At the Edge

Entah tertidur atau pingsan, Nina terkapar sekitar dua jam. Begitu terbangun, dia menggigil. Demam mulai menyerangnya. Nina duduk dengan susah payah. Kereta masih bergerak dan dia berada di antara barang muatan yang akan dikirim ke kota tujuan.

Hidung Nina mencium bau whisky. Dengan tubuh demam dan mata sedikit buram, Nina mencari asal sumber bau tersebut dan menemukan kotak kayu penuh dengan botol whiskey. Tangannya dengan susah payah mencongkel kotak dan membuka segel paku. Jarinya terluka dan kukunya terbeset, tapi ia tidak peduli.

Dirinya butuh minuman tersebut untuk mengurangi nyeri dan membersihkan luka bekas peluru yang mungkin kini mulai terinfeksi. Setelah berhasil membongkar, Nina menyambar satu botol dan membuka lukanya yang kini terasa panas. Dia menyiram luka di perut juga pundaknya dengan whisky. Kemudian mencari kain yang cukup bersih dan membalut kembali. Muatan kargo menyimpan beberapa barang yang cukup menguntungkan.

Sembari menenggak whisky, Nina menyantap apel juga peach dengan lahap, cukup menganjal perutnya. Nina kembali berbaring sambil menikmati minuman alkohol. Benaknya mulai memikirkan sebuah rencana.

***

“Hei … Hei ....!” seseorang menepuk pundaknya. Nina terbangun dan tangannya menyambar pistol serta menodongkan pada pria berkulit hitam tersebut.

“Hei, tenang anak muda!” seru pria setengah baya tersebut. Dari dialeknya, Nina tahu jika pria tersebut tidak berasal dari Rusia. Nina masih dalam sikap siaga dan mengacungkan senjata padanya.

“Aku tidak bermaksud mencelakakan dirimu. Bisa kulakukan saat kamu tidur tadi,” ucap pria itu dengan tangan masih di atas kepala namun tersenyum ramah. Nina meneliti pakaiannya yang kumal dan sepatu boot murahan yang mulai terkelupas kulitnya. Nina menurunkan senjata dan menyimpan kembali.

“Aku tidak tahu apa tujuan dan tugasmu, tapi sebagai sesama penumpang gelap, aku hanya menawarkan kamu ini.”

Pria berkulit hitam itu mengangsurkan roti isi keju pada Nina. Dengan ragu Nina menerima disertai tatapan curiga.

“Makanlah, aku masih punya satu roti besar lagi. Oh ya, aku Ben,” cetus pria berkulit hitam yang bernama Ben tersebut. Nina tidak bertanya lagi dan segera menyantap roti dengan rakus. Ben kembali duduk bersandar pada salah satu peti. Tangannya menyeret ransel dan tangannya bertumpu di atasnya.

“Empat jam lagi kita sampai. Badanmu demam, kamu harus ke rumah sakit begitu sampai. Dari bercak darah itu, sepertinya kamu butuh antibiotic untuk lukamu. Minumlah ini sebagai pertolongan pertama.” Ben kemudian mengulurkan tablet antibiotik dan paracetamol untuk mengurangi demam.

“Apakah kamu punya baju lainnya, aku butuh mengganti kemejaku,” sahut Nina bertanya. Ben mengacungkan jarinya sebagai isyarat untuk menunggu dan tangannya mulai membuka tas. Ben mengangsurkan kaos juga kemeja jeans untuk Nina.

Tanpa segan ataupun sungkan Nina berganti baju dengan cepat. Ben membuang baju Nina yang lama keluar jendela.

“Sedikit kebesaran tapi lumayan,” puji Ben.

Nina bungkam dengan wajah datar. Perutnya telah terisi dan obat yang ia minum mulai bekerja. Cukup mengurangi radang yang tadinya menyiksa dan suhu tubuhnya mulai mendingin. Ben berdendang sebuah lagu yang Nina tidak pahami karena hanya berupa gumaman.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lalui, tapi jika kamu membutuhkan tempat untuk berlabuh sementara, singgahlah di rumahku. Aku akan senang menyambutmu,” kata Ben dengan senyum hangat. Nina tidak menjawab. Dirinya mulai mengantuk. Sejenak dia kembali terlelap.

***

Nina terbangun oleh guncangan lembut Ben. Pria itu mengatakan saatnya berganti kereta menuju Austria.

“Kita tiba di Kroasia. Beruntung kita penumpang gelap, tidak melewati imigrasi,” canda Ben dengan tawa renyah.

Nina mengikuti langkah kaki Ben yang dengan sabar mengimbangi dirinya yang masih tertatih. Luka sobek di perutnya terasa sangat sakit dan Nina harus berjalan setengah membungkuk.

