P E S O N A -4-

Bohong jika seorang Tama akan melupakan apa yang orang telah lakukan padanya. Apalagi perbuatan orang itu merugikan dirinya. Balas dendam yang dilakukan Nandin sebulan yang lalu membuat ia menjadi lebih kejam dan berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas gadis itu. Bagaimana pun gadis itu harus terlihat jelek juga di depan masyarakat karena gadis itu telah merusak nama baiknya di mata masyarakat.

Mataku yang berwarna abu-abu menatap tajam ke arah sepasang kekasih yang sedang melaksanakan pertunangan, aku tidak menghadiri pertunangan Nandin dengan Indra yang merupakan pengusaha hotel bintang lima di Negeri ini dengan cabang dimana-mana. Senyum licik terbit di bibirku saat melihat rekaman CCTV yang aku pasang di gedung tempat pertunangan mewah itu berlangsung. Sangat mudah mendapatkan rekaman ini, hanya perlu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan ia pun bisa melihat rekaman ini.

"Kau terlihat begitu bahagia setelah membuat pernikahanku batal, namun aku tak akan membiarkan kebahagiaanmu itu bertahan lama."

Ya, sebulan yang lalu, aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Laura sebelum tunanganku itu yang membatalkannya. Seorang Tama tak akan membiarkan harga dirinya direndahkan oleh orang lain apalagi oleh kaum hawa yang selama ini menggilai ketampanan dan popularitasnya. Ia sengaja meminta maaf pada Nandin agar gadis itu berhenti merusak nama baiknya dan ia bisa menyusun rencana dengan baik agar gadis itu merasakan hal yang sama seperti dirinya bahkan lebih buruk.

"Pertunanganmu yang menjadi hari bahagia untukmu hari ini akan menjadi alasanmu menangis darah di kemudian hari."

"Aku akan menghancurkanmu hingga kau tidak tahu bagaimana caranya bangkit lagi."

"Percikan api yang kau nyalakan belum padam dan aku yang akan memadamkannya dengan caraku."

Aku bisa melihat bagaimana bibir tipis itu mulai tersenyum manis dan para tamu bertepuk tangan dan ikut tersenyum saat sepasang insan itu selesai memasang cincin di jari satu sama lain. Semakin Nandin tersenyum bahagia maka semakin besar keinginannya untuk mengubah senyuman itu menjadi tangisan.

[][][][][][][][][][][][][][][][]

Melalui info yang aku dapat dari salah satu pengawalku yang selama ini memantau pergerakan dari Nandin. Aku pun tahu jika gadis itu pulang sekitar pukul tujuh malam dari kantornya karena dia pemilik perusahaan yang sedang berkembang itu. Aku sudah menunggu di mobilku yang sudah terparkir manis di parkiran yang berada di depan gedung kantornya.

Aku sedang menunggu Nandin keluar dari mobilnya sebelum akhirnya aku menjalankan rencanaku hingga akhirnya yang aku tunggu pun datang. Dia berjalan ke arah mobilnya dan hendak masuk ke dalam mobil, namun aku lebih dulu menyuntiknya dengan suntikan yang sudah aku beri obat bius. Dia langsung pingsan dalam dekapanku dan aku pun langsung memasukkannya ke dalam mobil. Untung saja suasana di parkiran sepi sehingga memudahkan rencanaku.

Aku pun langsung masuk ke mobil dan menatap wajahnya yang cantik terlihat tenang ketika tertidur. Sebelum akhirnya tersenyum licik karena rencanaku tinggal selangkah lagi dan akan menghancurkannya.

"Bersiaplah untuk malam ini, Nandin."

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Tidur pulasku diganggu dengan teriakan yang membuat telingaku sakit dan pukulan bantal yang mendarat di tubuhku. Aku pun terpaksa membuka mataku yang masih mengantuk untuk melihat siapa orang tidak tahu sopan santun yang melakukan hal ini. Namun omelan yang sudah siap keluar dari bibirku, tertahan di tenggorokanku saat melihat Nandin yang sudah memakai pakaian lengkap namun terlihat berantakan sedang menatapku dengan tatapan marah.

Aku pun langsung bangun dan bersandar di kepala kasur sambil menatapnya dengan senyum manis seakan kami adalah sepasang suami istri yang baru saja menghabiskan malam pertama selepas pernikahan.

