Share

PART 1

****

Varrel Damington memasuki apartemen mewahnya dengan santai, selintas ia bisa melihat gadis itu meringkuk di meja belajarnya. Ia tersenyum tipis, tadi malam ia tidak pulang ke apartemennya karena istrinya Bella menuntutnya untuk pulang dan makan malam bersama. 

Perlu digarisbawahi jika Varrel rela menyewa apartemen mewah lain hanya untuk menyembunyikan kekasihnya, Lea Kalilea. Mereka bisa tinggal bersama kapanpun Varrel mau. Pria itu juga yang menanggung semua kebutuhan Lea dari uang saku sampai uang kuliah. 

Kenapa Varrel mau melakukannya? Karena yang Varrel inginkan adalah tubuh gadis itu. 

Varrel bukanlah pria cassanova, ia pria yang baik-baik. Namun setiap melihat Lea, ada sesuatu dalam jiwanya yang sepertinya "lapar dan haus" akan sosok Lea. Bahkan Bella, istrinya tidak bisa memberikan perasaan yang sama kepadanya sama persis seperti yang Lea berikan padanya. 

Senyum manis Varrel Damington masih mengukir, perlahan ia mendekati Lea dan mengusap pundaknya dengan lembut. Ia sengaja datang ke apartemen sepagi mungkin karena ia tahu, Lea akan menunggunya hingga ketiduran di meja belajarnya. 

"Lea..." bisiknya guna membangunkan sosok Lea yang masih meringkuk beralaskan tangan.

Varrel mengusap rambut halus gadis itu penuh sayang hingga akhirnya sang gadis membuka mata dan mulai mengerjapkan-ngerjapkan kedua matanya yang masih pedas. 

"Arrell...." bisik Lea diantara sadar dan tidak sadar seraya berusaha menegakkan lehernya yang masih lemas. Matanya masih mengatup karena ia baru saja tertidur selepas dini hari hanya karena menunggu Varrel pulang. 

Arrel, nama panggilan manja Lea pada Varrel. Pria itu bahkan tak keberatan jika gadis muda yang usianya 7 tahun di bawahnya itu memanggilnya seperti itu. 

Dengan masih menyunggingkan senyum, Varrel mendekatkan wajahnya pada Lea. Tanpa merasa malu, Varrel menangkup wajah Lea yang masih setengah tertidur lalu menyerang bibir Lea penuh gairah. 

"Mnn....." Lea berusaha mengelak namun Varrel terus menyerangnya. 

Ciuman pagi itu cukup memabukkan bagi Varrel, ciuman yang tidak sepanas ia lakukan dengan Bella, istrinya sendiri. Entah kenapa jika dengan Lea semua terasa begitu menyenangkan. 

"Bangunlah... Kau tidak bisa tidur seperti itu, Lea." bisiknya lagi setelah habis melumat bibir mungil Lea. 

"Aku masih mengantuk." bisik Lea lirih seraya mencoba membuka matanya yang terasa begitu perih. 

"Sepertinya kau perlu olahraga dulu." ucap Varrel nakal lantas mengangkat tubuh Lea yang kecil menuju ke ranjang. 

Lea hanya terdiam dan menurut tatkala tubuh ringannya terhempas ke ranjang yang empuk di seberang meja belajarnya. Ia hanya menatap biasa tatkala Varrel melonggarkan dasinya dan mulai menaiki tubuhnya seakan sedang turn on. 

"Kau harus bekerja, Arrel. Kau harus mencarikanku uang kuliah." ucap Lea lirih ketika Varrel mendekatkan wajahnya. 

"Berapa uang yang kau inginkan? Bayar dulu dengan tubuhmu maka akan kuisi penuh kartu kreditmu dengan uangku2." jawab Varrel enteng lantas mulai menyerang bibir mungil di depannya. 

"Arrel, kau sudah rapi jangan membuat penampilanmu menjadi lusuh. Sebaiknya kau segera mencari uang untukku." ucap Lea sembari membungkam mulut Varrel. 

Pria itu menatap Lea dengan seksama, perlahan ia mengalihkan tangan Lea dan menguncinya dengan rapat. Sejenak mereka saling pandang hingga akhirnya.... 

