Still with you
Still with you
Author: Chaeyoun_byuna
1

Jaeran mengecup pelan surai sang isteri yang masih terlelap dengan lemah lembut pria itu membangunkan Rosa yang masih tertidur pulas. Jaeran melihat ke arah arlojinya lalu memeluk pinggang sang isteri sesaat, tak mungkin jika dirinya melakukan olahraga erotis dipagi hari seperti ini. Suara dentingan ponsel membuat Rosa merasa terganggu, karena tak ingin sang wanita merasa badmood dipagi yang cerah ini dengan terpaksa Jaemin mengubah mode silent pada pengaturan ponselnya. "Mau tidur sampai jam berapa, hm?" Tanya Jaeran dengan nada rendah dan tenang.

"Bentar lagi, ih. Ngantuk semalam aku setoran banyak sama editor ..." Jaeran mendengus lalu beranjak darisana dan melangkah ke arah kamar mandi. Sekiranya tak ada suara lagi, Rosa membuka kelopak matanya kemudian mencari sosok suaminya, karena hampir diseluruh penjuru rumah Jaeran tak ada dan tak ia temukan.

Rosa lantas berteriak dan menjerit ketakutan akan Jaeran yang meninggalkannya. Air matanya luruh berjatuhan, pria itu yang melengan keluar dari kamar mandi tersentak melihat sang isteri menangis saat melihatnya. "Shhtt, ... aku di sini, gak akan ke mana-mana. Udah ya," Jaeran mengusap pelan pipi tirus Rosa lalu merengkuhnya ke dalam pelukkan hangat lelaki itu.

Jaeran menghela panjang seraya mengusap surai Rosa yang masih terisak. "Jangan tinggalin aku lagi," pemuda itu terkekeh lalu menggenggam tangan sang isteri dan berjalan ke arah dapur. "... kamu taukan sebegitu takutnya aku kehilangan kamu?"

Jaeran menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Rosa yang menatapnya penuh makna. "Bukan kamu ajh, aku juga takut kehilangan kamu ... jangan pikirin yang aneh-aneh lagi, gak baik buat kesehatan kamu."

Jaeran mengangkat telepon dan melirik ke arah Rosa yang sedang membuat roti bakar untuk sarapan mereka, setelah memutuskan panggilannya pemuda memeluk tubuh ramping isterinya secara tiba-tiba dari belakang. "Hari ini aku ada pasien, kamu gak ke mana-manakan?" Rosa menggeleng pelan lalu meletakkan roti yang baru ia panggang di atas piring saji.

"Ada apa?"

"Nanti jadwal kamu kontrol, ..." ucap Jaeran mengingatkan. Wanita itu menghentikan aktifitasnya dan menatap sang suami tak banyak reaksi, Rosa masih diam dan tak menjawab peringatan Jaemin.

"Aku udah sehat," Jaeran mengulum bibirnya tipis dan tak berkata apapun. Pria itu tau dari kejadian beberapa saat lalu tentu kondisi sang isteri belum sembuh benar dari trauma yang menderanya.

"Karena kamu udah sehatkan? Jadi harus dicheck." Pelan pemuda yang mencoba membujuk Rosa.

"Kenapa gak kamu ajh yang meriksa? Kan kalian satu profesi, ... sama-sama ahli kejiwaan?" Jaeran tersekat saat sang isteri mulai mendebatnya dengan kesabaran yang masih tersisa, pemuda itu mencoba untuk tak sakit hati akan perkataan sang isteri.

"Sayang--- tentu kamu tau, dia dokter yang menangani kamu dari sebelum kita nikah," Rosa masih tak merespon dengan baik, wanita itu memegangi kepalanya yang kian pening. Jaeran yang melihat itu langsung saja, menurunkan tangan perempuannya itu dan menuruti keinginan isterinya. "Okey, okey, kita gak akan kontrol! Puaskan?" Rosa mengulas senyum lalu memeluk tubuh bongsor sang suami, Jaemin terpaksa melakukan hal itu karena tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk.

"Makasih," bisiknya melirih. "Aku sayang kamu, Na." Dekapan itu dipererat oleh Jaemin dan tanpa sadar air mata lelaki itu turun begitu saja.

"Aku juga sayang kamu sampai mau gila rasanya, ..." balas Jaeran yang akhirnya berangkat kerja.

Herina menatap Jaeran yang datang tak bersama isterinya, ... pemuda itu mendengkus saat berada diruangan teman semasa kuliahnya dulu. Herina tau masalah yang dihadapi oleh pria itu berat mengingat apa yang membuat mereka saling jatuh cinta dan memutuskan bersama. "Bagaimana Rosa?" Jaeran menggeleng pasrah, lelaki itu menatap nerawang langit biru dari luar jendela.

"Masih sama, ..."

