7- Kebencian

Pagi ini menjadi sangat berbeda bagi Starla. Dalam semalam saja kehidupannya sudah berubah 180 derajat. Jika biasanya di jam ini Starla sudah selesai mandi dan sedang bersiap-siap berangkat, kali ini gadis tersebut sedang meringkuk lemah dibalik selimut tebal yang dia tarik dengan sisa tenaganya.

Pandangan Starla kosong, menatap tirai putih jendela yang masih tertutup tirai berwarna putih. Matanya terasa panas dan bengkak karena semalaman menangis. Mungkin baru beberapa jam yang lalu air mata itu berhenti dan berubah menjadi sebuah tatapan tak berarti. Starla, meskipun dia merasa kepalanya mulai berdenyut karena tidak bisa tidur, masih berusaha tetap sadar.

Suara-suara keributan dari luar kamar tidak mengusik Starla sama sekali. Dia justru mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Starla mencoba memejamkan mata, namun baru beberapa detik, suara pintu kamar sudah terbuka.

Starla sama sekali tidak peduli siapa yang sedang masuk. Apapun yang akan terjadi padanya, dia sudah tidak mau memikirkan. Karena sekarang Starla merasa telah menjadi sampah kotor menjijikkan yang pantas untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah.

"Starla...,"

Tubuh Starla menegang mendengar suara berat yang familiar. Meski begitu dia memilih untuk tetap memejamkan mata, sementara tangannya semakin erat meremas selimut yang menutupi tubuhnya.

"Starla...,"

Suara itu terdengar parau dan terpukul. Starla dapat merasakan jika pria itu sedang duduk di atas kasur dan tengah menatapnya. Lalu dengan tidak malu, Bimo mendaratkan sebuah elusan ringan di puncak kepala Starla, merapikan anak rambut Starla yang berantakan.

Tidak! Bukan hanya rambut! Sekarang Starla tampak mengenaskan dan luar biasa kacau. Hati Bimo terasa remuk melihatnya. Ada rasa sesal yang besar dan amarah pada dirinya sendiri yang ingin dia teriakkan. Namun nasi sudah menjadi bubur. Bagaimanapun dia tidak bisa memutar kembali waktu.

"Starla," bisik Bima sekali lagi. Dia tau Starla tidak sedang tidur. Karena sekarang dia melihat kelopak mata Starla sedang mengeluarkan air mata meski masih dalam keadaan terpejam. Dan sekali lagi Bima merasa sesuatu menikam jantung dan hatinya. Melihat hal ini membuat jiwa Bima terkoyak.

Bima mengeratkan rahang, menahan amarah yang kian menjadi. Pada Lion, Intan, dirinya sendiri dan semua keadaan ini. Dia telah menghancurkan gadis yang dia cintai demi menyelamatkan Intan, kekasih masa lalu yang sempat menghilang tanpa jejak.

Kemarin saat Intan menghubungi, Bima menjadi senang sekaligus khawatir. Dan saat Bima menemukan gadis itu, yang baru dia tau disekap oleh salah seorang mafia narkotika di Indonesia karena hutang Ayahnya yang menumpuk, dia tidak tahan untuk mengajaknya pergi.

Bima hanya ingin menyelamatkan Intan.

"Ayo bersihkan tubuhmu," ucap Bima sekali lagi.

Karena Starla tetap tidak merespon, Bima akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Pria itu menyibak selimut Starla dan hatinya semakin tersayat melihat tubuh putih Starla mempunyai banyak jejak kemerahan.

Pada kedua pergelangan tangan dan kaki Starla, Bima melihat sebuah garis merah secara nyata hasil dari sebuah ikatan yang sangat kencang. Leher hingga pahanya penuh dengan bekas gigitan yang sengaja ditinggalkan oleh para penjahat itu. Perut, lengan, bahu, dada, bokong, semua memerah. Bima tidak dapat membayangkan betapa kasar mereka memperkosa Starla semalam.

Ini semua karena kebodohannya! Bagaimana dia bisa percaya jika Lion tidak akan menyentuhnya? Mafia narkotika itu jelas tidak akan bisa dipercaya kata-kata dan janjinya. Seharusnya Bima tau hal itu dan menghindar, bukannya malah menantang dan berusaha bernegosiasi. Ini semua salahnya.

Dengan hati setengah remuk, Bima mengangkat tubuh polos Starla menuju kamar mandi. Dia mendudukkan Starla di lantai dan mulai memandikan kekasihnya.

Kekasih? Masih pantaskah dia disebut kekasih setelah membuatnya seperti ini?

Dengan penuh kehati-hatian Bima membersihkan tubuh Starla. Usapannya lembut dengan tujuan memberi ketenangan. Disela-sela aktifitasnya, Bima terus mengucapkan kata maaf, namun Starla tetap diam.

Selesai, Bima membelit tubuh Starla dengan handuk. Dia membawa gadis itu kembali ke atas kasur setelah buru-buru merapikan seadanya. Bima memilihkan sebuah baju paling nyaman dari dalam almari dan segera memakaikannya pada Starla.

"Lion sudah pergi." Tiba-tiba suara seorang gadis lain terdengar dari arah pintu.

Bima menoleh lalu mengangguk seraya menggumamkan kata oke.

