Share

Bab 7 : Murid Terbaik

“Wow gile Dhik, ternyata bisa yah kita melakukan trik-trik seperti itu. Pantas saja kamu bisa kalahkan bos ini seorang diri. Hahaha, tapi Dhika ini memang jago sih, bisa saja kamu menemukan letak kelemahan bos ini, padahal dia punya gerakan random tak beraturan seperti itu.”

“Aaaaaaaahh senangnya, akhirnya hari ini Wina juga bisa mengalahkan monster besar ini. Tapi kalau untuk bisa mengalahkannya seorang diri, itu tetap saja sangat susah Dhika. Kita harus punya banyak stamina untuk menyerang, menghindar, dan juga berlari dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang sangat singkat.”

“Ya memang sih Win,” jawab Dhika menyetujui analisa Wina. “Untuk bisa mengalahkan monster ini seorang diri itu memang cukup sulit. Dhika bisa melakukannya karena sudah cukup banyak berlatih beberapa hari sebelumnya. Tapi dengan latihan seperti itu setiap hari kita bisa membuat otot-otot dan perkembangan tubuh kita jadi lebih cepat.”

“Pantas saja badan kamu sekarang terasa lebih tinggi dari Wina, memangnya berapa tinggi badan kamu sekarang Dhika?”

“Hmm berapa yah, kemarin sih terakhir diukur 129 cm.”

“Wow 129? Parah, Reno aja sekarang baru 118 cm. Eh, tapi sepertinya Wina juga lebih tinggi dari Reno yah sedikit.”

“Iyah Ren, Wina sekarang 121 cm.”

“Keren, genetik keturunan Rusia itu memang beda yah, ahhh seandainya saja Reno bisa setinggi kalian berdua.”

“Hahaha, gapapa kok Ren, kamu kan sekarang udah punya badan yang lebih besar dari kita berdua,” balas Wina sambil tertawa lucu kepadanya.

“Dasar Wina, tapi bener sih Ren, untuk seorang Tank, badan besar Reno itu sangat cocok untuk meningkatkan pertahanan, jadi tetaplah percaya diri kawan.”

“Muahaha, Reno jadi terharu. Kalian berdua ini memang teman yang terbaik,” jawabnya senang. “Hmm, tapi kalau dipikir-pikir lagi Reno ini memang luar biasa yah. Reno itu kan seperti beruang besar yang sangat kuat muahaha. Baiklah, tenang, tenang, nanti kalau suatu saat Reno bisa menjadi Tank, nyawa kalian berdua pasti Reno lindungi.”

Saat Reno sedang berbangga diri, tiba-tiba saja dari belakang tubuh Reno terlihat ada seseorang yang berperawakan tubuh tinggi besar sedang menepuk punggungnya.

“Halo, maaf mengganggu, apakah kalian bertiga telah menyelesaikan latihan kalian? Bolehkah kalau kami berempat ikut meminjam ruang game virtual ini? Tadi kami melihat dari kejauhan sepertinya hanya ruang game ini yang sudah selesai dipakai.”

Reno tersontak kaget ketika melihat sesosok orang yang mengajaknya berbicara. Pria yang baru saja mengajaknya berbicara itu adalah kak Willy.

Willy adalah kakak kelas mereka yang berada pada tahun akhir ajaran di sekolah ini. Willy dan keempat temannya yang lain terkenal memiliki kekuatan genetik pemburu monster yang sangat kuat.

Guru-guru di sekolah ini selalu memujikan mereka sebagai contoh teladan bagi anak-anak yang berada di bawah angkatan mereka.

Tentu saja Reno yang menyadari akan hal itu. Merasa terhormat dan menjawab pertanyaan dari kak Willy dengan cepat.

“Aaahh, iyah kak Willy silahkan, kami bertiga kebetulan sudah selesai menggunakannya. Maaf kak, tadi kami bertiga masih melakukan sedikit evaluasi dari pertarungan virtual kami sebelumnya.”

“Hahaha, ya, kalau boleh jujur, sebenarnya dari tadi kami sudah memperhatikan aksi kalian bertiga sewaktu menggunakan alat ini,” jawab Willy sambil tersenyum. Setelah itu kak Willy melakukan pengecekan pada data historis yang terpampang pada alat pertarungan virtual itu.

“Hmm … ternyata benar kalian bertiga telah berhasil mengalahkan bos dari monster virtual portal dimensi Akasia level 50. Luar biasa bagaimana kalian bisa melakukannya, dengan settingan tingkat hardcore seperti ini, saya rasa tidak ada anak seangkatan kalian di sekolah ini yang mampu menembus level setinggi ini.”

“Hehe, sebenarnya itu karena kami punya Dhika kak. Anak ini telah berhasil mengalahkan level 50 bos akasia ini seorang diri di rumahnya. Jadi sebenarnya kita berdua itu sedang belajar dari Dhika bagaimana cara mengalahkan monster itu.”

“Dhika yah, wah, wah kamu hebat juga yah bisa mengalahkan monster  itu seorang diri.”

“Aah tidak, tidak. Tidak seperti itu juga kak, maaf sebenarnya saya juga hanya beruntung saja bisa menemukan beberapa trik rahasia yang bisa dipakai untuk mengalahkan monster itu.”

“Menarik. Bisa mengalahkan bos monster level 50 portal dimensi Akasia, seorang diri, dan masih tetap rendah hati seperti ini. Saya rasa kamu pasti punya naluri sebagai pemburu monster yang bagus untuk bisa menemukan trik rahasia seperti itu. Perkenalkan nama saya Willy senang bisa berkenalan dengan kalian bertiga hari ini. Dhika, Reno dan juga siapa nama gadis yang cantik ini?”

