Bab 2_ Mata yang Enak Dipandang

Suasana di kantin sangat ramai. Meja-meja telah penuh. Dari sekian banyak gerai yang menyediakan makanan yang berbeda-beda, tidak ada satu pun yang terlihat sepi.

Hal itu sangat berbeda dengan suasana perpustakaan yang tampak lengang. Tidak banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu di sana, hanya segelintir saja. Itupun tidak kesemuanya benar-benar berniat untuk membaca buku atau mencari referensi tertentu.

Ada saja mahasiswa yang duduk lesehan di pojokan sekadar untuk menghabiskan waktu kosong dengan tidur di dalam perpustakaan. Suasana yang tenang dengan suhu ruangan yang dingin, sungguh lokasi yang pas untuk terlelap.

Tidak sedikit pula yang hanya berkumpul dan menggosip, sambil melahap kudapan yang dibawa secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat dari pantauan penjaga perpustakaan.

Pasalnya, sepinya perpustakaan sudah menjadi budaya yang sangat lumrah terjadi. Selain karena penjaga perpustakaan yang dinilai kurang ramah, bahkan cenderung galak, para mahasiswa memiliki kebiasaan yang unik. Mereka baru akan mengunjungi perpustakaan jika telah dekat dengan batas akhir pengumpulan tugas.

Tapi tidak demikian dengan Smith. Baginya, berada di sekeliling buku lebih menyenangkan dan berfaedah, ketimbang mendengarkan ocehan tidak berguna dari orang-orang yang saling memuji kelebihan masing-masing, ataupun mengolok-olok orang-orang yang dipandang sebelah mata.

"Ooo...." kata Janu yang terkejut karena tanpa sengaja ia memegang buku yang sama dengan yang hendak diambil Smith dari rak buku. Ia yang sebelumnya telah mengambil sebuah novel, yang kemudian ia baca sekilas isinya masih dengan posisi berdiri, tidak menyadari kedatangan Smith di sekitarnya.

Smith yang juga terkejut, langsung refleks menatap mata Janu yang indah seperti mata kucing. Ia sudah pernah melihat mata seindah itu, yakni pada seseorang yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Tapi sayangnya, orang tersebut tidak akan pernah bisa ia jumpai lagi. Mungkin karena itulah melihat mata Janu bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Smith yang sempat tertegun beberapa detik, kemudian melepaskan buku yang ia pegang. Lalu, bergegas membalikkan badan untuk pergi dari Janu.

"Sas! Maksudku... Smith!" panggil Janu membuat Smith menghentikan langkah kakinya. Tapi gadis itu tidak membalikkan badan atau sekadar menoleh.

"Ini untukmu saja. Aku sudah mengambil novel lain sebelumnya," ujar Janu yang sudah berada di samping Smith. Ia menyodorkan buku yang baru ia ambil dari rak pada Smith sembari menyunggingkan senyum.

Tapi Smith yang sudah terlanjur biasa bersikap dingin kepada siapapun, hanya melihat buku itu sejenak. Lantas pergi begitu saja, tanpa mengatakan apa-apa.

Meninggalkan Janu yang tersenyum semakin lebar, tidak merasa kesal sedikitpun.

***

Janu memang seorang yang sangat sabar. Ia juga begitu dewasa dalam menyikapi segala hal.

Janu tidak hanya melihat satu masalah atau keadaan atau apapun itu dari satu sisi. Ia selalu berusaha untuk tetap melihat hal apapun dari sisi lainnya juga.

Dan itu membuat Janu menjadi seorang yang lebih maklum pada apa-apa di sekitarnya. Tidak mudah mengambil simpulan, termasuk dalam hal menilai orang lain.

Janu tidak hanya memiliki hati yang baik, tetapi juga fisik yang menawan. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi dan gagah, badan tegap, serta wajah yang rupawan dengan senyum yang selalu terpasang.

Selain itu, Janu juga memiliki otak yang cemerlang. Ia bahkan selalu menjadi juara umum di sekolahnya dulu. Dan hal itu menjadi modal baginya untuk bisa mendapatkan pendidikan di universitas yang ia inginkan, dengan percuma alias tanpa biaya sepeser pun sampai lulus nanti.