"Aku bisa mandi lagi atau aku akan berangkat siang. Kau tahu, aku tidak bisa berjauhan denganmu Lea. Berapapun uang yang kau inginkan pasti akan kuberikan padamu. Namun aku mohon jangan sekali-sekali kau menolak keinginanku." bisik Varrel seolah memberi peringatan. 

Lea terdiam, ia tak bisa berkata-kata lagi ketika pria tampan di atasnya kembali mengecupi wajahnya seakan penuh rindu. Ia juga menurut tatkala tangan nakal Varrel terus menjelajahi tubuh mungilnya hingga akhirnya berhasil melucuti sweeternya. 

"Kau yakin, Arrel?" tanya Lea ragu ketika Varrel melucuti pakaiannya hingga setengah telanjang. 

"Kenapa? Apa kau keberatan? Apa kau sudah tak menyukaiku? Ayolah, kita sudah melakukannya berkali-kali, Lea. Aku merasa ketagihan padamu." bisik Varrel lirih lalu mengecup leher Lea penuh nafsu. 

"Bukankah tadi malam kau dan Bella...."

"Aku hanya bernafsu denganmu, bocah. Jangan menyebut nama Bella lagi di ranjang ini, kau mengerti?!" peringat Varrel tanpa berhenti mencumbui tubuh Lea. 

Gadis itu terdiam, ia hanya mengangguk pelan dan mulai mengikuti permainan yang Varrel ciptakan pada tubuhnya. Bahkan sepagi ini, Varrel tanpa rasa malu meminta jatah kepadanya. 

Pria itu... Pria yang memberi kehidupan baru bagi Lea. Di dunia ini apa yang bisa diharapkan oleh gadis yatim piatu seperti dirinya. Gadis yang ditinggal pergi oleh Ibunya dan harus turut menghidupi ketiga adiknya yang masih sekolah. 

Kehidupan Lea sangat pelik, kerja paruh waktu pun tak cukup membiayai hidupnya hingga akhirnya Tuhan menawarkan Varrel sebagai solusinya. Hanya pria itu yang bisa menolongnya, pria yang sanggup menanggung hidupnya dan bersedia menampung benalu seperti dirinya. 

"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Varrel ketika sadar bahwa Lea terus menatapi wajah rupawannya. 

"Kau... Kau sangat tampan." bisik Lea tanpa melepas pandangannya membuat wajah Varrel memerah. 

"Kau salah memujiku, Lea. Harusnya kau memuji keperkasaanku bukan ketampananku." ucap Varrel lirih. 

"Aku jujur, Arrel." dengus Lea lirih setengah berbisik sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Varrel. 

"Tapi kau tak pernah jujur soal kejantananku, Lea." ucap Varrel lagi membuat Lea kembali membungkam mulutnya. 

"Aargh..." pekik Lea lirih sembari meringis menahan sakit ketika sesuatu di bawah sana sedang menusuk dan menghimpitnya. 

"Kenapa? Apa masih sakit? Apa aku terlalu kencang? Bicaralah padaku Lea, mendesahlah!" bisik Varrel di telinga Lea penuh nafsu. 

"Kau selalu terburu-buru." dengus Lea sambil memukul kecil pundak Varrel Damington. 

"Oh ya? Itu karena aku sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi, Lea. Tubuhku hanya mau denganmu bukan dengan yang lainnya." bisik Varrel lalu menciumi leher Lea. 

Gadis yang sedang ia himpit, hanya terdiam dan menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakitnya. Hal itu membuat seorang Varrel Damington, pria yang mengenal sekali dunia percintaan menjadi sebal-sebal gemas. Tanpa peduli dengan wajah Lea yang polos dan penuh rasa sakit itu, ia menghentak lebih kencang membuat sang gadis hampir menjerit. 

"Aaaarghh.... Aarrell...." 

Varrel tersenyum tatkala Lea mulai menyukai permainan panasnya. Wajah gadis itu memerah, menunjukkan sikap imutnya membuat Varrel makin gemas dan ingin menghabiskannya pagi ini. 

"Arreeelll....." ceracau Lea mulai tak karuan. Varrel tak menjawab, ia semakin meningkatkan hentakannya dan membuat Lea semakin tak karuan. 

"Aarrell... Aku.. Mohon... Jangan sekeras itu." ucap Lea hampir tak terdengar. 