"Saran gue, kenapa gak loe panggil Jerome ajh. Adik loe kan juga satu profesi sama kita dan kebanyakan pasien yang dia tangani sembuh secara total." Jaeran tak yakin dengan keputusannya itu, memanggil Jerome memang bukan hal yang buruk. Namun memikir apa yang akan terjadi membuat pemuda semakin mengurungkan niatnya.

"Gue gak mau sesuatu terjadi,"

"Jangan ada keraguan kalo loe mau isteri loe sembuh dan bisa memiliki keturunan, Jae. Pikirin saran gue baik-baik, biar bagaimanapun Jerome masih adik loe. Diluar dari hubungan kalian yang kurang begitu baik, pentingin juga kesehatan Rosa." Jaeran masih diam tak banyak merespon saran dari Herina sampai perempuan itu beranjak pergi darisana.

Rosa berjalan memasuki rumah megah yang ia ketahui itu adalah rumah keluarga Minendra, perempuan masuk begitu saja selayaknya pemilik rumah. Rosa terkejut melihat seorang wanita menatapnya tak suka karena masuk tanpa izin. Wanita itu mengusir Rosa lalu itu tak membuat isteri dari Jaeran itu takut. "Menantu mama kapan datang?" Tegur sang ibu mertua yang cukup buat perempuan disebelahnya terkatup rapat.

"Baru, ma. Ouh ya ini siapa?"

"Calon Jerome," Rosa mengangguk pelan lalu tersenyum ramah. Perempuan yang mengulas senyum tipis itu memaklumi sikap perempuan yang baru saja menariknya keluar. "Gak sama Jaeran? Padahal mama kangen lho sama anak sulung mama ..." ujar sang ibu mertua kecewa.

"Nanti dijemput kok, ma." Mama mengangguk lalu menggandeng tangan Rosa berjalan ke dalam rumah. Perempuan paruh baya itu menceritakan tentang kondisi putra bungsunya yang akhir-akhir ini menanyakan tentang isteri kakaknya sendiri.

Mama yang menyinggung soal bayi tak sengaja membuat hati Rosa sakit dan memori yang terputar dalam benaknya menampilkan wajah Jaeran yang senang terhadap anak kecil. Perempuan itu tersenyum pilu saat ingat betapa sempurnanya seorang Gernandra Jaeran dan mau menerima perempuan cacat seperti dirinya. Sebuah cairan bening menetes tanpa sadar, Rosa yang tak mau berlama-lama di sana memutuskan untuk pulang saja dan tak menunggu sang suami datang. Sesampainya dirumah perempuan langsung mengurung diri dalam kamar dan menguncinya, Jaeran yang juga baru pulang dari rumah sakit dibuat terkejut dengan pintu kamar yang terkunci. Pria itu mengetuk pintunya lalu mencoba melakukan panggilan. "Rosa," panggil Jaeran pelan.

Sedangkan Rosa terus saja meracaukan hal yang tak penting. "Aku gak bisa ngasih anak," isaknya pelan dalam kamar mandi. "Aku mandul, ..." Jaeran mendengar sesuatu jatuh dari dalam kamar mandi. Karena perasaannya mulai tidak enak terhadap sang isteri, Jaemin tak berpikir dua kali dan langsung mendobrak pintu kamarnya sendiri.

Pemuda itu berlari ke arah kamar mandi, betapa terkejutnya lelaki itu melihat kondisi sang isteri yang kian hancur. "ROSA!!?" pekiknya terkejut lalu menggendong sang isteri ala bridle style.

Jaeran meletakkannya dengan hati-hati diremasnya tangan sang isteri dengan penuh rasa khawatir. "Jangan sakit, ... jangan lakukan hal yang bisa membuat aku kehilanganmu, ayo sembuh. Biar kita bisa memiliki keturunan ..." pedih Jaeran yang ikut menangisi akan penderitaan sang isteri.

Rosa menatap sayu sang suami dibelainya surai kibiruan milik Jaeran. "Na, ... ayo kontrol," lirih perempuan yang mampu saja membuat senyum dibibir pemuda itu terbit. Jaeran mengangguk antausias, kemudian menghubungi Herina agar segera datang ke kediamannya.

Setelah beberapa saat diperiksa, Herina menghela lelah. "Kamu tuh jangan terlalu memusingkan hal yang gak penting."

"Apa anak gak penting?"

"Penting, ... tapi bagaimana mau memiliki anak kalo kamu diajak ketemu aku gak mau!!" Omel Herina yang malah dibalas tawa kecil oleh Rosa. Herina ikut tertawa kecil dan menatap perempuan yang tengah berbaring itu lurus. Selepas Rosa tertidur, Herina pergi menemui Jaeran yang duduk termenung sendiri. "Sebaiknya loe ikutin saran gue, dan yang gue dengar dari isteri loe. Jerome udah ada calon, ... jadi loe gak perlu khawatir." Herina pergi begitu saja tanpa mempedulikan si pemilik rumah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status