Janu merasa sangat beruntung sebab dirinya bisa mendapatkan beasiswa dengan begitu mudah. Jika tidak, mungkin ia harus bekerja keras terlebih dahulu. Baru setelah memiliki cukup uang, akan melanjutkan pendidikannya.

Benar, Janu memang dilahirkan dari keluarga dengan latar belakang menengah ke bawah. Bahkan sejak kecil ia diasuh oleh pamannya karena kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Meskipun demikian, Janu tidak pernah pesimis. Ia selalu berpikir positif dan semangat dalam menjalani hidup. Ia yakin semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan cita-citanya. Ada banyak jalan untuk itu. Dan jalan tersebut hanya akan tersedia bagi mereka yang selalu berusaha pantang menyerah.

Janu sendiri memilih jurusan sastra lantaran ingin menjadi penulis hebat sebagaimana para sastrawan yang ia kagumi. Baginya, tulisan itu sangat ajaib. Tulisan bisa membawa pengaruh besar bagi pembacanya. Bahkan juga bisa mengubah hidup seseorang.

Pemikiran itu pula yang membuat Janu memiliki hobi membaca. Menurut Janu, buku adalah guru yang tidak pernah marah dan tidak pernah pula menuntut. Ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan hanya dengan duduk manis.

Janu berharap suatu saat ia bisa menjadi orang bermanfaat, yang bisa menginspirasi orang lain melalui tulisannya.

Ia tidak menduga, jika jurusan yang ia pilih itu mengantarkan dirinya untuk memiliki teman satu kelas yang begitu unik seperti Smith.

***

"Si*lan!" umpat Smith sambil tengkurap dan membenamkan wajahnya ke bantal.

Jam telah menunjuk angka satu. Waktu yang sudah terlalu malam untuk masih membuka mata. Ah, tidak! Itu waktu yang terlalu pagi untuk bangun. Semestinya ia sedang terlelap nyenyak sekarang.

Hari ini Smith memang berbeda. Biasanya ia akan memaksa diri untuk tidur sebelum ayahnya pulang. Baginya malam yang indah adalah saat tidak melihat wajah ayahnya sebelum tidur.

Makanya ia selalu tidur lebih awal ketimbang muda-mudi pada umumnya. Kamarnya telah gelap, dan selimut telah melingkupi seluruh tubuhnya, meski baru pukul 21.00.

Tapi malam ini, matanya selalu menolak untuk dipejamkan. Kalaupun sempat tertutup, Smith lekas-lekas membukanya kembali.

Gadis itu telah duduk, berdiri, lalu berbaring lagi. Ia juga sudah berguling-guling ke kanan dan ke kiri. Tapi otaknya tidak juga mau diajak untuk berhenti berpikir.

Hal yang membuat Smith semakin dongkol adalah ia tidak berhenti berpikir hanya karena terus mengingat mata indah Janu.

"Apa-apaan aku ini? Konyol sekali!" ujar Smith sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

Smith tidak tahu mengapa dan bagaimana, tapi mata Janu yang sangat indah selalu terlintas dalam benaknya, baik saat ia membuka maupun menutup matanya.

Meski sebelumnya Smith telah melihat wajah Janu ketika pemuda itu meminjam pena padanya, ia hanya melihatnya sepintas lalu tanpa memperhatikan dengan teliti.

Dan ia sungguh menyesal telah menatap mata Janu yang sungguh enak dipandang itu.

"Lihat saja, aku akan mencolok matanya besok. Siapa suruh memiliki mata seperti itu," gumam Smith dalam batin.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Judul chapter diambil dari salah satu cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul Mata yang Enak Dipandang.

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Rizky dee
ya allah mata janu sama kayak kata kucing. Smith aya aya wae
goodnovel comment avatar
Desy Arina Dewi
Bagus diksinys kk
goodnovel comment avatar
bundaRey
Siapa yang dirindukan Smith
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status