Mag-log inBumi diserang oleh mahluk mengerikan yang datang dari dimensi lain. Kemunculan Wild Portal di berbagai pelosok dunia telah membunuh jutaan umat manusia. Perlengkapan senjata modern tidak berfungsi efektif untuk membunuh para monster itu. Pemburu monster dengan kekuatan genetik bermunculan, mereka berhasil memukul mundur para monster tersebut. Sayangnya kemunculan portal dimensi tidak pernah terhenti sejak hari itu. Manusia membuat beberapa tatanan kebijakan baru untuk melatih para calon pahlawan generasi baru yang memiliki kekuatan genetik. Dhika adalah salah satu dari jutaan anak-anak generasi baru yang akan dilatih sebagai para pemburu monster. Apakah dia bisa menghadapi seluruh ujian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemburu monster? Berbagai teror kematian menghampiri langkah petualangannya.
view more“Eh, tumben pulang jalan kaki, Wur,” sapa mbak Yuyun, tetangga yang rumahnya tepat ada di samping rumah Wuri.
Wuri tersenyum ramah. “Motorku bannya bocor, mbak. Tadi sekalian aku tinggal di bengkelnya Bang Andre.”
“Oalah, tadi pulang bareng Siti?”
“Iya, bareng dia. Masuk dulu ya, mbak. Gerah banget pengen cepet-cepet mandi.” Pamit Wuri, buru-buru membuka pagar rumahnya.
Wuri tersenyum melihat mobil milik suami yang tentu saja ada di garasi rumah, tepat ada di samping motor Wina; adik kandungnya. Santai Wuri memutar knop pintu, tapi ternyata nggak bisa, pintunya dikunci. Wuri mengambil kunci pintu yang selalu ia bawa. Ada sesuatu yang janggal muncul dari dalam hati. di rumah ada orang, tapi kenapa pintunya harus dikunci?
Begitu pintu dibuka, Wuri melangkah pelan masuk ke dalam rumah.
“Makin montok kamu, yaang.”
Langkah kaki Wuri terhenti saat sebuah suara itu ia dengar dari dalam kamar adiknya. Dan dia sangat hafal siapa pemilik suara barusan.
“Tiap hari kan dicoel-coel terus sama kamu, gimana nggak jadi montok, iihh!”
Ini adalah suara Wina. Suara khas milik adiknya, tetapi untuk sekarang terdengar sedikit manja dengan desahan yang menyusul.
“Kita mulai ya, yaang, mumpung kakakmu belum pulang.”
Lalu desahan dari Wina mulai terdengar, begitu juga suara nyaring khas dua tubuh yang bentrok. Wuri hampir saja ambruk kalau saja tak ada kursi di belakangnya. Tangannya sampai gemetar karna sangat syok dengan apa yang sekarang dihadapkan. Pelan ia menjatuhkan bokong ke kursi meja makan. Menaruh kresek berisi sate kambing serta martabak telur bebek kesukaan suami dan adiknya.
Kedua tangan mengepal menahan perih hati yang sekarang terasa seperti belati. Kedua mata memanas, sesuai dengan aliran darah yang terasa bukan lagi seperti darah normal. Pelan Wuri memejamkan mata, membiarkan bulir mengalir di kedua pipi. Kehilangan seseorang yang paling dia sayangi, itu memang sakit, tetapi akan lebih sakit jika dia kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya.
Tangisnya tak bisa lagi dibendung ketika desahan demi desahan itu semakin memenuhi pendengaran. Bayangan adegan demi adegan dari dalam kamar sana, sudah memenuhi kepala Wuri.
Kurang lebih 45 menit, terdengar lengkuhan panjang dari dua manusia di dalam sana. Semua menandakan jika apa yang tengah mereka lakukan sudah usai.
“Iihh, Mas, kok dikeluarin di dalam lagi sih. Gimana kalo aku hamil! Kamu, iihh!” Wina mengomel di dalam sana.
“Tanggal ini kamu lagi nggak subur kan, sayang?”
“Eh iya, ya. Kok kamu tau, mas?”
Terdengar kekehan dari lelaki bergelar suami yang membuat Wuri semakin meremas baju di bagian dada.
“Ya hafal dong. Aku mandi di kamarku aja.”
Wuri menghapus kedua mata serta wajahnya yang sudah basah. Tatapannya fokus menatap pada pintu bercat cokelat yang tepat ada di samping meja makan.
Ceklek!
Tepat saat pintu dibuka dari dalam, seorang lelaki berkulit putih dengan badan basah karena keringat muncul di sana. Kedua mata lelaki itu melebar, seperti akan keluar dari kelopaknya melihat sang istri yang duduk menatapnya. Mulutnya yang membulat sampai terlihat bergetar saking syok dan terkejut. Mirip banget seperti kucing yang ketahuan lagi maling ikan pindang di rumah tetangga.
