Part 4

Happy reading!

________________

Ikuti apa yang saya katakan ya." titah pak penghulu pada Nando sang pengantin pria.

"Ananda Arnando Wicaksana bin Rasyid Wicaksana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku yang bernama Azkia Indira Putra binti Hanif Putra dengan mas kawin berupa mas 10 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Azkia Indira Putra binti Hanif Putra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Nando lancar dengan satu tarikan nafas.

"Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu.

"Saaaaaahhh." jawab semua orang serentak.

"Alhamdulillah." pak penghulu pun membacakan doa, dan menyuruh pengantin perempuan untuk mencium tangan kanan Nando, begitu juga Nando yang mencium kening Kia, istrinya.

Kemudian mereka memasang cincin pernikahan di jari manis tangan kanan mereka masing-masing lalu foto bersama, dan tak lupa pula membubuhkan tanda tangan mereka di buku nikah. semua acara ijab kabul sudah selesai, sekarang waktunya ke acara resepsi pernikahan yang di lakukan sangat mewah.

Semua acara atas permintaan para orang tua, Kia dan Nando hanya menuruti saja keinginan orang tua mereka.

Tak sedikit tamu yang datang berasal dari rekan bisnis Rasyid papa Nando,  dan rekan bisnis Hanif ayah Kia.

Banyaknya tamu yang datang semakin menambah meriahnya pesta pernikahan mereka. momen ini juga di abadikan lewat para awak media yang turut hadir ke lokasi pesta pernikahan Kia dan Nando.

*******

"Capek?" tanya Nando melihat ke arah Kia yang sekarang telah sah menjadi istrinya.

Kia mengangguk seraya tersenyum, sedikit gugup menyelimuti Kia saat bertatapan dengan Nando yang kini telah sah menjadi suaminya.

Para tamu undangan pun bergantian menyalami sepasang pengantin itu yang tampak anteng di pelaminan. Kia dan Nando tak henti-hentinya menampilkan senyum mereka.

"Selamat ya Kia." ucap sahabat-sahabat Kia dan beberapa gadis-gadis anak tetangga.

Mereka semua terkagum saat ingin menyalami Nando sang pengantin pria, bahkan tak segan-segan mereka menunjukkan tatapan memuja efek pesona Nando yang terlalu tampan.

Setelah kepergian segerombolan gadis-gadis tadi, tak ketinggalan juga Faris, ayah almarhumah Eva juga turut hadir bersama seluruh keluarga di acara pernikahan Nando Kia.

"Selamat ya nak," ucap Fariz seraya memeluk tubuh Nando selayaknya pelukan seorang ayah dan anak.

"Terima kasih pak." Fariz tersenyum menepuk pelan pundak Nando.

Bergantian dengan sang istri dan adik Eva yang menyalami sepasang pengantin itu.

"Selamat bro!!" ucapan nyaring terdengar begitu membahana.

Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Dava, sahabat karib Nando.

Ya, lelaki tampan berwajah lembut itu hadir di acara pernikahan sahabatnya.

"Selamat untuk kalian berdua," cengir Dava. "hai, kakak ipar."

Nando mencegah Dava yang ingin memeluk tubuh istrinya, Dava pun mengernyit heran.

"Kenapa?" tanyanya bingung.

"Lo, gak bisa lihat apa istri gue--" Nando mengkode Dava agar melihat ke arah Kia.

"Ooohh, berhijab. astaga! ya ampun maaf-maaf. gue kira istri lo pakai hijab untuk acara pernikahan aja. maaf ya kakak ipar." sesal Dava yang ingin nyosor saja.

Kia tersenyum kikuk menanggapi ucapan Dava, Dava sendiri jadi tak enak hati. kemudian berbisik ke telinga Nando, membuat pria itu menggetok kepala sahabatnya.

"Oke deh, gue mau cabut nih. sekali lagi selamat buat kalian berdua." sebelum pergi Dava sempat mengacungkan kedua jempolnya ke arah Kia dan Nando.

Saat Dava ingin berbalik, tak sengaja ia menabrak tubuh seorang gadis. keduanya melotot kaget begitu mengenali satu sama lain.

"Lo!"

"Lo!"

Ucap keduanya barengan dengan saling menunjuk, tampak tatapan tak suka yang terlihat di antara keduanya.

(Baca cerita ini di lapak Davra (Dava & Airaa) yessss

*********

"Lelahnya," ungkap Nando yang merasakan lelah pada seluruh tubuhnya.

Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar pengantin, acara resepsi sudah selesai sejak 30 menit yang lalu. jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, karena banyaknya tamu yang hadir mau tak mau menguras energi mereka.

"Sini aku bantuin buka hijab kamu." ucap Nando menawarkan diri membantu Kia membuka hijabnya.

"Gak usah mas, Kia bisa sendiri kok."

"Tidak apa-apa, kemarilah!"

Kia akhirnya menurut, melangkah mendekati Nando yang duduk di tepi ranjang. dan ikut duduk di sebelahnya.

Dengan pelan Nando membantu membukakan semua yang menempel di kepala istrinya. terpukau begitu melihat semua penutup kepala itu terlepas.

Kia merasa risih sekaligus malu di tatap seperti itu oleh Nando, bagaimana tidak? pasalnya ini kali pertamanya bagi Kia di lihat oleh seorang pria tanpa hijabnya, kecuali sang ayah yang pernah melihatnya tanpa hijab.

Dan kini Nando melihat dirinya yang tanpa hijab, merasa gugup di liatin terus. Kia membuang pandangannya ke arah lain, rasanya begitu risih di tatap seperti itu.

Nando menarik lembut wajah Kia agar menatapnya kembali, namun ternyata Kia lebih pintar dengan menundukkan kepalanya asal tidak menatap Nando.

Nando gemas sendiri melihat tingkah istrinya ini, di sentuhnya lembut dagu Kia dengan sebelah tangannya. lalu ia angkat dagu itu agar leluasa menatap wajah Kia tanpa hijab.

Nando tak menyangka wajah Kia yang tanpa hijab ternyata sangat cantik, ia pikir selama ini wajahnya biasa-biasa saja makanya Kia memilih memakai hijab. tapi ternyata Nando salah besar, hijab bukan berarti ingin menutupi sesuatu yang terasa kurang.

Tapi hijab justru melengkapi keindahan kecantikan seorang wanita. dan Nando merasa bersyukur dan sangat beruntung mendapatkan Kia, seorang wanita berhijab. yang itu artinya ialah pria pertama yang melihat keindahan ini.

"Istri pilihan yang di kirim kan Allah untukku, bidadari surgaku." desis Nando di depan wajah Kia.

Rona merah semakin terlihat di kedua belah pipi Kia, ia merasakan panas di seluruh wajahnya saat Nando mengucapkan kata-kata itu. Kia merasa tersanjung karenanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status