-manis sekali” ujar seorang anggota OSIS setengah berbisik pada Rose.

   “Benar, lihatlah anak berambut blonde dikuncir dua disana. Dia imut sekali” jawab Rose sambil menunjuk salah seorang dari mereka.

   “Aku dengar dari Frans kalau saudara Danny dan Ben akan bergabung tahun ini” ucap Leo pelan.

   “Hah, serius?” tanya Rose kaget.

   “Benar. Aku, Franklin dan Nicky menghabiskan waktu berkeliling sekolah mencari seperti apa tampangnya” jelas Leo panjang.

   “Kenapa kau tidak meminta formulir murid baru pada Frans saja?” tanya seorang murid lelaki di sebelah Leo.

   “Frans tidak diijinkan memegang data murid baru oleh pihak sekolah” jawab Leo lesu.

  “Seperti apa dia kira-kira ya?” Rose bertanya-tanya.

   “Aku yakin wajahnya tidak jauh berbeda dengan kedua iblis sekolah itu” cibir Vic di sebelahnya.

   “Vic, kamu gak boleh bilang seperti itu” kata Rose menasehati sahabatnya.

   Mata Rose dan Vic kembali melihat-lihat semua murid baru di tengah lapangan, mereka gesit mencari-cari wajah yang sama persis dengan Danny maupun Ben.

   Seorang pria paruh baya datang dari kantor guru dengan beberapa bodyguardnya, pria itu memiliki rambut coklat muda hampir putih memanjang hingga menyentuh coat berbulu yang ia kenakan. Pria tersebut adalah Phantom, seorang pemilik sekolah ini dan kakek dari si iblis Danny dan Ben.

   Wajah kakek Ben tidak jauh berbeda dengannya, hanya saja lebih terlihat menakutkan dan berwibawa. Beberapa murid baru terlihat ketakutan dengan wajah kakek itu.

   “Selamat pagi, anak-anak” sapanya ramah, suaranya sangat serak dan berat.

   “Selamat pagi” sapa mereka kembali.

   “Seperti yang kalian ketahui, sekolah ini memiliki standart yang tinggi untuk menerima murid unggulan. Dan kalian telah menyingkirkan ribuan orang lain yang ingin mendaftar di sekolah ini. Kalian adalah pilihan terbaik kami” matanya melihat satu persatu wajah-wajah baru di depannya, sorot matanya menangkap satu orang yang tengah di carinya.

   “Kalau begitu, saya selaku Ketua Umum resmi membuka kegiatan belajar mengajar tahun ini” ucapnya sebelum turun panggung, riuh tepuk tangan siswa baru mengiringi kepergiannya.

   Frans naik keatas panggung untuk memberikan pengarahan pada mereka “Baiklah, kalian punya waktu sepuluh menit untuk mempersiapkan peralatan yang kalian butuhkan selama tur pengenalan sekolah”

*****

   Beberapa murid baru terlihat sibuk menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan selama kegiatan orientasi berlangsung dalam sepuluh menit.

   “Hai, kamu murid baru kan?” ucap seorang gadis imut bermata biru dengan rambut blonde dikuncir dua.

   Gadis di depannya menatap sekilas padanya dan ikut menyambut jabatan tangan. Kedua gadis berusia dua belas tahun itu saling menatap dan menelisik.

   “Aku Gwen Melody, karena aku sudah mengajakmu bicara maka kamu jadi temanku selamanya. Siapa namamu?” kata Gwen seenaknya.

   “Jes” jawab gadis itu ketus.

   “Jes? singkat benget, gak ada kepajangannya gitu?”

   “Bodo amat” kata gadis itu masih ketus.

   “Jes, kamu lihat deh sekolah ini isinya anak-anak keren. Aku gak sabar mau berteman dengan mereka semua”

   “Hah, bilang aja kalo kamu cari perhatian” gumam Jes.

   “Hai, adik-adik disana. Ayo cepat acara tur sudah dimulai” teriak salah seorang anggota OSIS.

   Jes dan Gwen berdiri mengikuti langkah kakak kelas tadi, tiba-tiba Gwen menarik tangan Jes hingga mereka mendekati salah satu kakak OSIS yang akan memandu acara.

   “Apa'an sih kamu?” bentak Jes keras.

   “Kita ikut tur kelompok kak Frans aja, emang kamu gak tau siapa kak Frans? Semua anak gadis berebut ingin masuk kelompok tur dia” ucap Gwen singkat.

   “Siapapun dia, aku nggak peduli” kata Jes dengan wajah di tekuk.

   “Dia pemain piano di anggota band Dream Boy, mereka artis dan grup music paling berkelas loh Jes dan mereka semua sekolah disini. Kyaaa.. aku nggak bisa membayangkan gimana senangnya tiap hari ketemu orang-orang ganteng”

   “Bodo amat” Jes yang berada di dekatnya terlihat sangat risih dengan semua omongan Gwen.

   “Trus, trus ya, di sekolah ini ada geng paling keren Jes, namanya Black Devil. Geng mereka isinya anak konglomerat, pangeran kerajaan, artis terkenal dan atlet nasional”

   Jes melihat kearah sudut sekolah, dia agak terganggu dengan sepasang mata yang

tengah memperhatikan dia sedari dia memasuki halaman sekolah. Orang itu memberikan kode pada Jes dan berlalu begitu saja.

   “Tapi nih ya, aku dengar mereka terkenal berandalan di luar sekolah. Mereka suka balapan liar dan berantem” Gwen mengeluarkan notebook dari dalam tasnya dan disodorkan pada Jes.

   “Apa ini?” tanya Jes kesal.

   “Daftar member Black Devil yang sudah aku kumpulkan”

   “Gila kamu” kata Jes kaget.

   “Dengar-dengar saudara terakhir dari kak Danny dan kak Ben akan bergabung tahun ini”

   Jes mengerutkan alisnya mendengar ucapan Gwen, sejenak kemudian ia lanjut membaca semua data member Black Devil yang tertera disana.

   “Dari tadi aku cari-cari bagaimana tampangnya, aku yakin wajahnya tidak jauh beda dari kak Danny” ujar Gwen menerka-nerka.

   “Baiklah, adik-adik. Hari ini saya sendiri yang akan memandu kalian untuk tur sekolah, nama saya Frans Belford dan kalian cukup panggil saya Frans saja” ucap Frans ramah.

   “Kyaaa.. kyaa” jerit anak perempuan yang ia pandu.

   “Maaf kak, boleh saya ikut bergabung dengan kelompok kakak? Kelompok yang lain sudah berangkat” ucap seoarng murid lelaki berwajah imut.

   “Iya silahkan” kata Frans ramah.

   “Kalau dilihat dari jumlahnya sepertinya kelompok saya yang paling banyak jumlahnya” kata Frans bercanda.

   “Soalnya kakak ganteng sih” jerit salah seorang gadis dari belakang dan membuat Frans tertawa renyah.

   “Narsis” gumam Jes sebal.

   “Baiklah kalau begitu mari kita mulai saja tur sekolah ini” Frans mulai menjelaskan.

   Tur sekolah yang tengah dipecah beberapa kelompok ini dilaksanakan dengan baik dengan managemen waktu yang tepat pula.

*****

   Sementara itu di sebuah bangunan besar dan mewah yang terletak di belakang gedung sekolah, beberapa orang anak laki-laki berkumpul disana tanpa menghiraukan acara merepotkan dari sekolah. Mavin melihat Ben dan Zavier sedang membaca buku dengan tenang di sofa lalu ia mendekati Danny yang sedang mengangkat barbel di ruang olahraga.

   “Ketua, aku dengar adik anda akan bergabung di sekolah tahun ini”

    Albert dan Robert sontak menghentikan kegiatan bermain Play Station dan ikut menghampiri Danny.

   “Benar begitu, Ketua?” tanya mereka bersamaan.

   Danny mengangguk tanpa mengentikan kegiatannya maupun memperhatikan mereka bertiga.

   “Kenapa anda tidak memberitahu apapun pada kami?” tanya Albert penasaran.

   “Kalau ku beritahu, pasti kau akan mencarinya detik itu juga” ucap Ben dingin masih setia membaca buku di sofa.

   “Tetap saja, bos. Kami ingin tahu wajah adik anda seperti apa” gerutu Robert.

   “Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau sudah bertemu dengan dia?” tanya Danny dingin, tatapan matanya mengisyaratkan ketidaksukaannya.

   Zavier yang sedari tadi membaca buku mulai memperhatikan obrolan Danny dan lainnya.

   “Aaa, tidak ada ketua, silahkan lanjutkan kegiatan anda yang tertunda” ujar Albert dan Robert bersamaan lalu berlari ketakutan meninggalkan Danny yang akan mendampratnya.

   ‘Jadi berita itu memang benar, dia sudah datang’ batin Zavier menatap langit cerah di luar jendela markas.

   Brakk..

   Pintu markas terbanting keras membuat para penghuninya terkejut, Danny berjalan santai saat mengetahui saipa yang datang. Ben pun sama, ia menutup bukunya lalu berdiri menghampiri orang tadi.

   “Dimana cucu kesayanganku?” tanya Phantom ketika memasuki markas Black Devil.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status