Share

2. Temu Pertama (POV Zea)

Gusti ... jan pakdeku ini. Benar-benar anak yang penurut. Aku yakin setelah beberapa hari yang lalu mbah putri bicara soal jodoh. Beliau pasti langsung menelpon putra sulungnya itu untuk segera melaksanakan titah.

Aku duduk menegakkan punggung. Berdeham kecil agar debar di dalam dada tidak mencuat keluar.

"Diminum dulu kopinya, tanpa gula apalagi pemanis buatan," kata lelaki itu.

Aku melirik ke arah kanan bahu yang terdapat kaca jendela di sana. Mengalihkan rasa yang tidak dapat diartikan dan belum pernah sekalipun merasakannya. Memandang

beberapa orang membawa koper hilir mudik, sedikit mengalihkan pikiran. Lantas, melihat dia mengambil cangkirnya, tanpa sungkan menyesap cairan berwarna hitam itu sambil mengerling ke arahku.

Aih, buat apa dia kode-kodean begitu? Tidak sopan!

Aku mengambil cangkir kopiku, menyesapnya perlahan dan menikmati setiap tetes rasanya.

Lumayan. Ternyata bukan kopi seduhan instan yang biasa dijual dalam bentuk kemasan. Coffee Shop ini memang cukup terkenal karena seduhan kopi Arabikanya. Tidak seperti kebanyakan kafe yang menyuguhkan kopi dalam bentuk kemasan instan.

"Kopi Arabika, dijemur selama seminggu kemudian dimasak di atas tungku dengan suhu tertentu lalu ditumbuk sembari dibacakan ayat Barjanzi, setelahnya diseduh dengan air mendidih, bukankah kopi akan terasa nikmat kalau melalui proses panjang dan melelahkan seperti itu? Untuk kopi dengan filosofinya yang begitu diagungkan, kita harus menyesapnya secara perlahan."

Aku melongo, penjelasan panjang lebarnya sama seperti yang kupikirkan terhadap setiap kopi. Selain penjelasannya juga lebih karena suaranya yang berat seperti mendayu di telinga. Sangat berharap telingaku slah mendengar. Namun, sepertinya masih berfungsi dengan baik.

"Habibi El Manik."

Dia menangkupkan telapak tangannya di depan dada sambil cengengesan, matanya menyipit, senyumnya mengembang membuat tanda lahir pada salah satu pipinya tercetak jelas.

"Oh, temannya Gus Miftah yang pernah kuliah di Yaman?" Pertanyaan basa basi kulemparkan.

"Hehe, itu sudah ada diperkenalan awal tadi, Ning. Ternyata putri sulung Kyai Baihaqi tidak sekalem seperti rumornya."

Hah? Apa maksudnya? Aku mengernyit tak suka. Dia bilang aku tak seperti rumornya? Gosip? Begitukah? Memang dia mengenalku apa? Sejauh mana?

"Tidak. Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala dengan cepat"Maaf, Ning cuma memang kabar yang beredar memang anda ini, pemalu dan kalem, tapi saat sudah bertemu begini ternyata menyenangkan juga."

"Saya ndak semenyenangkan seperti itu!" jawabku pura-pura ketus dan bernada tinggi.

"Menyenangkan atau tidak, tidak masalah. Saya bisa kok, jadi pawangnya andai tidak bisa ditaklukkan."

Eh, dia pikir aku ini apa?

"Mau menaklukkan saya? Memang punya modal apa?" tanyaku dengan dagu terangkat.

Tidak berniat angkuh, tapi pria ini sudah membuat jantungku kalang kabut sejak awal, dan mana ini tiga sesepuh? Buang air kecil ke Maroco? Lihat tatapannya yang tidak lepas dariku, lalu senyumnya yang ….

Gusti aku seperti tikus yang sedang berusaha lari dari seekor kucing liar. Tatapannya itu seperti hendak menangkap lalu menelanku hidup-hidup.

"Boleh. Saya bisa memberikan seluruh kerajaan saya kepada njenengan,” ucapannya terdengar mantap. Ya Tuhan … lelaki macam apa yang sedang duduk di depanku ini? Percaya dirinya besar sekali. Oh, tidak! Lebih dari itu, mungkin.

"Saya bukan permaisuri."

Cepat kujawab dengan muka kencang, tapi senyumnya lagi-lagi mengembang dengan indah, membuat lesung pipinya muncul kembali. Meruntuhkan segala pertahanan yang kubuat, sedikit menambah getaran yang tadi halus.

"Kalau begitu, maukah njenengan jadi permaisurinya?"

“Apa?”

Apakah di sini ada sesuatu yang terbakar? Seketika mukaku seperti menghangat, tidak. Memanas lebih tepatnya. Getaran yang tadi halus kini seperti meledak.

Kami pun berpisah, setelah Abah dan ibu kami masing-masing sudah tiba. Satu minggu setelahnya, keluarga Mas Habibi datang berkunjung ke ndalem pesantren abah.

Entahlah, tapi waktu menggelinding begitu cepat. Tidak terasa malam akad kami pun digelar. Para tamu undangan saat acara resepsi serta doa dari ratusan Kyai menjadi awal kami melangkah.

