2 - Pergi

"Kamu menguping pembicaraan Ayah?" desis Darma, rahangnya mengetat keras.

Starla diam tidak menjawab. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan Darma dengan Pak Danu, atasan Darma yang terjadi melalui telpon. Tapi saat itu, Starla baru pulang kerja. Seperti biasa, gadis itu akan mencari Darma untuk memberitahukan bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat. Tapi yang didapati oleh Starla justru pembicaraan itu.

"Ayah tidak pernah mengajari kamu menguping, Starla!" tegas Darma murka. "Sejak kamu pacaran dengan Bima, dia memberikan pengaruh-pengaruh yang buruk buat kamu! Kamu jadi sering pulang terlambat! Telepon sampai larut malam hingga pagi harinya bagun kesiangan. Dan kamu bahkan ..." Darma menggelengkan kepala. "Kamu mengabaikan semua adat istiadat dan budaya asli kita, mengabaikan didikan Ayah selama ini dengan cara merusak kehormatanmu sebagai perempuan pada laki-laki yang bukan suami kamu!"

"Jangan salahkan Bima!" seru Starla. "Dia tidak bersalah!"

"Oh ya? Berarti selama ini yang kamu lakukan adalah sifat asli kamu? Kamu mau menegaskan jika selama ini kamu anak yang pembangkang?!" nada Darma mulai meninggi.

Starla tidak sanggup berkata-kata. Ia bingung dengan semua ini. Sebenarnya apa yang sekarang diperdebatkan antara dia dan sang ayah?

"Bukan itu, Ayah," geleng Starla pelan. "Starla cuma ..."

"Cuma apa?!" potong Darma. Ia menatap putri semata wayangnya dari ujung rambut hingga kaki. Wajah Starla masih merah akibat menangis dalam waktu yang cukup lama. Hati Darma sakit, tapi apa yang diperbuat anaknya tidak termaafkan bagi dirinya.

"Kamu membuat Ayah malu!" tukas Darma.

Hati Starla menjerit, mengatakan bahwa ia tidak ingin mendengar kalimat-kalimat menusuk dari Darma lagi. Tenggorokannya sakit, matanya berkaca-kaca menahan tangis.

"Jika saja Ayah juga memikirkan perasaan Starla, mungkin Starla nggak akan berbuat hal seperti ini," suara Starla serak.

"Apa maksud kamu?"

Starla menatap Darma, air mata yang tadi dia bendung agar tidak keluar kini menetes kembali membasahi pipinya yang masih sembab.

"Pak Danu, Ayah. Apa maksud Ayah ingin menikahkan aku dengan dia?! Ayah mau aku jadi istrinya yang keempat?"

"Danu lebih baik daripada Bima!"

Jawaban Darma membuat bibir Starla menganga. Ia menatap tidak percaya pada sang ayah. "Starla nggak tau jalan pikiran Ayah."

"Kamu tidak perlu tau karena Ayah melakukan semua ini untuk masa depan kamu!"

"Masa depanku?!" Starla berseru murka. "Nggak ada masa depan jika aku harus tinggal di neraka!"

"Starla!"

"Jika Ibu masih hidup, dia pasti akan kecewa sama Ayah."

Darma menggeram. "Tidak usah bawa-bawa Ibu kamu!"

Starla mengangguk lalu mengusap pipinya kasar. "Asal Ayah tau, Starla tidak pernah menyesal melakukan itu semua. Karena bagi Starla, lebih baik Starla menjual diri daripada harus menikah dengan pria beristri!"

"Danu sudah menceraikan tiga istrinya dan kamu akan menjadi satu-satunya!"

"Starla nggak peduli! Pria macam apa yang dengan mudah menceraikan istri-istrinya? Oh, apa Ayah mau Starla jadi janda dengan cepat? Ayah mau Starla mati saja menyusul Ibu?"

PLAK!!

Tamparan itu terjadi begitu cepat. Starla melirik tidak percaya pada Darma. Seumur-umur, baru kali ini ayahnya menampar pipinya. Sebenarnya apa yang salah? Siapa? Starla benar-benar tidak mengerti.

"Mulai sekarang kamu bukan putri Ayah! Pergi dari sini dan lakukan semua yang kamu mau!"

