9. First Night

Setelah ruang tengah hancur oleh amukan Zara yang kambuh, Arlan terus berusaha menenangkanya. Beberapa lama histeris hilang kendali karena delusi yang ia alami. Akhirnya Zara tertidur begitu saja dipelukan Arlan kemudian Arlan membaringkan Zara  diranjang miliknya.  Ketika ia menyadari Zara telah tertidur, nanar mata Arlan menatap mata Zara yang sembab, ia mengelusnya lalu menciumi kedua mata itu.

"Papa, Mama, Oma, Kakak!" Zara menceracau tentang semua anggota keluarganya.

Arlan yang duduk di tepian ranjang lalu meraih tangan Zara ketika mendengar igauan Zara.

"Iya sayang tidak apa-apa, aku di sini," bisik Arlan, mendekatkan mulutnya ke telinga Zara, sembari menggenggam tangan Zara dengan kedua tanganya.

"Tolang!" rintih Zara dalam tidurnya.

Arlan mendekatkan wajahnya pada wajah Zara yang gelisah di dalam tidurnya, terlihat kening Zara berkerut, meneteskan keringat. Arlan mecium kerutan kening yang gelisah itu.

"Aku di sini tidurlah sayang," Bisik Arlan lagi.

Arlan tertidur di tepian ranjang, tanganya menggenggam tangan Zara dengan posisi badan terduduk di lantai dan kepalanya bersandar pada tepian ranjang.

"Suara apa?" teriak Zara terbangun langsung menutup telinganya.

Suara teriakan Zara membangunkan Arlan. Ia membuka dan mengucek matanya sebelum menghampiri istrinya yang mulai histeris lagi.

"Ada apa sayang?" Arlan duduk di sebelah Zara.

Zara langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya.

"Kamu kenapa bangun?" Arlan menempelkan keningnya pada kening Zara.

"Aku mendengar suara penjahat itu di sini." mata Zara berair menatap mata Arlan.

Arlan yang melihat wajah panik, dan gelisah istrinya langsung memeluk Zara.

"Aku sangat takut!" gumam Zara di pelukan Arlan.

Beberapa menit kemudian Zara melepaskan pelukannya dari Arlan, ia menutup telinganya dengan sorot matanya menulusuri seluruh ruangan.

"Dia ada di sini, dia ada di sini," gumam Zara mendengar suara-suara yang merupakan delusi yang ia alami.

"Tolong!"

"Aku sangat takut!" rintih Zara.

Zara menekuk kakinya hingga ke dada, ia menyudut di ranjang dengan tubuh menggigil. Arlan menghampirinya dan mengelus rambutnya.

"Jangang takut aku ada di sini."  Arlan merentangkan tanganya yang disambut Zara.

Zara memeluk Arlan begitu erat dengan tubuh bergetar ketakutan.

"Tidurlah!"

"Aku akan manjagamu" Arlan melonggarkan pelukanya.

Zara menoleh ke arah Arlan dengan wajah datar, tetapi ia mempererat pelukan yang dilonggarkan Arlan. Arlan yang mengertipun mempererat pelukannya juga pada Zara.

"Baiklah!" Arlan tersenyum dengan menutup mata di mana dagungnya bersandar pada kepala Zara.

Mereka pun tertidur dalam pelukan satu sama lain.

***

Azan subuh membangunkan Arlan yang terlelap, ia terbangun di dalam kondisi Zara masih memeluknya erat.

"Sayang waktunya sholat subuh," Arlan menyibakan rambut yang menutupi wajah Zara.

Zara tidak juga membuka matanya. Arlan menciumi lagi mata yang tertutup itu.

"Ayo bangun kita sholat shubuh dulu!" Arlan melonggarkan pelukan yang dipererat Zara.

Zara bangun dari tidurnya, lalu ia mengusap mata yang baru terbuka.

"Ayo!" Arlan menggendong Zara yang masih tidak bisa berjalan ke toilet untuk berwudhu.

Zara di dudukan Arlan di closet yang tertutup, lalu Arlan membatunya untuk berwudhu, mecuci tangan, menuangkan air kemulut  untuk berkumur-kumur, mebasuh tangan, mengusap kepala, dan mecuci kaki, dengan sabar Arlan membantu Zara meskipun terkadang Zara melihat sinis kepadanya ketika ia memegang kaki dan tangan Zara.

"Aku ini suamimu,  jangan lihat aku seperti akan membunuhku!" ujar Arlan sembari membasuh kaki Zara.

"Selesai!" Arlan menurunkan lipatan celana piyama Zara.

ketika Arlan hendak menggendonya ke kamar, Zara langsung mendoronya.

"Pergi!" sungut Zara.