Untuk sesaat tak ada yang memulai bicara. Bahkan Wuri tetap diam menatap suami tanpa beralih sedetik pun. Sementara suami Wuri terlihat salah tingkah, menunduk, menatap tubuhnya yang memang bagus dan cukup membuat kaum gadis terpesona.
“Mas, kamu kenapa? Katanya mau mandi, kok malah jadi patung di situ?” tanya Wina dari dalam sana.
“Astagfirullah ….” Wuri menutup mata melihat tubuh adiknya yang terlihat tanpa penutup di depan sana. Dia memukul dada semakin kencang, berharap rasa sesak di sana tidak membuatnya mati sekarang.
“Mbak Wuri,” seru Wina dengan sangat terkejut, sama seperti suami Wuri tadi.
Ifan, lelaki yang memang tampan dan cukup pintar ini bergerak menutup pintu. Dia melangkah, mengambil duduk tepat di sebelah Wuri. Dengan tak tau diri Ifan meraih tangan Wuri, membawanya dalam genggaman.
“Wur,”
Dengan cukup kasar Wuri mengibaskan tangan Ifan. Dia menatap tajam wajah tampan yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat. Hati yang sejak tadi sudah perih, sekarang jadi semakin terasa perih. Dia memalingkan wajah, mengusap bulir yang menetes di kedua mata.
“Wur,” panggil Ifan lagi. “Maafkan aku.”
Wuri menunduk, menatap kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Bulir-bulir kembali jatuh tanpa bisa lagi ia bendung. Seharusnya tadi itu dia mengundang warga, menggerebek suami dan adiknya yang sedang berzina di dalam sana. Hanya saja, dia tak ingin menjadi bahan pembicaraan semua orang. Apa lagi dia yang hidup di kampung seperti ini. Apa saja, pasti akan menjadi bahan bibir.
“Sejak kapan, mas?” tanya Wuri dengan suara tertahan. Dia hanya berusaha untuk terlihat lebih kuat.
Ifan menunduk, terlihat meneguk ludah lebih dulu. “Baru tiga bulan ini. Aku bisa berhenti, Wur. Aku … aku khilaf. Aku nggak akan lagi seperti ini, aku janji.”
Wuri kembali mengibaskan tangan Ifan yang berusaha menggapai tangannya. Dia sampai menggeser sedikit kursi untuk menjaga jarak dari Ifan. “Dia adikku, kalau kamu lupa.”
“Ya, aku tau. Tapi … tapi … pliis, maafkan aku.”
Wuri kembali mengusap mata yang tak mau berhenti meneteskan bulir. “Apa yang akan kamu lakukan setelah aku memaafkanmu, mas?”
Ifan menatap wajah lelah Wuri yang sudah banjir air mata. Ya, dia memang sangat mencintai Wuri, tetapi itu dulu. Dulu saat dia belum mengenal Wina. Belum tergoda oleh yang namanya nafsu dan semua milik Wina yang ternyata lebih menarik dari pada Wuri. Terkadang dia sampai menyesali, kenapa harus bertemu dengan Wuri dahulu? Andai saja dia bertemu dengan Wina lebih dulu, pasti dia tidak akan selingkuh seperti ini.
“Wur,” panggilnya, mengusap bahu Wuri yang bergetar. Ada rasa sakit di dalam hatinya melihat tangis kekecewaan Wuri. “Aku … bagaimana jika … jika aku menikahi Wina secara diam-diam.”
Permintaan pendapat, atau lebih tepatnya pernyataan jika memang Ifan tak bisa meninggalkan Wina. Wuri menoleh cepat dengan kedua mata yang memerah.
“Kamu nggak lupa kalau kamu ini ASN kan, mas?” tanya Wuri dengan nada yang sedikit meninggi.
Ifan mengangguk. “Aku sudah merebut keprawanan Wina. Aku sudah melakukan itu lebih dari sekali. Kamu kakaknya, apa kamu rela jika aku meninggalkan adikmu demi pangkatku ini? Aku bukan lelaki yang egois, Wur.”
Wuri mendesah kasar, dia menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan sangat kasar melalui mulut. “Baiklah jika itu pilihanmu, mas, aku akan menerimanya.”
Wajah Ifan terlihat berbinar mendengar apa yang Wuri katakan.
“Aku yang akan mengurus perceraian kita, mas,” lanjut Wuri beberapa detik kemudian.
