P E S O N A -7-

Akhirnya setelah aku menunggu berjam-jam untuk kehadiran aktor terkenal yang terlibat skandal hubungan denganku, dia datang juga ke rumahku setelah melakukan aksi heroik dengan menggedor gerbang rumahku, teriak-teriak bagaikan orang gila di depan rumahku, dan mengancam para penjagaku.

Setelah puas dengan aksinya itu, aku akhirnya memberikan perintah agar membolehkan pria itu masuk ke rumahku dan kini dia berdiri di depanku dengan tatapan marah dan tangan terkepal kuat ketika melihat aku memberikannya tatapan menghina sambil tertawa puas karena sudah berhasil membuat uring-uringan untuk bertemu denganku.

"Hai, Kekasihku. Akhirnya aku membolehkanmu masuk ke rumahku lagi setelah sekian lama."

"Bagaimana kabarmu?"

"Tidak perlu dijawab, aku tahu kau baik, bahkan sangat baik setelah aku memberitahu pada media bagaimana kisah kita. Kau suka kan?"

Entah sejak kapan aku berubah sifat dari yang dulu masih trauma pada kehadirannya menjadi berani menantangnya dengan memberikan hinaan padanya. Beranjak dari tempat dudukku, aku berjalan ke arahnya dan menggenggam lembut tangannya, mendekat padanya hingga jarak di antara kami terkikis lalu mencium punggung tangannya dengan mesra hingga dia langsung memaksa melepaskan tangannya dari genggamanku dengan tatapan jijik.

"Ayo duduk, Sayang."

"Jangan ragu, anggap saja rumahku adalah rumahmu."

Dia masih diam saja saat aku menuntunnya untuk duduk di sampingku, aku duduk dengan anggun dan menunggu dia bersuara, aku ingin dengar permohonan dari mulutnya, jebakanku kali ini sangat bagus karena aku membuat dia terjebak dalam permainannya sendiri dan dia mendukung kebohonganku dengan memposting foto kami di hotel.

"Hentikan semua ini, Nandin."

"Apa yang harus dihentikan?"

Pura-pura tidak mengerti akan ucapannya, aku menatapnya dengan tatapan bingung namun bibirku masih tersenyum manis, aku bisa melihat dia kesal dan memutar mata jengah saat aku malah menghambat pembicaraan dengan sandiwara pura-pura tak mengerti ini.

"Drama ini, sandiwara ini, hubungan palsu ini, dan kebohongan ini."

"Sebulan lalu aku sudah menghentikannya, namun kau menyalakan apinya lagi. Siapa yang salah di sini?"

Pria di sampingku ini langsung terdiam ketika aku menyindirnya dengan mengungkit ketika dia mulai berusaha menjebakku lagi padahal kami sudah sepakat untuk menjadi orang asing setelahnya.

"Aku ambilkan aku minuman spesial dulu agar otakmu bisa berpikir dengan lancar."

Melihat dia masih diam dan butuh waktu berpikir. Aku pun menyempatkan untuk mengejeknya lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur. Aku bisa saja menyuruh pembantu untuk membuat minuman namun aku memilih membuat sendiri karena aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan diriku agar aku bisa mengendalikan diriku saat berada di dekatnya.

"Kau bisa Nandin. Selangkah lagi maka kau akan membawa dia kepada kehancuran dalam hidupmu yang dia buat dua belas tahun lalu."

Setelah memberikan diriku sendiri kata-kata penyemangat, aku pun mulai membuatkan dia teh dan beberapa cemilan, lalu membawa minuman dan makanan ini dengan nampak ke ruang tamu dan menyajikannya ke atas meja di depannya.

Aku pun kembali duduk di sampingnya, menoleh sebentar ke arah jam di pergelangan tanganku, memastikan masih ada waktu sampai ibuku pulang dari kantornya, tinggal lima belas menit waktuku, aku harus segera menyelesaikan semua ini.

"Ayo diminum tehnya dan dimakan cemilannya."

"Saya engga akan sudi minum atau makan sesuatu yang kau buat. Bisa saja kau meracuni aku."

"Kau ini, selalu saja saja berpikir buruk tentangku. Ya sudah tidak perli dimakan atau diminum. Jadi jika kau tidak ada keperluan lagi di sini maka silahkan pergi dari rumahku."

Aku sengaja mengusirnya agar dia segera bicara lagi tentang masalah skandal di antara kami, soal ejekannya, aku tak peduli bahkan menganggap ejekan itu hanya angin lalu karena aku sudah kenal tabiatnya yang tidak percaya pada musuhnya dan sekarang baginya, aku adalah musuhnya.

"Apa yang kau inginkan untuk menutup skandal ini."

"Mudah saja. Kau yang membuka lagi skandal ini dengan memposting foto kita berdua sedang tidur, hal itu membuat calon suamiku membatalkan rencana pernikahan kami, sedangkan ibuku ingin aku segera menikah jadi .....