"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana dengan semalam? Kau menikmatinya?"

"Berhenti bermain-main denganku. Hapus postingan di akun media sosialmu itu!"

Akhirnya aku bisa melihat dia hancur, mungkin dia sudah melihat ribuan notifikasi di akun media sosialnya ketika aku memposting foto kami yang tertidur di atas kasur dan di bawah selimut yang sama, bahkan melihat bahu Nandin yang terekspos dan perut berototku, orang gila pun tahu jika kami tak memakai sehelai pakaian pun dibalik selimut itu. Aku sengaja mempostingnya ke media sosial dan menandai dirinya, nama baikku sudah hancur dan tercoreng dengan postingannya sebulan yang lalu. Jadi tak masalah bertambah tercoreng dengan postingan lebih nakal lagi. Yang terpenting kali ini nama baik Nandin pun akan tercoreng.

"Kenapa harus dihapus?"

"Bukankah foto itu sangat indah? Seluruh Dunia harus tahu jika aku dan kau baru saja menghabiskan malam yang indah."

"Malam yang indah katamu? Kau sendiri adalah orang yang paling tahu jika semalam tidak terjadi apapun di antara kita!"

Dari mana gadis ini tahu akan hal itu? Aku pikir aku bisa mengancamnya dengan pemikiran bahwa aku telah mengambil kesuciannya dan kemungkinan dia akan hamil lalu dia takut dan menangis di depanku? Namun aku lupa jika keluguannya telah berganti dengan kelicikannya.

Semalam memang aku tidak melakukan apapun padanya. Bahkan yang melepas pakaian kerjanya adalah pelayan hotel yang aku suruh, aku tak mengintip bagian tubuhnya yang polos walaupun kami tidur bersampingan. Bukannya aku tak berani, namun entah kenapa hati kecilku mengatakan untuk tidak bertindak lebih jauh dari pada hanya foto saja. Aku masih ingat ketika aku berusaha mendekatinya dan mencoba bersentuhan fisik lebih intim darinya, dia langsung mendorongku dan berteriak memarahiku, saat itu aku ingat tatapan terluka di matanya dan tangisan pilunya. Sejak saat itu sampai dia mencintaiku, aku tidak pernah menyentuhnya, hanya ada pegangan tangan dan pelukan. Entah kenapa aku tak mampu membayangkan bagaimana jika aku melihat tatapan terluka yang sama dan tangisan pilu yang sama seperti dua belas tahun lalu. Sekarang aku menyesal karena tidak bertindak lebih jauh hingga dia meremehkan diriku.

Senyum miring yang mengejekku terbit di bibirnya ketika melihat ekspresi terkejut di wajahku. Aku tak boleh kalah darinya, aku harus bisa membuatnya hancur.

"Ya, kita memang tidak melakukan apapun tadi malam. Namun Dunia hanya tahu jika kita telah menghabiskan malam bersama dari foto itu."

Kini giliranku yang memberikan senyum mengejek andalanku padanya, dia maju dan mendekat ke arahku lalu menaiki kasur ini lagi. Bahkan dia tak canggung saat berada di dekatku yang saat ini tak memakai sehelai benang pun dan hanya ada selimut yang menutupi bagian pinggangku sampai kaki. Dia menatapku dengan intens lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku hingga aku bisa mendengar ucapannya dengan jelas.

"Kau pikir aku takut kau menyebarkan foto murahan itu? Dengarkan aku baik-baik, jangan bertingkah seakan kau pria alim dan baik-baik yang hidup di zaman Siti Nurbaya, foto tersebut bukan hal yang aneh lagi di masyarakat. Mungkin mereka akan membicarakannya dalam seminggu ini, tapi setelahnya foto itu tak akan dianggap lagi. Simpan foto itu di akun media sosialmu, aku ikhlas memberikannya padamu."

Harusnya kami tidak berakhir seperti ini. Harusnya bukan dia yang pergi meninggalkan aku, melainkan aku yang pergi meninggalkannya. Harusnya bukan dia yang memberiku ucapan skakmat yang membuatku terdiam. Seharusnya semua itu aku yang melakukannya!

Namun kenyataan berbeda saat dia sudah benar-benar pergi dari sini sambil menenteng tas kerjanya. Meninggalkan aku yang diam terpaku di tempat dengan tangan terkepal kuat.

"Sialan!"

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status