Itu adalah Intan. Mata perempuan berwajah sayu itu bergerak menatap Starla lalu menggigit bibir karena rasa bersalah.

"Aku akan menyiapkan sarapan untuknya," tukas Intan segera berbalik dan berlalu menuju dapur.

Selama proses itu, mereka tidak menyadari jika Starla diam-diam melirik pada Intan, gadis yang rela Bima tukar dengan menjual dirinya.

Sebenarnya siapa dia? Kenapa Bima tega menjualnya untuk menebus perempuan itu? Apakah selama ini sikap baik Bima dan rasa cinta Bima padanya adalah kepalsuan? Apakah selama ini Bima mempermainkannya saja? Starla terus bertanya-tanya dalam hati.

Mengambil sisir, Bima mulai menyisir rambut hitam Starla dengan lembut. Gerakannya penuh kehati-hatian seolah Starla adalah sebuah kaca tipis yang bisa pecah dengan satu gerakan keras.

Apakah ini sebuah kepalsuan juga? Perhatian itu justru menyakiti hati Starla. Kemana Bima kemarin saat tubuhnya dinodai??!

Tanpa sadar, air mata Starla keluar lagi dan membasahi pipi putihnya. Rasa sakit yang dia alami mengingat kejadian menjijikkan tadi malam terngiang kembali di ingatannya. Menghancurkannya berkeping-keping hingga membuatnya ingin mati saja.

Bima terkejut saat dia berjalan ke depan untuk melihat wajah Starla dan yang dia dapati adalah gadis itu sendang menangis. Cepat-cepat Bima menunduk, berlutut di antara kedua kakinya. Tangan besarnya mengusap air mata Starla.

"Maafkan aku," lagi-lagi Bima meminta maaf. "Maafkan aku, Starla," tukasnya lalu memeluk tubuh kecil itu.

Dan ketenangan Starla pun berubah menjadi amarah. Starla menangis sejadi-jadinya, menjerit dan berusaha mendorong Bima menjauh. Entah bagaimana dia sekarang merasa jijik pada Bimo. Melihat dan mendengar suaranya membuat Starla muak. Rasa cinta yang dulu dan masih ada sejak kemarin berubah menjadi sebuah kebencian luar biasa.

"PERGI DARI SINI!!!" teriak Starla meledak. "PERGIIIII!!!"

Bima tetap merengkuh tubuh Starla dan kembali memasukkannya dalam pelukan. Dia ingin menenangkan Starlanya.

"LEPASIN! LEPASIN AKU!! PERGIII! AKU JIJIK SAMA KAMUUU!!" teriak Starla sembari menendang-nendang, berusaha mendorong Bima menjauh, memukul dada Bima dengan keras dan tanpa ampun.

Starla menangis keras, berteriak seperti orang gila.

"Kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku? Apa salah aku sama kamu? Kenapa kamu menjualku??" Starla terus mengeluarkan pertanyaan itu, tangannya pun tetap memukul Bima tanpa lelah.

Hingga akhirnya tubuh Bima berhasil dia dorong, Starla langsung berdiri. Matanya menatap marah pada pria itu.

"AKU BENCI SAMA KAMU! AKU BENCIIII!!!" Starla kembali memukul Bima tak peduli jika tangannya yang sudah memar semakin memar kemerahan. Bima sama sekali tidak melawan. Dia merasa pantas diperlakukan seperti ini. Karena apa yang sudah terjadi pada Starla adalah karena dia.

Mendengar keributan yang terjadi, Intan yang ada di dapur untuk menyiapkan sarapan bergegas menuju kamar. Dia terkejut melihat Starla sedang kesetanan memukuli Bima seakan ingin membunuhnya.

"Hei!" Intan maju berniat mencegah. Sayang sekali, tubuh kurusnya kalah dengan Starla. Dengan sekali sikutan, Intan terjengkang ke belakang hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

Hal itu membuat gerakan Starla terhenti. Lalu baik Bima dan Starla sama-sama menoleh. Mata Bima terbelalak.

"Intan!" teriaknya. Cepat-cepat dia berdiri untuk menolong perempuan bertubuh kurus itu. Mata Bima semakin terbelalak saat melihat hidung Intan berdarah.

"Kamu berdarah!" serunya khawatir.

"Aku nggak apa-apa, Bima," ucap Intan lemah. Namun dia berbohong. Karena setelah itu dia pingsan tidak sadarkan diri.

Bima berseru panik dan Starla diam membeku. Dia tidak tau harus berbuat apa.

"Rumah sakit," gumam Bima kemudian segera menggendong Intan. Pria itu cepat-cepat keluar dari kamar dan tanpa menoleh atau mengucapkan kata apapun, dia meninggalkan Starla lagi.

Itu membuat Starla seperti tertampar keras. Apa yang dia lihat dan saksikan tidak mungkin sebuah tipuan. Bahwa Bima lebih mengkhawatirkan gadis itu dari pada dirinya. Bahwa Bima lebih mengutamakan gadis itu daripada dirinya. Dan bahwa Bima lebih mencintai gadis itu dari pada dirinya.

Tubuh Starla merosot ke lantai. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya lalu berteriak dan menangis lagi.

Sebenarnya mulai dari mana letak kesalahannya?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status