Share

Berada Di Kamar

Aku tidak percaya mendengar apa yang Pak RT mata duitan itu katakan. Aku harus membayar dua kali lipat hanya gara-gara Ayu menangis. Dan aku sendiri tidak tahu kenapa.

“Nek, kenapa laki-laki seperti itu terpilih menjadi Pak RT sih, Nek?” tanyaku lemas.

Aku masih berpikir dari mana aku bisa mendapatkan uang dua juta itu. Jam tanganku yang harganya ratusan juta saja tidak laku. Apalagi ditambah dengan uang dua juta.

“Sudah, jangan kau pikirkan perkataan Pak RT. Dia memang mata duitan. Kerjaannya selalu saja menarik iuran tidak jelas. Tapi, entah kenapa semua warga selalu percaya kepadanya. Mungkin karena dia paling kaya di kampung ini.”

“Nanti akan aku balas, Pak RT,” kataku sangat kesal dengannya.

“Kamu sebaiknya tidur saja sekarang! Besuk, antar Nenek jualan pecel lagi biar laris.”

“Iya, Nek. Tapi, aku mau mencari udara segar dulu. Aku mau menenangkan pikiranku.”

“Baiklah, terserah kamu. Hati-hati, kamu bisa diculik.”

“Aku sebesar ini kok bisa diculik, Nek.”

“Iya, ya. Kamu itu kok tinggi banget, makannya apa sih?” tanya Nenek sambil tersenyum.

“Nasi pecel, Nek.”

“Hahaha, ngawur kamu," kata Nenek sambil tertawa dan menuju ranjangnya. Aku sedih melihatnya. Ranjang Nenek sangat lusuh dan kecil. Tapi, Nenek sangat nyaman saat menidurinya.

Aku berdiri, keluar dari rumah Nenek, setelah melihatnya tertidur pulas. Aku akan mencari udara segar. Aku tidak tenang memikirkan hidupku kali ini. Hidup tanpa kekuasaan memang sangat susah. Semua pemuda di kampung ini memusuhiku. Apalagi Rian dan semua teman-temannya. Belum lagi Ayu yang menangis tidak jelas, menganggapku pacarnya.

“Aiss, aku ini sangat pusing," gerutuku sendiri sambil mengacak-acak rambutku.

Udara sangat dingin. Aku tidak memakai jaket karena masih kotor. Hanya kaos suami Nenek saja yang aku pakai. Kaos ini kekecilan, berlubang juga. Kasihan sekali Nenek. Baju seperti ini, masih saja disimpan. Tapi, aku sangat salut dengannya. Sangat sayang sama suaminya.

Aku duduk di pinggir taman sambil merenungkan nasibku yang tidak jelas ini. “Ibu, aku ini harus bagaimana?” ucapku lirih.

Aku terus melamunkan nasib yang sangat tidak jelas ini. Namun, aku mengernyit melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti di hadapanku. Empat laki-laki berjas setinggi diriku, tapi masih tampan aku sih, menghampiriku dan berusaha menarik tubuhku.

“Loh, mau apa ini?” tanyaku terkejut.

Mereka semakin erat memegang tubuhku. Tentu saja aku tidak bisa melawan mereka yang berjumlah empat orang. Aku ditariknya hingga masuk ke dalam kursi belakang mobil mereka.

“Pak, jangan!” rontaan yang aku keluarkan sangat sia-sia.

Salah satu dari mereka memegang tubuhku, dan satunya lagi memberikan air minum dari dalam botol merah ke dalam mulutku. "Glek, glek."

Aku meminumnya sampai habis. Mobil ini melesat sangat kencang. Di dalam mobil aku semakin berkeringat. Aku tidak bisa menahan panas dalam tubuhku yang sangat tiba-tiba menyerang. Padahal ac di dalam mobil ini saat aku melihatnya di sebelah kemudi, sudah berada di lingkaran atas yang berarti paling dingin.

“Apa, kok tegang begini milikku?!” batinku berteriak melihat keperkasaanku sangat tegang dan akan meledak.

“Pak, aku minum apa ini?” tanyaku cemas.

Mereka tidak menjawab, masih saja melesatkan mobil hingga sampai di dalam sebuah gedung tinggi dan mewah. Kami sepertinya masuk ke dalam parkiran khusus. Aku tidak melihat siapapun juga. Tentu saja, ini sangat malam.

