Terlahir sebagai anak di luar nikah, dari ayah yang tidak pernah dia ketahui rimbanya membuat nasib buruk terus menimpa Serena. Dia tak diinginkan, diabaikan juga dibenci oleh banyak orang Di hari yang sama dengan dia dipecat dari tempat kerja, Serena dipaksa menggantikan tempat kakak tirinya untuk menikah dengan seorang pemimpin mafia. Pemimpin mafia yang terkenal dingin dan kejam. Serena tak punya pilihan selain menerima pernikahan tersebut. Atau ibunya akan berada dalam bahaya. Menikah dengan seseorang yang bahkan Serena tak tahu wajahnya, bagaimana hidup Serena selanjutnya? Akankah dia akan menghadapi kekejaman seorang mafia seperti yang diberitahukan oleh kakak tirinya atau nasib baik yang justru Serena dapat? Apa yang akan Serena lakukan ketika pertemuannya dengan Alterio Inzaghi membawanya pada banyak hal yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Termasuk siapa ayah kandungnya. "Tidak adakah yang menginginkanku di dunia ini?" Serena Valencia. "Ada, aku orangnya." Alterio Inzaghi. "Aku tidak pernah menginginkan anak perempuan!"
View More"Kenapa saya harus menggantikan kak Thalia untuk menikah dengan orang itu?"
Pertanyaan itu mengalir lancar dari bibir seorang gadis berpakaian lusuh dengan wajah kusam dan rambut diikat asal. Serena Valencia namanya. Hari ini dia baru dipecat dari restoran tempat dia bekerja sebagai pelayan. Semua karena ulah kakaknya sendiri. Thalia, perempuan yang kini duduk manis di sofa sambil memainkan kukunya yang dicat merah menyala. Kakaknya berulah, sengaja membuat keributan di restoran, hingga Serena yang kena akibatnya. Serena dipecat dari pekerjaan, yang jadi satu-satunya sumber pendapatan guna membeli obat untuk sang ibu. Ada seulas benci bersemayam di hati Serena untuk Thalia. "Masih tanya kenapa? Tentu saja untuk menunjukkan kalau kau ada gunanya. Lihat! Kau hanya anak haram yang kubesarkan di rumahku. Sudah waktunya kau membalas budi." Seorang pria menjawab penuh emosi. "Tapi, A-Tuan. Bukankah ini kesalahan Kak Anthony. Kenapa saya yang harus menanggungnya?" Yang disebut namanya melotot marah pada Serena. Tapi Serena acuh. Dia coba menolak. Jika dia pergi, siapa yang akan merawat ibunya. Dia tidak percaya pada siapapun di rumah ini. Bahkan pada pada lelaki berwajah tirus dengan sorot mata penuh kebencian padanya. Sosok yang bahkan tidak sudi dipanggil ayah oleh Serena. Frans Hernandez namanya. Pria yang statusnya adalah suami ibunya, tapi tak pernah mau mengakui Serena sebagai anak. "Sebagai orang yang hanya bisa numpang makan dan tidur harusnya kau sadar diri. Kau harus bayar untuk semua yang sudah kau telan sebagai ganti." Ucapan Frans setajam pisau, sepedas cabai Carolina Reaper. Kalimat yang mampu mencabik hati Serena berulang kali. Tak sekali dua pria itu berucap demikian. Luka yang Serena tanggung seakan tak pernah dibiarkan mengering. Tiap saat ada saja hal yang menambah dalam sakit di hati Serena. Sedalam kebencian Frans dan seisi rumah ini padanya dan ibunya. "Tapi Frans, bukankah itu tanggung jawab Anthony. Dia yang buat kacau, kenapa Serena yang harus menanggung akibatnya?" "Kau diam saja. Kau dan dia hanya aib di rumah ini!" Frans lekas memotong ucapan wanita yang tampilannya tak jauh beda dengan Serena. Perempuan yang berdiri di belakang Serena. Mendengar suara