Justru Varrel terus bergairah, melihat Lea tak berdaya seperti itu membuat jiwa buasnya terus meledak liar. 

"Aarreellll....."

"Mmnnn....." mulut Lea terkunci oleh mulut Varrel. Gadis itu hanya bisa menggelepar tak berdaya di bawah permainan Varrel Damington. 

Pria itu selalu mencicipi tubuhnya siang malam dan Lea tak keberatan sama sekali. Mungkin ia bodoh namun hanya inilah satunya cara ia bisa bertahan hidup dengan adik-adiknya. Menjadi hina dan begitu buruk di masyarakat. 

Lalu jika ia tidak begini, siapa lagi yang harus ia andalkan? 

"Lea... Uugh... Aku...." desah Varrel ketika ia sampai ke puncaknya. 

"Arrel... Aku tidak mau...."

"Tapi aku mau...."

"Arreell....."dengus Lea dengan kesal ketika Varrel dengan sengaja menumpahkan benih terlarangnya. 

"Aku masih kuliah, aku masih memikirkan adik-adikku." ucap Lea dengan wajah sesal. 

Varrel tersenyum tipis, tubuhnya berpeluh hebat. Perlahan ia mengusap wajah imut Lea Kalilea. 

"Aku tahu dan jika kau hamil, aku akan menikahimu." bisik Varrel lembut. 

"Apa? Kau bercanda."

"Tidak, Lea. Aku akan menikahimu, serius. Apa kau mulai meragukan keseriusan Varrel Damington?"

Lea menggeleng pelan membuat Varrel kembali mengusap pipi imut Lea dan mencubitnya gemas. 

"Bagus, Lea."

"Tapi ada Bella...."

"Ada kamu di hatiku." sahut Varrel membuat Lea kembali membungkam dan menatap mata Varrel. 

"Meskipun ada Bella, ada orangtuaku... Tetaplah di sampingku, jangan pernah melepas genggamanku ataupun mencoba pergi dariku. Jangan pernah sekalipun kita akhiri hubungan ini."

****

"Cari tahu soal gadis ini!" perintah Bella dengan wajah memerah ingin menangis. 

Bella Brandon, wanita yang baru 2 bulan menjadi nyonya Varrel Damington hanya bisa melamun dan terus melamun tatkala suaminya terus menjauhinya. Selama dua bulan ini ia hanya sesekali disentuh oleh Varrel Damington. Itupun dalam keadaan marah ataupun sedang mabuk. 

Ketika ia tahu bahwa suaminya ada main belakang, hatinya hancur bukan kepalang. Ia tahu bagaimana perasaannya saat ini, ia adalah wanita baik dan terhormat lalu kenapa ada saja wanita lain yang tega kepadanya?!

Bella adalah orang yang murah hati meskipun ia begitu lemah dan gampang menangis, ia juga bukanlah orang yang suka menyakiti orang lain. Lalu kenapa Varrel tega memperlakukannya seperti ini? 

"Tolong Paman, selidiki gadis ini! Aku ingin cari tahu soal gadis ini." pinta Bella lirih sembari menahan airmatanya yang mau keluar. 

"Anda yakin, Nyonya?" tanya Paman Henry si sopir pribadi Bella seraya menerima foto gadis bersama Varrel dari tangan Bella. 

"Ya, Paman. Aku harus tahu semuanya, aku harus tahu kenapa ia tega merebut Varrel dariku?! Aku harus tahu segalanya." tutur Bella bersikeras lalu meneteskan airmatanya yang bening. 

"Saya harap anda tegar, Nyonya." hibur Henry sedih lalu bangkit dan pergi membawa foto itu bersamanya. 

Bella terdiam lalu terisak sendiri. Beberapa hari lalu tanpa sengaja ia melihat-lihat isi ponsel suaminya dan menemukan foto itu. Bagi Bella daripada ia mati berdiri karena memikirkan foto itu, alangkah baiknya jika ia mencari tahu sendiri siapa wanita itu. 

"Sayang sekali, kenapa usia semuda itu kau gunakan waktumu hanya untuk menggaet suami orang? Apa tidak ada pria lain dalam hidupmu? Lalu kenapa harus suamiku? Kenapa Varrel? Kenapa??"

****************

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status