Mereka menarikku keluar. “Loh, mau dibawa ke mana saya, hoii?!”

Salah satu dari mereka menekan tangannya ke mulutku agar aku tidak berteriak. “Aku akan dihabisi seseorang. Siapa dia?” batinku benar-benar bergetar.

Sebuah kamar di lantai paling atas. Kami melewati lift khusus. Aku dimasukkan ke dalam kamar.

“Buk!"

Mereka melemparku di atas ranjang. “Hah, belalai tolong jangan berdiri ya. Gimana ini, gawat. Ibuku bisa marah. Kata Ibu, belalaiku ini hanya boleh berdiri jika di depanku istriku." Aku mengkipas-kipas milikku dengan kedua tanganku agar tidak tegang. Tapi, masih saja tidak berhasil.

Ini pasti salah satu kamar apartemen termegah di salah satu kota Jakarta. Kamar yang tampak remang-remang malam hari. Kedua mataku rasanya sangat berat. Aku semakin susah membukanya. Aku merasakan tubuhku melayang. Aku sedikit mengernyit melihat seorang wanita berkacak pinggang di hadapanku.

“Cinta?”

“Hah, bagaimana mungkin aku berhasil didapatkannya? Padahal aku bersusah payah berlari untuk menghindar darinya.”

Wanita itu, iya, dia adalah Cinta. Dia berjalan menuju kearahku dengan pelan. Semakin dekat, aku semakin jelas melihatnya.

“Tidak mungkin aku akan melakukannya. Tapi, aku ini laki-laki normal. Tidak mungkin aku tahan melihat wanita sangat cantik di hadapanku. Duh, bagaimana ini, milikku sangat berdiri. Belalai, tolonglah jangan mempersulit keadaanku!”

Dia  semakin mendekatiku. Kedua miliknya yang menggunung di atas tubuhnya ada di hadapanku dengan indah, putih, dan mulus. Aku melotot, bentuknya sangat sempurna. Dia tidak mengenakan busana. Bagaimana aku bisa mengatasi naluri laki-lakiku ini? Dia berada di atas tubuhku.

“Aku tidak tahan! Ah ….”

Aku semakin panas. Dengan cepat, aku menariknya. Aku seperti hewan buas yang menerkam mangsa di hadapanku. “Ah, kau sangat cantik.”

Bibirku dengan sangat rakus menikmati tubuh Cinta. Aku tidak pernah melakukan dengan wanita siapapun juga.

“Mbak, maafkan aku!”

Aku tersadar, dan menghentikan gerakanku yang sangat tidak karuan ini. “Hah, tubuhmu kok merah semua, Mbak?” Aku terkejut dan menghindar melihat Cinta dengan semua bekas gigitanku itu.

“Plak!"

Cinta menamparku cukup keras.

“loh, kenapa ditampar?”

“Aku bukan mbakmu, dasar. Dan semua tanda merah ini, kau yang memberikannya. Sakit," ucap Cinta membuatku kebingungan.

Aku tidak tega melihat Cinta yang muram menatapku. Aku segera menuruni ranjang dan menjauh darinya. Dia mengikutiku, lalu berjalan kearahku, kemudian memelukku. Aku perlahan tidak sadar terpana dan membelainya.

“Kamu kalau gigit yang pelan dong, Agus,” ucapnya manja dengan sangat menggemaskan.

“Iya Mbak, eh maaf tidak lagi. Loh, aku ga pakai pakaian. Mbak Cinta juga!” Aku segera melepaskan tubuhnya. Aku menutup milikku dengan tanganku saat tersadar.

“Mbak Cinta, aku mau pakaianku! Mana?”

“Aku buang.”

“Apa?”

“Iya, Aku bu-ang.”

“Duh, berat masalah ini. Mbak, jangan mendekat.”

Aku berjalan mundur, ketika Cinta kembali mendekatiku. Dia sudah membuatku sangat panas. Tapi, bagaimanapun juga, aku harus menahannya.

“Buka tanganmu itu!” perintahnya sambil menunjuk milikku.

“Mbak jangan! Aku tidak bisa melawan wanita. Ga boleh sama Ibu.”

“Bagus!” katanya tegas.