itu, Serena menoleh. Dia mendapati ibunya memandang penuh permohonan pada Frans. "Frans, berapa kali kubilang. Kalau malam itu aku dijebak. Kalau kau ingin membenci, bencilah aku. Jangan Serena, dia tidak bersalah." Frans memanahkan pandangan tajam. Emosi lelaki itu selalu terpatik tiap kali melihat Serena. Paras gadis itu menuruni garis wajah ibunya. Hanya saja netra biru benderang milik Serena, dengan jelas menunjukkan kalau bukan benih Frans, yang membuat Serena hadir ke dunia. Frans rasanya ingin sekali melenyapkan Serena guna meredakan amarah di hati. "Kau tahu bukan? Aku membencinya sedalam cintaku padamu dulu." Ibu Serena tertunduk mendengar ucapan Frans. Arrghhh! Serena meringis kala Frans mencengkeram dagunya. "Hentikan, Frans! Kau menyakitinya!" Nereida, ibu Serena coba melepas cekalan Frans. "Benar begitu? Sayangnya aku selalu ingin menyakitinya!" Satu tamparan mendarat di pipi Serena. Gadis itu tersungkur ke lantai dengan sudut bibir berdarah. Nereida menjerit histeris, dia lekas menolong sang putri. Serena hanya bergeming, ini bukan kali pertama Frans menamparnya. Serena bersumpah akan membalas semua perbuatan Frans. Tapi bagaimana caranya? Jika keluarga ini masih menyandera ibunya. "Jangan melihatku seperti itu!" Hardik Frans melihat Serena balik menatap tajam padanya. Tatapan Serena mampu membuat nyali Frans ciut. Frans yakin Serena menuruni mata elang ayah kandungnya. Netra yang membuat Frans selalu merasa terancam.Tapi dia tidak akan kalah di rumahnya sendiri. "Sudahlah, Pa. Antarkan saja dia lusa ke The Palace. Aku tidak mau menikah. Apalagi dengan orang yang wajahnya tidak pernah aku lihat. Siapa tahu dia tua bangka yang doyan kawin, dengan perut buncit." Thalia segera mempengaruhi sang ayah. Dia masih ingin bebas, menikmati hidup, mengejar karier, bermain dengan banyak pria. Jelas, Thalia tidak mau terjebak dalam sebuah pernikahan. "Yang aku dengar dia kejam. Tapi yang lain menyebut dia tampan." Anthony melirik ke arah Thalia. "Tampan dan kejam, bukan tipeku. Dia juga kabarnya pemimpin klan mafia. Suruh dia saja yang pergi. Kalau tidak, hentikan saja pengobatan ibunya." "Jangan!" Serena langsung bereaksi mendengar ucapan Thalia. Thalia dan Anthony tersenyum sinis. Serena sangat mudah diancam, dikendalikan, jika sang ibu yang dijadikan ancaman. Sangat cocok dijadikan pelampiasan kekesalan juga kebencian. Dua beradik itu sangat membenci Serena. Bagi mereka, Serena adalah hal yang menyebabkan keluarga mereka dipandang sebelah mata, oleh keluarga lain yang mengetahui keberadaan Serena. Frans menatap dingin pada Serena, menikmati ekspresi sang gadis yang sedang terdiam menahan rasa sakit. "Frans, aku mohon. Jangan kirim Serena ke sana," pinta Nereida dengan wajah memelas. "Lalu kau ingin aku mengirim Thalia. Tidak!" Serena kembali meringis ketika Frans menjambak rambutnya. "Aku dengan senang hati akan memberikanmu pada Tuan Alterio Inzaghi. Aku tidak peduli dia akan melakukan apa padamu." "Jangan Frans! Jangan! Bagaimana kalau dia menyakiti Serena." Nereida bahkan sampai berlutut di kaki Frans. "Bagus dong. Akan lebih bagus lagi kalau dia ... mati." Nereida melotot melihat Thalia mengucap "mati" walau tanpa suara. "Kenapa? Kenapa kalian begitu kejam pada kami. Kenapa kalian sangat membenci Serena. Dia tidak