Setelah berkata demikian, pria bertubuh tegap di usia yang sudah hampir kepala lima itu meninggalkan kamar Starla. Tak lupa, ia menutup pintunya keras, tanda jika ia benar-benar marah dan kecewa pada Starla.

Starla menatap pintu putih kamarnya dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, frustasi. Tubuh Starla pun meluruh ke lantai. Ia menutup wajah dan berteriak. Sekali lagi Starla menangis demi meluapkan rasa sesak di dadanya.

***

"Maafin aku. Seharusnya aku nggak pernah ngelakuin hal itu sama kamu."

Bima bersimpuh di depan Starla yang duduk di atas sofa. Pria beriris mata hitam itu mendongak, menatap wajah Starla dengan perasaan bersalah campur menyesal. Bima tidak menyangka jika kebodohannya semalam membuat sang kekasih diusir dari rumah.

"Ini bukan salah kamu," lirih Starla sembari memaksakan sebuah senyum di wajahnya.

"Tapi tetap saja. Jika aku bisa menahan diri buat nggak nyentuh kamu lebih...,"

"Bima,"

" ...mungkin ini semua nggak akan terjadi sama kamu."

Starla menghela napas. Wajahnya menunduk karena posisinya jauh lebih tinggi daripada pria itu. Tangan Starla bergerak untuk mengelus rambut Bima yang disemir merah dan dikuncir gulung di belakang kepala.

Perbuatan Starla membuat Bima menutup mata karena merasa nyaman. Menggeser lutut agar lebih dekat dengan Starla, Bima merebahkan kepalanya di atas paha Starla.

"Maaf," gumam Bima.

Starla diam, tangannya tetap mengelus lembut kepala Bima.

"Boleh aku tinggal di sini?" tanya Starla setelah beberapa saat.

Mendengar hal itu, sontak Bima mengangkat kepala. Ia mengerjab. "Maksud kamu tinggal sama aku?"

Starla mengangguk. "Seenggaknya sampai aku dapat kos yang murah. Mungkin sekitar satu minggu."

Bima berdiri, lalu mengambil tempat duduk di samping Starla. "Kamu nggak perlu cari kos. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau." Bima mengambil tangan Starla dan meremasnya lembut. "Karena yang sekarang terjadi sama kamu adalah tanggung jawabku."

Starla tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Bima. Matanya menyapu rumah kontrakan yang terbilang sangat kecil itu. Banyak barang-barang yang berkaitan dengan fotografi berserakan di mana-mana. Kamera, lensa, lampu sorot dan apapun itu yang Starla tidak tau nama barangnya. Bima memang menggunakan rumah ini sebagai tempat tinggal sekaligus studio pribadinya.

"Terima kasih," gumam Starla.

Bima tersenyum, mengelus kepala Starla penuh kasih sayang. "Apapun buat kamu," jawabnya. "Dan maaf aku nggak bisa memberikan kamu lebih dari ini."

"Ini sudah lebih dari cukup."

Perasaan Starla yang kacau sejak ia meninggalkan rumah kini menjadi lebih baik. Starla yakin bahwa keputusan yang ia buat tidak salah. Bima adalah pria baik hati, hanya saja Darma belum melihat sosok tersebut dari pacarnya ini.

Jika waktu bisa diputar kembali, Starla yakin akan melakukan hal yang sama. Gadis itu akan tetap pada prinsip awal yang meskipun mungkin orang lain akan mengatakan dia bodoh, Starla tidak peduli. Yang dia tau, dia berhasil keluar dari perjodohan yang akan diatur oleh Darma untuknya.

"Oke, kalau gitu, ayo bawa masuk koper kamu ke kamar." Bima berdiri, menarik tangan Starla. "Kalau kamu nggak mau tidur sekamar sama aku aku bisa tidur di...,"

"Nggak apa-apa," sela Starla cepat. Kontrakan Bima memang hanya punya satu kamar. "Kita tidur satu kamar aja."

Sudut bibir Bima terangkat miring, tatapannya berubah menjadi tatapan menggoda.

"Terdengar lebih baik."

Starla tertawa.

Benar, ia yakin keputusannya tidak salah karena telah memilih Bima.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status