“Bagus?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.

“Loh, Mbak jangan! Duh, aku tidak tahan.”

Aku semakin menderita. Cinta malah membelai milikku dengan tangannya. Aku hanya memejamkan kedua mataku. Entahlah ini nikmat atau tidak, aku tidak tahu. Yang jelas, aku tidak tahan akan sesuatu.

Aku segera menampisnya dan membalikkan tubuhku. Cinta memelukku dari belakang, semakin memainkannya. “Agus, ah,” desah Cinta.

Suara rintihannya semakin membuatku, “Cinta, maafkan aku!”

“Agus?”

Cinta mengernyit melihatku yang tiba-tiba berbeda. Entahlah kenapa aku seperti itu. Aku mengangkat tubuhnya menuju ranjang. Aku merebahkannya, menatap tubuhnya yang sudah sangat pasrah dengan apa yang akan aku lakukan. Aku perlahan menikmati setiap inci tubuhnya.

"Hah, Agus?"

Rintihan yang Cinta keluarkan, semakin membuat aku panas. Aku tidak peduli lagi dengan perlakuanku yang sudah tidak tahan dengan hasratku sendiri. Aku menatap wajahnya. Kunikmati bibirnya yang sangat merah. Tidak aku pungkiri, dia adalah wanita yang sangat cantik yang pernah aku kenal. Dadaku rasanya bergetar. Aku sangat menikmatinya. Nafasku mulai menderu-deru. Hingga miliknya di dada itu aku permainkan dengan bibirku.

“Hah, Agus,” rintih Cinta yang membuat aku semakin menguasainya.

Kami saling berpandangan. “Cinta, kau sangat cantik,” bisikku di telinganya, yang kemudian aku berikan tanda merah di lehernya sambil memejamkan kedua mataku.

“Agus, ayo lakukan!”

Cinta semakin membuka miliknya di bawah yang sudah aku nikmati dengan bibirku. Aku menguasai bibir bawahnya. Dia semakin mengeliat. Entah kenapa aku semakin menyukainya. Aku kembali menatap wajahnya yang sudah berkeringat, namun masih saja sangat cantik. Dengan perlahan, aku memasukkan milikku.

“Hah, hah!”

Kami berdua menikmatinya dengan puas, hingga lahar milikku masuk menerobos kesuciannya. Aku masih berada di atas tubuhnya. Aku membelainya saat menyelesaikan hasratku.

“Agus, kenapa kau sangat berbeda?” tanya Cinta yang membuatku kembali melotot melihatnya.

“Mbak, Aku minta maaf!” ucapku segera melepas pelukanku yang sudah tidak sadar aku lakukan.

“Agus? Kau memiliki kepribadian dua?” tanya Cinta kesal.

Aku segera berdiri. Aku kembali melotot kearahnya. “Darah, kenapa ada darah, Mbak?” tanyaku cemas segera menuruni ranjang.

“Tentu saja. Aku masih suci,” jawab Cinta dengan santai sambil tersenyum.

“Tidak, Ibu akan menghabisiku. Dia akan menangis, dan akan bilang, kamu sudah mencoreng nama besar keluarga Bapak! Duh, mati aku!”

Aku semakin kebingungan dengan apa yang terjadi malam ini.

“Tidak! Ibu, aku sudah mengambil kesucian seorang wanita!” Aku merana duduk di lantai, berteriak histeris sambil menarik nafas panjang.

Cinta tertawa melihatku. Dia menuruni ranjang, menatapku.

“Agus,” panggil Cinta pelan. Aku masih saja lemas melihatnya, hingga tidak menjawabnya.

“Punya kamu masih berdiri,” ucap Cinta sambil menunjukkan jarinya ke milikku. Aku melotot melihatnya.

“Kenapa kamu benar?” ucapku menggeleng melihat milikku yang masih membesar.

Cinta menarikku hingga menuju ke ranjang.

“Ayo ulangi sekali lagi!”

“Loh?!”

Comments (14)
goodnovel comment avatar
Mohsoleh Soleh
cerita sangat bagus
goodnovel comment avatar
ūüĆĻisqiaūüĆĻ
kurang detil kurang panas kurang hot... ah aguusss
goodnovel comment avatar
Nasrul
bagus tapi sayang dua cara memeras kantong
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status