salah!" Protes Nereida tidak terima. "Ibu!" Serena melepaskan diri dari jambakan Frans ketika Anthony menampar Nereida. Hingga perempuan itu berakhir tertelungkup di lantai. "Sebab kalian tidak berguna! Kau aib dan dia anak haram! Kalian patut dibenci, disingkirkan kalau perlu." Desis Frans, seraya menunjuk Nereida dan Serena bergantian. Sebelum beranjak pergi. Serena memandang tajam punggung Frans. Sebelum bibirnya mengucapkan satu kalimat yang mematik amarah Frans tumbuh lebih besar. "Saya menolak menikah dengan Alterio Inzaghi!”"Dia kenapa?" Tanya Alex panik. Sementara yang ditanya justru melotot, Alex menghalangi pergerakannya."Minggir dulu." Alterio menarik Alex keluar ruangan Sica. Membiarkan Max dan timnya menangani Sica yang mendadak sesak napas setelah sadar."Al dia gak kenapa-kenapa kan." Alex terlihat cemas. Bingung jug takut. "Kalau Max tidak bilang apa-apa, berarti semua masih bisa diatasi." Alterio terlihat santai saat bicara.Suami Serena tentu telah melihat berbagai kejadian di balik dinding kaca ruangan Max. Mulai dari Arthur yang terluka, disusul Edgar, kehilangan Rud. Serena yang koma, juga gugurnya bayi mereka. Menyakitkan, menakutkan tapi Al bisa melewatinya. Bertahan hingga hari ini, dengan tabah menghadapi. Berpegang teguh pada keyakinan kalau Max bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan, asal takdir tidak bersabda lain.Dan untuk kasus Sica, Max sejak awal sudah bisa memprediksi yang terjadi. Sedikit meleset dari perkiraan, itu biasa. Dan benar saja, Sica mampu bertahan. Walau mengalam
"George didemo," info dari Felix membuka pagi mereka di The Palace.Hampir fajar ketika mereka kembali ke tempat itu. Sica yang keadaannya stabil setelah operasi pengangkatan peluru dan limpa langsung dipindahkan ke tempat Max.Untungnya ginjal gadis tersebut masih bisa diselamatkan. Jika tidak tindakan transplantasi mungkin saja akan dilakukan."Demo? Mau ikutan negara itu," sambut Jeff yang ikut menginap di sana. Al hanya tersenyum tipis. Tentu saja hal itu mungkin terjadi. Sebab staf yang George berhentikan pagi ini lumayan banyak. George memang belum membuat klarifikasi soal kenapa dia memberhentikan bawahannya secara sepihak. Namun itu hanya soal waktu. Mereka yang berdemo hanya oknum bayaran untuk mengalihkan fokus George."Biarkan saja. Kalau lelah nanti berhenti sendiri. Perintahkan mereka jangan terpancing provokasi. Kalau mereka sampai berbuat kesalahan atau melukai sipil, aku sendiri yang akan menghukum mereka."Dengan banyaknya anggota Black Diamond yang menyusup di ke
Pevi mendongak guna mendapati satu tangan terulur padanya. Tanpa banyak pikir Pevi menyambut bantuan yang datang padanya."Kenapa Tuan kembali?" Pevi bertanya pada Rent yang secara mengejutkan kembali lagi."Blazer Nona ketinggalan."Pevi menepuk jidatnya. Pantas tubuhnya terasa dingin. Blus yang dia kenakan lumayan tipis, karenanya dia tutupi dengan blazer. "Terima kasih." Pevi kenakan lagi benda itu."Nona mau keluar lagi?" Rent bertanya melihat tindakan Pevi."Iya, saya akan ....""Pevi jangan pergi!"Mata Rent memicing tajam. Pun dengan Nicky yang terkejut mendapati pria yang hari itu, muncul lagi bersama Pevi."Siapa dia?" Bisik Rent waspada."Mantan," balas Pevi. Dia langsung bergeser ke belakang tubuh besar Rent ketika Nicky makin dekat."Anda siapa? Silakan pergi, Anda tidak boleh ikut campur urusan saya dan Pevi.""Boleh minta tolong?" Bisik Pevi dari balik bahu lebar Rent. Secara fisik Rent menang mutlak atas Nicky. Mungkin secara rekening pun Rent juga lebih tajir dibandi
