Share

BAB 18

Perjalanan ke rumah Bramantyo hening dan singkat. Aku kira Andika akan menyelidikiku—mengajukan pertanyaan yang aku tidak tahu bagaimana menjawabnya dan mencoba menjebakku dengan itu sebelum sempat berbicara dengan Adib. Dia tidak melakukan itu. Sepenjang perjalanan dia hanya mendengarkan musik rock dan berkendara dengan tenang seolah tidak ada aku di kursi belakang.

Saat kami berhenti di luar gerbang besi tempa hitam, aku terpesona. Aku tahu Adib tidak mengkhawatirkan uang, tetapi bangunan luas di belakang gerbang lebih mirip gedung opera Paris daripada rumah. Rumah dua lantai didominasi warna putih dan jauh dari kebisingan  jalan raya, rumahnya cantik seperti di dalam lukisan. Tiga anak tangga batu menuju ke pintu depan, tiang-tiang putih tebal yang menopang balkon di atas atap yang indah. Di depan rumah besar itu ada jalan masuk melingkar dari bata putih abu-abu, dan ada air mancur besar di tengahnya. Mobil Aqmal telah berhenti di depan air mancur, dan Andik

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status