Muka Wina mendadak merah padam, ketika dia mendengar dirinya disebut cantik oleh kak Willy. Wina tidak berani membalas tatapan mata kak Willy yang baru saja menyapanya.

“Aaah …. mmm.”

“Haha mungkin dia gugup Kak. Namanya Wina. Dia teman bermain kami sejak masih kecil.”

“Oh ya Wina, bukankah itu nama yang sangat bagus sekali, apakah kamu juga seorang Warrior di game virtual ini.”

“Y.. y .. yaaa kak,” jawab Wina canggung.

“Bagus, kalau begitu kita berdua punya job yang sama. Lain waktu apakah kita bisa berlatih bersama?”

“Tentu saja Kak,” potong Reno menjawab pertanyaan kak Willy untuk Wina. “Kita bertiga tentu saja ingin belajar dan berlatih bersama dengan tim kak Willy.”

“Haha, kamu ini sungguh lucu yah. Baiklah kalau begitu apakah sekarang kami berempat sudah bisa menggunakan alat ini untuk berlatih.”

“Ya tentu saja Kak pakai saja, kami akan segera berbenah.”

Reno, Dhika, dan Wina segera berbenah dan meninggalkan ruangan game virtual.

“Dhika apakah kamu lihat tadi, Willy kakak kelas kita yang terkenal itu baru saja menyapa kita. Keren banget kan, apalagi dia bilang kalau kita bertiga itu hebat.”

“Iyah Ren, tadi kita kan baru saja ngobrol bersama.”

“Iyah, tapi keren banget kan Dhik. Eh tunggu sebentar, Reno jadi ingat sesuatu.” Reno melihat ke arah Wina. “Hei Win kenapa kamu tadi kok diam saja sih, kamu malu yahh? Atau kamu ini sedang jatuh cinta sama kak Willy aahahaha.”

Mendengar kata-kata Reno, Dhika yang penasaran coba melihat gerak-gerik pandangan mata Wina yang sekarang memang terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

Wina biasanya tidak memiliki respon apapun ketika sedang bertemu dengan anak laki-laki, tapi kali ini sepertinya Wina memang bersikap agak aneh.

“Ihh apa sih Reno, jangan suka berbicara yang tidak-tidak yah. Wina hanya respek kepada mereka berempat. Bagaimanapun kak Willy itu pemburu monster tipe Warrior yang Wina suka, dia kuat, dan dia bisa memimpin timnya dengan baik.”

Melihat Wina yang terlihat canggung dan tidak berlaku seperti biasanya, Dhika jadi tersenyum dan merasa tingkahnya saat ini sangat lucu dan menggemaskan.

Sebenarnya Dhika merasa tertarik untuk ikut menggodanya, tapi setelah dipikirkan lagi, dia tidak ingin membuat Wina terus menjadi canggung seperti itu. Jadi Dhika berupaya untuk membantunya.

“Ehemm, bentar Ren, tapi itu hal yang biasa kok. Kita berdua juga tadi merasa canggung, itu karena kak Willy dan timnya memang benar-benar hebat. Apalagi mereka sampai menyapa kita dengan baik. Wina juga pasti punya pemikiran yang sama dengan kita.”

“Nah, denger tuh Ren, Dhika benar. Jadi jangan suka goda Wina dengan pemikiran kamu yang aneh-aneh seperti itu,” jawab Wina lega.

“Iyah sih bener juga, jangankan Wina, Reno saja tadi sangat kaget ketika tahu kak Willy menepuk punggung Reno dan mengajak kita bertiga berbicara. Mereka berempat memang keren, Reno suka dengan Kak Willy dan timnya, mereka itu kuat dan terkenal, tapi mereka tidak sombong seperti kakak-kakak kelas yang lainnya.”

“Ya, saya juga setuju Ren, mereka berempat memang hebat,” ucap Dhika. “Mereka kuat dan tidak sombong. Tapi tadi kita juga sudah dipuji kan oleh kak Willy.”

“Iyah tadi kak Willy bilang kita luar biasa hohoho,” balas Reno bangga.

“Yup, jadi ayo kita harus berlatih lebih keras lagi daripada hari ini. Suatu waktu kita bertiga pasti bisa menjadi kuat dan hebat seperti mereka.”

“Okay siappp, selama ada Dhika, Reno yakin kita bertiga pasti bisa terus maju.”

Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke tempat janji bertemu dengan Yura dan Doni.

Setelah sampai di tempat perjanjian Reno, Dhika dan Wina tidak bisa menemukan Yura dan Doni.

“Lho kemana mereka berdua, Yura dan Doni kok belum ada ditempat ini sih, bukankah kita sudah berjanjian untuk ketemuan di sini jam 5 sore?” tanya Wina kebingungan.

“Bentar Win coba kita lihat dulu memangnya sekarang sudah jam 5?” jawab Dhika kepada Wina.

Reno coba melihat jam yang ada pada alat elektronik miliknya.

“Belum tuh, ternyata masih tersisa waktu 5 menitan lagi, sebentar Reno akan coba kontak mereka berdua.”

Reno terlihat sedang menekan beberapa tombol digital peralatan elektronik yang dipegangnya saat ini. Setelah beberapa saat Reno kembali berbicara.

“Yura katanya sudah dalam perjalanan kesini, dan Doni sedang membawa beberapa makanan yang telah berhasil dia buat hari ini.”

“Bagus, kalau begitu kita tunggu saja disini sebentar lagi.”

Related chapters

DMCA.com Protection Status