"Siapa kau berani memberi perintah," cibir Alterio muncul dari arah pintu sebelah kiri. Satu tempat di mana ruang kerja Mateo berada."Kau! Apa yang kau lakukan!""Mencari tahu tentu saja. Dan ternyata banyak rahasia di sini," kata Al sarat ketertarikan.Mateo meronta, ingin melepaskan diri dari rantai yang membelenggu. "Kau tidak bisa melakukannya! Kau tidak punya akses.Alterio tertawa kecil. "Aku bawa pengacara bersamaku. Bersamanya semua tindakanku akan jadi legal. Jangan cemas, rahasiamu aman di tanganku."Mateo memandang tajam pada Al yang juga balas menatapnya. Semua berakhir ketika Alex memanggilnya. Alterio lekas mendatangi Alex yang sempat mengamati interaksi Al, Ben dan Mateo.Sebuah kejutan besar jika ketiganya adalah putra Jefferson. Takdir manusia siapa yang menyangka."Ada apa?""Beita menemukan ini." Alex menunjukkan data di laptop Mateo. "Jadi dia alihkan dana yang seharusnya untuk beli alutsita (alat utama sistem senjata).""Bukan dia, tapi orang lain. Mateo selama
Kepala Alterio langsung berdenyut nyeri. Dia sandarkan tubuhnya di sofa luar gazebo. Mateo Jefferson kemungkinan punya hubungan darah dengannya. Yang benar saja.Mendadak Al merasa hidupnya sangat lucu. Dulu dia ingin sekali menemukan keluarganya. Setidaknya dapat adik atau kakak. Begitu keinginannya dikabulkan, sekalinya dapat tidak hanya satu, tapi dua.Mana dua-duanya troublemaker semua. Bahkan sampai sekarang dari tempatnya duduk, Al bisa mendengar Ben dan Mateo saling berteriak satu sama lain. Entah masalah apa yang mereka miliki.Ingin rasanya Al tidak peduli, tapi hati kecilnya yang masih berfungsi menolak abai. Sample darah Mateo sudah dikirim pada Mr Brain. Kali ini dia yang akan menguji sendiri DNA tiga pria tersebut."Ini rumit. Akan sangat rumit." Alex mendadak duduk di samping Al. Pria itu entah datang dari mana. Operasi pengangkatan peluru Sica sudah dimulai setengah jam lalu. Tempat itu memenuhi standar rumah sakit, hingga operasi Sica bisa dilakukan di sana."Aku haru
Sebagai seorang dokter, Max akan langsung tersentuh jika bertemu pasien dengan keadaan kritis. Bahkan untuk Matilda, Max sampai menyebutnya mengenaskan.Tinggal tulang berbalut kulit, entah apa sebutan yang pantas untuk Matilda. Kurus kering, kurang gizi, penyakitan. Apapun itu, intinya menyedihkan."Tuan Hugo," panggilan Alex mengalihkan perhatian Max dari Matilda. Dia memindai keadaan tempat itu. Benar-benar macam rumah sakit yang dipindahkan ke rooftop.Semua perlengkapan ada, bahkan ketika dia menelisik, persediaan obat yang dia butuhkan sebagian ada di sana."Baringkan dia di sini. Kita lakukan pertolongan pertama. Kamu bisa pakai koneksimu untuk datangkan heli, kita akan bawa Sica ke tempatku. Meski di sini komplit. Aku akan lebih leluasa menanganinya di sana."Itu rencana awal Max, tapi begitu dia menyibak blus Sica, pemandangan mengerikan lain menyambut. Satu dokter dan dua perawat auto mendekat begitu ada "pasien lain" mendadak muncul."Ini ....""Akan sulit," potong Max cepa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments