2. Dorongan Rasa Takut

“Ya, ada apa Yeni?” tanya Luna pada Yeni yang menghubunginya melalui sambungan telepon. Hari ini, Luna mendapatkan libur dari pekerjaan utamanya di restoran, karena itulah Luna memilih untuk menghabiskan waktunya untuk belajar, mengingat jadwal wawancaranya sudah dekat. Namun, di tengah-tengah kegiatan belajarnya, ternyata Yeni menghubunginya. Tidak ada alasan bagi Luna untuk menolak telepon dari kakak tingkat yang sudah sering membantunya tersebut.

“Apa nanti malam bisa kembali datang ke hotel? Pihak hotel kembali membutuhkan pelayan tambahan,” ucap Yeni.

Luna pun otomatis teringat dengan pria bernetra biru yang memberikan kesan mendalam disaat pertama kali bertemu. Luna mengurut pelipisnya, ia takut jika dirinya akan kembali bertemu dengan sosok pria pemilik netra biru langit yang menyorot tajam. Luna takut, jika pikirannya lebih menggila daripada terakhir kali, dan lebih dari itu, Luna takut jika dirinya akan tertimpa masalah. Luna merasa berhubungan dengan pria itu bukanlah pilihan yang baik, tetapi Luna juga perlu pekerjaan tambahan. Setidaknya, hingga dirinya mendapatkan pekerjaan tetap sesuai dengan titel yang ia miliki.

“Luna? Apa kamu masih di sana?” tanya Yeni lagi memastikan jika lawan bicaranya masih berada di ujung sambungan.

Luna berdeham dan menjawab, “Ya, aku di sini.”

“Jadi bagaimana? Apa kamu bisa? Jika iya, aku akan segera mengatakannya pada atasanku. Untuk bayarannya, masih sama dengan bayaran sebelumnya,” ucap Yeni menjelaskan.

Luna mengurut pelipisnya. “Sebelum aku memutuskan, apa aku boleh bertanya satu hal dulu?” tanya Luna.

“Ya. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Yeni.

Apa penghuni kamar 444 sudah check out? Ingin sekali Luna bertanya seperti itu. Namun, Luna tersadar jika dirinya bertanya seperti itu, sudah dipastikan jika Yeni akan memberikan pertanyaan lain yang mungkin akan berujung pada Luna yang menceritakan apa yang mengganggunya. Hanya saja, karena Luna tidak terlalu dekat, dan sebenarnya tidak ingin terlalu dekat dengan siapa pun, Luna memilih untuk menyimpan apa yang akan ia tanyakan. Toh, Luna kini sudah meyakinkan diri, jika dirinya tidak akan lagi bertemu dengan sosok pria bernetra biru yang misterius itu.

“Ah, tidak. Aku hanya terpikirkan dengan pekerjaanku yang lain. Aku akan mengambil pekerjaan ini. Terima kasih karena sudah menghubungiku. Aku akan datang tepat waktu,” ucap Luna.

Sambungan telepon pun terputus, saat itulah Luna menatap buku catatannya yang terbuka di atas meja belajarnya. Entah kenapa, Luna sama sekali tidak bisa mengenyahkan sensasi serta bayang-bayang suara rendah beraksen yang membuatnya bergetar oleh sensasi yang terasa sangat asing. “Ini gila, bagaimana bisa aku terbayang-bayang hingga seperti ini? Padahal itu hanya pertemuan singkat, dan aku sendiri ia tidak akan ingat dengan apa yang ia katakan padaku,” ucap Luna pada dirinya sendiri.

Benar-benar, Luna tidak habis pikir kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Ia bertanya-tanya, kenapa dirinya bisa merasakan hal seperti ini? Padahal, Luna dan pria itu hanya beristeraksi beberapa saat dan itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Normalnya, harusnya Luna sudah melupakannya, atau setidaknya tidak lagi terbayang dengan sosoknya dominan dan penuh dengan pesona yang sanggup menjerat siapa pun yang melihatnya dalam sekali pandang.

Luna pun menghela napas. Ia bangkit dari duduknya dan membereskan meja belajarnya. Saat ini Luna harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke hotel. Meskipun pesta akan berlangsung nanti malam, Luna tetap harus berada di hotel sejak siang hari. Karena Luna yang bekerja sebagai pelayan tambahan tetap saja harus membantu untuk menyiapkan pesta nanti malam.

“Ayo berpikir positif. Ayo yakin jika aku tidak akan bertemu dengan pria itu,” ucap Luna lalu segera beranjak menuju kamar mandi di rumah sepetaknya yang berada di pinggiran kota. Rumah kecil peninggalan orang tuanya yang sudah lama berpulang.

***

Luna sekali lagi memastikan cepolan rambutnya benar-benar ketat agar tidak lepas saat dirinya bekerja. Setelah itu, Luna memoleskan liptint pada bibirnya yang agak pucat. Sesudah mematiskan penampilannya pantas, Luna pun segera beranjak untuk ke luar dari ruang ganti dan melaksanakan tugas-tugas yang sudah diberikan. Luna berdeham lalu melangkah menuju aula pesta. Meskipun terlihat fokus pada pekerjaannya, dari sudut matanya Luna memperhatikan sudut-sudut aula pesta. Luna paranoid. Ia takut jika dirinya kembali bertemu dengan pria bernetra biru itu.

