Kesepakatan part 1

"Mbak, jadi gak nganterin aku ke rumah Devan?"

"Ma'af ya Sil! Aku lupa, kalau aku gak bisa antar kamu, hari ini aku mau ke rumah Kakak ku, Ma'af ya sekali lagi!" ucap Mbak Ridha sambil menggenggam tanganku.

"Eum, ya sudah," jawabku sambil memberengut.

Aku sedikit agak kecewa karena Mbak Ridha tidak jadi menemani ku ke rumah Devan, kemarin sore dia berjanji akan mengantarkan ku, namun karena dia ada urusan lain, akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri.

Sebenarnya aku sangat lelah dan mengantuk, ingin sekali aku merebahkan tubuh ini dan beristirahat sejenak, karena hampir semalaman aku terjaga mataku tak kunjung terpejam, di otakku terus berputar memikirkan perkataan Mbak Ridha, yang mengusulkan ku untuk menerima tawaran kerja dari Devan, agar aku bisa melunasi hutang ibu.

Atas dorongan dari Mbak Ridha, akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran Devan, meski aku tak tau pekerjaan apa yang akan aku jalani nanti, memang ada sedikit keraguan di hati ini, namun ini satu-satunya jalan keluar dari masalah ku.

Ku tatap dan ku baca alamat yang tertera di kartu nama, kata Mbak Ridha tempatnya tak begitu jauh, hanya memakan waktu 10 menit dengan naik angkutan umum berwarna biru, nomor 15. ku berdiri di tepian jalan depan cafe sambil menunggu angkot lewat.

Tak beselang lama dari arah kanan ada angkutan umum seperti yang di sebutkan oleh Mbak Ridha, hendak melintas, gegas ku lambaikan tangan, dan kendaraan itupun berhenti di hadapanku, lalu aku masuk duduk di kursi depan karena kebetulan tak ada penumpang.

"Kemana Neng?" tanya supir angkot bertubuh gemuk dengan kaos merah memakai topi hitam yang di putar ke arah belakang.

"Ke alamat ini bang!" ucapku seraya menyodorkan kartu nama. Dia pun mengerutkan keningnya, lalu pandangannya beralih lurus ke jalan.

"Siap!"

Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, jalanan kota ramai lancar sehingga cepat sampai di tujuan, karena masih pukul 15.10, orang-orang masih bergelut dengan aktivitasnya sampai waktu kerja usai petang nanti.

"Berapa bang?"

"Goceng,"

"Oh, ini bang," kataku sambil memberikan selembar uang kertas sesuai yang di minta Abang sopir.

Ku turun dan berdiri di depan gerbang pagar yang tinggi sekitar 3 meter, ada scurity yang sedang berjaga di gerbang.

"Permisi Pak! Apa benar ini rumah Pak Devan?" tanya ku pada scurity yang berjaga di depan gerbang.

"Iya bener, ini rumah Pak Devan, ada perlu apa Mbak?"

"Saya ingin bertemu dengan beliau,"

"Oh, Mbak, silahkan laporan dulu ke scurity yang jaga di pos!" ujarnya sambil menunjukkan ke arah yang di maksud.

Aku pun berjalan ke arah pos, "Permisi Pak, Selamat sore?" ucapku sambil membungkuk, dan melongok ke jendela pos jaga.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" jawab Pria berseragam putih dan celana biru Dongker, dia menatapku seraya melipat kedua tangannya di meja.

"Iya Pak, saya mau bertemu Pak Devan, bisa gak?"

"Apa Mbak sudah ada janji sebelumnya dengan Beliau?"

"Iya, saya sudah ada janji kemaren siang,"

"Nanti dulu ya Mbak! Saya mau menghubungi Pak Devan terlebih dahulu, untuk menginformasikan,"

"Iya Pak." Aku berbalik badan sambil menatap jalanan yang lengang, selang beberapa saat.

"Mbak, silahkan masuk!" ucap scurity jaga menunjuk ke arah gerbang. 

"Terimakasih Pak," ucapku sambil mengulas senyuman. Aku pun berjalan ke arah gerbang pagar yang sudah di buka oleh Pria berseragam itu.

 "Ayo Mbak, saya antarkan," ujar Pak satpam yang bertugas menjaga gerbang.