Tawa bahagia kami berderai. Hari-hari kami dipenuhi keromantisan pengantin baru. 

Aku diboyong ke rumah mertua, setelah tiga hari berada di tanah kelahiranku.

Hari menyesakkan berpisah dari Ibu, Abah, Mbah kung, Mbah putri, Roziq serta Rahmat adik sepersusuan kami, menjadi kenangan sedih sekaligus manis bagi kami.

"Di rumah Bunyai Abidah, kamu harus pandai - pandai menempatkan diri.

Jangan gegabah.”  Nasihat ibuku terdengar merdu meski kami saling terisak.

Aku bergeser mencium tangan Abah kemudian beliau berkata, "jangan lupakan pesan Abah, bahwa mengasihi Allah yang sempurna itu tidaklah terlalu sulit. Yang jauh teramat sulit adalah mencintai manusia dengan segala ketidaksempurnaan dan kekurangannya. Tidak ada kebajikan tanpa cinta. Tanpa belajar mencintai ciptaan Allah, kita tidak benar-benar mencintai ataupun benar-benar mengenalNya, jaga diri di sana baik-baik. Kamu putri kesayangan kami semua." Abah memeluk. Mengecup keningku lama, merasai kasih sayang yang beliau limpahkan takkan pernah bisa kubalas.

Berganti giliran, kini aku duduk sungkem di depan Mbah putri. 

Perempuan bersurai putih tersebut selalu mengajarkanku untuk menjadi wanita kedah bekti, semangggem miwah sumungkem. Wanita kedah ririh, ruruh, rereh. Wanita kedah Tajem, jinem, premanem. Wanita kedah Wingit, lantip, lepas ing pranggaita. Wanita kedah gemi, nastiti, surti, ngati ati.

Wanita harus bakti dan patuh. Harus lembut, stabil emosinya, teduh, dan tenang saat menghadapi masalah. Wanita harus konsentrasi, teguh, mantap, dan sigap. Wanita harus cerdas, tekun, cermat, teladan, dan peka pada situasi sosial di sekitarnya. Wanita harus pandai berhemat, tidak konsumtif, berhati-hati dalam menyimpan penghasilan suami dan pandai menyusun anggaran.

Mbah Putri selalu mengulang-ulang nasehat Sri Pakubuwono  IX yang tertuang dalam serat Wararatna ini. Juga menghafal bahwa wanita serupa perhiasan yang tak boleh luka atau dilukai.

Seperti nasihat Mbah kung semalam, suami adalah rumah, tempat kita berteduh dari terik dan dahaga. Dia punya selimut yang menghangatkan kita dari dinginnya kehidupan.

Setelah mendengarkan nasihat, kami pun berlayar mengarungi bahtera rumah tangga. Doa, tidak kunjung berhenti meluncur. Berharap senandung lirih yang terluncur dari hati selalu didengar Allah.

Kami melakoni peran suami istri sebaik mungkin. Mas Habibi tidak mengeluh saat pertama kali aku masak lodeh ayam kampung kesukaannya yang keasinan atau saat masih belum hafal jadwal ceramahnya yang seringkali ke luar kota.

Ibu mertua mengajari cara merawat bunga-bunga yang ditanam di halaman belakang. Ada kamboja yang harus disemai dengan memangkas daunnya agar tidak terlalu lebat. Melati dengan perawatan ekstra, karena hama ulat membuat mereka jadi tidak cantik. Kemudian ada kemuning yang tumbuh subur. Bunganya yang hanya satu hingga lima kelopak aromanya akan menguar memenuhi kamar kami. Sebab tanaman tersebut berada persis di pojok tenggara jendela luar kamar kami.

Suami yang selalu simpatik itu senang jika mendapati harum kemuning menyeruak. Mengisi indera penciuman tatkala dia memasuki kamar. Mas Abi selalu memintaku berdiri tepat di depan jendela, menunggunya pulang dari ceramah atau hanya sekedar berkunjung ke ndalem kyai-kyai sepuh.

Seperti malam ini, sudah jam sembilan malam saat Mas Abi mengabari sepuluh menit yang lalu, aku berdiri di balik gagahnya pohon kemuning. Dibatasi jendela selebar lima puluh berkelambu merah muda dengan motif bunga sakura. Hingga sorot lampu mobil Pajero miliknya berhenti tepat di depan kamar. Dia mengembangkan senyumnya yang manis ke arah jendela.

Pernah kutanyakan alasan mengapa Mas Abi selalu memarkir Pajeronya di depan jendela. Katanya, biar aku tidak terlihat dari luar. Agar santri laki-laki tidak bisa memandangku.

Jangankan memandang, mengintip saja para santri itu tidak akan berani melakukannya. Adab sopan santun yang dijunjung tinggi di dalam pondok pesantren sudah menggaris bataskan aturan-aturan wajib tersebut.

Biarlah, aku berdiri menanti kepulangannya, menyambut dengan rambut tergerai, senyum merekah, membaur bersama aroma semerbak kelopak kemuning akan menambah atmosfir keromantis berdua. Begitu kata Mas Abi.

***

Love 

Mahar

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status