Namun, Luna menghela napas lega karena dirinya sama sekali tidak melihat siapa pun. Luna berusaha untuk lebih rileks dan melaksanakan tugasnya dengan fokus. Perempuan satu itu tampak memasang senyuman yang cantik. Senyuman yang sebenarnya sanggup membuat para pria yang melihatnya jatuh hati. Sayangnya, karena Luna yang selalu menutup diri untuk memulai hubungan dengan para pria, sampai saat ini pun Luna tidak pernah menjalin hubungan serius dengan pria manapun.

Tanpa terasa pesta berlanjut begitu saja tanpa ada satu pun hal yang membuat Luna terancam. Saat ini, Luna tengah menertawakan dirinya sendiri karena sudah berpikiran sangat jauh dan sampai merasa paranoid. Kini, Luna mencoba untuk berpikir jika pertemuannya dengan pria itu hanyalah pertemuan yang tidak sengaja. Tidak ada ikatan takdir di antara mereka, dan pertemuan mereka sebelumnya hanyalah takdir yang sedikit bersinggungan.

“Luna, kenapa kamu melamun?” tanya Yeni berbisik pada Luna yang sebenarnya tengah membereskan gelas-gelas kotor.

“Ah, tidak. Aku hanya merasa lelah. Kapan pesta akan berakhir?” tanya Luna.

“Sekitar setengah jam lagi. Tenanglah, kita bisa segera pulang,” ucap Yeni.

Luna mengangguk. Ia memang tidak berbohong. Saat ini dirinya sangat lelah. Rasanya, ia ingin segera pulang dan berbaring di ranjang kesayangannya. Sepertinya, Luna tidak boleh lagi mengambil pekerjaan sampingan selama mempersiapkan diri untuk wawancaranya. Luna berpikir jika dirinya pasti akan benar-benar tumbang dan melewatkan wawancara yang sudah sangat ia tunggu-tunggu. “Aku pergi dulu,” ucap Luna sembari membawa gelas-gelas kotor menuju area dapur.

Karena area dapur memiliki jalur tertutup yang terhubung dengan aula pesta, maka Luna bisa mencapai dapur lebih cepat. Ia segera meletakkan gelas di sana untuk kembali ke aula pesta. Namun, karena jalun cepat tersebut tengah digunakan oleh rekannya yang tengah membawa meja dorong berisi piring kotor, Luna pun memilih untuk mengambil jalan luar yang bebas diakses oleh siapa pun. Luna merasakan udara malam yang segar menyentuh kulit wajah dan tengkuknya yang memang tidak tertutupi oleh apa pun. Terasa nyaman bagi Luna.

“Ah, rasanya aku ingin di sini lebih lama,” ucap Luna pada dirinya sendiri, dan tentu saja tidak berharap ada suara yang menyahuti dirinya.

Sayangnya, harapan Luna tesebut terpatahkan. Kini, Luna merasakan embusan napas panas yang menyentuh tengkuknya yang mulus. Lalu sebuah suara yang selama ini terngiang-ngiang di kepalanya kembali terdengar mengetuk telinganya. “Halo, Manis. Kita bertemu lagi,” bisik suara rendah dengan aksen aneh itu.

Luna tidak berani menoleh. Namun ia sudah bisa membayangkan, jika pria bernetra biru itu tengah berdiri begitu dekat degan punggungnya. Saking dekatnya, saat ini saja Luna sudah bisa merasakan suhu panas tubuh pria itu yang merambat pada punggungnya. Namun, suhu panas ini sama sekali tidak membuat Luna berkeringat atau kepanasan. Ada sensasi lain yang terasa oleh Luna, dan membuat Luna bergetar oleh sensasi yang tidak ia kenal tersebut.

“Bagaimana? Apa kau masih mengingat apa yang aku peringatkan beberapa hari yang lalu? Aku sama sekali tidak main-main dengan ancamanku, Nona. Coba sebutan namaku. Jika salah, malam ini juga kita akan berbagi ranjang yang sama,” bisik suara rendah itu lagi membuat Luna tiba-tiba terserang rasa cemas dan rasa takut.

Rasa cemas tersebut rupanya membuat Luna tidak bisa berpikir realistis, yang ada Luna mengambil langkah seribu. Luna tidak peduli jika tumitnya terluka karena berlari dengan sepatu hak tinggi. Hal yang terpikirkan oleh Luna adalah, tidak akan pernah menginjakkan kakinya di hotel laknat ini lagi. Sementara itu, Dominik yang tertinggal di belakang hanya terdiam dan menatap kepergian Luna dengan tatapan dinginnya. Wajahnya yang semula tidak berekspresi kemudian dihiasi seringai tipis.

“Sayangnya, meskipun kau berlari seperti itu, kita akan tetap bertemu lagi. Aku sendiri yang akan memastikan jika kita akan bertemu lagi, Luna.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status