“Tidak, ini tidak benar, mereka sudah berbohong Pak,” Tommy tidak terima kebohongan itu. Dia jadi semakin tidak terkendali.“Pak, pasti … pasti ada rekaman cctv yang bisa kita lihat secara langsung. Bapak bisa melihatnya dari video rekaman cctv. Kami berenam benar-benar tidak bersalah.”“Kami pihak guru bagian disiplin tentu saja sudah melakukannya Tommy, tapi menurut pernyataan dari petugas cctv, video rekaman untuk kamera D1045 mengalami kerusakan. Karena itu kami tidak bisa melihat hasil rekamannya dan untuk mengatasi masalah itu kami sudah meminta kedua saksi ini untuk memberikan keterangan.”“Tapi Pak pernyataan mereka berdua itu bohong, bukan seperti itu kejadiannya.”“Sudah hentikan, kalian ini sudah membuat keributan, sekarang kalian juga berniat untuk memfitnah saksi?”Tommy merasa sangat kesal, tapi dia
“Pertarungaaann!!”Anak-anak berhamburan memperingatkan yang lain telah terjadi keributan di sekitar area ruang makan guild Demeter.Tommy menyerang pria yang baru saja menampar pipi kanan Evi.Billy bereaksi cepat menahan pria lain yang memiliki niat untuk menyerang Tommy dari belakang.Erlang bersama temannya yang lain datang mendekat untuk membantu, tapi Johan yang berbadan paling kekar menutup jalan mereka.Merasa terganggu dengan kehadiran Johan, Erlang langsung mengeluarkan serangan tinju kilat tanpa ragu ke arah perut bagian bawah Johan.Serangan itu begitu keras hingga mengeluarkan kilatan petir.Erlang menggunakan kekuatan genetiknya pada tinju yang dia lontarkan.Johan terlempar sejauh 2 meter bersamaan dengan meja dan kursi yang berada di sekitar lajurnya.Keadaan di sekitar
“Hentikan, dasar pria kotor, apa yang kamu sentuh sekarang.”Dhika tidak sadar kalau sebagian dari pergelangan tangannya sudah menyenggol salah satu bagian paling besar dan sensitif milik gadis itu.Bulatannya terasa begitu padat tapi cukup empuk dan lembut saat pergelangan tangan Dhika langsung bersinggungan dengan bagian itu.Dhika tidak mengelak kalau dia sepertinya menyukai memeluk gadis itu, baru kali ini dia merasakan sesuatu yang membuatnya begitu nyaman.“Hei apa yang sedang kamu lakukan, cepat lepaskan saya!!”Gadis itu berteriak lantang berulang kali tapi Dhika tetap saja tidak mau mendengarkan perkataannya, dia tetap merangkul gadis itu dan membawanya menuju tepian kolam yang lebih aman.Tepat saat berada di tepian kolam gadis itu langsung memperagakan sebuah gerakan judo, dia mengarahkan tangannya ke belakang, meraih kepala
“Dasar anak monster,” teriak Dimas saat jari tangannya digigit oleh Dhika yang terlihat masih berumur 1 tahun.“Dimas apa yang terjadi?” tanya Bunga dengan napas yang tersendat-sendat saat berlari menuju kamar Dhika.Dhika membuka kedua matanya, dia melihat jari tangan ayahnya terluka hingga meneteskan cairan darah yang cukup banyak.Dhika melihat di pojok ruangan kakaknya Darma yang berusia 11 tahun menangis ketakutan.‘Apa ini? Dimana saya? Papah? Mamah?’“Astaga Dimas tangan kamu sampai berdarah seperti ini, tunggu sebentar biarkan saya mengobati tangan kamu. Darma tolong bantu mamah ambilkan perban di sana.”Darma tidak bergeming, dia masih sangat ketakutan.“Argghh dasar monster, dia seharusnya tidak kita lahirkan, dia benar-benar sangat berbahaya untuk keluarga kita.”
“Tuan Alexander maaf, tapi sepertinya Tuan pasti sudah salah mengenal orang. Anak itu, dia pencuri barang-barang milik pemburu monster yang sudah mati. Tidak mungkin Tuan mencari anak seperti dia, pasti ada sebuah kekeliruan, saya pasti akan membantu Tuan mencari anak yang Tuan cari.”
“Hei lihat pria tampan berambut putih itu bukankah dia Alexander Fraudilant?” tanya seorang murid wanita dari guild Demeter.“Tidak mungkin untuk apa orang sepenting dia sampai datang ke asrama guild kita,” balas teman murid wanita itu kepadanya.&
“Awasssss,” teriak Reno kepada Gita dan Vivi.Tabung kaca tempat perawatan Dhika meledak menyambar siapa pun yang berada di sekitarnya.Kotak-kotak lampu juga peralatan-peralatan elektronik di sekitar membuat suara-suara ledakan yang menakutkan.
“Ya itu pasti kamu, saya ingat waktu itu pun kamu masih terlihat bulat seperti ini Reno,” ucap perempuan cantik itu sambil tertawa melihat ke arah perutnya yang sedikit membuncit.Setelahnya perempuan itu langsung melihat ke arah Vivi, naga kecil menggemaskan bertub
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore