Bab 3_ Sisi Lain Smith

“Bangs*t! Berhenti menelponku!”

Smith mematikan telepon dengan wajah geram. Ia menyisir ke belakang rambutnya yang panjang dan selalu terurai dengan jari-jari kanannya. Memunculkan terbentuknya sebuah belahan rambut tepat di tengah-tengah kepalanya.

Smith bahkan juga menghentakkan kaki untuk melampiaskan kejengkelannya yang telah sampai di ubun-ubun.

“Orang ini benar-benar bisa membuatku gila. Apa dia tidak bosan mendengar umpatanku setiap saat? Haaah, menyebalkan sekali!” ujar Smith dengan napas yang masih tersengal menahan amarah.

Gadis itu berjalan melewati pos satpam fakultas masih dengan menggerutu. Membuat Janu yang tadi melewatinya dan kini tengah berdiri di tempat parkir, tak jauh dari pos satpam, menjadi bertanya-tanya, kepada siapa Smith berbicara dengan begitu kasar?

“Nona Smith!” teriak seorang lelaki yang berusia sekitar 42 tahun dengan baju berwarna putih lengkap dengan topi, peluit, dan sebuah pentungan yang tergantung di ikat pinggangnya. Lelaki itu berlari dari pos satpam, menghampiri Smith dengan wajah sumringah.

Janu yang baru saja melepas helmnya, kini bergerak cepat, mendekat dan bersembunyi di balik rumpun bunga bogenvil. Dalam batinnya ia bersyukur karena tempat parkir begitu sepi pada jam ketujuh dan delapan, jam-jam akhir perkuliahan.

“Pak Hadi. Bapak sudah kembali bekerja?” sahut Smith dengan suara dan wajah yang sangat jauh berbeda dengan yang ditampakkan gadis itu saat berbicara dengan seseorang melalui ponsel.

Smith memasang senyum yang sangat manis kepada satpam yang berbincang dengannya. Itu adalah pemandangan langka yang belum pernah dilihat Janu. Jangankan tersenyum lebar, tersenyum kecut saja tidak pernah.

“Terima kasih ya, Non. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Nona tidak menolong saya.”

“Tidak, tidak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Jadi, istri dan anak Bapak sekarang sudah di rumah?”

“Sudah, Non. Alhamdulillah. Tapi, saya mohon maaf,” ujar Pak Hadi dengan wajah sedikit cemas.

“Mohon maaf untuk apa, Pak?” tanya Smith keheranan.

“Tanpa seizin Nona, saya memberikan nama Sasmitha Maharani kepada putri saya,” jawab Pak Hadi ragu-ragu lantaran merasa telah lancang.

Tapi Pak Hadi sungguh tidak bermaksud untuk berlaku tidak sopan. Lelaki itu hanya terlalu senang dengan bantuan yang diberikan Smith hingga merasa perlu untuk memberikan nama penolongnya itu kepada bayi mungilnya.

Harapannya, agar ia dan keluarganya selalu ingat pada kemurahan hati Smith yang telah membiayai persalinan caesar sang istri di sebuah rumah sakit.

“Benarkah? Wah, saya sangat senang sekali mendengarnya. Itu suatu kehormatan bagi saya, Pak Hadi,” tukas Smith dengan mata berbinar-binar karena terharu.

Tentu saja berhasil membuat Pak Hadi menjadi begitu lega. Pak satpam itu sama sekali tidak menduga jika Smith akan sangat senang dengan pengakuan yang ia sampaikan.

Saking senangnya, Pak Hadi sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia benar-benar merasa sangat dihormati dan dihargai meski hanya seorang satpam di Fakultas Bahasa dan Sastra.

“O, sebentar,” ujar Smith sambil merogoh kantong celana hitamnya.

“Ini untuk Sas kecil. Hehe, sebaiknya putri Bapak dipanggil Sas saja. Jangan seperti saya,” kata Smith lagi sambil menarik tangan Pak Hadi dan meletakkan lembaran-lembaran uang ke tangan lelaki itu.

“Tapi Non, ini tidak perlu. Istri dan putri saya sudah pulang dari rumah sakit, dan mereka sungguh sehat. Apa yang Non berikan waktu itu sudah sangat cukup,” ujar Pak Hadi sambil menggeleng dan berusaha mengembalikan uang yang diberikan Smith.

Smith memberikan beberapa lembar uang berwarna merah yang jumlahnya lebih dari sepuluh lembar.

Hal tersebut cukup menggelitik, sebab Smith mengambil uang itu dari dalam saku celananya begitu saja. Tanpa mengeluarkan dompet terlebih dahulu, sebab gadis itu memang tidak memiliki dompet.

Tapi hal lain yang cukup mengejutkan adalah jumlah uang yang diberikan itu, nominalnya cukup banyak untuk seorang gadis yang penampilannya begitu biasa. Tidak terlihat sama sekali ciri-ciri orang kaya dari diri Smith.

Gadis itu selalu berangkat ke kampus dengan menaiki angkutan umum, semua pakaiannya biasa-biasa saja tidak bermerk, dan ia juga jarang terlihat pergi ke kantin untuk makan. Kalaupun Smith berada di kantin, gadis itu hanya membeli minuman saja.

“Tidak, tidak. Itu untuk putri, Bapak. Terimalah. Maafkan saya karena belum bisa berkunjung ke rumah Bapak. Tapi saya berjanji, jika ada kesempatan, saya akan melihat Sas kecil. Pasti wajahnya jauh lebih cantik dari saya. Hahaha, semoga Sas bisa menjadi anak berbakti,” kata Smith yang tertawa karena merasa tersindir oleh doanya sendiri. Smith merasa terlalu durhaka untuk berdoa seperti itu. Semestinya doa itu untuk dirinya juga.

Smith kemudian terburu-buru meninggalkan Pak Hadi. Ia sempat melambaikan tangan kepada satpam itu sebelum akhirnya berlari menuju gedung tempat kelasnya berada.

Gadis itu tidak hanya meninggalkan Pak Hadi yang masih tidak habis pikir atas semua kebaikan Smith padanya. Tetapi juga meninggalkan Janu yang tersenyum-senyum sendiri melihat sisi lain Smith yang manis.

Janu lantas berlari kencang ke arah yang sama dengan Smith. Ia baru sadar bahwa perkuliahan di kelasnya sore ini, mungkin telah dimulai lima menit yang lalu.

***

“Wah, Janu. Bapak terkejut sekali kau juga terlambat sore ini. Bapak kira kau tidak masuk karena sakit atau ada urusan tertentu,” kata Pak Jack apa adanya sebab Janu merupakan mahasiswa paling rajin dan disiplin di kelas tersebut.

“Maafkan saya, Pak. Ada hal mengejutkan yang membuat saya tetap tinggal di satu tempat,” tukas Janu sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.

Sementara Smith, tampak lebih tertunduk daripada sebelumnya. Gadis itu selalu bertingkah demikian jika ada di sekitar Janu. Ia yang beberapa waktu lalu sangat berniat untuk mencolok mata Janu, pada kenyatanya malah selalu berusaha menjaga matanya agar tidak terpancing untuk melihat mata Janu yang enak untuk dipandang.

“Baiklah, tidak adil jika kalian saya izinkan duduk begitu saja, karena kalian terlambat dalam kelas saya. Tapi lebih tidak adil lagi jika saya melarang kalian untuk mengikuti perkuliahan saya. Jadi, agar sedikit lebih adil, kalian harus menerima sanki atas kelalaian yang telah kalian lakukan. Supaya waktu kita tidak terbuang sia-sia, kalian harus memberi contoh pada teman-teman kalian tetang apa yang baru saja saya sampaikan pada mereka.

Tadi saya sempat menyinggung soal membuat sebuah prosa dengan cara mengamati lingkungan sekitar. Sekarang saya ingin kalian saling mengamati. Kemudian, sampaikanlah satu paragraf saja yang menggambarkan hasil observasi kalian,” perintah Pak Jack dengan gaya khasnya.

Janu langsung refleks menghadap ke arah Smith. Namun Smith, tetap pada sikapnya. Tidak melihat Janu sama sekali.

“Smith, silakan lihat Janu dan temukan inspirasi darinya,” tegur Pak Jack.

Smith yang sangat menghormati Pak Jack sebagai dosen favoritnya, lantas memaksakan diri untuk melihat ke arah Janu yang berdiri di sampingnya. Tapi ia hanya menoleh sesaat, lalu mengembalikan pandangannya ke lantai.

“Apa itu cukup?” tanya Pak Jack heran.

“Cukup, Pak,” sergap Smith membuat Pak Jack tersenyum.

“Apa kau memilih bagian tertentu  atau keseluruhan?”

“Mata, saya memilih mata. Apa saya boleh langsung menyampaikan hasil dari pengamatan saya?”

Pak Jack sedikit kaget. Meski tahu kalau kemampuan Smith dalam matakuliahnya di atas rata-rata, beliau tidak mengira akan secepat itu Smith menyelesaikan tugasnya. Apalagi Smith tampak tidak benar-benar mengamati Janu.

“Silakan.”

“Mata. Aku pernah melihat semburat warna pada matanya yang membuatku tidak bisa berhenti berpikir. Ingatanku kembali jauh pada masa-masa paling membahagiakan dalam hidupku. Membuatku senang sampai jantung ini berdegup sangat cepat. Namun saat aku tersadar, hanya ada perih di sana. Sebuah luka yang membuatku ingin mati saja.”

Senyum yang semula terkembang di wajah Janu, langsung memudar setelah mendengar dua kalimat terakhir dari petikan prosa yang dibuat Smith.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status