"Terimakasih Pak," balasku sambil tersenyum di barengi dengan anggukan.

Aku pun mengekor dari belakang Pria bertubuh tinggi besar dan tegap itu, ku melewati pekarangan rumah yang sangat luas kanan kiri jalan menuju teras di tumbuhi pepohonan yang rindang, dan bunga-bunga cantik warna-warni.

Sesampainya di depan teras aku di sambut oleh Pria berjas hitam dan celana warna senada, "Nona Silvi, silahkan masuk! Anda sudah di tunggu oleh Pak Devan, di ruangannya!"

Aku mengangguk, "Iya Pak,"

"Mari, ikut saya!"

Aku pun masuk ke ruang tamu yang megah, interior seisi rumah bernuansa klasik dan elegan, aku mendongak, mataku mengedar menatap kesekeliling, aku sungguh takjub melihat penampakan rumah Devan yang megah bak istana di negeri dongeng.

Seumur hidupku, baru kali ini kaki ku menginjak lantai marmer yang indah dan mengkilat.

"Ya Tuhan, ini rumah, apa istana," gumam ku, berdiri mematung.

"Nona, ayo masuk!" ajak Pak Reno menepuk pundak ku, aku terhenyak dan tersadar dari lamunan.

"I,iya Pak." Aku tergagap.

Ku ikuti langkah Pak Reno melewati ruangan-ruangan luas dan mewah, kami melewati beberapa pelayan perempuan dari usia 30 sampai 35 menurut perkiraanku, semua mengenakan seragam putih, mereka menautkan kedua tangannya di depan merundukkan tubuhnya dan mengangguk hormat Pak Reno.

Sampai kami di depan pintu berwarna putih, Pak Reno mengetuk ruang kerja Devan, dan terdengar sahutan dari dalam mempersilahkan kami masuk.

"Ayo Nona!" Pak Reno membuka pintu dan menyuruh ku untuk masuk terlebih dahulu, aku pun mengangguk hati ku kebat-kebit perasa'an ku tak jelas dan susah di gambarkan, ketika aku masuk keruangan Devan.

"Iya Pak." Aku tak bisa berkata apapun, ku berjalan ke arah Pria berkemeja putih dan jas hitam dia menegakkan tubuhnya seraya menautkan kedua tangannya di atas meja.

"Silahkan duduk Nona!"

"Te-terimakasih Pak,"

Pak Reno menggeserkan kursi berwarna hitam dan empuk untuk ku duduk.

"Nona." Dia memegang ujung sandaran kursi lalu membungkukan badan di samping tubuh ku, "Anda harus tau! Panggil Bos saya dengan sebutan Tuan Devan! Semua pelayan di sini memanggil beliau seperti itu, tak terkecuali dengan anda Nona!" bisiknya.

"Iya, baik Pak Reno," jawabku sambil mengangguk patuh, Nafas ku tersengal, aku mendadak takut berada di dalam sini, namun aku harus tetap tenang dan berfikir positif tentang Pria di depan ku.

"Nona, ada perlu apa, anda datang kesini?" tanyanya dingin, seolah-olah dia lupa apa yang ia katakan kemaren siang, bukannya dia menawarkan pekerjaan pada ku.

Aku sangat gugup berhadapan dengan Pria tampan dan menawan, dengan wajah di tumbuhi jambang, ku tundukan kepala ini tangan ku meremat ujung kemeja hitam seragam kerja ku, untuk membuang rasa canggung.

"Tuan bukannya, kemarin Anda menawarkan pekerja'an kepada saya?"

"Eum." Devan manggut-manggut, lalu ia menggaruk dahi dengan jari telunjuknya, sepertinya ia sedang berfikir, "Shh, iya, saya lupa," jawabnya mendesah. 

Ku tarik nafas pelan, dan menatap sekilas lalu ku menunduk kembali, hati ku bergetar kala menatap wajahnya yang karismatik itu.

"Apa masih ada kesempatan, untuk saya melamar kerja di sini?"

"Tentu, masih ada, apa Anda serius?" Devan menaikkan alisnya, meletakkan kedua sikutnya di meja dengan jemari saling bertautan, di bawah dagu, seraya mencondongkan tubuhnya ke depan, "Apa Anda sudah fikirkan, masak-masak? Tentunya, Anda harus melepas pekerjaan sebelumnya!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status