"Langsung pada intinya, aku tak punya waktu banyak."

Pria ini masih sama seperti dulu, tidak sopan dan tidak tahu waktunya siapa yang bicara. Dia bertanya padaku, saat aku jawab, dia malah memotong ucapanku dengan nada dingin dan tatapan bosannya. Padahal aku sudah menyusun semua skenario dengan baik, sekarang aku jadi kesal karena tingkahnya telah membuat skenario yang aku susun jadi hancur.

"Menikah denganku maka skandal itu selesai."

"Masih menyimpan rasa padaku? Sepertinya kau tidak bisa melupakan aku hingga menjebakku seperti ini."

Kali ini dia yang tersenyum mengejek setelah aku mengucap solusi permasalahan di antara kami. Tama dengan kepercayaan dirinya yang selangit, bukanlah perpaduan yang baik karena mampu membuat aku ingin muntah dengan tingkat kepercayaan dirinya itu.

"Aku butuh calon suami. Ibuku sudah tua, dia terus meminta aku menikah. Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka keluar dari rumahku. Kau pikir kau ini siapa? Kau hanya aktor biasa saja. Aku bisa mendapatkan seorang billioner, jangan terlalu percaya diri."

Aku langsung berdiri dan menarik tangannya dengan paksa agar berdiri, dia cukup menjatuhkan harga diriku dengan menolakku lagi, namun aku tak akan memberinya kesempatan lagi untuk melihat permohonanku. Lihat saja besok, skandal kami akan semakin membesar dan membuat karirnya semakin hancur, usahaku tak akan terpengaruh karena konsumen akan melihat kinerja barang yang dihasilkan usahaku, bukan skandal kami.

Baru saja aku ingin mengeluarkan Tama dari rumahku namun aku melihat ibuku yang baru datang dan menatapku serta Tama bergantian dengan tatapan terkejut.

Aku pikir Tama akan memanfaatkan pertemuannya dengan ibu untuk meracuni dan memarahi ibu yang merupakan keluargaku demi balas dendam namun perkiraanku salah, dia menyalami tangan ibuku dengan sopan lalu menyapa ibuku.

"Selamat siang, Bu. Bagaimana kabarnya?"

"Siang, kabar Ibu baik. Bagaimana kabar, Nak Tama?"

Aku yakin pasti dalam hati Tama ingin berteriak bahwa kabarnya sangat buruk akibat kelakuanku, aku berharap dia tidak buka mulut dengan jujur, bagaimana pun hanya ibu yang aku punya, di usianya yang sudah tua, mendapat teriakan dan hinaan yang ditujukkan untuk puterinya, pasti akan melukai hatinya dan membuat keadaannya buruk. Untung Tama masih punya sisi baik dan tidak menjawab jujur.

"Kabar saya baik, Bu. Saya ingin bicara penting pada Ibu soal Nandin."

Mataku langsung melotot saat dia mulai bertingkah di luar batas, sebelum pria ini membuat ibuku syok maka aku harus segera mengusirnya dari sini. Aku pun langsung menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggi yang aku pakai dengan cukup keras, dia berusaha menahan diri agar tidak merintih kesakitan dan menoleh ke arahku dengan tatapan membunuh. Namun aku spontan melepaskan injakan kakiku pada kakinya saat mendengar apa yang ibu katakan.

"Silahkan bicara saja, Nak Tama. Namun sebelumnya, Ibu ingin meminta maaf soal kelakuan Nandini, dia memang salah telah memulai pertengkaran kalian. Tapi yang Nak Tama lakukan tidak pantas untuk seorang gadis, kehormatan seorang gadis tidak akan bisa dikembalikan saat semua orang sudah menatap rendah dirinya. Ibu kira kalian cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah ini, tapi ingat jangan sampai menghancurkan diri masing-masing."

Aku tahu jika ibu sedang sedih saat ini, tatapan matanya mulai melemah dan dia menunduk, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Aku pun langsung mendekat pada ibuku dan memeluk tubuh ringkihnya dengan lembut berusaha menguatkannya dirinya.

"Bu, Nandini engga salah. Ibu engga perlu malu di depan ....

Ucapanku terpotong saat Tama menyela ucapanku dengan langsung bicara. Aku dan ibu terkejut mendengar ucapannya pada ibu, bahkan dia menggenggam tangan ibuku dengan lembut, menatap yakin ke arah ibuku sambil tersenyum tulus. Aku bahkan mulai sulit membedakan apakah ini asli atau sandiwara yang aku minta? Pasti ini adalah sandiwara, dia itu aktor jadi sangat mudah membuat orang percaya akan apa yang ia perankan saat ini. Harus akui jika dia memang lihai dalam hal menipu orang lain.

"Saya mau menikahi puteri Ibu yaitu Nandini Safira. Saya harap Ibu mau menerima saya sebagai menantu, saya janji akan berusaha membahagiakan puteri Ibu semampu yang saya bisa."

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status