Siang itu keduanya mengendap dan berhasil berpindah gerbang. Ben mencari tempat persembunyian yang sangat ideal. Mereka berada di tumpukan jerami yang ternyata mengangkut buah dan juga makanan import.

Nina masih belum mengerti, bagaimana Ben bisa menghindari semua pemeriksaan dan tidak kepergok petugas. Pria tua tersebut seperti memahami situasi dengan baik.

Nina melenguh pelan ketika merebahkan tubuhnya kembali di tumpukan jerami. Perutnya terasa ditarik dan dia berusaha untuk tidak menjerit ataupun merengek, Nina berbaring dengan posisi miring.

“Telentanglah, aku akan lihat lukamu,” pinta Ben.

Nina pasrah dan mengikuti permintaannya. Ben menyingkap baju Nina dan tepat di atas pusar, luka sobekan menganga. Goresan yang cukup dalam itu mulai tampak merah seperti meradang.

“Minum ini, aku akan menjahit lukamu,” ucap Ben yang ternyata menyimpan botol whisky dari kereta sebelumnya. Nina menyambar dan minum dengan cepat. Dari dalam tas, Ben mengeluarkan peralatan jahit baju.

“Tidak mewah dan sesuai protokol kesehatan, tapi cukup mencegah lukamu sobek lebih lebar dan infeksi.”

Tangan Ben menjahit luka Nina sepanjang lima senti tersebut. Nina bisa menahan semua derita dan tajamnya jarum yang menusuk kulit. Penyiksaan hukuman dulu jauh lebih mengerikan, termasuk dia pernah dicabut semua kuku tangan kanannya saat gagal menguasai cara merakit bom dan hampir mencelakakan seluruh kelompoknya.

“Hidupmu sangat berat dan kejam,” cetus Ben saat melihat bekas luka lain yang menghiasi lengan Nina. Gadis itu memang menutupi dengan tattoo. Tapi mata Ben cukup jeli melihat itu.

“Terkadang tempaan berat diberikan oleh Tuhan untuk mempersiapkan kita menerima tanggung jawab yang lebih besar,” celoteh Ben. Nina memejamkan mata. Ben terus berkata-kata dan tidak peduli walau Nina tidak pernah menimpali.

Jauh di dalam hati, Nina menyangkal tentang konsep Tuhan yang Ben utarakan. Dia tidak pernah menerima pelajaran agama dan baginya Tuhan itu tidak ada.

Manusia menghadirkan Tuhan sebagai sosok yang bisa mereka jadikan penguat dalam menghadapi cobaan dan menganggap sebagai kontrol untuk terus berbuat baik. Kesuksesan yang mereka dapatkan dari kerja keras, mereka asumsikan sebagai berkat dari Tuhan.

'Beruntung sekali sosok Tuhan ini!' batin Nina sinis.

Setelah selesai menjahit lukanya, Ben menatap Nina dengan lekat.

“Seharusnya kamu mencoba mengenali sosok Tuhan yang aku ceritakan tadi. Dia adalah Sang Maha Tahu yang paling mengerti jati dirimu yang sesungguhnya. Dia menyediakan rumah di mana pun aku membutuhkan.”

Nina cukup terkejut. Retinanya membesar sesaat. Ben terkekeh. Bagaimana dia tahu yang Nina pikirkan?

“Dia tidak ada sewaktu aku diperkosa ketika berusia sepuluh tahun. Dia tidak pernah menolong saat aku disiksa dengan kejam hingga hampir mati. Dia juga tidak pernah muncul pada waktu aku dipaksa membunuh para bayi yang dinilai jenius hanya demi kepentingan sepele manusia yang lain. Maaf, Ben. Bagiku Tuhan itu abstrak,” tukas Nina sinis dan geram. Ben menghela napas panjang.

“Dia selalu melihatmu, tapi jika semua itu tidak kamu alami, kau tidak pernah akan mampu menjadi manusia pilihanNya,” sangkal Ben dengan sedih.

“Maksudmu?” tanya Nina tidak mengerti. Ben menyimpan kembali peralatan jahitnya.

“Lupakan. Hanya ucapan orang tua bodoh. Tidurlah.” Ben menyentuh dahi Nina dan gadis itu seketika terjatuh dalam tidur lelap. Ben menatap Nina dan matanya berkaca-kaca.

“Maaf, tapi Dia juga turut menangis bersamamu …,” bisiknya dan mengecup kening Nina dengan lembut. Bulir bening menetes di pipi tuanya. Luka di perut dan pundaknya berangsur pulih dengan ajaib dan cepat. Kereta terus melaju menuju Austria. Perjalanan panjang akan mereka tempuh. Semoga menjadi titik kebebasan Nina Averin seutuhnya! Benarkah?  

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status