"Ini pasti karena aku membasuh kaki dan tangannya," gumam Arlan.

Arlan memegang kedua pipi Zara yang masih terduduk di closet dan berkata, "Lihat wajahku!"

"Aku ini siapa?" tanya Arlan tak lekat menatap wajah Zara.

"Siapa, ya?"

"Kamu siapa, ya?" Raut wajah Zara bingung.

"Masak lupa sama suami sendiri!" keluh Arlan.

"Suami!."

Zara mulai memegang wajah Arlan dan menggerakan jari-jemarinya di wajah Arlan.

"Iya, ya!"

"Kamu suamiku!"

"Arlan adalah suamiku!" seru Zara, kembali mengingat suaminya.

"Gendong!" rengek Zara, mengakat tanganya.

Senyum melingkar di pipi Arlan melihat tingkah Zara. Tangan Zara pun langsung diraih Arlan kemudian, ia berjalan ke kamar dengan Zara dipunggungnya.

"Kamu ini sering sekali melupakan wajah suamimu," Keluh Arlan.

"Suami, aku punya suami?" gumam Zara.

"Tentu, aku suamimu!" jawab Arlan.

"Iya suami!" Zara tersenyum.

Setelah mendudukan Zara di ranjang, Arlan membuka lemari. Ia mengambil mukena berbordir dengan brokat indah. Mukena yang merupakan mas kawin Zara, langsung ia kenakan ke tubuh Zara. Zara bingung sendiri dengan mukena yang ia kenakan.

"Kamu boleh melupakan wajah tampan suamimu ini, tetapi tidak boleh melupakan tata cara sholat," tegas Arlan dengan senyuman tersungging ke arah Zara yang tampak bingung.

"Hmm, sholat?" ucap Zara bingung.

"Sholat, Zara bisa Sholat." Zara tertawa tiba-tiba.

Arlan mengembangkan sajadah dan mulai melaksanakan sholat subuh, sedangkan Zara duduk di atas ranjang dengan tangan sibuk sendiri memainkan ujung mukena. Sesekali ia juga melirik Arlan, memperhatikan Arlan yang sedang menjalankan sholat Subuh.

"Arlan, suamiku!"

"Arlan sholat, Zara sholat, semua Sholat," gumam Zara memainkan ujung mukenanya.

Sholat subuh selesai ditunaikan Arlan, kemudian ia melipat sajadah dan menghampiri Zara.

"Suaminya sholat. Kamu sibuk sendiri memainkan mukena di sini." Arlan memegang gemas hidung Zara.

Tangan Zara menyentuh hidungnya setelah Arlan melapaskan jemarinya yang menjepit gemas hidung Zara. Kini wajah datar menatap bingung Arlan.

Cup.

Ciuman mendarat di pipi  kanan Zara. Tangan Zara yang tadi menyentuh hidung pindah ke pipi kanan, sembari matanya tetap menatap bingung Arlan.

Cup.

Ciumam kedua pun mendarat di pipi kiri, lagi tangan Zara yang tadi di pipi kanan pindah ke pipi kiri.

Cup.

Kini ciuman Arlan mendarat di kening.

"Cukup sampai di sini hari ini!" ucap Arlan menempelkan keningnya ke kening Zara.

Mata mereka beradu menatap satu sama lain untuk beberapa saat, seakan membaca pikiran satu sama lain.

"Aku bakalan menyiapkan keperluan kerja sebentar, kamu istirahat aja dulu," ucap Arlan, membaringkan Zara diranjang.

Syukurnya meskipun sering mengalami delusi, halusinasi, ganguan emosi, dan lupa ingatan sejenak, Zara selalu mematuhi Arlan, jadi hal itu lebih mempermudah Arlan untuk beradaptasi dengan kondisi Zara.

***

Arlan dan Zara telah menikah selama tiga hari,  semuanya dilalui Arlan dengan lapang hati. Arlan menghabiskan 3 hari ini bersama Zara di rumah. Sedikit  banyak Arlan mulai memahami kondisi Zara, tatapi hari ini adalah hari pertama Arlan jadi dosen di sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Ia terpaksa harus meninggalkan Zara sendirian di rumah. Sebelum mendapatkan perkerja yang bisa bantu-bantu di rumah, Arlan mengerjakan semua perkerjaan rumah sendiri, merawat Zara, memasak dan termasuk bersih-bersih.

Arlan bersih-bersih rumah setelah sholat subuh, setelah itu, ia harus melakukan hal yang paling sulit, memandikan Zara. Zara selalu kambuh ketika harus dimandikan, hal itu membutuhkan usaha dan waktu lebih, jadi Arlan mulai bangun lebih cepat dari pada biasanya agar tidak terlambat mengajar di kampus.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status